Bertekunlah Dalam Doa!

BERTEKUNLAH DALAM DOA!

Lemah Putro, Minggu, 9 Juni 2019

Pdt. Paulus Budiono

 

Shalom,

Pagi ini, kita merayakan Hari Pentakosta dan gereja-gereja merayakannya dengan cara ibadah mereka masing-masing. Minggu lalu Firman Tuhan yang ditulis oleh ilham Roh Kudus menasihati istri, suami, bapa, anak, hamba dan tuan untuk melakukan perintah Tuhan sesuai dengan posisi dan kedudukannya dalam rumah tangga dan pekerjaan. Lebih lanjut apa yang Tuhan ingin mereka lakukan? Surat Kolose 4:2-4 menuliskan, “Bertekunlah (continue earnestly = meneruskan/melanjutkan dengan sungguh-sungguh) dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus yang karenanya aku dipenjarakan. Dengan demikian aku dapat menyatakannya sebagaimana seharusnya.”

Sebagai orang Kristen, kita pasti berdoa di pagi hari memohon perlindungan dan kekuatan dari Tuhan, doa makan hingga doa ucapan syukur sebelum tidur malam atas penyertaan-Nya sepanjang hari. Namun Tuhan ingin doa kita ditingkatkan dan dilakukan dengan tekun.

Kenyataannya, tim doa/pasukan doa/kolompok doa yang ada di gereja kebanyakan terdiri dari kaum wanita sementara kaum pria beralasan tidak ada waktu karena sibuk bekerja. Sesungguhnya doa merupakan masalah pribadi, tidak dapat membonceng pada siapa pun!

 Rasul Paulus mengingatkan jemaat Kolose (juga kita) agar tekun berdoa dan ia juga minta didoakan supaya pemberitaan Injil tentang rahasia Kristus dapat sampai ke semua bangsa. Jelas tujuan daripada doa bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi supaya Injil mencapai ujung bumi seperti yang dirindukan Yesus sebelum Ia naik ke Surga (Kis. 1:8).

Semua dari kita (pria-wanita, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin dst.) diminta untuk tekun berdoa di dalam segala perkara bukan hanya saat menghadapi masalah. Sebab jika demikian, begitu masalah terselesaikan dan doa kita dikabulkan Tuhan (bnd. Mat. 7:7), kita tidak lagi tekun berdoa.

Ketekunan doa macam apa yang dimaksud oleh Rasul Paulus? Doa yang dilakukan terus menerus dan terfokus pada satu visi-misi bukan doa yang mengarah pada segala aspek kehidupan duniawi yang beraneka-ragam. Jangan ‟menyalahgunakan‟ janji Tuhan untuk kepentingan diri sendiri yang tidak berkaitan dengan keselamatan.

Tekun (proskartereo: adhere to = melekat; to be constantly diligent = terus rajin). Sering kita mempunyai pengalaman setelah kita terlepas dari persoalan yang melekat oleh sebab terkabulnya doa yang dilakukan dengan tekun dan rajin.

Alkitab menuliskan peristiwa yang mana doa dilakukan dengan tekun, yaitu:

  • Setelah Yesus naik ke Surga, para rasul kembali ke Yerusalem dari Bukit Zaitun. Mereka bersama beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan saudara-saudara-Nya naik ke ruang atas untuk tekun dalam doa bersama (Kis. 1:12-14). Saat itu mereka belum dipenuhi Roh Kudus namun mereka tekun berdoa dan bersatu hati mengingat Firman Tuhan yang telah mereka terima untuk tidak meninggalkan Yerusalem (bnd. Kis. 1:4). Mereka tekun berdoa karena ingat janji Yesus yang akan mengaruniakan kuasa untuk menjadi saksiNya (melalui penyebaran Injil) bila mereka dipenuhi Roh Kudus (ay. 8).

Rasul Paulus meminta jemaat Kolose (bangsa kafir) untuk tekun berdoa baginya agar ia dapat melanjutkan pemberitaan Firman yang membuatnya masuk penjara.

