Berita Sukacita yang Menyatukan

BERITA SUKACITA YANG MENYATUKAN

Filipi 4:2-9

Lemah Putro, Minggu 22 Desember 2019

Pdt. Paulus Budiono

 

Shalom,

Lagu-lagu Natal dilantunkan dengan penuh sukacita menyambut hari kelahiran Yesus ditambah lagi dengan dekorasi pernak-pernik Natal menambah syahdunya suasana ibadah Natal. Berita sukacita apa yang biasanya dikumandangkan di hari Natal? “Hari ini (bukan kemarin bukan pula besok – Red.) telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud.” (Luk. 2:11)

Seharusnya di hari Natal kita mendengarkan berita sukacita tetapi Pembicara menyampaikan ayat bernadakan nasihat kepada dua wanita yang tidak satu hati, tertulis dalam Surat Filipi 2:2-3, Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan kuminta kepadamu juga Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.”

Mungkinkah di antara kita ada yang tidak satu hati di hari Natal penuh sukacita ini sehingga kita menyanyi memuji Tuhan dengan sukacita semu kemudian seusai ibadah kita keluar gereja dengan hati kembali tidak menyatu? Heran, bertepatan dengan Hari Ibu (22 Desember), Firman Tuhan berbicara tentang wanita yang memegang peran dalam pemberitaan Injil.

Apa kaitan berita sukacita (Natal) dari malaikat dengan dua wanita dari jemaat Filipi yang sedang tidak bersatu hati? Frasa “memberitakan kesukaan besar” = “bring good tidings” = “preach the Gospel” (Luk. 2:10). Dengan kata lain, pemberitaan kesukaan besar Natal sama dengan pemberitaan Injil; jangan dikotak-kotaki. Jadi Injil (= berita sukacita) juga berbicara tentang Juru Selamat dan Natal yang dirayakan dengan acara beda dari tahun ke tahun tetap memberitakan Yesus yang sama yaitu sebagai Juru Selamat bukan hanya seorang nabi, tabib, pembuat mukjizat dll.

Siapa mendengar berita sukacita besar ini dan apa responsnya?

  • Para gembala yang sedang menjaga kawanan ternak di padang melihat seorang malaikat Tuhan dalam kemuliaan memberitahukan mereka bahwa telah lahir Juru Selamat, Kristus Tuhan, di kota Daud. Jelas, Nama Yesus tidak disinggung sama sekali. Segera mereka pergi ke Betlehem menjumpai Maria dan Yusuf serta bayi yang sedang berbaring di dalam palungan. Ketika mereka melihat Bayi tersebut, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan malaikat kepada mereka tentang Anak itu (Luk. 2:16-17). Semua orang yang mendengarnya heran tentang berita yang disampaikan oleh para gembala (ay. 18).

Respons para gembala ialah awalnya mereka ketakutan (Luk. 2:9) tetapi berakhir dengan sukacita memuji dan memuliakan Allah (ay. 20). Mana yang kita pilih? Sukacita lebih dahulu kemudian berubah menjadi ketakutan atau sebaliknya, dari ketakutan menjadi sukacita? Sesungguhnya, bila kita mendengarkan Firman Tuhan dan yakin datang dari Allah, kita akan bersukacita dan banyak bersyukur kepada-Nya.

Mereka yang mendengar berita dari gembala merasa heran tetapi setelah itu tidak ada follow up/ kelanjutannya. Bukankah ada orang Kristen yang heran mendengarkan berita Natal dari satu gereja ke gereja lain tetapi setelah itu tidak ada kelanjutan untuk rutin beribadah?

  • Maria (wanita) juga mendengar berita yang disampaikan oleh gembala tentang siapa Anak yang dilahirkannya.

Maria merespons berita tersebut dengan menyimpannya dalam hati dan merenungkannya (ay. 19).

Dalam memberitakan Injil, Rasul Palus tetap diliputi sukacita walau dia harus menderita bahkan dipenjara dan dia melihat jemaat Filipi juga bersukacita dalam Berita Injil (Flp. 1:3-5). Dia menginginkan Injil yang diberitakan oleh dua wanita (Euodia dan Sintikhe) juga membuat sukacita luar biasa. Namun dia sedih hati melihat dua wanita ini tidak sehati sepikir; ini dapat mengganggu bahkan merusak perkembangan pemberitaan Injil. Karena masih di penjara, Paulus meminta Sunsugos mendamaikan mereka berdua (Flp. 4:2-3).

Aplikasi: hendaknya kita menjadi “Sunsugos” dalam menyampaikan Injil (Natal) sukacita yang menyatukan.

Kita mempelajari sikap (wanita) Maria lebih jauh mulai dari usia muda saat dia menerima berita sukacita hingga dia berumah tangga dan bertambah usia dalam merespons berita Injil sukacita, yaitu:

  • Sejak muda Maria bukan tipe wanita yang ekspresif dalam mengungkapkan emosi. Ia adalah seorang pemikir ketika gembala menceritakan apa yang didengarnya dari malaikat. Ia memakai IQ-nya untuk mendengar, memikir/merenungkan, menimbang dan mengolah serta menyimpan berita yang didengarnya. Beda dengan Hawa yang tidak dapat mengendalikan pikirannya saat digoda oleh ular. Ia tertarik melihat buah terlarang itu, tanpa berpikir panjang memetik dan memakannya lalu memberikannya kepada suami untuk dimakan juga (Kej. 3:6).

