Berpikiran Matang Menuju Kematangan Rohani

BERPIKIRAN MATANG MENUJU KEMATANGAN ROHANI
(Flp.3:15-16)

Lemah Putro, Minggu, 24 November 2019
Pdm. Jusak Pundiono

Shalom,

Semua orang tua ingin anaknya tidak tetap bayi tetapi bertumbuh hingga usia sekolah berlanjut bekerja dst. Mereka tidak lagi anak-anak tetapi bertumbuh dewasa dan berpikiran matang. Demikian pula Bapa Surgawi menginginkan kita menjadi orang Kristen yang berpikiran matang dan terus melangkah menuju kematangan rohani. Jangan menjadi orang Kristen ecek-ecek, Kristen abal-abal atau Kristen KTP tetapi Kristen rohani yang berpikiran matang untuk mengetahui arah tujuan kita yaitu dewasa rohani berakhir dengan kesempurnaan bersama Kristus, Pengantin Pria kita.

Filipi 3:15-16 memaparkan adanya tiga prinsip dalam berpikiran matang menuju kerohanian yang matang, yaitu:

1. Berpikiran sebagai orang Kristen yang sempurna (ay.15a).

“Karena itu marilah kita yang sempurna berpikir demikian.”

Apa yang dimaksud dengan orang Kristen berpikiran sempurna? Paulus memakai istilah "sempurna (full grown, mature)‟ dalam arti dewasa, mencapai tingkat kepenuhan. Misal: kalau buah sudah masak/matang, buah tersebut dapat dinikmati. Ketika Yesus lapar dan melihat pohon ara sudah berdaun tetapi tidak ditemukan buah, Ia mengutuk pohon itu (Mrk. 11:12-14). Yesus berkenan pada buah yang matang. Jangan kita berpikiran ecek-ecek yang hanya memikirkan perkara lahiriah seperti: menonjolkan tradisi keagamaan, kesukuan, prestasi akademik, kebanggaan jabatan dalam gereja dst. seperti dibanggakan oleh Paulus yang kemudian dianggapnya sebagai sampah (Flp. 3:4a-8). Dapat dibayangkan, sampah jasmani saja sudah menjijikkan apalagi sampah rohani! Setelah percaya kepada Kristus, Paulus berpikir dalam koridor kebenaran yang dianugerahkan Allah berdasarkan kepercayaan kepada Kristus (ay. 9).

Di era Perjanjian Lama, bangsa Israel begitu bangga dengan kesukuannya kemudian di zaman Ezra dibangunlah sistem Farisi yang menjadi kebanggaan tetapi hanya satu yang diinginkan Allah yaitu: mereka percaya/beriman kepada-Nya yang menyelamatkan atau mereka percaya pada hal-hal yang dibanggakannya?

Dalam Perjanjian Baru, setiap orang yang percaya kepada Kristus (bertobat dan lahir baru) dianugerahi kebenaran. Contoh: jemaat Roma terdiri dari orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Orang Yahudi ini dibenarkan Allah oleh sebab percaya kepada Yesus bukan karena melakukan hukum Taurat dan di dalam kebenaran tidak ada perbedaan (Rm. 3:20-22) berdasarkan keadaan lahiriah (suku, pendidikan, sosial dll.).

Kita semua telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (ay. 23); jadi apa pun yang kita lakukan ditandai dengan kemuliaan dunia. Waspada, kebanggaan lahiriah justru menyeret kita untuk berdosa dalam hati dan pikiran – membuat kita sombong dan mudah merendahkan orang lain atau memandang muka (Yak. 2:1-9).

Kita harus berpikiran dalam kebenaran Allah berdasarkan Alkitab yang utuh. Kita patut berbahagia karena Alkitab telah dibukukan dengan lengkap sebanyak 66 Kitab; di masa lalu kebenaran belum ditulis tetapi hanya diperkatakan turun temurun. Kita harus mengejar kebenaran Allah ini melebihi segala perkara lahiriah yang menjadi tolok ukur kebenaran orang dunia. Kita harus selalu bergairah untuk mengenal, mendalami dan merenungkan hukum-Nya siang-malam (Mzm. 1:2) agar kerohanian kita makin matang. Para rasul, termasuk Rasul Paulus, mengejar kebenaran ini seumur hidup mereka dengan terus memandang pada panggilan Surgawi dalam Kristus Yesus (Flp. 3:12,14) bukan pada panggilan duniawi setinggi apapun.