Introspeksi: apa yang diberitakan oleh pendeta di mimbar? Apakah berfokus pada berita salib Yesus walau menghadapi risiko ditangkap bahkan dipenjara? Ingat, kita menerima Roh Kudus dengan tujuan menjadi saksi Kristus. Waspada terhadap pengajaran bidat yang mengatakan Roh Kudus bukanlah pribadi tetapi kekuatan aktif yang tidak kelihatan (angin).

Sesungguhnya tidaklah sukar untuk menerima Roh Kudus jika kita benar-benar rindu dan memohon untuk dipenuhi oleh-Nya. Jika bapa (jasmani) yang jahat tahu untuk tidak memberikan batu kepada anaknya yang minta roti, tidak memberikan ular kepada anaknya yang minta ikan tetapi memberikan yang baik kepada mereka terlebih lagi Bapa Surgawi (Mat. 7:9-11). Masakan Ia tidak memberikan Roh Kudus yang diminta oleh anak-anak-Nya?

Masalahnya, apakah kita meminta Roh Kudus dalam doa kita? Dan apakah kita puas diri setelah menerima Roh Kudus tanpa perlu lagi minta senantiasa dipenuhi? Perhatikan, Bapa Surgawi memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya itulah Roh Kudus yang menghibur dan menolong kita. Bila Roh Kudus berdiam dalam kita, kita akan beroleh segala sesuatu karena Dia berbicara tentang Kristus yang luar biasa.

Selain memberikan Roh Kudus, Bapa Surgawi juga memberikan yang terbaik yaitu Putra Tunggal-Nya untuk menanggung segala kutuk dosa kita di atas kayu salib.

Sayang, kita sering kurang yakin bahwa Roh Kudus adalah bagian dari Pribadi Allah Tritunggal dan menganggapnya sekadar penopang/sampingan saja padahal Ia adalah Pribadi yang dapat marah, sakit hati, sukacita dll. Contoh: Ananias dan Safira mendustai Roh Kudus berakibat mereka dihukum mati (Kis. 5:1-10).

  • Sepuluh hari setelah kenaikan Yesus ke Surga para rasul dipenuhi Roh Kudus. Kemudian Rasul Petrus dengan berani berkhotbah tentang Yesus dari Nazaret yang mati disalib telah dibangkitkan Allah menjadi Tuhan dan Kristus. Orang-orang yang menerima perkataannya memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah ± 3.000 jiwa. Mereka kemudian bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Mereka bertekun dan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah (Kis. 2:41-42, 46-47). Sangat jelas, Roh Kudus bekerja mendorong mereka untuk tetap tekun dalam doa, dalam pengajaran rasul-rasul, dalam persekutuan dn Perjamuan Tuhan.

Aplikasi: hendaknya dalam kesempatan kumpul bersama di setiap kebaktian kita meminta Roh Kudus membakar hati kita agar Tuhan mengirimkan jiwa-jiwa dan kita berbicara tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar bukan bicara hal-hal lain apalagi gosip. Dengan demikian terbentuklah persekutuan yang menyatukan bukan perpecahan. Rasul Paulus mengingatkan pertemuan jemaat Korintus malah menimbulkan perpecahan karena mereka salah dalam mempergunakan Perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:17-20) → berkaitan dengan Tubuh Kristus.

  • Rasul Paulus menasihati jemaat Roma (juga kita) untuk hidup dalam kasih. Mereka (juga kita) harus saling mengasihi tanpa pura-pura, melayani Tuhan dengan rajin, bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan dan bertekun dalam doa (Rm. 12:9-21).

Sesungguhnya bertekun di dalam doa tidak dilakukan hanya menjelang hari Pentakosta untuk memohon kepenuhan Roh Kudus. Ada gereja yang melakukan 10 hari doa bersama; namun sangat disayangkan kalau kegiatan ini dilakukan sebatas liturgi dan peraturan manusia yang memungkinkan timbulnya perpecahan karena merasa lebih rohani dsb.

Sebelum menasihati untuk hidup dalam kasih dan tekun dalam doa, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Roma (juga kita) bahwa ibadah sejati ialah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan hidup dimulai dengan pembaruan budi dengan tidak menjadi serupa dengan dunia supaya mereka (juga kita) mengerti kehendak Allah (ay. 1-2).

