Kasih Yesus Yang Menyelamatkan

KASIH YESUS YANG MENYELAMATKAN

Lemah Putro, Minggu, 22 September 2019
Pdm. Jusuf Wibisono

Shalom,

Kita layak bersyukur kepada Tuhan bila kita masih diberi kemurahan dan kesempatan untuk datang beribadah memuji dan memuliakan Nama Tuhan terlebih lagi menerima Firman Tuhan karena oleh kasih-Nya kita diselamatkan dari hukuman dosa. Tanpa kasih Yesus, segala usaha apa pun yang kita lakukan tidak ada artinya alias nihil/nol seperti ditegaskan dalam 1 Korintus 13:2, “….sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”

Kasih Yesus menjadi pendorong bagi kita dan memampukan kita untuk mendengarkan Firman Tuhan, mengerti, menyimpan dalam hati dan melakukannya dalam keseharian hidup. Kasih Yesus mengerjakan kehidupan kita terus menerus melalui didikan dan tempaan untuk keluar sebagai bejana mulia dan diperlengkapi untuk siap ditampilkan. Ilustrasi: para taruna AKABRI dididik dan digembleng, setelah lulus mereka diperlengkapi dengan senjata untuk mampu menghadapi segala macam tantangan dan menang. Demikian pula oleh kasih Yesus kita mampu mengatasi setiap persoalan dan menembusi segala macam masalah. Contoh: pada hari pertama minggu malam para murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut terhadap orang-orang Yahudi (Yoh. 20:19). Ingat, barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1 Yoh. 4:18). Datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka sambil berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka bersukacita melihat Tuhan kemudian Ia memenuhi mereka dengan Roh Kudus untuk siap diutus (ay. 20-22).

Waspada, Iblis tidak memandang siapa pun – kedudukan tinggi-sederhana, pandai-bodoh, kaya-miskin, tua-muda dst. – jika kosong tak berpenghuni dan tidak bertuan, ia mengajak teman-temannya masuk dan berdiam di dalamnya (Mat. 12:44). Hati kosong dari kasih membuat seseorang gelisah, stres, depresi dan tak jarang membuatnya putus asa lalu mengambil jalan pintas bunuh diri. Sungguh, manusia menjadi tidak berarti jika ia tidak memiliki kasih Yesus bagaikan ranting yang tidak dapat berbuat apa-apa jika tidak melekat pada pokok anggur (Yoh. 15:5). Untuk dapat berbuahkan (sukacita) banyak kita harus menempel pada Pribadi Yesus Kristus, pokok anggur sejati.

Apa nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Filipi (juga kita) melalui tulisannya di Filipi 1:27-30? “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus supaya apabila aku datang aku melihat dan apabila aku tidak datang aku mendengar bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan tetapi bagi kamu tanda keselamatan dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus melainkan juga untuk menderita untuk Dia dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.”

Terbukti oleh karena karunia/anugerah Tuhan kita mampu menjadi orang-orang percaya/beriman sehingga kita dapat mengerti, menyerap, menerima, menyimpan dan melakukan Firman Tuhan. Namun tidak berhenti pada percaya, kita juga dikaruniai untuk menderita bagi Dia.

Kenyataannya, kita sudah stres menghadapi kesulitan hidup sehari-hari, masihkah kita bersedia menderita untuk Tuhan? Tidak ada pilihan kecuali melalui pintu sempit (Mat. 7:14) seperti Yesus meminta orang muda kaya untuk menjual segala miliknya jika ingin memperoleh kehidupan kekal lalu mengikut Dia tetapi orang muda itu sedih karena banyak hartanya (Mat. 19:16,21). Dengan kata lain, orang muda kaya ini tidak mau menderita untuk Yesus. Di kesempatan lain Paulus dan Barnabas pergi ke Listra, Ikonium dan Antiokhia untuk menguatkan hati murid-murid dan menasihati mereka untuk bertekun di dalam iman sebab untuk masuk Kerajaan Allah mereka harus mengalami banyak sengsara (Kis. 14:22).

Bagaimana kita mampu menderita bagi Tuhan? Melihat reaksi orang muda kaya yang tidak mau lepas dari hartanya, Yesus mengatakan lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada orang kaya masuk dalam Kerajaan Allah (Mat. 19:24). Yesus mengambil contoh unta yang dilengkapi dengan persediaan air di dalam tubuhnya untuk menghindari tantangan dehidrasi di gurun pasir yang panas terik, kering dan tandus. Selain itu unta harus menundukkan diri untuk dapat dimuati beban.

