Praktik Hidup Di Era Milenial

PRAKTIK HIDUP DI ERA MILENIAL

Lemah Putro, Minggu, 16 Juni 2019

Pdm. Setio Dharma K

Shalom,

Firman Allah yang disampaikan minggu lalu menasihati agar kita bertekun dalam doa dan apa nasihat Firman-Nya yang menjadi dasar pemberitaan pagi ini? Mampukah Firman Tuhan menjawab masalah sesuai dengan kondisi yang kita hadapi sekarang ini? Perlu diketahui dalam bergereja maupun bermasyarakat, kita terdiri dari aneka ragam generasi antara lain: generasi baby boomers (lahir sebelum tahun 1960); generasi X (1961 – 1980); generasi Y – generasi milenial (1981 – 1994); generasi Z (1995 – 2010) dan generasi Alpha (2010 – sekarang). Terjadi perbedaan pola pikir dan pola hidup antara generasi tua dan generasi sekarang yang mana kehadiran computer, video games, gadget dan smartphone yang tersambung dengan kecanggihan internet tidak lagi dapat dihindari. Contoh: anak kecil berumur 9 tahun sudah mahir mengotak-atik HP dan tidak lagi perlu bertanya kepada orang tuanya jika dia ingin mengetahui tentang sesuatu. Suatu hari seorang oma lagi menemani cucunya yang ingin mengetahui bentuk kupu-kupu sebab di kota jarang ditemukan serangga macam itu. Si cucu langsung klik google dan menemukan jawabannya lalu menunjukkan penjelasan disertai gambar kupu-kupu kepada si oma. Ternyata selain tulisan kupu-kupu, ada banyak kata pada baris di bawahnya berkaitan dengan kupu-kupu, antara lain kupu-kupu malam. Si oma langsung melarang si cucu meng-klik tulisan kupu-kupu malam karena si oma berpikiran kupu-kupu malam‟ berkonotasi pelacur. Terjadi pemahaman berbeda! Si oma bermaksud baik tanpa dapat memberikan penjelasan kepada si cucu. Karena dilarang oleh si oma, si cucu sakit hati kemudian curhat ke teman. Akhirnya mereka meng-enter topik-topik yang kemungkinan tidak baik hanya karena keingintahuan mereka.

Dalam kondisi ekonomi macam apa pun (kaya, cukup, pas-pasan), orang-orang menggunakan HP untuk mempermudah mendapatkan informasi dan layanan cepat via online. Misal: anak muda tidak perlu keluar rumah, kegiatan makan dan kerja dilakukan di kamar: cukup memesan makanan via online, mendapatkan pasif income dengan trading forex dsbnya. Tanpa sadar mereka asyik dengan gaya hidup semacam itu hingga melupakan perlunya hidup berinteraksi dengan komunitas/masyarakat.

Apa nasihat Firman Tuhan menghadapi kondisi yang penuh kenyamanan dan kemudahan sekarang ini? Kolose 4:5-6 mengingatkan:

  • Hidup dengan penuh hikmat
    “Hiduplah (peripateo: to walk, to make progress = berjalan, bergerak maju) dengan penuh hikmat (sophia = ilmu, kepandaian, hikmat) terhadap orang-orang luar” (ay. 5a)

Hendaknya perjalanan hidup dan seluruh pergerakan/aktivitas kita sebagai orang percaya dalam Yesus penuh hikmat dengan orang luar/asing yang tidak mengenal Dia. Tanpa hikmat, kita akan bertindak seperti si oma yang hanya bisa marah kepada cucu tetapi tidak dapat memberikan penjelasan dan bimbingan. Tanpa hikmat, kita juga bersikap sama seperti orang-orang di luar Kristus.

Hikmat macam apa yang dimaksud dalam hal ini? Surat Kolose menyebut hikmat hingga enam kali, yaitu:
- Kolose 1:9 → hikmat untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna
- Kolose 1:28 → hikmat untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus
- Kolose 2:3 → di dalam Kristus tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan
- Kolose 2:23 → peraturan-peraturan berhikmat dengan ibadah buatan sendiri yang bertujuan untuk memuaskan hidup duniawi
- Kolose 3:16 → hikmat dari berdiamnya perkataan Kristus untuk mampu mengajar, menegur sambil bermazmur dan mengucap syukur kepada Allah
- Kolose 4:5 → hidup penuh hikmat terhadap orang-orang luar.

Hikmat yang benar selalu tertuju kepada Kristus bukan kepada pribadi lain. Ringkasnya, kita harus hidup penuh dengan hikmat Kristus terhadap orang-orang luar. Selama kita tidak mengerti kehendak Allah, hikmat kita belum tentu benar menurut ukuran Firman Tuhan.

Bagaimana kita dapat memahami kehendak Tuhan dan hikmat-Nya?
- Mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Ini adalah ibadah yang sejati (Rm. 12:1). Dalam ibadah, kita mempersembahkan/memberi sesuatu kepada Tuhan bukan mengharapkan diberi oleh-Nya. Jadi, kalau kita datang ke gereja dengan maksud menerima berkat, ini bukan ibadah yang sejati. Apa yang dapat kita berikan kepada Tuhan? Hidup kita kepada Tuhan.

- Tidak menjadi serupa dengan dunia meskipun kita masih hidup di dalamnya (ay. 2).
Harus diakui selama kita masih tinggal di dunia, kita bergaul dengan orang-orang luar yang belum/tidak percaya kepada Yesus tetapi life style kita tidak boleh serupa dengan mereka. Budi/pikiran kita harus diperbarui sehingga dapat mengenal kehendak Allah. Contoh: cara berpakaian, berdandan dan penampilan kita tidak mengikuti trend duniawi yang lagi booming seperti: memakai rok mini dan tank-top ke gereja, rambut dicat hijau/putih dsb. Perhatikan, google dapat memberikan penjelasan yang kita perlukan tetapi google tidak pernah dapat mengajar dan memberikan pesan moral kepada kita.

