Sudahkah Kita Berhati Hamba ?

SUDAHKAH KITA BERHATI HAMBA?

Lemah Putro, Minggu, 2 Juni 2019

Pdt. Paulus Budiono

 

Shalom,

Kita harus percaya bahwa Tuhan berkuasa menyembuhkan dan memulihkan; jadi, jika kita datang beribadah penuh dengan persoalan membuat muka murung penuh kesedihan, pulang ibadah hati kita dipulihkan dan kita keluar dari gereja dengan kekuatan baru disertai senyum gembira. Jangan kebaktian dijadikan rutinitas sebatas ritual dan agama membuat kita tidak memercayai janji-janji Tuhan yang termaktub dalam Alkitab.

Apa pesan dan janji Firman Tuhan bagi kita kali ini? Kolose 3:22-25; 4:1 menuliskan, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu karena Tuhan tidak memandang orang. Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah kamu juga mempunyai tuan di sorga.”

 

Jujur kalau pesan ayat di atas dilakukan, dijamin tidak ada hari buruh ketika para buruh di seluruh penjuru dunia turun ke jalan untuk menyalurkan aspirasi mereka bahkan tak jarang menuntut hak berkaitan dengan kenaikan upah dll. Terbukti ayat-ayat menyangkut suami, istri, bapa, anak tertulis ulang (1 Kor. 7:2-5,10-11; Ef 5:22- 25,28-29,31; 6;1-4; Tit. 2:2-10; 1 Ptr. 3:1,7) dan dibaca ribuan kali untuk membuktikan bahwa masih ada suami, istri, bapa, anak yang belum/tidak berperan dalam posisinya dengan tepat. Siapa pun dari kita masih membutuhkan pertolongan Tuhan agar dapat mempraktikkan perintah-Nya.

Perhatikan, seluruh Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab mempunyai arah dan tujuan yang pasti. Firman Tuhan bukan sekadar filosofi manusia yang ditulis oleh filsuf-filsuf terkenal nan hebat. Rasul Paulus, orang Yahudi, lahir di Tarsus tetapi dibesarkan di Yerusalem dan dididik oleh guru Gamaliel, ahli Taurat yang sangat dihormati (Kis. 22:3; 5:34). Apakah ia dipengaruhi oleh filsafat orang Yahudi atau Yunani sehingga dia berani menulis surat-surat yang ditujukan kepada jemaat di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Tesalonika, Timotius dll.?

Aplikasi: pembicara di mimbar jangan memberitakan penginjilan bersifat filosofi untuk menarik dan menyenangkan pendengar di gereja. Sebagai orang Kristen, pengikut Kristus, kita harus menjadi kesaksian hidup yang dapat dilihat orang di sekitar bahwa kita tampil berbeda oleh karena melakukan Firman Tuhan. Misal: suami tidak melakukan KDRT dalam rumah tangga tetapi mengasihi istrinya, istri tunduk pada suami dan anak hormat kepada orang tua.

Bicara mengenai filosofi dunia, ada banyak filsuf yang tak lekang oleh waktu, antara lain: Kong Hu Cu (551 SM – 479 SM) dari Cina, Socrates (470 SM – 399 SM) dari Yunani; Plato (427 SM – 347 SM) dst. Sekarang banyak institusi Kong Hu Cu dibuka dan anak-anak muda dari mancanegara mendaftarkan diri untuk mempelajari filosofi Kong Hu Cu. Kapan Musa lahir? Ia hidup tahun 1527 SM – 1407 SM, jauh sebelum filsuf-filsuf muncul dan ia menulis lima kitab. Sayang, masih banyak orang Kristen kurang tertarik dengan filosofi rohani yang tidak ada duanya itulah Firman Allah.

