Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Sengsara Tetapi Tetap Sukacita

SENGSARA TETAPI TETAP SUKACITA
 
Lemah Putro, Minggu, 1 September 2019
Pdm. Budy Avianto
 
Shalom,
Benarkah kita dapat bersukacita ketika sengsara melanda kehidupan kita? Bagaimana Rasul Paulus mengisahkan pengalaman sengsaranya bersama Kristus? Filipi 1:12-14 menuliskan, “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak  takut.”
 
Heran, pemenjaraan Paulus justru menyebabkan kemajuan Injil. Bagaimana mungkin? Sebab ia dipenjara bukan karena melanggar peraturan pemerintah atau adat istiadat tetapi karena Kristus (Kis. 28:17-18). Hati-hati sebagai anak Tuhan, jangan kita melanggar hukum dunia dan peraturan pemerintah juga peraturan lingkungan di mana kita berada. Perlu diketahui, Indonesia terdiri dari aneka ragam suku dan bahasa dengan adat istiadat serta kebiasaannya masing-masing. Jangan menabrak‟ sana-sini tetapi hiduplah berkenan di hadapan Tuhan dan sesama supaya orang-orang di luar melihat anak Tuhan hidupnya beda karena ada Tuhan di dalam dia.

Rasul Paulus sedang dalam perjalanan kedua dan berencana memberitakan Injil di Asia tetapi Roh Kudus mencegahnya (Kis. 16:6). Dalam penglihatan, ia melihat seorang Makedonia berseru kepadanya, “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” (ay. 9)
 
Paulus mengikuti bimbingan Roh Kudus dan ia berangkat ke Makedonia (di Eropa) untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana dan kota pertama yang disinggahi ialah Filipi (ay. 12). Ketika menyusur tepi sungai, Paulus menemukan tempat sembahyang Yahudi lalu berbicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Seorang dari mereka bernama Lidia, penjual kain ungu, turut mendengarkan dan Tuhan membuka hatinya sehingga ia memerhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Apa yang terjadi kemudian? Lidia dibaptis bersama seluruh keluarganya, mereka diselamatkan karena percaya kepada Tuhan (ay. 15).
 
Selanjutnya Paulus bertemu dengan hamba perempuan yang mempunyai roh tenung. Perempuan ini dimanfaatkan oleh tuan-tuannya untuk meraup keuntungan besar (ay. 16). Paulus merasa terganggu dan mengusir roh tenung dari perempuan ini. Melihat hal ini, tuan-tuannya marah karena penghasilan mereka lenyap maka mereka menangkap Paulus dan Silas lalu menyeret mereka ke pasar menghadap penguasa (ay. 18-19). Akhirnya Paulus dan Silas dijebloskan penjara di ruang paling tengah dan dipasung kakinya (ay. 24). Dalam kondisi sengsara semacam itu, mereka tidak berdoa minta Tuhan membebaskannya; sebaliknya, mereka berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah yang didengar oleh orang-orang hukuman lain (ay. 25). Tiba-tiba terjadi gempa bumi hebat menyebabkan semua pintu penjara terbuka dan belenggu mereka terlepas. Kepala penjara yang terjaga dari tidurnya sangat ketakutan dan mau bunuh diri karena menyangka para narapidana telah melarikan diri tetapi tindakannya dicegah oleh Paulus. Ketika kepala penjara bertanya apa yang harus diperbuat supaya selamat, Paulus menegaskan dia harus percaya kepada Tuhan Yesus Kristus maka dia dan seisi rumahnya selamat. Pada jam itu pula kepala penjara dan seluruh keluarganya membawa diri dibaptis. Ia sangat bergembira karena ia dan seisi rumahnya menjadi percaya kepada Allah (ay. 34). Pertobatan mereka mengingatkan bagaimana kehidupan Paulus sebelumnya yang lebih dikenal dengan nama Saulus. Dia orang hebat dan pandai, murid dari Gamaliel tetapi justru dengan kepandaian dan kemampuannya yang luar biasa, dia menjadi pembunuh yang keji. Dia menganiaya pengikut-pengikut Yesus. Dalam perjalanan dekat Damsyik dia melihat cahaya yang menyilaukan dan mendengar suara Tuhan yang dianiayanya (Kis. 22:3-9). Saat itulah dia bertobat; seharusnya sebagai pembunuh dan pelanggar perintah Allah, dia tidak ada bagian di dalam Kerajaan Surga. Namun dia tidak dihukum melainkan beroleh kasih karunia (1 Tim. 1:14). Dia dibaptis dan dipenuhi Roh Kudus berdampak hidupnya berubah total tidak lagi menuruti kehendak daging tetapi hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Ini terlihat ketika dia menuruti bisikan Roh Kudus yang menyuruh dia menginjil di Makedonia bukan di Asia; bahkan didera dan dipenjara pun, dia tetap bersukacita.
 
