Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Hidup Yang Dipersembahkan Bagi Kristus

HIDUP YANG DIPERSEMBAHKAN BAGI KRISTUS

Johor, Minggu, 1 September 2019

Pdm. Setio Dharma Kusuma

Shalom,

Pernahkah kita memerhatikan ketika pergi ke pemakaman Kristen, ada begitu banyak nisan dihiasi dengan ayat-ayat Alkitab dan salah satu ayat yang sering dipakai mengutip ayat dari Filipi 1:21 yaitu “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan"?

Sekalipun kita tidak mengenal siapa yang berbaring di dalam liang lahat, ayat tersebut menunjukkan yang terbaring di sana adalah orang percaya. Yang menjadi pertanyaan, apakah maksud pemakaian ayat itu oleh keluarga almarhum(ah) sama dengan tujuan dan maksud dari Rasul Paulus?

Untuk mengetahui maksud penulisan ayat itu, kita harus mengerti ayat-ayat sebelumnya yang ditulis oleh Paulus hingga pada satu titik dia mengatakan “Karena bagiku hidup adalah Kristus...” Apa yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan Rasul Paulus?

  • Permasalahan yang terjadi oleh karena Kristus (ay.13).

“Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu..” (ay. 12)

Rasul Paulus ingin supaya kita mengerti apa yang terjadi dengannya saat dia dipenjara berkaitan dengan Injil yang diberitakan olehnya.

Dalam pengikutan kita kepada Tuhan, hendaknya kita tidak salah paham atau gagal paham dalam membaca dan menafsirkan Alkitab. Bukankah dalam proses pembelajaran kita sering mengalami kegagalan? Jujur, lebih mudah mengajar orang yang belum/tidak paham ketimbang mengoreksi orang yang pahamnya salah untuk diluruskan pada pemahaman yang benar.

Apa yang harus kita ketahui dan pahami pada diri Rasul Paulus sebelum dia menulis “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”? Apa yg terjadi dengannya?

“Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.” (ay.12-13)

Satu hal yang menjadi permasalahan adalah Rasul Paulus dipenjara. Tentu tidak ada seorang pun suka dipenjara! Apa masalah yang menyebabkan dia dipenjara? Ternyata dia dipenjara oleh karena Kristus bukan karena melakukandosa.

Introspeksi: saat ada masalah di dalam pelayanan, sudahkah kita berdiri atas kebenaran Firman Tuhan dan di dalam Kristus? Ketika rintangan dan badai menerjang, siapa/apa penyebabnya? Kebenaran Firman Tuhan atau dosa dan emosi kita? Atau kita gagal dan salah paham dalam pelayanan? Sangat jelas Rasul Paulus mengatakan bahwa dia dipenjara karena Kristus bukan karena alasan lain.

Dalam pelayanan pasti ada kalanya timbul beda pendapat yang tidak dapat dihindari. Koreksi diri apakah masalah ini timbul karena kita berdiri atas kebenaran Firman Tuhan atau berdasarkan like/dislike terhadap seseorang. Kalau berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, seiring dengan waktu “tantangan” dalam pelayanan akan berdampak pada kemajuan Injil dan sesama pelayan Tuhan akan makin berani berkata-kata tentang Firman Allah (ay.14).

Kisah nyata: pada tahun 1880, di desa kecil di India ada keluarga yang terdiri dari seorang suami, istri dan dua anak yang memutuskan mengikut Yesus. Hal ini membuat orang di sekitar desa itu marah karena mereka membenci orang yang percaya Yesus. Suatu saat kepala desa membawa keluarga ini ke alun-alun dan mengancam jika seluruh keluarga ini tidak meninggalkan imannya, mereka semua akan mati. Sebagai kepala keluarga, si pria tidak tahu harus mengatakan ataupun melakukan apa kecuali satu hal yang diingatnya yaitu lirik lagu yang diciptakannya waktu percaya kepada Yesus lalu dia menyanyi, “I have decided to follow Jesus, no turning back, no turning back.” Dia menyaksikan dua anaknya mati dibunuh dengan sangat mengerikan. Kemudian kepala desa mengatakan lagi, “Aku memberi kesempatan kepada kalian, kalau kau masih tetap mempertahankan imanmu, istrimu akan mati!” Si pria meneruskan menyanyi, “Though none go with me, still I will follow, no turning back.” Saat itu juga istrinya mati di depan matanya.

Dia diberikan kesempatan terakhir untuk menyelamatkan diri sendiri namun dia tetap menyanyikan, “The cross before me, the world behind me, no turning back.” Walau seluruh keluarga meninggal pada hari itu, benih iman telah tertanam di hati orang-orang yang menyaksikan kematian mereka. Banyak dari mereka yang hadir bertanya-tanya siapakah Yesus Kristus sehingga keluarga ini rela mati demi-Nya. Benih iman yang sama telah tertanam pula pada hati kepala desa tersebut.