Sebenarnya, di awal penciptaan Allah tidak membuat hukum nikah yang menyatakan suami harus mengasihi istri dan istri harus tunduk kepada suami sebab keduanya diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26). Namun setelah bangsa Israel keluar dari rumah perbudakan Mesir dan berada di kaki Gunung Sinai, Allah memberikan 10 hukum kasih dan hukum ketujuh berbunyi: jangan berzina (Kel. 20:1-17). Apakah perbuatan zina telah dilakukan oleh manusia saat itu sehingga Allah mengeluarkan hukum „jangan berzina‟? Firman Allah itu kekal dan telah ada sebelum terjadi penciptaan alam semesta beserta isinya. Namun Allah telah mengetahui lebih dahulu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa – Adam akan menyalahkan istrinya, Hawa, dan istri akan berontak kepada suaminya. Jauh berbeda dengan filosofi dunia buatan manusia yang muncul setelah penulisnyamelihat sesuatu tidak baik kemudian dia menulis nasihat-nasihat yang nantinya dikagumi banyak orang. Kenyataannya, tidak ada figur (suami, istri, ayah, ibu, anak) ideal yang dapat kita pegang; hari ini kita mengagumi seseorang bahkan mengidolakannya tetapi tak lama kemudian kita kecewa bahkan berubah membencinya ketika kita melihat kelemahan dan kekurangannya. Perhatikan, Firman Allah tidak pernah salah atau berbohong melainkan kitalah yang salah dan suka bohong bahkan mendendam.

Sampai hari ini tidak ada satu pun filsuf dunia yang mengakui Yesus adalah Anak Allah. Mereka menganggap Yesus adalah sejarahwan dan revolusioner yang hebat. Berbeda dengan Paulus, setelah bertemu dengan Tuhan, Ia bertobat dan percaya Yesus adalah Anak Allah (Kis. 9:20).

Introspeksi: siapakah Yesus yang kita percaya? Perhatikan, pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita (ay. 14). Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Kalau kita tidak mengagumi Firman Allah, iman kita akan runtuh.

Selain menulis nasihat kepada suami, istri dan anak, Rasul Paulus juga mengingatkan agar para hamba taat kepada tuannya dalam segala hal bukan hanya saat di hadapan mereka melainkan melakukannya dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Hendaknya para hamba berbuat seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia karena dari Tuhanlah mereka menerima bagian yang ditentukan sebagai upah. Sesungguhnya pegawai-pegawai yang marah kemudian demo menuntut naik gaji itu salah atau kehilangan arah. Memang mereka bekerja bagi tuan di dunia tetapi gaji/upahnya dari Tuhan. Hal ini sulit dipercaya tetapi ini merupakan suatu kebenaran.

Kenyataannya, hamba bekerja karena iming-iming perolehan upah besar. Mereka bekerja keras tanpa mengenal batas waktu untuk meraih posisi penting dan gaji tinggi. Sebaliknya, mereka bekerja malas-malasan jika tahu upahnya cuma sedikit. Ingat, Kristus adalah Tuan dan kita hamba-Nya. Bila Kristus adalah Tuan dari hamba/pegawai sekuler terlebih lagi bagi kita, hamba kebenaran. Apakah Tuhan sebagai Majikan/Tuan kita kurang/tidak peduli dengan pemberian upah kepada para hamba-Nya sehingga pendeta-pendeta mengeluh tidak cukup dengan perpuluhan yang diterima?

Tuhan ingin agar kita mengubah mindset kita. Seberapa jauh kepedulian Tuhan sebagai Tuan/Majikan kepada kita, hamba-Nya?

Jika hamba berbuat kesalahan, ia harus menanggung kesalahannya karena Tuhan tidak memandang orang (Kol. 3:25). Sangatlah wajar jika tuan/majikan marah ketika hamba/pegawai berbuat kesalahan sebab majikan diberi hak oleh Tuhan untuk menentukan reward atau punishment. Majikan/tuan harus berlaku adil alias tidak boleh berbuat semena-mena sementara pegawai/hamba tidak boleh bertindak ngawur karena keduanya mempunyai Tuan yang sama yaitu Kristus. Dengan kata lain, kita semua adalah hamba-Nya Tuhan bukan hambanya manusia (bnd. 1 Kor. 7:20-24).