2. Berpikiran sejalan perkembangan ungkapan Firman Allah (ay. 15b).

“Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan (bhs. Yunani: Apokalupto = akan diungkapkan/dibukakan) Allah juga kepadamu.”

Kalau kita belum mengerti ketika membaca Alkitab, jangan langsung menolak tetapi teruskan membaca karena Tuhan akan menyatakan pengertiannya entah secara pribadi saat berdoa, saat mengendarai kendaraan, saat berjalan atau ketika mendengar khotbah. Tuhan dapat menyatakannya dalam segala waktu, keadaan dan situasi apa pun namun Ia juga melihat sejauh mana kita "mengejar‟ dan "berlari‟ untuk menghayati ayat-ayat yang dibaca.

Rasul Paulus mengajak supaya kita berpikir sejalan Firman Allah yang akan terus diungkapkan/disingkapkan dan berkembang hingga pada kesempurnaan. Kita tidak perlu memperdebatkan doktrin dasar yang sudah dikutuk/dianatema oleh bapak-bapak gereja dalam konsili abad 3-5 tetapi kini muncul kembali dalam kemasan baru atau memperdebatkan masalah yang tidak substansial karena memang ada hal-hal tersembunyi bagi Allah yang tidak dinyatakan bagi kita (Ul. 29:29). Berhati-hatilah sebab ini menentukan kemajuan rohani bahkan keselamatan kita (1 Tim. 4:16).

Sebaliknya, ada hal-hal yang dinyatakan Allah melalui Firman-Nya untuk kita lakukan dan ajarkan kepada generasi berikutnya. Jujur, kita belum banyak melakukan Firman yang telah kita dengar dan baca tetapi malah mencari-cari pengertian yang belum/tidak Tuhan nyatakan kemudian ribut di situ; ini sama dengan kita menyia-nyiakan waktu kita.

Tuhan menyatakan Surat Filipi kepada jemaat Filipi dalam konteks penggembalaan (Flp. 1:1). Perlu diketahui, Yesus selalu tampil berbeda bagi setiap jemaat tergantung kebutuhan dari jemaat itu. Contoh: Ia tampil beda pada tujuh jemaat di Asia Kecil (Why. 2 – 3). Dengan kata lain, Firman Allah yang disampaikan di gereja mana pun dalam waktu yang sama tampil keren di gereja setempat karena sesuai dengan kebutuhan jemaat di gereja tersebut. Jadi, Firman Tuhan tidak dapat dibanding-bandingkan antara gereja satu dengan gereja lainnya. Tetapkan diri digembalakan di satu gereja dan hargai Firman penggembalaan dari mimbar gereja tersebut yang akan membuat kita berkembang kepada kematangan rohani.

Apa kriteria dari ungkapan di dalam kebenaran Allah?

- Ungkapan yang tidak berorientasi pada keuntungan/kemegahan lahiriah (Flp. 3:4-8).

- Ungkapan yang berfokus pada keserupaan dalam penderitaan/kematian Kristus (ay. 10-11) dimulai dengan menghargai dan menghayati kematian-Nya serta bersekutu dengan penderitaan-Nya.

- Ungkapan yang mengarahkan kita kepada panggilan Surgawi Allah dalam Kristus Yesus (ay. 14). Dimulai dari pengungkapan Kitab Kejadian yang mana Allah menciptakan alam semesta dan isinya dengan sangat baik tetapi manusia pertama jatuh dalam dosa berakibat mereka dan keturunannya harus berjuang keras untuk hidup. Mereka mengalami jatuh bangun dalam dosa namun diakhiri dengan Kitab Wahyu tentang masa depan gereja yang gilang gemilang sebagai tujuan akhir panggilan Surgawi.