Dengan berjalannya waktu benih itu bertumbuh dan pada akhirnya kepala desa memanggil semua penduduk desa dan tetangganya di alun-alun yang sama. Dia meninggalkan kepercayaan lama dan menyatakan imannya kepada Yesus Kristus. Sebuah perayaan diadakan pada saat itu dan Injil mulai berkembang dan bertumbuh di komunitas desa itu bahkan menyebar ke seluruh daerah. Hari itu dapat dilihat iman yang sesungguhnya, mereka mengetahui karakter asli dari Bapa di Surga. Semua ini diawali dengan sebuah keluarga yang percaya kepada Kristus dan rela berkurban mati demiimannya.

  • Yang terpenting dan terutama adalah Kristus yang diberitakan/ dibesarkan/ ditinggikan (ay.18).

“Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih sebab mereka tahu bahwa aku ada di sini untuk membela Injil tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,” (ay. 15-18)

Ternyata ada orang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, ada pula karena kepentingan diri sendiri dan dengan maksud tidak ikhlas. Apa pun bentuk dan motivasi dalam memberitakan Kristus tidak memengaruhi Rasul Paulus dan ia tetap bersukacita karena ia fokus mau menyenangkan Kristus.

Pembelajaran: sukacita dalam pelayanan tidak ditentukan oleh orang lain. Misal: kalau kita menunggu pujian dan penghargaan dari seseorang, ini berarti pelayanan kita bukan untuk Kristus melainkan untuk diri sendiri. Kalau tidak ada pujian, mukanya cemberut; kalau dipuji, mukanya berseri-seri. Kita tetap sungguh-sungguh melayani Tuhan baik diperhatikan/dipuji atau tidak. Jangan baru sibuk melayani jika dilihat gembala dan penatua!

Demikian pula dengan motivasi, jika motivasinya berpusat pada diri sendiri, tidak akan ada sukacita dalam melayani Tuhan. Misal: pendeta merasa tersinggung jika gelarnya tidak disebut dengan lengkap. Ketika yang menjadi pusat pelayanan bukanlah Kristus lagi, maka sebenarnya sukacita dalam pelayanan akan berangsur-angsur hilang.

  • Tujuan akhir adalah karya Kristus di kayu salib (ay.19).

“karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.”

Bicara tentang keselamatan tidak lepas dari karya Kristus di kayu salib. Yang menjadi fokus Rasul Paulus adalah keselamatannya. Sepanjang hidupnya ia benar-benar menyatakan “bagiku hidup adalah Kristus” sebab dia memiliki masalah karena Kristus, yang ditinggikan adalah Kristus, dipenjara karena Kristus dan akhirnya keselamatannya karena karya Kristus.

Introspeksi: apa yang lebih berharga dan penting selama kita hidup? Bertumpuk-tumpuk Uang? Dapatkah uang membeli kesehatan karena mampu membayar dokter hebat dan rumah sakit berfasilitas lengkap? Siapa yang menentukan hidup dan matinya seseorang? Apakah uang lebih penting dari keselamatan jiwa? Hendaknya kita hidup memberikan dampak bagi orang lain, tidak perlu menunggu mempunyai uang untuk melayani Tuhan.

  • Pertolongan itu semata-mata hanya dari Yesus Kristus (ay.19).

“karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.”

Rasul Paulus mengatakan pertolongannya sepanjang dia melayani Tuhan bukan dari orang melainkan dari Yesus. Memang jemaat di Galatia dan di Korintus membantunya tetapi bila tidak digerakkan oleh pemberitaan Injil, tangan mereka tidak akan terulur kepada Rasul Paulus.

Siapa sumber pertolongan kita? Apakah warisan dari orang tua yang kaya raya serta kedudukan tinggi? Masihkah kita mengandalkan manusia? Yeremia 17:5 mengingatkan, “Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”

Marilah kita mengevaluasi apa yang telah kita lakukan sepanjang hidup, apakah kita menderita karena melakukan Firman Tuhan dan karena Kristus? Apakah kita meninggikan Pribadi-Nya? Apakah kita mengerti bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah keselamatan oleh karena karya-Nya dan satu kali kelak kita menjadi mempelai- Nya? Dan apakah kita mengandalkan seseorang atau mengandalkan Kristus untuk beroleh pertolongan? Selama hayat masih dikandung badan, kita beroleh kasih karunia dan kesempatan memperbaiki diri untuk hidup berkenan bagi-Nya maka berlakulah “kita hidup bagi Dia dan mati pun adalah keuntungan”. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account