Berpikir Sebagaimana Orang Dewasa Rohani Berpikir

BERPIKIR SEBAGAIMANA ORANG DEWASA ROHANI BERPIKIR

Johor, Minggu, 24 November 2019
Pdm. Kasieli Zebua

Shalom,

Sungguh merupakan sukacita luar biasa bila kita masih dapat mengagungkan Tuhan melalui pujian-pujian yang kita naikkan, terlebih saat ini kita sudah mulai menikmati suasana natal. Marilah kita memberikan tempat bagi Dia untuk lahir di hati kita.

Melalui Firman Tuhan yang kita pelajari hari ini, Tuhan ingin memberikan menambahkan sukacita kita. Surat Filipi 3:15-16 menuliskan, “Karena itu marilah kita yang sempurna berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.”

Di ayat-ayat sebelumnya, kita mempelajari bagaimana Rasul Paulus memiliki sikap, pikiran, komitmen dan keputusan dalam mengikut Tuhan serta menyerahkan hidup kepada-Nya. Dia kemudian mengajak jemaat Filipi (juga kita) yang „sempurna‟ berpikir seperti yang dia maksudkan. Kenyataannya, tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna. Kesempurnaan adalah milik Tuhan namun suatu saat kita akan sempurna sebab Ia mengatakan, “Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di Surga adalah sempurna.” (Mat. 5:48)

Dari ayat di atas, ada dua poin yang kita pelajari lebih jauh yaitu:

  • Ajakan untuk berpikir sebagaimana orang dewasa rohani berpikir (ay. 15)

“Karena itu marilah kita yang sempurna berpikir demikian.” Yang dimaksud dengan "sempurna‟ ialah kedewasaan secara rohani. Apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang dewasa rohani?

Orang dewasa rohani mempunyai kehendak yang lahir dari pikiran. Rasul Paulus memberikan contoh bagaimana berpikir secara dewasa rohani, yaitu: berpikir untuk mengenal Yesus dan kuasa kebangkitan-Nya serta persekutuan dalam kematian-Nya (ay. 10-11). Bahkan demi Kristus, dia menganggap sampah semua kebanggaan yang dimilikinya. Dia ingin serupa dengan Kristus dalam kemenangan-Nya juga dalam penderitaan dan kematian-Nya.

Hendaknya kita mengenal Tuhan dan rindu serupa dengan Dia dalam kemenangan-Nya yang memberikan kita kesuksesan, kebahagiaan dan kebebasan dari musuh-musuh. Siapa dapat memberikan kita kemenangan kalau bukan Kristus? Namun kita juga harus bersedia menderita seperti telah diteladankan oleh-Nya. Jujur, kita takut dan tidak senang masuk dalam penderitaan namun Rasul Paulus memberikan contoh bagaimana dia menderita masuk penjara demi Kristus. Dia menghimbau jemaat Filipi (juga kita) supaya tidak menyangkal Tuhan saat menghadapi penderitaan. Ingat, tidak ada kebangkitan dan kemuliaan tanpa kematian melalui pengalaman ujian seizin Tuhan.

Jelas, Rasul Paulus memiliki sikap mau serupa dalam penderitaan Kristus walau untuk itu dia dibelenggu dalam penjara (fisik) tetapi hatinya tidak terbelenggu; bahkan dia berlari-lari untuk mengejar kesempurnaan.

Kenyataannya, banyak pengikut Tuhan mundur ketika menghadapi penderitaan; ini membuktikan bahwa mereka tidak dewasa rohani. Kedewasaan (rohani) sangat diperlukan karena membuat kita berpikir untuk tidak mudah menjadi lemah dan mundur ketika menghadapi suatu tantangan. Contoh: bangsa Israel tahu tujuan akhir mereka ialah menetap di Kanaan yang Allah janjikan kepada nenek moyang mereka. Namun dalam perjalanan mereka sering jatuh bangun dalam dosa karena pikiran mereka kembali mundur ke belakang saat menghadapi tantangan. Rasul Paulus sangat sedih melihat orang-orang yang awalnya bersukacita mengikut Tuhan berakhir menjadi seteru salib Kristus karena tidak tahan menghadapi penderitaan. Pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi dan perut mereka adalah Tuhan mereka (Flp. 3:18-19).

