Jangan Menaruh Perkara pada Perkara Lahiriah

JANGAN MENARUH PERCAYA PADA PERKARA LAHIRIAH

Johor, Minggu, 10 Nopember 2019
Johor, Pdm. Besar Hartono

 

Shalom,

Badai boleh datang tetapi nelayan telah beroleh peringatan dari BMKG untuk tidak melaut, rambu-rambu juga berlaku di darat dan di udara agar pengguna jalan darat maupun udara tidak saling bertabrakan yang mengakibatkan kecelakaan. Demikian pula dengan iman, Firman Tuhan bagaikan "rambu-rambu‟ yang menghindarkan kita dari bahaya serangan si jahat dan menuntun kita ke jalan yang benar. Persoalan hidup boleh datang tetapi Firman Tuhan dan persekutuan kita dengan-Nya menjadi kekuatan besar kita.

Perhatikan, Tuhan mempunyai rencana ajaib bagi setiap dari kita, marilah kita memegang perkataan-Nya yang ajaib agar keajaiban itu terbukti nyata dalam hidup kita. Namun kita harus membuktikan bahwa kita hidup tertib dalam bersekolah, bekerja, pelayanan dsb. sebab Tuhan kita itu tertib adanya.

Bagaimana Rasul Paulus memegang perkataan Tuhan dan menerapkan dalam hidupnya? Tulisannya kepada jemaat Filipi (juga kita) mengatakan, “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus…….Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Flp. 3:4-11)

Ayat-ayat di atas menyangkut dua hal yaitu masalah jasmani dan rohani. Bagi Tuhan sangatlah mudah mengubah kondisi miskin (jasmani) menjadi kaya. Bukankah di awal peciptaan, Allah telah menyiapkan sandang, pangan dan papan sebelum manusia diciptakan? Namun karena ulah Adam-Hawa yang tidak menaati perintah Allah, mereka jatuh dalam dosa dan sejak itu mereka mencari rezeki dengan susah payah (Kej. 3:17). Jadi, kalau kita menghadapi kesulitan, ini adalah salah kita sendiri karena Firman Allah sudah memberikan peringatan lebih dahulu.

Firman Tuhan menasihati kita supaya tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, terserah kita mau menuruti atau tidak tetapi sebaiknya kita menurutinya karena menyangkut hidup kekal. Jangan bertindak seperti Adam dan Hawa yang sudah diperingatkan tetapi dilanggar akibatnya mereka menghadapi kesukaran.

Tuhan sudah menyiapkan sandang, pangan dan papan, masalahnya apakah kita siap menerimanya? Sudahkah kita terhubung dengan Sumber penyedia sandang, pangan dan papan tersebut? Bila tidak, kita akan mati. Ilustrasi: radio tidak dapat menyala alias mati jika tidak ada arus listrik yang masuk.

Kita diminta untuk menjaga hati dengan kewaspadaan tinggi terhadap anjing-anjing, pengerja-pengerja jahat dan penyunat-penyunat palsu (Flp. 3:2). Kita harus cermat terhadap pengajaran Firman yang kita terima. Matius 7:6 mengingatkan, "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya lalu ia berbalik mengoyak kamu."

Firman pengajaran Mempelai dalam terang Tabernakel tidak ada gunanya diberikan kepada "anjing-anjing‟. Tuhan mengenal hati orang yang sudah dipindahkan dari dalam maut ke dalam hidup dan memberikan pengajaran (Mempelai) agar fokus pada hal-hal rohani di mana Tuhan berada.

Kita tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan – Allah dan Mamon (Mat. 6:24).
Sama seperti kewarganegaraan, kita harus memilih menjadi WNI atau warga negara lain; kita juga harus komitmen mengabdi kepada satu tuan – Allah atau Mamon.

Lebih lanjut Tuhan mengingatkan agar kita tidak khawatir akan sandang, pangan, papan sebab kita jauh melebihi burung, bunga bakung, rumput dan Ia tahu kita memerlukan semuanya itu (Mat. 6:25-32). Kita harus hati-hati terhadap gereja yang mengajarkan perkara lahiriah berkaitan dengan sandang, pangan dan papan sebab sesungguhnya gereja tersebut tidak mengenal Allah.

Dari segi lahiriah/jasmani, Rasul Paulus mempunyai banyak keuntungan yang dapat dibanggakan seperti: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat dia orang Farisi dan menaati hukum Taurat tanpa cacat tetapi dia tidak mengenal Tuhan. Namun setelah bertemu Tuhan dan bertobat, dia mengganggap semua keuntungan jasmani itu sampah. Bahkan dengan tegas dia mengatakan kalau pengharapan kita kepada Kristus hanya sesaat (bersifat sementara) di dunia ini, kita menjadi orang paling malang dari segala manusia (1 Kor. 15:19).