Aplikasi: apa pun masalah (keluarga, nikah, pekerjaan, kesehatan dll.) yang sedang kita hadapi, jangan semua ini dijadilah alasan untuk tidak beribadah apalagi mengomel menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, berdoa dan memujilah Tuhan karena semua sengsara ini seizin Tuhan dan Ia bertakhta di atas puji-pujian (Mzm. 22:4).
 
Perhatikan, kita dahulu juga mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa sebab kita menaati penguasa kerajaan angkasa dan hidup di dalam hawa nafsu daging (Ef. 2:1-5). Namun oleh kasih karunia kita diselamatkan (ay. 5). Masalahnya, setelah diselamatkan akankah kita kembali pada cara hidup yang lama? Tidak! Paulus memberikan teladan dengan berubah total dan berjalan seturut dengan pimpinan Roh Kudus. Sebagai "tawanan Roh Kudus‟ dia memberitakan Injil dari kota ke kota seperti yang dinyatakan oleh Roh Kudus bahkan tahu penjara dan sengsara menunggunya tetapi dia tidak menghiraukan nyawanya sedikit pun (Kis. 20:21-24).
 
Aplikasi: kita adalah tawanan (tidak lagi bebas) Roh Kudus dan tidak mempunyai kehendak sendiri lagi. Turuti pimpinan Roh Kudus walau terkadang membawa kita pada suasana sengsara, tetaplah bersukacita dan mengucap syukur seperti sikap Paulus ketika dipenjara ia tetap berdoa dengan sukacita dan mengucap syukur (Flp. 1:3-4). Dia tidak berdoa minta dibebaskan karena ketidakadilan. Yesus sendiri mengatakan siapa mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 16:2).
 
Penjara identik dengan sengsara. Masalahnya, apa yang menjadi dasar dari sukacita orang-orang percaya? Apakah karena beroleh berkat sandang, pangan, papan dan kesehatan prima? Semua berkat duniawi hanya bersifat sementara dan ada batasnya. Bukankah umur kita ada batasan 70 – 80 tahun (Mzm. 90:10) untuk dapat dinikmati? Demikian pula dengan 70 murid yang bersukacita ketika mereka berhasil menyelesaikan misi utusan karena setan-setan takluk kepada mereka demi Nama-Nya tetapi Yesus mengingatkan agar mereka tidak bersukacita karena roh-roh jahat takluk tetapi karena nama mereka terdaftar di Surga (Luk. 10:17-20). Tuhan menawarkan sukacita kekal tanpa batas saat kita berada di bumi dan langit baru di mana tidak lagi ada air mata serta perkabungan di sana (Why. 21:1,4).
 
Introspeksi: apa penyebab sengsara yang kita alami? Apakah karena kesalahan diri sendiri yang berakibat pehukuman api neraka seperti pernah dilakukan oleh Saulus/Paulus sebelum dia bertobat? Ingat, Tuhan memberi kita kuasa untuk menang, mintalah ampun kepada-Nya dan bertobatlah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Memang kita tidak bertemu Yesus secara kasatmata tetapi kita mendengar dan membaca Firman Tuhan yang adalah pribadi Allah sendiri. Jangan menyanjung pendeta betapa pun hebat khotbahnya tetapi kembalilah kepada kebenaran Firman Tuhan sebab di akhir zaman ini banyak pelayan menyamar sebagai pelayan kebenaran (2 Kor. 11:15). Contohlah jemaat di Berea yang setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah Firman yang mereka dengar itu benar seperti yang tertulis dalam Alkitab (Kis. 17:11). Bila kebenaran Firman Tuhan disampaikan, kebenaran ini akan membebaskan kita dari dosa (Yoh. 8:32). Jangan bersukacita semu, awalnya baik tetapi lama kelamaan lebih menonjolkan keberhasilan pelayanan lalu meninggalkan Alkitab! Hamba Tuhan diberi kuasa oleh-Nya untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya!
 