Pengajaran Tabernakel dan Kabar Mempelai terus menerus membawa kita menghargai dan meneladani kurban Kristus sehingga kita sebagai Tabernakel rohani hidup dalam pengurbanan demi pembentukan tubuh Mempelai. Pengajaran berdasarkan Alkitab utuh (66 Kitab yang menjadi daging) merupakan panggilan Mempelai dari awal sampai akhir – panggilan Allah untuk menjadi Mempelai Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Aplikasi: hendaknya kita menyatukan hati dan bergandengan tangan berlari mengejar panggilan Surgawi dan memiliki kematangan rohani menjadi Pengantin Perempuan Anak Domba yang kudus tak bercacat cela.

3. Berpikiran sesuai kesamaan pengertian Firman Allah (ay.16)

“Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.”

Mengapa kita harus berpikiran sesuai kesamaan pengertian Firman Allah? Karena kita adalah kesatuan tubuh Kristus dan setiap bagian anggota tubuh terus bertumbuh (rohani) dalam kebersamaan sebab tidak mungkin kita sempurna sendirian tetapi semua bagian (Ef. 4:15). Itu sebabnya Paulus memakai kata ganti orang pertama jamak, “kita,” yang menunjukkan kebersamaan bukan hanya dirinya dan Timotius tetapi bersama orang-orang kudus, para penilik, para diaken, di Filipi.

Bagaimana meningkatkan pengertian kita akan Firman Allah?

  • Melalui ibadah komprehensif (persekutuan hari Minggu – Pendalaman Alkitab – ibadah doa) juga ibadah-ibadah khusus Lansia, Kaum Wanita, Kaum Muda dengan tema-tema Firman Allah sesuai dengan tingkat pengertian masing-masing, juga Komsel yang mana di dalamnya terjadi pematangan rohani untuk masuk dalam pelayanan.
  • Melalui pembacaan Alkitab pribadi berurutan dari Kitab Kejadian – Wahyu berulang-ulang untuk makin memahami dan mendalaminya. Roh Kudus akan menyatakan kebenaran-kebenaran Allah membuat rohani kita peka menghadapi anjing-anjing, pekerja-pekerja jahat serta penyunat-penyunat palsu.

Tingkat pengertian yang telah kita capai harus dilanjutkan menurut jalan (bhs. Yunani: kanon = patokan) yang telah kita tempuh. Diperlukan patokan dalam perjalanan kekristenan kita untuk mencapai kematangan rohani seperti diikuti oleh rasul-rasul (Gal.6:16).

Selama ini patokan kita dinyatakan dalam tiga periode penggembalaan yaitu: pengajaran Tabernakel, tahbisan, Kabar Mempelai sebagai pengajaran yang terstruktur, sistematis dan masif. Hendaknya kita tidak meninggalkan patokan yang sudah mengantar kita mencapai tingkat rohani sebagaimana kita ada saat ini tetapi tetaplah teguh hidup dengan patokan tersebut dalam ibadah, pelayanan dan keseharian hidup. Dengan demikian tingkat pengertian kita terus berkembang sebagai orang Kristen yang senantiasa sadar bahwa kita adalah tunangan Kristus dan disiapkan menyatu dengan Dia sebagai Mempelai-Nya.

Surat Filipi terkena pada Kandil Emas terbuat dari 1 talenta emas murni yang dibentuk dan dikerjakan oleh Bezaleel, Aholiab dan pengerja-pengerja dalam Roh Hikmat dengan patokan sehingga terbentuk dari kelopak – kuntum – bunga badam → menunjukkan kekristenan kita terus berkembang hingga sempurna sebagai Pengantin Perempuan Anak Domba.

Marilah kita meningkatkan pengertian kita akan Firman Allah dengan tekun membaca Alkitab, mengikuti ibadah-ibadah yang disediakan, mengikuti patokan yang sudah ditentukan agar rohani kita makin dewasa dan matang untuk siap menghadapi pelbagai pengajaran palsu sekaligus siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus, Mempelai Pria kita dan tinggal bersama Dia di Yerusalem baru selamanya. Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - Berpikiran Matang Menuju Kematangan Rohani - Pdt. Jusak Pundiono.