Kita harus yakin bahwa Tuhan merencanakan hidup kita dengan sangat indah baik jasmani terlebih yang rohani itulah tinggal di Yerusalem baru bukan kota Yerusalem yang sekarang lagi diperebutkan di Timur Tengah. Untuk itu iman kita harus fokus pada Yerusalem Surgawi. Oleh karena pengharapan yang sangat menjanjikan, Rasul Paulus tetap bersukacita walau menderita dipenjara.

Di dalam Kristus ada nasihat (Flp. 2:1) akan apa yang harus/tidak boleh diperbuat menyangkut hal rohani yang berkaitan dengan hidup kekal. Nasihat apa yang harus kita perhatikan?

Mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya (keperluan hidup jasmani) akan ditambahkan (Mat. 6:33). Kita harus pegang janji Tuhan ini walau kenyataannya sangat sulit mencari pekerjaan. Jangan kita banyak absen beribadah demi mengejar uang! Ilustrasi: kita sebagai orang tua bekerja untuk masa depan anak-anak kita; terlebih Bapa Surgawi pasti peduli dan memerhatikan keperluan anak-anak-Nya. Mengejar perkara jasmani bagaikan berkendara di jalan tol, kita dapat terjebak dengan “air” yang tampak dari jauh padahal air tersebut tidak pernah ada (fatamorgana) setelah kita melewati jalan tersebut.

Mematikan perbuatan-perbuatan dosa (sunat penanggalan tubuh dosa) supaya kita layak tertancap pada Sumbernya yaitu Kristus. Siapa hidup di dalam Kristus akan terpelihara jasmani terlebih rohaninya. Hendaknya kita menerima Firman hidup dan mendidik anak-anak kita sejak dini untuk takut akan Tuhan. Ini berdampak bagi masyarakat di sekitar kita.

 Berani melepaskan keuntungan-keuntungan lahiriah dan menganggapnya sampah demi memperoleh Kristus. Kita berada di dalam Kristus bukan dengan kebenaran sendiri tetapi dengan anugerah kebenaran karena iman kepada-Nya.

Kristus adalah harta paling mulia dalam hidup kita dan harta ini menjadi aset masa depan kita. Ia mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita bahkan mau mengubah hidup kita dari karakter anjing, pengajar jahat dan penyunat palsu menjadi seperti karakter-Nya asal kita bersedia membuang segala keuntungan lahiriah.

Aplikasi: kita yang hidup dalam kebenaran Kristus menjadi saksi hidup bagi orang-orang di sekitar yang masih belum/tidak mengenal Dia. Ada perbedaan menyolok antara orang yang hidup dalam Kristus dengan mereka yang masih hidup dalam kegelapan dosa.

Mengenal penderitaan dalam kematian Kristus juga kebangkitan-Nya.

Kasih kita terhadap sesama masih jauh dari sempurna tetapi Rasul Paulus sudah mencanangkan dalam hidupnya untuk menjadi serupa dengan Kristus. Dia mempertunangkan jemaat Korintus (juga kita) untuk menjadi mempelai wanita Kristus. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri menjadi dewasa rohani agar layak bersanding dengan Dia, Mempelai Pria Surgawi.

Mengejar kesempurnaan agar dapat menangkapnya karena kita telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

Mengejar membutuhkan usaha dan tenaga untuk mendapatkan apa yang dikejar. Jangan kita mengejar materi atau perkara perut yang akan binasa!

Harus diakui kita belum sempurna; oleh sebab itu terimalah nasihat dan teguran Firman Tuhan bila kita salah. Perhatikan, larangan-larangan hanya berlaku di bumi dan kita akan meninggalkan semuanya setelah itu. Buang semua amarah, ketamakan, kebencian, iri hati dll. dan berdamailah dengan sesama karena kita menuju serupa dengan Kristus sehingga dunia dapat melihat bahwa kita adalah pengikut Kristus bukan pengikut agama Kristen.

Kita harus terus menerus memikirkan perkara di atas – hal rohani – dan saling memberikan nasihat, penghiburan, kasih dan belas kasihan dan perhatian supaya Kristus nyata ada dalam hidup kita.

Allah memilih bangsa Israel dan memelihara mereka dengan luar biasa – tanahnya subur, orang-orangnya cerdas dll. – oleh sebab pengajaran-Nya yang besar dan mulia (Yes. 42:21). Mereka dibawa kembali (melekat) kepada Allah yang esa dan mulia dan oleh pengajaran-Nya, mereka menang menghadapi peperangan apa pun. Sejarah membuktikan berapa kali bangsa Israel berusaha dilenyapkan tetapi sampai sekarang masih tetap eksis.

Bagaimanapun juga kita harus memasang telinga mau mendengarkan pengajaran-Nya yang mulia demi masa depan (abadi) jika kita tidak mau dijarah dan dirampok untuk tidak dilepaskan (bnd. Yes. 42:22-23).

Hendaknya kita tidak menaruh iman percaya kita pada hal-hal lahiriah yang bersifat fana tetapi kejarlah kesempurnaan dengan membuang semua keuntungan lahiriah untuk menjadi serupa dengan Kristus hingga kelak bersanding dengan-Nya di Yerusalem baru selamanya. Amin.