Kalau kita sudah diperdamaikan dengan Tuhan dan dengan sesama tetapi masih mengalami sengsara, jangan tawar hati. Allah memberikan kekuatan dari terang Injil yang ada di dalam hati sehingga kita mampu bertahan walau ditindas, dianiaya, dihempaskan sebab kita senantiasa membawa kematian Yesus supaya kehidupan-Nya menjadi nyata di dalam tubuh kita (2 Kor. 4:1-11). Dengan kata lain, dalam kondisi kematian karena sengsara pun kita masih ada pengharapan sebab ada saatnya kita dibangkitkan bersama Dia. Harus diakui, manusia lahiriah kita makin merosot tetapi manusia batiniah kita dibarui dari hari ke hari. Penderitaan sekarang ini mengerjakan kemuliaan kekal melebihi segalanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kita sebab kita memerhatikan yang tidak kelihatan yang bersifat kekal (ay. 16-18). Ketahuilah jika kemah tubuh kita „dibongkar‟ kembali ke tanah, Allah telah menyediakan tempat kediaman kekal di Surga yang tidak dibuat oleh tangan manusia (Kis. 5:1).
 
Apakah kita menginginkan kebahagiaan? Yesus memberikan tips kebahagiaan kepada kita, yaitu, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah karena upahmu besar di sorga sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Mat. 5:10-12)
 
Jadi, apa pun kondisi kita karena banyaknya masalah menimpa, jangan bersedih hati apalagi putus asa! Tetaplah berdoa dan memuji Tuhan dan paling penting ada terang Firman Tuhan di dalam hati yang mampu membarui kita dari hari ke hari. Untuk itu kita harus terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan (Mat. 6:33). Tentu Tuhan tidak keberatan menambahkan berkat jasmani jikalau kita mendahulukan perkara-perkara yang kekal.
 

Memang Tuhan menghibur kita melalui Firman-Nya tetapi bagaimana dengan orang-orang di keluarga dan lingkungan (sekolah dan tempat kerja) kita? Apakah mereka juga berbahagia saat menghadapi sengsara karena kebenaran? Ilustrasi: sebuah gelas kosong yang terus diisi air akan meluber; demikian pula bila hati kita penuh sukacita melimpah, kita tidak akan dapat menahan luapan sukacita ini sebatas di gereja tetapi akan meluber ke mana-mana menyaksikan kebesaran Tuhan melalui puji-pujian dan tingkah laku kita. Seandainya Paulus bersukacita hanya untuk diri sendiri, apa gunanya? Namun kondisi terbelenggu tidak dapat membatasinya, dia rajin menulis dan suratnya dapat dibaca oleh jemaat Filipi, Efesus dll. hingga surat-suratnya dikanonisasi dan tercantum dalam Alkitab kemudian masuk ke Indonesia ± abad 6-7. Sekarang kita dapat mendengar dan membaca sendiri surat-suratnya yang membuat kita juga bersukacita.

Bagaimana Rasul Paulus menyikapi masalah hidup dan kematiannya? Dia menulis dalam Filipi 1:21-26, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku apabila aku kembali kepada kamu.”

Paulus tidak takut menghadapi kematian sebab ia yakin sepenuhnya namanya sudah terdaftar di Surga. Namun dia rela hidup menderita sengsara untuk bekerja (melayani) memberi buah dan ini dilakukannya dengan penuh sukacita. Bagaimana dengan kita? Kita sudah diselamatkan, apakah kemudian kita bersikap egois menikmati sukacita untuk diri sendiri? Seandainya para nabi dan rasul bersikap egois, Injil tidak akan menyebar sampai ke Indonesia tetapi Tuhan ingin kita mengestafetkan pemberitaan Injil Kristus agar makin banyak orang menikmati sukacita walau sedang mengalami sengsara karena kebenaran.

Ingat, kasih Tuhan tidak terbatas hanya pada jemaat Lemah Putro-Johor tetapi Ia menghendaki supaya tidak ada satu pun binasa melainkan semua orang berbalik dan bertobat (2 Ptr. 3:9). Bertahanlah di dalam sengsara karena kebenaran, Tuhan memberikan kita kuasa kemenangan hingga satu kali kelak pengharapan kita terwujud itulah tinggal bersama Dia selamanya di kerajaan-Nya yang kekal. Amin.

 

Video Ibadah ini dapat diakses di https://www.gkga-sby.org/mobile/index.php/video-recording/item/508-ibadah-umum-1-september-2019-pdm-budy-avianto