Rasul Paulus sebelumnya juga hidup sukses dalam perkara-perkara lahiriah tetapi dia membuang semua yang menjadi kebanggaannya bahkan menganggapnya sampah karena Kristus (Flp. 3:4-8). Dia memberikan teladan sebagai orang dewasa rohani yang mengutamakan Kristus apa pun kondisinya. Hendaknya kita juga berpikiran sama yaitu mengutamakan Kristus lebih dari semuanya; jika tidak, pikiran kita akan mudah terusik ketika menghadapi ujian dan pencobaan hidup. Misal: kita memikirkan perkara rohani saat beribadah di gereja namun apa yang kita pikirkan begitu keluar dari gereja? Masihkah kita memikirkan Firman Tuhan atau kita hanya memikirkan masalah nikah, rumah tangga, pekerjaan yang belum terselesaikan? Apakah kita pernah berpikir bahwa kemuliaan dan penderitaan adalah bagian dalam hidup kita?

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi bahwa mereka dikaruniakan bukan hanya percaya kepada Kristus melainkan juga menderita untuk-Nya (Flp. 1:29). Anak rohani Rasul Paulus bernama Timotius diutus untuk pelayanan. Dapat dimaklumi, Timotius muda merasa takut dan tidak percaya diri menghadapi tantangan saat menghadapi jemaat karena gurunya (Paulus) dipenjara. Rasul Paulus kemudian mengingatkan Timotius untuk memberitakan dan mengajarkan semua yang telah Paulus ajarkan kepadanya. Juga jangan ada orang menganggapnya rendah karena usia muda tetapi hendaknya Timotius menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kesetiaan dan kesucian (1 Tim. 4:11-12). Timotius terbukti tahan menghadapi tantangan/masalah dalam pelayanan karena dia dewasa rohani.

Bila dewasa rohani, kita dapat bersyukur ketika diizinkan menderita bukan karena melakukan kesalahan tetapi karena kebenaran. Contoh: Sadrakh, Mesakh dan Abednego diberi kedudukan tinggi oleh Raja Nebukadnezar. Namun ketika Nebukadnezar membuat patung emas untuk disembah oleh siapa pun, tiga orang ini menolak menyembah patung tersebut. Akibatnya mereka dilemparkan ke dalam dapur api yang dipanaskan tujuh kali lipat (Dan. 3). Sebenarnya kalau mau mencari aman tidak berisiko dipecat dari kedudukan dan terancam nyawanya, mereka bisa saja menyembah patung itu karena ini perintah raja. Namun mereka tidak melakukannya sebab mereka berdiri sebagai orang yang menyatakan kebenaran. Apa yang terjadi kemudian? Ajaib, mereka keluar dari perapian dalam keadaan selamat.

Introspeksi: apa yang akan kita lakukan jika majikan/atasan membawa kita menjauh dari Tuhan? Apakah kita lebih memilih Tuhan dengan risiko apa pun atau kita toleransi dan ikut terkontaminasi dalam dosa?

Perhatikan, jika kita berdiri dalam kebenaran, Tuhan akan membela kita. Walau kita harus menderita demi Kristus, Ia tidak pernah meninggalkan kita seperti dialami oleh Rasul Paulus. Dia dipenjara bahkan berakhir mati syahid tetapi Tuhan tetap menyertainya. Buktinya, iman Paulus kuat walau dipenjara dan menguatkan orang-orang yang bebas di luar, jemaat Filipi, karena Tuhan memberinya kekuatan. Bahkan ketika kaki Paulus dan Silas dipasung dalam penjara, mereka berdoa dan memuji Tuhan maka terlepaslah belenggu mereka dan pintu-pintu penjara terbuka (Kis. 16:25-26). Bukankah semua ini karena pertolongan Tuhan semata? Tuhan sanggup menolong kita dalam kondisi apa pun; itu sebabnya jangan mudah mundur karena takut menderita.