Maria menganggap serius berita yang disampaikan oleh para gembala datangnya dari Surga. Oleh sebab itu dia menimpannya dalam hati. Hendaknya kita belajar menyimpan berita dari Surga – Firman Tuhan – dalam hati agar kita tidak berdosa seperti dikatakan oleh Raja Daud (Mzm. 119:11). Firman Tuhan yang disimpan dalam hati sangat menolong saat kita dalam keadaan terjepit dan membutuhkan penghiburan, nasihat dan reminder agar tidak salah melangkah.

Maria dan Yusuf masih bertunangan dan belum hidup bersama sebagai suami-istri; Yusuf hendak menceraikan Maria diam-diam karena ketahuan hamil tetapi malaikat muncul dalam mimpi memberitahu dia untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istrinya sebab bayi yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus dan dia harus menamai bayi itu Yesus (Mat. 1:18-21). Oleh sebab ada Yesus (= Allah Juru Selamat) hubungan Maria dan Yusuf terselamatkan tidak terjadi perceraian.

Maria saat itu masih berumur 14-15 tahun ketika dinikahi oleh Yusuf yang hampir menceraikannya. Dia dikunjungi oleh malaikat Gabriel yang memberitahu dia akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki dan menamani-Nya Yesus (Luk. 1:26-31).

Mendengar pemberitahuan dari malaikat Gabriel, Maria tidak langsung mengiyakan tetapi berpikir kemudian mengemukakan rasionya bagaimana mungkin dia belum bersuami sudah mengandung (Luk. 1:34). Mendengar penjelasan Gabriel, pikiran Maria terbuka dan dapat menerima berita tersebut walau harus menanggung risiko diceraikan oleh calon suami atau dirajam hingga mati karena dianggap selingkuh. Ia memosisikan diri sebagai hamba Tuhan dan tahu Tuhan telah memilihnya serta yakin hidup nikahnya akan dilindungi oleh-Nya. Ini membuktikan bahwa usia boleh muda (14-15 tahun) tetapi otak Maria sudah matang/dewasa.

Aplikasi: ketika menghadapi masalah apa pun, tetaplah berpegang pada Firman Allah yang melindungi dan memungkinkan terjadinya apa yang dianggap mustahil oleh manusia.

Apa yang dilakukan Maria tak lama kemudian? Dia meninggalkan Nazaret dan naik ke pegunungan di kota Yehuda menemui Elisabet tua yang sedang hamil 6 bulan. Maria muda ada Roh Kudus dan Elisabet tua juga ada Roh Kudus; ketika bertemu terjadilah persekutuan dan mereka berdua memuji Allah. Maria muda betah tinggal bersama Elisabet tua selama tiga bulan (Luk. 1:56). Apa yang mereka perbincangkan setiap hari? Elisabet tua sedang mengandung dan hidup dengan suami, Zakharia, yang sulit diajak berkomunikasi sebab bisu akibat tidak percaya istrinya yang tua akan melahirkan anak (Luk. 1:13-20) ditambah lagi hidup dengan Maria muda yang sedang mengandung pula. Ini membuktikan bukan karena fasih lidah tetapi hati yang penuh Roh Kudus membuat terjadinya persatuan dan persekutuan dari generasi berbeda sekalipun.

Aplikasi: bila gereja ada Roh Kudus, tidak akan terjadi persaingan, perselisihan yang menyebabkan perpisahan/perceraian kemudian pindah atau mendirikan gereja baru. Setiap jemaat (lama maupun baru) butuh Roh Kudus supaya dapat bergaul dan menerima satu sama lain.

  • Delapan hari setelah melahirkan, Maria menaati hukum Taurat dan membawa Bayinya untuk disunat dan diberi nama Yesus sesuai dengan nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung oleh ibu-Nya (Luk. 2:21).

Baik Yusuf maupun Maria memberi nama Yesus setelah Ia disunat pada hari ke-8. Apa arti dari nama Yesus? Allah Juru Selamat.

Bukankah waktu bayi dari Zakharia dan Elisabet disunat pada hari ke-8, mereka berdua sepakat memberi nama Yohanes bukan Zakharia menurut nama bapanya (Luk. 1:59)?

Aplikasi: hendaknya suami-istri sehati dan sepikir maka mereka akan dipersatukan dan kehidupan nikah mereka akan dilindungi Tuhan.

  • Maria dan Yusuf membawa Yesus (berumur 12 tahun) ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Luk. 2:42). Sehabis perayaan mereka pulang tetapi Yesus tetap tinggal di Yerusalem tanpa sepengetahuan mereka. Ketika mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem dan menemukan Yesus berada dalam Bait Allah sedang mendengarkan alim ulama dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Maria mengemukakan kecemasannya kepada Yesus yang diam-diam tidak ikut pulang bersama mereka. Yesus menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay. 49).

