Kita Diberi Karunia Untuk Menderita Bagi Kristus

KITA DIBERI KARUNIA UNTUK MENDERITA BAGI KRISTUS

Johor, Minggu, 22 September 2019
Pdt. Paulus Budiono


Shalom,

Hendaknya kita tetap bersukacita dari hari ke hari terlebih saat beribadah tanpa dibatasi oleh waktu. Jangan kita membatasi durasi ibadah dengan memperpendek nyanyian dan Firman Tuhan yang sudah dipersiapkan. Namun ini bukan berarti kita kebablasan menggunakan waktu. Kita harus dapat mengatur waktu dengan baik agar waktu untuk Tuhan tidak dipersempit atau diperpendek berakibat ibadah hanya bersifat liturgi belaka. Ironis, kita sering membatasi durasi ibadah dan menjadi gelisah ingin cepat-cepat pulang ketika waktu ibadah melebihi durasi dari biasanya tetapi kita menikmati dan merasa tidak bersalah ketika waktunya molor lebih lama saat hang-out di Mall.

Apa pesan Rasul Paulus melalui tulisannya di Filipi 1:27-30? “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus supaya apabila aku datang aku melihat dan apabila aku tidak datang aku mendengar bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil dengan tiada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan tetapi bagi kamu tanda keselamatan dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus melainkan juga untuk menderita untuk Dia dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.”

Jujur, kita hanya suka mendengar ayat-ayat yang enak didengar telinga yang bersifat menghibur, memberikan pertolongan, menjanjikan berkat dll. tetapi mengabaikan bahkan menolak ayat-ayat yang mengingatkan, menegur dan mendidik demi kebaikan kita.

Kita tahu Rasul Paulus dijebloskan ke penjara karena Kristus (Flp. 1:13) namun dia tidak pernah berkeinginan mencari teman-teman untuk dipenjarakan pula seperti dilakukan oleh oknum PNS yang ketangkap OTT oleh KPK karena korupsi dan berusaha mencakot teman-temannya yang korupsi berjemaah supaya sama-sama dipenjara.

Rasul Paulus menulis surat tidak ditujukan hanya kepada satu orang tetapi untuk semua gereja di Filipi termasuk para penatua dan majelis (Flp. 1:1). Dia juga mengalami dilema berada di antara dua pilihan: mati dan diam bersama-sama Kristus atau tetap hidup di dunia untuk bekerja memberi buah (ay. 21-24) serta bertemu lagi (bersekutu) dengan jemaat Filipi demi kemajuan iman mereka (ay. 25). Beda dengan jemaat Galatia, pertama kali dia memberitakan Injil kepada mereka, mereka menyambutnya seperti menyambut malaikat bahkan seperti menyambut Kristus Yesus tetapi ketika dia datang lagi untuk mengatakan kebenaran dia menjadi musuh mereka (Gal. 4:13-16). Jadi, jangan heran kalau ada jemaat tidak senang kepada pendeta; dengan kata lain, ada penyanjungan dan pelecehan terhadap pendeta.

Lebih lanjut Rasul Paulus mengingatkan agar hidup kita berpadanan dengan Injil Kristus. Tentu Rasul Paulus tidak sekadar bicara tetapi memiliki pandangan rohani jauh ke depan berdasarkan pengalaman pribadinya. Dia melihat pentingnya persekutuan yang sehat; itu sebabnya dia menegur jemaat Korintus yang blok-blokan – golongan Paulus, golongan Kefas, golongan Apolos, golongan Kristus (1 Kor. 1:12) juga ada perjamuan Tuhan tetapi mereka memakan dahulu makanannya sendiri dan yang lain mabuk (1 Kor. 11:20-22). Ini menunjukkan persekutuan yang tidak baik. Persekutuan yang baik ialah bersekutu dengan Bapa dan Anak juga dengan sesama.

Bagaimana memperoleh persekutuan yang sehat? Bila hidup kita berpadanan/cocok berlandaskan Injil Kristus bukan injil lain seperti injil sosial, injil kemakmuran dll. Bila tidak, hidup kita tidak akan berkenan di hadapan Allah. Tentu Paulus tidak menulis sembarangan tetapi mempunyai pengalaman perpecahan dalam jemaat yang dipimpinnya tetapi dia dikuatkan oleh Injil Kristus bukan dengan injil yang lain.

Apa itu Injil Kristus? Itulah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mrk. 1:1). Gereja Tuhan seyogianya menekankan pemberitaan Injil Kristus yaitu Injil Anak Allah. Injil yang benar adalah Injil yang membawa orang menjadi percaya kepada Yesus sebab kita semua adalah orang berdosa dan Yesus adalah Juru Selamat, Penghapus dosa manusia (Yoh. 1:29). Bila kita percaya kepada Yesus, kita tidak akan segan-segan mengakui segala dosa kita dan Ia akan mengampuni dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh. 1:9). Tanpa pengakuan dosa, kita hanya menjadi orang Kristen KTP (agama). Buktinya 60% orang muda di Eropa dan Amerika (dahulu terkenal sebagai Negara Kristen) tidak percaya Yesus dan Allah alias ateis.