Lebih lanjut Rasul Paulus menegaskan bila jemaat Filipi mempunyai pendapat berbeda (karena belum mengerti maksud Paulus), Tuhan akan menyatakan kepada mereka (Flp. 3:15b).

Ada kemungkinan jemaat Filipi memiliki pemikiran lain karena pengaruh dari ajaran lain – anjing-anjing, pekerja-pekerja jahat, penyunat-penyunat palsu (Flp. 3:2) – atau pemahaman mereka belum sampai kepada pemahaman kalau ikut Yesus tidak hanya bersukacita tetapi juga harus menderita. Rasul Paulus kemudian mengingatkan bahwa Allah akan menyatakan kepada mereka.

Aplikasi: jangan mudah mengambil keputusan sembrono atau menyalahkan Tuhan ketika kita tidak mengerti banyak hal dalam kehidupan ini termasuk tidak mengerti akan Firman Tuhan oleh sebab pengertian kita terbatas. Percayalah dan tunggulah Tuhan akan memberikan kita pemahaman!

  • Ajakan untuk meningkat dalam pengertian rohani (ay. 16).

“Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.”

Mengikut Tuhan bukan sebatas menang-menderita tetapi ada tujuannya yaitu panggilan Surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Flp. 3:13-14).

Orang yang dewasa rohani tahu apa arti mengikut Tuhan, menyerahkan hidup kepada-Nya dan tujuan akhir hidupnya. Oleh sebab itu Rasul Paulus berlari-lari untuk satu tujuan. Tujuan hidup kita bukanlah apa yang ada di dunia ini tetapi hidup kekal bersama Dia. Jangan sampai kita kehilangan pengharapan hanya karena takut menderita ketika menghadapi tantangan hidup. Rasul Paulus menegaskan bahwa penderitaan sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Rm. 8:18). Ingat, pengharapan yang akan kita terima tidaklah sia-sia karena Tuhan tidak pernah mengecewakan tetapi memberikan pengharapan yang pasti. Ilustrasi: anak bayi tidak dapat menjawab ketika ditanya apa tujuan hidupnya; berbeda jika orang dewasa ditanya dia pasti dapat menjawab apa yang menjadi tujuan hidupnya.

Bagi kita yang dewasa rohani, apa tujuan hidup kita? Bukan sekadar sukses berkarir dan berumah tangga (tujuan jangka pendek) tetapi memenuhi panggilan Surgawi untuk hidup kekal bersama dengan-Nya (tujuan jangka panjang).

Tingkat pengertian kita dapat berbeda-beda – beda cara merespons juga cara berpikir – tetapi kita semua mempunyai tujuan yang akan dicapai. Masing-masing mempunyai pencapaian dan pengertian sendiri dan ini harus dilanjutkan (tidak boleh berhenti). Beda cara berpikir bukan berarti harus bertengkar atau mundur. Sebaliknya, pemahaman kita harus ditingkatkan. Misal: kalau sampai saat ini pemahaman kita dalam mengikut Tuhan hanya sebatas Tuhan Juru Selamat dan kita bahagia bersama-Nya, jangan mundur atau stagnan tetapi tingkatkan pemahaman kita dengan mempelajari Firman Tuhan. Tentu dibutuhkan proses untuk meningkatkan pemahaman dan semakin kita dekat dengan Tuhan semakin kita menghidupi Firman-Nya. Untuk itu jangan cepat kecewa dan putus asa apalagi mengambil keputusan salah bila pikiran kita belum sampai kepada pemikiran yang Tuhan inginkan. Contoh: 12 pemimpin dari 12 suku Israel ditugaskan untuk mengintai Tanah Kanaan. Para pemimpin ini pasti orang hebat, dapat dipercaya dan takut kepada Tuhan. Setelah 40 hari, mereka pulang dari pengintaian dan 10 pengintai memberi laporan bahwa orang Israel tidak dapat menyerang bangsa Kanaan karena penduduk setempat lebih kuat. Mereka menyamakan diri sebagai belalang menghadapi raksasa. Kaleb berusaha meyakinkan Musa bahwa mereka harus maju dan mampu mengalahkan penduduk lokal tetapi Kaleb kalah suara. Orang Israel mudah terprovokasi dengan perkataan dari 10 pengintai (Bil. 13). Tingkat pemahaman mereka berbeda dan mayoritas menjadi pemenang suara. Seharusnya Musa sebagai pemimpin tertinggi berhak mengambil keputusan untuk maju atau mundur karena 10 pengintai hanya memberikan laporan. Namun mereka tidak peduli dengan Musa dan mengambil keputusan sendiri (yang salah) lalu mundur (tidak menyerang). Lebih parah lagi, mereka menghasut orang Israel untuk memilih pemimpin lain (Bil. 14).