(Remaja) Yesus “hilang” dan ditemukan di Bait Allah bukan di tempat-tempat yang merusak moral seperti banyak terjadi pada anak-anak muda sekarang akibat salah pergaulan.

Maria dan Yusuf tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus lalu pulanglah Ia bersama mereka ke Nazaret dan Ia hidup dalam asuhan mereka. Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya (ay. 51).

Maria makin meningkat dalam mengolah otak. Dia ingat pesan malaikat Gabriel tentang siapa Yesus yang dilahirkannya. “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya.” (Luk. 1:32)

Siapakah Anak Allah? Firman menjadi manusia (Yoh. 1:14). Yesus – Sang Firman – berbicara dan otak Maria mulai berpikir tentang rohani bukan melulu jasmani.

Terjadi peningkatan, Yesus, Juru Selamat, datang untuk menyelamatkan kita bukan semata-mata untuk perkara jasmani (berkat kekayaan, kepandaian, kesehatan dll.) sebab keselamatan tidak ada di dalam siapa pun selain di dalam Dia – di bawah kolong langit tidak ada nama lain kecuali Nama Yesus kita diselamatkan (Kis. 4:12).

Selain melahirkan Yesus, Maria mempunyai beberapa anak biologis hasil hubungan dengan suaminya, Yusuf. Dengan bertambah banyaknya jumlah anggota keluarga, makin diperlukan upaya keras agar mereka hidup akrab dan bersatu. Keakraban dapat terjadi karena Yesus (12 tahun) hidup bersama mereka. Yesus hidup di Nazaret – kota kecil yang tidak diperhitungkan – tetapi dari sana timbul Orang hebat.

Aplikasi: pertumbuhan rohani yang sehat terjadi bukan karena lokasi elit dan terkenal tetapi karena disertai Allah. Bila kita mempunyai Firman Allah, kita akan senang tinggal dalam rumah tangga masing-masing.

  • Ketika Yesus berumur 30 tahun, Maria tidak lagi merenungkan perkataan-Nya tetapi mempraktikkannya. Maria tahu siapa Yesus dan menyuruh pelayan-pelayan melakukan apa yang dikatakan Yesus ketika mereka kekurangan anggur di pesta perkawinan (Yoh. 2:1-5).

Dilain kesempatan, Yesus yang sibuk dengan kegiatan penginjilan bersama para murid-Na berada di sebuah rumah dan banyak orang datang berkerumun. Maria dan saudara-saudara-Nya hendak mengambil Dia karena menganggap-Nya tidak waras lagi. Mereka berada di luar dan tidak dapat masuk kemudian menyuruh orang memanggil Dia (Mrk. 3:20-21,31). Maria memperlakukan Yesus – Sang Firman – sebagai anak kecil yang dapat didikte untuk keluar karena merasa telah merawat dan membesarkan-Nya. Yesus tidak marah dan mengatakan, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku? Ia melihat orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya dan berkata, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (ay. 33-35)

Perhatikan, ada kalanya keluarga menentang kita untuk tidak terlalu aktif ke gereja dan ikut dalam pelayanan karena menganggap kita akan menjadi malas dan bodoh. Jangan kita mendikte Firman Allah; sebaliknya, biarkan Firman mendidik dan mendikte kita.

Bagaimanapun juga Yesus tetap mengasihi Maria, ibu-Nya, di atas kayu salib Ia melihat Maria dan berkata, “Ibu inilah anakmu! Kemudian Ia berkata kepada murid yang dikasihi-Nya, “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:26-27) Terjadilah penyelesaian dan penyatukan kembali antara orang tua dan anak muda oleh sebab kasih.

Rasul Paulus juga menginginkan penyatuan kembali dua wanita (Euodia dan Sintikhe) yang telah kurang/ tidak lagi menghargai kurban Kristus.

Berita sukacita Natal ialah telah lahir bagi kita Juru Selamat itulah Kristus Tuhan. Nama Yesus diberikan setelah Ia disunat untuk menaati Hukum Taurat. Setelah Yesus mati dan bangkit (umur 33 tahun), Petrus berkhotbah, “…Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kis. 2:36) Hal ini diteguhkan oleh Rasul Paulus yang mengakui, “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Tim. 1:15) Kita tahu bagaimana sepak terjang Paulus sebelum mengenal Yesus tersalib, dia adalah seorang penghujat, penganiaya, orang ganas terhadap pengikut-pengikut Kristus. Namun dia beroleh kasih karunia Tuhan dan menjadi pemberita Injil salib kepada bangsa-bangsa lain (kafir) agar mereka juga percaya kepada-Nya dan beroleh hidup kekal (ay. 12-17).

Marilah kita merayakan hari kelahiran Yesus, Juru Selamat, dan menerima pengurbanan-Nya juga mengakui Dia sebagai Tuhan dan Kristus maka kita akan dipenuhi sukacita serta hidup dalam kesatuan hingga Ia datang kembali menjemput kita untuk hidup bersatu dengan Dia selamanya di Yerusalem baru. Amin

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Natal Persekutuan - Berita Sukacita yang Menyatukan - 22 Desember 2019.