  • Mempergunakan waktu (kairos = kesempatan) dengan maksimal (ay. 5b)
    Ada dua macam waktu dalam bahasa Yunani:

- Chronos: time either long or short → menunjuk pada kurun waktu tertentu (bisa lama atau sebentar). Contoh: Yesus melihat seorang sudah 38 tahun sakit dan berbaring di serambi Kolam Betesda menunggu malaikat Tuhan menggocangkan air agar ia dapat terdahulu masuk ke kolam untuk beroleh kesembuhan. Yesus melihat ia telah lama (khronos: long time) dalam keadaan itu (Yoh. 5:6). Di lain waktu, Yesus dicobai Iblis dan dibawa ke tempat tinggi dan dalam sekejap mata (khronos: short time) diperlihatkan semua kerajaan dunia (Luk. 4:5)

- Kairos: proper time = waktu yang tepat; season = musim,; opportunity = kesempatan. Yesus menyuruh saudara-saudara-Nya pergi mendahului-Nya mengikuti pesta Pondok Daun sementara Ia belum pergi ke sana karena waktu-Nya(kairos) belum genap (Yoh. 7:8).

Ketika para murid bertanya kepada Yesus untuk memulihkan kerajaan bagi Israel, Yesus menjawab mereka tidak perlu mengetahui masa (khronos) dan waktu (kairos) yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya (Kis 1:7).
Berkaitan dengan kedatangan Tuhan kembali, Rasul Paulus menuliskan tentang zaman (khronos) dan masa (kairos) yang tidak perlu ditulis (1 Tes. 5:1).

Singkatnya, kairos bisa tidak terulang kembali. Contoh:
- Rasul Paulus menyatakan bahwa saat (kairos) kematiannya sudah dekat (2 Tim. 4:6).

- Manusia ditetapkan untuk mati satu kali saja, Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang (Ibr. 9:27-28) → tidak dapat diulang.

- Waktu kita masih lemah, Kristus mati untuk kita orang durhaka pada waktu (kairos) yang ditentukan oleh Allah (Rm. 5:6).

Oleh sebab itu pakailah kairos dengan maksimal karena bisa tidak akan pernah terulang kembali. Bila ada waktu serta kesempatan untuk bersaksi dan memberitakan injil keselamatan kepada seseorang yang belum/tidak mengenal Tuhan, jangan pernah menunda-nundanya karena takut atau malu sebab kesempatan semacam itu tidak dapat terulang kembali. Apa gunanya kita mengerti pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai tetapi tidak menerapkannya dalam keseharian hidup? Demikian pula jika Tuhan menggerakkan hati kita untuk minta ampun kepada orang yang telah kita sakiti (hubungan suami-istri; orang tua-anak; hamba-tuan) atau berkurban untuk pekerjaan Tuhan, jangan keraskan hati tetapi segera laksanakan karena kesempatan semacam itu tidak akan terulang; kalaupun terulang maka ini terjadi pada kesempatan dan pribadi yang berbeda. Waspada, saat (kairos) kematian datang, semua perbuatan kita (baik maupun jahat) diperhitungkan/dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Karena itu selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang terutama kepada kawan seiman (Gal. 6:10).

  • Perkataannya senantiasa ramah (Kol. 4:6)
    “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih (charis = anugerah; pemberian; kemurahan hati; senang; keramahan; syukur; pahala; faedah), jangan hambar (seasoned with salt = dibumbui dengan garam) sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Garam berfungsi memberikan rasa; jadi hendaklah kata-kata kita senantiasa memberi rasa ramah agar tahu bagaimana harus menjawab kepada setiap orang.

Mengapa kita diingatkan untuk berkata-kata penuh kasih dan keramahan? Karena setiap manusia mempunyai kelemahan. Contoh: kelemahan suami ialah berlaku kasar kepada istri sementara istri sulit untuk tunduk kepada suami; anak mudah memberontak dan tidak menaati orang tua sedangkan orang tua bersikap otoriter menyakiti hati anaknya; hamba memiliki pergumulan untuk menuruti perintah tuan dan tuan sulit berlaku adil dan jujur terhadap hambanya (Kol. 3:18-25; 4:1).

Aplikasi: hendaknya kita hati-hati dan berhikmat dalam menggunakan mulut untuk berkata dan jari untuk menulis di media sosial (Whatsapp, Instagram dll.). Jangan membeda-bedakan tempat dan keadaan dalam menggunakan kata-kata, misal: di gereja kita berkata sopan dan rohani tetapi di luar gereja (di jalan, sekolah, tempat kerja) umpatan dan caci maki menjadi kebiasaan sehari-hari.

Mengapa kita harus hidup penuh dengan hikmat, memaksimalkan kesempatan yang ada dan berkata penuh keramahan?

  • Karena kita telah dibangkitkan bersama dengan Kristus (Kol. 3:1)
  • Karena kita adalah manusia baru yang terus-menerus diperbarui (ay. 10).
  • Karena kita adalah orang-orang pilihan Allah (ay. 12).

Ya, karena kita ini orang-orang pilihan Allah. Kalau semua itu melekat kepada kita, maka ketiga poin ini mutlak harus kita gunakan, harus kita lakukan. Tidak ada kata lain. Mari bersama kita lagukan, Hidup ini adalah kesempatan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

Video ibadah ini dapat diakses di https://www.gkga-sby.org/mobile/index.php/video-recording/item/456-ibadah-umum-16-juni-2019-pdm-setio-dharma-kusuma-praktek-hidup-di-era-milenial