Injil Markus diawali dengan Injil Kristus, Anak Allah (Mrk. 1:1) diakhiri dengan barang siapa percaya kepada-Nya dan dibaptis akan selamat (Mrk. 16:15-16). Injil ini yang dipegang oleh Saulus/Paulus setelah dia bertobat dan dibaptis oleh Ananias yang diutus Tuhan untuk menumpangkan tangan ke atasnya supaya Saulus dapat melihat lagi kemudian membaptisnya (Kis. 9:10-18).

Setelah Paulus bertobat, dipenuhi Roh Kudus dan dibaptis, mulailah ia memberitakan Injil Kristus. Bahkan karena Kristus, Paulus dipenjara di Filipi (Kis. 16:12,23) lalu dipindah ke Kaisarea (Kis. 23:23-35) dipindahkan lagi ke Roma sebagai tahanan rumah (Kis. 28:16). Di dalam perjalanan menuju Roma dia dihadapkan kepada Raja Agripa dan dia bersaksi tentang pertobatannya dari pembenci bahkan pembunuh pengikut-pengikut Yesus yang bertobat setelah berjumpa dengan Yesus kemudian menjadi pengikut-Nya yang militan. Kondisi berbalik, dia dikejar-kejar orang Yahudi hendak dibunuh. Apa pun yang terjadi dia tetap konsisten memberitakan Yesus yang mati dan bangkit kepada siapa pun (Kis. 26:19-23).

Perpadanan dengan Injil Kristus menjadi landasan kita dalam menghadapi aniaya dan penderitaan. Jangan terjebak dengan pemberitaan injil yang menolak penderitaan salib dengan anggapan sekarang waktunya kita menikmati kebebasan oleh pengurbanan Yesus sehingga cukup membaca Perjanjian Baru dan tidak perlu membaca Perjanjian Lama dengan alasan Allah di zaman lalu sangat kejam mudah menghukum mati sementara Allah di zaman Perjanjian Baru mahakasih. Bukankah Rasul Paulus menyinggung Perjanjian Lama dalam tulisannya dengan kata-kata “seperti yang sebelumnya sudah dinubuatkan”; berarti Injil Yesus ini sudah dinubuatkan sebelumnya bukan dikarang-karang sendiri.

Untuk apa jemaat Filipi (juga kita) hidup berpadanan dengan Injil Kristus? Supaya tetap teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil (Flp. 1:27). Ini menjadi landasan kuat agar iman kita tidak mudah dikacaukan oleh injil lain yang berusaha memutarbalikkan Injil Kristus (bnd. Gal. 1:7).

Aplikasi: kita harus mempunyai landasan kuat (hidup berpadanan dengan Kristus dan iman yang teguh akan Injil salib Kristus) agar tujuan kita tidak melenceng. Misal: pelayanan misi Gate bukan untuk hura-hura tetapi untuk memenangkan jiwa demi perluasan Kerajaan Allah.

Rasul Paulus menegaskan pemberitaan tentang salib (Injil Kristus) adalah kekuatan dan hikmat Allah (1 Kor. 1:18-21). Itu sebabnya dia memutuskan memberitakan Yesus Kristus yang disalib (1 Kor. 2:2) sebab Injil ini mampu mempersekutukan dan menyatukan hidup nikah, keluarga dan bermasyarakat.

Lebih lanjut Rasul Paulus menasihati agar tidak digentarkan sedikit pun oleh lawan (Flp. 1:28). Dia sadar manusia tetap dapat dilanda kecemasan dan ketakutan terlebih saat itu pengikut Tuhan menderita dan hidup di bawah ancaman. Dia sendiri masuk penjara gara-gara „lawan‟ yang tidak senang dengan pemberitaannya.

Aplikasi: kita tidak boleh puas diri telah diselamatkan dan hidup tenang dalam zona nyaman dan aman. Ingatlah akan saudara-saudara kita seiman yang hidup makin ditekan karena kebenaran Injil Kristus. Berdoa dan berikan mereka dorongan agar mereka tetap bersemangat tidak mudah menyerah menghadapi ancaman-ancaman yang dilontarkan oleh si jahat.

Hendaknya kita hidup mengeluarkan bau harum dari kemenyan yang keluar dari Mazbah Pembakaran Ukupan seperti dikatakan oleh Rasul Paulus dalam menyebarkan keharuman pengenalan akan Kristus di mana-mana (2 Kor. 2:14). Ada dua macam bau: bau harum (kehidupan) bagi mereka yang diselamatkan tetapi bau kematian bagi mereka yang
binasa (ay. 15-16). Contoh: dua penjahat di sebelah kiri kanan Yesus, yang satu terhilang dan satunya lagi mempergunakan kesempatan emas untuk bertobat dan dia diselamatkan pada detik-detik terakhir hidupnya (Luk. 23:39-43).

Di zaman dahulu, bau harum kemenyan yang ditaruh di atas Mazbah Pembakaran Ukupan dinyalakan nonstop 24 jam memenuhi Tempat Kudus untuk mengusir serangga dan mengharumkan seluruh ruangan. Mazbah ini terletak paling dekat dengan hadirat Allah dan keharuman dupa menyenangkan hati-Nya. Sesungguhnya, sejak Adam-Hawa jatuh dalam dosa, mereka sudah kehilangan kehadiran Allah dan memilih bersembunyi dari hadapan-Nya (Kej. 3:8-10).