Marilah kita melanjutkan perjalanan kita menuju "Tanah Surgawi‟ menurut jalan yang kita tempuh. Kita yang memiliki tujuan sama tidak pergi sendirian tetapi mengajak suami/istri, anak, saudara, orang tua, teman dst. yang belum dewasa rohani supaya mereka memiliki pikiran yang sama dengan kita. Orang yang kuat (rohani) harus menolong mereka yang lemah (rohani) bukan malah menekan mereka. Berikan pengharapan ketika mereka putus asa jangan malah melemahkan iman mereka dengan perkataan dan sikap kita! Bila suami-istri beda pendapat, jangan gampang memutuskan untuk mundur dari pelayanan! Beda tingkat pemahaman boleh terjadi seperti 12 pengintai, seandainya mereka duduk bersama meminta jawaban dari Tuhan, mereka pasti sanggup mengalahkan musuh karena Tuhan sudah menyerahkan Tanah Kanaan kepada mereka.

Kita sudah digembalakan dan dididik oleh Firman Tuhan untuk memiliki tujuan yang sama yaitu Yerusalem baru. Gereja sebagai rumah Tuhan (betapapun besar dan mewah) hanyalah sarana dalam melatih kita menjadi dewasa rohani, membentuk kita menjadi serupa dengan Dia dan mendidik kita untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya, rumah kekal yang Tuhan sediakan bagi kita.

Kita boleh beda pendapat juga beda tingkat pemahaman tetapi mereka yang dewasa rohani tidak boleh berpikiran sok rohani kemudian melecehkan mereka yang lemah rohani. Rasul Paulus menjadi teladan dan menasihati bagaimana hidup mengikut Tuhan dan mengutamakan Dia lebih dari semua. Jangan berpikiran mudah mundur ketika menghadapi masalah dan tantangan; jangan pula gampang mengambil keputusan bila ada kendala dan beda pendapat dalam pelayanan. Cobalah menenangkan pikiran dan mohon kepada Tuhan untuk memberikan pengertian.

Tuhan sedang melatih rohani kita agar pengertian kita dalam mengikut Dia makin meningkat hingga kita dapat merasakan Ia benar-benar hidup dalam kita. Dengan demikian, kita tidak lagi mudah terjerat oleh perkara-perkara duniawi dan tidak gampang tersandung dalam perjalanan menuju Yerusalem baru.

Dunia makin bertambah jahat dan najis, tantangan dan godaan makin gencar diluncurkan oleh si jahat. Bagaimana dengan generasi muda – anak cucu kita? Kita yang dewasa rohani bertanggung jawab memikirkan kehidupan rohani mereka sejak dini agar iman mereka kuat dan pengharapan mereka tidak kabur. Jangan mundur di tengah perjalanan tetapi tingkatkan pengertian kita akan Dia dan tuntaskan tugas pelayanan kita hingga suatu saat kita dapat berkumpul bersama di Yerusalem Baru sebagai tujuan akhir dari hidup kita semua Amin.