Alkitab memberikan beberapa figur hamba yang dapat dicontoh, antara lain: Yusuf. Ia anak kesayangan bapanya, Yakub (Kej. 37:3). Karena saudara-saudaranya iri hati, Yusuf dijual kepada orang-orang Ismael menjadi budak (ay. 27). Yusuf bekerja pada Potifar, pegawai istana Firaun (ay. 36). TUHAN menyertai Yusuf sehingga ia selalu berhasil dalam pekerjaannya (Kej. 39:2). Potifar sangat menyayangi dia (ay. 4) tetapi difitnah oleh istri Potifar yang nafsu birahinya ditolak oleh Yusuf (ay.10-14) sehingga Yusuf dijebloskan ke dalam penjara (ay.20) tetapi TUHAN menyertainya, membuat dia disayang oleh kepala penjara (ay. 21). (Hamba) Yusuf berakhir menjadi orang berkuasa kedua di Mesir (Kej. 41:40-44) oleh sebab Tuhan senantiasa menyertainya karena Ia melihat hati Yusuf yang takut akan Dia. Bagaimanapun juga Yusuf bukan figur hamba yang sempurna.

Aplikasi: pegawai paling rendah/sederhana pun kalau bekerja sungguh-sungguh dan setia kepada tuannya, mata Tuhan melihat dan menggerakkan tuan/majikan untuk mengangkat dan memercayai pegawai tersebut (bnd. Ams. 22:29).

Siapa figur hamba yang sempurna? Filipi 2:5-8 menuliskan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib.”

Teladan apa dari Yesus yang patut kita contoh dan lakukan?

  • Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30) tetapi dengan memosisikan diri sebagai Hamba Ia mengakui Bapa sebagai Tuan-Nya.
  • Dalam hidup bersama (sebagai suami istri), kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Untuk itu diperlukan sikap rendah hati apapun posisi dan kedudukan kita dan Pribadi Yesus menjadi tolok ukurnya bukan manusia betapapun hebatnya dia, seperti: Yusuf yang dipakai Allah untuk menyelamatkan keluarga dan memelihara hidup suatu bangsa besar (Kej. 50:20-21); Daniel diperbudak dan diangkat berulang-ulang hingga beberapa generasi pemerintahan di Babel namun berakhir dengan kematian (Dan. 1:5; 2:48; 5:13; 6:2-3; 12:13). Onesimus datang kepada majikannya, Filemon, dengan kehidupan baru membawa surat rekomendasi dari Rasul Paulus (Flm. 1:9-19). Semua tokoh Alkitab dipakai Tuhan tetapi tidak perlu disanjung karena semua berakhir dengan kematian setelah menunaikan tugasnya.
  • Hanya Yesus, Hamba Allah yang kudus dan yang diurapi (Kis. 3:11-13; 4:27) yang menjadi teladan sempurna dan ditinggikan oleh hamba-hamba-Nya, para rasul (Kis. 4:29-31) termasuk Rasul Paulus. Mereka menyampaikan Injil kebenaran dengan berani (oleh karena ada Roh Kudus) bahkan rela dipenjara demi Yesus Kristus. Amat disayangkan, bangsa Israel menghina dan menolak Yesus, hamba Allah yang kudus dan yang diurapi. Ironis, kita malah sering menjumpai hamba Tuhan yang ingin dipuji dan disanjung.
  • Alkitab menuliskan para tokoh iman tetapi tanpa kita mereka tidak sampai pada kesempurnaan ( Ibr. 11). Memang mereka adalah hamba yang setia tetapi hanya Kristus yang menjadi Hamba sempurna. Ia adalah Tuan yang menjadi Hamba. Buktinya? Sebelum hari Paskah dimulai, Yesus menanggalkan jubah-Nya, mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkan pada pinggang-Nya. Mulailah Ia membasuh kaki para muridNya termasuk Yudas Iskariot (Yoh. 13:1-5). Ia memberikan teladan seorang Hamba padahal Ia adalah Guru dan Tuhan (ay. 13-17). Ia melayani bukan karena dipaksa/terpaksa tetapi Dia mengerti caranya untuk menyelamatkan kita yang sebenarnya tidak layak itu. Yesus adalah Tuan yang rela menjadi Hamba.

Alkitab memberikan banyak contoh tokoh iman yang baik dan setia tetapi teladan sempurna hanya terdapat di dalam Pribadi Yesus yang patut dan harus kita contoh. Ia tidak hanya menyatakan Diri-Nya tetapi juga hadir di dalam kehidupan kita. Hendaknya kita memiliki hati hamba yang melayani tanpa mengharapkan pujian. Sama seperti Yesus ditinggikan setelah mengalami kematian, kita juga akan menerima upah dipermuliakan setelah kita rela menderita demi Kristus. Amin.