Yesus sendiri bergumul dalam doa di Getsemani (Luk. 22:39-44); Paulus dan Silas saat di penjara Filipi juga bergumul dalam doa dan banyak hamba Tuhan tidak lepas berdoa demi kemajuan iman jemaatnya. Bagaimana dengan doa yang kita panjatkan? Apakah fokus untuk kepentingan diri sendiri dan tidak peduli dengan keselamatan jiwa orang-orang di sekitar kita? Yesus (dalam kondisi manusia) sangat ketakutan menghadapi kematian dan menangis dalam doa-Nya tetapi tetap menyerahkan semua kepada kehendak Bapa-Nya demi keselamatan manusia berdosa. Ia sangat mengenal hati Bapa-Nya.

Kita bernapas 24 jam dan berlangsung alamiah tanpa paksaan. Bukankah doa kita bagaikan napas kehidupan? Apa yang terjadi bila kita tidak bernapas (doa) beberapa menit? Doa dan penyembahan dapat dilakukan di mana pun seperti Nehemia yang bekerja pada Raja Artahsasta (orang kafir) menangis dan berdoa ketika mendengar bangsanya (orang Yahudi) berkeluh kesah karena tembok Yerusalem dihancurkan (Neh. 1:2-4). Bila kita mengenal kehendak dan hati Tuhan, kemacetan-kemacetan dalam proses pembangunan Tubuh Kristus tidak akan terjadi. Waspada, pendeta juga manusia yang dapat lemah dan lebih banyak diincar Iblis untuk dijatuhkan supaya Nama Yesus dipermalukan. Oleh sebab itu jemaat perlu mendoakan mereka seperti Paulus meminta jemaat Efesus untuk berdoa baginya (Ef. 6:19).

Injil Kristus mengeluarkan bau keselamatan/kehidupan bagi mereka yang percaya kepada-Nya atau bau kematian bagi mereka yang menolak Dia. Dan jemaat Filipi (juga kita) diberi karunia untuk menderita bagi-Nya. Jadi saat menderita mereka (juga kita) tidak perlu berlebihan seolah-olah penderitaan mereka (juga kita) lebih berat dari Rasul Paulus yang pernah dirajam batu hampir mati tetapi esok harinya sudah memberitakan Injil lagi di tempat lain (Kis. 14:19-20). Rasul Paulus menulis ayat ini bukan untuk merengek minta dikasihani tetapi justru ingin menolong jemaat Filipi (juga kita) agar mereka tahu bahwa ia memiliki keterbatasan dan tidak dapat berbuat banyak saat di penjara tetapi ada satu Pribadi yang mampu menolong mereka (juga kita).

Heran, Paulus sedang menderita tetapi sanggup menghibur jemaat Korintus yang juga mengalami kesulitan dengan penghiburan yang diterimanya dari Allah sehingga mereka beroleh kekuatan untuk sabar menderita kesengsaraan seperti yang dideritanya (2 Kor. 1:1,3).

Aplikasi: jemaat adalah anggota Tubuh Kristus, jika satu anggota menderita semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Kor. 12:26). Hal ini dapat terjadi bila kita mendapatkan asupan Firman Tuhan yang sama walau kita memiliki latar belakang beda-beda. Kita menderita untuk saling menolong dan menguatkan satu sama lain. Yesus menjadi teladan sempurna menderita luar biasa bukan karena kesalahan-Nya sendiri tetapi untuk menolong seluruh manusia berdosa. Kepala-Nya dikenakan mahkota duri untuk menyucikan pikiran kita yang kotor dan jorok; tangan-Nya dipaku untuk membersihkan perbuatan tangan kita yang jahat dst. Ingat, Yesus menderita hingga mati untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. Oleh sebab itu hendaknya kita menanggung kehinaan-Nya (ikut merasakan penderitaan) sebab kita tidak mempunyai tempat tinggal tetap di dunia tetapi mencari kota yang akan datang (Ibr. 13:12-14). Jika di era Musa, “pengampunan dosa” terjadi setahun sekali dilakukan oleh imam besar Harun yang masuk ke Tempat Mahakudus membawa darah lembu jantan atau darah domba jantan (Ibr. 9:25), sekarang pengampunan terjadi setiap saat jika kita datang kepada Yesus Kristus yang menanggung dosa kita dengan pengurbanan diri-Nya sendiri (ay. 28).

Kita tahu Yesus menderita dan rela mengurbankan diri-Nya untuk manusia berdosa termasuk kita. Kita patut bersyukur telah diselamatkan oleh-Nya namun kita tidak boleh puas diri karena Ia memberi kita karunia untuk mengikut jejak-Nya yaitu menderita bagi-Nya supaya makin banyak jiwa beroleh keselamatan di dalam Dia untuk satu kali kelak kita semua berkumpul dengan-Nya di dalam Yerusalem baru selama-lamanya. Amin.