Implikasi: kita harus diperlengkapi dengan kerendahan hati untuk mampu berdiri teguh menghadapi pencobaan dan ujian di padang gurun dunia ini. Kita dapat rendah hati melalui tempaan dan gemblengan (api) Firman Tuhan yang memurnikan iman kita (1 Ptr. 1:7) .

Kita diminta hidup berpadanan (= seimbang, sebanding) dengan Injil Kristus. Yesus telah menjadi teladan sempurna dalam kerendahan hati. Ia adalah Raja di atas segala raja tetapi bersedia merendahkan diri turun ke bumi menjadi manusia bahkan rela mati disalib untuk menebus dosa manusia termasuk kita. Ia memberikan pengampunan total yang patut kita contoh ketika kita harus mengampuni orang yang menyakiti kita – mengampuni 70 kali 7 kali alias tanpa batas (Mat. 18:32). Bersikaplah seperti Zakheus (pemungut cukai) yang bersedia menerima Yesus di rumahnya dan bersedia berubah dari cara hidup lamanya – tidak lagi dikuasai oleh Mamon (Luk. 19:5-8).

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia (dari debu tanah) menurut gambar dan rupa-Nya serta diberi kuasa untuk menaklukkan bumi (Kej. 1:28). Dengan kata lain, kita diberi kuasa oleh-Nya untuk menghadapi tantangan-tantangan di udara, laut dan darat. Bukankah sekarang dunia sedang diguncang di seluruh sendi kehidupan – bidang politik, ekonomi, sosial dll.?

Aplikasi: berikan hidup kita untuk dibina, dididik dan dibentuk oleh Firman Tuhan walau harus menderita masuk di dalam “perapian” agar kita dapat hidup berpadanan seperti Yesus yang telah menderita untuk kita. Kehidupan semacam ini diberkati oleh-Nya untuk mampu menghadapi segala macam tantangan di bumi ini. Untuk itu kita harus memikirkan perkara-perkara yang di atas yaitu kebenaran, damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus bukan sibuk memikirkan perkara di bumi (Kol. 3:2).

Perhatikan, dosa menjadi penghalang dari setiap persoalan manusia menyebabkan tidak adanya penyelesaian. Sebaliknya, kasih Yesus menolong, mengampuni dan menyucikan kita. Setelah disucikan oleh-Nya kita tidak boleh berdiam diri tetapi melayani Dia.

Hendaknya kita melayani Tuhan dengan hati yang sudah disucikan juga menjadi utusan yang memiliki keberanian menghadapi lawan yang menuju kepada kebinasaan sementara kita yang diselamatkan tetap teguh berdiri dalam berjuang. Dalam perjuangan dibutuhkan ketekunan seperti Yakub yang bergumul/berjuang dengan seorang laki-laki hingga fajar menyingsing dan beroleh berkat kemenangan (Kej. 32:24,28).

Tahukah kasih setia Tuhan yang mengalir dari tempat mahatinggi menyegarkan (hati) kita sehingga keluarlah ucapan syukur dan pujian untuk memuliakan Nama-Nya seperti dialami oleh perempuan Samaria yang hidupnya menjadi berkat bagi orang-orang di kotanya setelah mereka menyaksikan keubahan hidup darinya (Yoh. 4:15-19, 28-29, 39-42). Perempuan Samaria dengan kehidupan najis telah dipilih Tuhan menjadi saluran berkat bagi orang banyak di kotanya.

Hanya Yesus dengan kasih-Nya dapat mengubah kehidupan kita yang jahat dan najis. Dan keubahan harus dimulai dari diri sendiri, jangan menuntut orang lain berubah. Keubahan hidup yang kita alami menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitar kita untuk mengalami keubahan pula. Juga oleh kasih-Nya, persoalan yang kita hadapi akan terurai/terselesaikan.

Kita yang beriman kepada Yesus Kristus diberi karunia untuk menderita bagi-Nya dan tetaplah fokus memandang dan menyembah Dia satu-satunya seperti dilakukan oleh Rasul Yohanes yang menyembah Allah (Why. 22:8-9) dan sudah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya barang siapa percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yoh. 3:16). Amin.

 

Video Ibadah ini dapat disimak di sini: Ibadah Umum - "Kasih Yesus yang Menyelamatkan" - 22 September 2019 - Pdm. Jusuf Wibisono