  • Rasul Paulus meminta jemaat Kolose (juga kita) sebagai anggota tubuh Kristus untuk bertekun dalam doa dan berjaga-jaga serta mendoakan dia supaya Injil keselamatan dapat tersebar lebih jauh (Kol. 4:2-4).

Surat Kolose terkena pada Mazbah Pembakaran Ukupan. Bagaikan dupa dibakar siang-malam, doa para imam terus dinaikkan seperti dilihat Rasul Yohanes tentang 4 makhluk dan 24 tua-tua di hadapan Anak Domba, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas penuh kemenyan itulah doa orang-orang kudus (Why. 5:8). Mereka melayani Dia siang-malam di Bait Suci-Nya (Why. 7:15).

Aplikasi: doa tidak dibatasi oleh waktu bagaikan napas hidup yang berlangsung sepanjang hidup kita. Demikian pula pelayanan kita kepada-Nya. Doa yang terikat oleh peraturan-peraturan manusia menjadikannya doa agamawi.

Berbicara mengenai jarak, Yerusalem – Roma ± 2200 km dan Yerusalem – Kolose ± 800 km. Di zaman lalu tidaklah mudah bagi para penulis (tabib Lukas, Rasul Petrus, Rasul Paulus dll.) menulis surat atau berita untuk disampaikan kepada jemaat. Terlebih saat Rasul Paulus dipenjara, dia menyuruh orang menyampaikan suratnya kepada jemaat Roma, Efesus, Kolose dll. Jelas, Firman Allah yang diberitakan bukan sekadar copy-paste tetapi ditandai dengan pengurbanan ‟berdarah-darah‟.

Introspeksi: Rasul Paulus rela menderita (fisik, jarak jauh) tetapi hatinya tetap membara demi pengabaran Injil Kristus. Bagaimana dengan kita? Apakah kita tekun bersaksi tentang Injil keselamatan kepada orang-orang di dekat kita (suami, istri, anak, saudara dst.)?

Apa tugas dari Roh Kudus di dalam kita?

  • Kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita justru saat kita masih berdosa (Rm. 5:5-8). Dengan kata lain, kasih Allah (agape) bukan sembarang kasih tetapi ditandai pengurbanan (salib). Kontras dengan kasih manusia yang makin dingin (Mat. 24:12) termasuk kasih semula jemaat Efesus terhadap Tuhan (Why. 2:4).
  • Roh Kudus memenuhi kita dan menggerakkan kita untuk diutus dan bersaksi tentang Yesus tersalib. Suatu saat dalam ibadah dan puasa, Roh Kudus berbicara, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” (Kis. 13:2-3)

Introspeksi: apakah kita peka terhadap bisikan Roh Kudus yang menggerakkan kita untuk bersaksi tentang Yesus dan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar? Waktu Rasul Paulus dipenuhi Roh Kudus, dia gencar berbicara bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias (Kis. 9:20,22).

  • Roh Kudus membantu kita dalam kelemahan untuk dapat berdoa (Rm. 8:26-27). Kita harus mengakui bahwa kita penuh dengan kelemahan dan membutuhkan Roh Kudus untuk dapat berdoa kepada Allah sebab Ia menyelidiki hati nurani dan mengetahui maksud dari Roh Kudus sehingga kita tahu apa yang dikehendaki-Nya. Jangan lupa, Roh Kudus juga menggerakkan kita untuk rindu menantikan kedatangan-Nya (ay. 23).

Tuhan ingin kita tekun berdoa supaya menjadi pendoa syafaat, memberitakan Injil Kristus, mengerti kehendakNya juga menantikan kedatangan-Nya yang makin dekat. Marilah kita melakukannya dengan tekun tanpa hentihentinya hingga Ia datang menjemput kita untuk tinggal bersama Dia selamanya di Yerusalem baru. Amin.

 

Video ibadah ini dapat diakses di https://www.gkga-sby.org/mobile/index.php/video-recording/item/451-ibadah-umum-persekutuan-09-juni-2019-pdt-paulus-budiono