Menjadi Kuat dalam segala Perkara

MENJADI KUAT DALAM SEGALA PERKARA

Lemah Putro, Selasa, 31 Desember 2019
Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Sungguhkah kita merindukan Tuhan datang sebagai Mempelai Pria Surga dan sudahkah kita siap menyambut Dia? “Pakaian” apa yang akan kita kenakan? Marilah kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan kuat menghadapi segala perkara seperti diingatkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya. Jangan malah membuang-buang kekuatan seperti dilakukan oleh Simson yang mempermainkan kekuatan (Roh Kudus) dengan rayuan perempuan Delila yang justru membuatnya kehilangan Roh Kudus (Hak. 16:15-22).

Kekuatan macam apa yang kita butuhkan dalam persiapan menyongsong kedatangan Tuhan kedua kali? Tentu bukan kekuatan fisik seperti dimiliki oleh Hercules atau Mike Tyson tetapi Filipi 4:13 menuliskan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Rasul Paulus sangat menderita dipenjara, dianggap “narapidana” berbahaya bagi orang Yahudi maupun non-Yahudi karena mengganggu agama dan doktrin mereka. Namun suratnya kepada jemaat Filipi selalu bernadakan sukacita. Dia mengakui kekuatannya diperoleh dari Kristus Yesus. Jelas, kita tidak dapat mengandalkan kekuatan dari manusia sehebat apa pun dia. Tentu kita patut berterima kasih kepada (manusia) siapa pun yang telah menolong kita namun berapa banyak kita berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan kita hidup?

Lebih lanjut Rasul Paulus mengatakan bahwa segala perkara menyangkut sandang, pangan, papan dll. tidak lagi menjadi rahasia baginya – perihal kenyang maupun kelaparan, kelimpahan maupun kekurangan (Flp. 4:12). Semua itu dapat ditanggungnya oleh sebab Tuhan memberi kekuatan kepadanya. Contoh sederhana menyangkut makanan: kita butuh kekuatan dari Tuhan untuk dapat mengendalikan nafsu makan berlebihan agar tidak terkena kolestrol, asam urat dll.

Aplikasi: kita tidak dapat memilah-milah perkara mana yang membutuhkan kekuatan Tuhan sementara perkara lain kita handle sendiri dengan alasan kita tidak mau merepotkan Tuhan karena Ia sudah menangani banyak perkara. Kita membutuhkan kekuatan dari-Nya dalam segala perkara namun jangan salah mengartikan kita menjadi boneka/robot pasif dan baru bekerja jika ada perintah dari Tuhan. Kita tetap mengerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita namun di-back up oleh Dia.

Kapan Rasul Paulus membutuhkan kekuatan dari Tuhan? Bukan saat dia di dalam penjara tetapi dalam pelayanannya dia mengalami: didera di luar batas, kerap kali dalam bahaya maut, lima kali disesah orang Yahudi dan setiap kali 39 pukulan, dilempari batu, mengalami kapal karam dan terkatung-katung di tengah laut, bahaya banjir, penyamun, bahaya dari saudara-saudara palsu, kerap tidak tidur, kelaparan, kedinginan dll. (2 Kor. 11:23-29). Bagaimanapun juga Paulus hanyalah manusia biasa yang ditandai dengan kelemahan-kelemahan. Bukankah Yesus dalam kondisi Manusia bahkan Hamba juga mengalami kelemahan sehingga malaikat dari langit turun memberi kekuatan kepada-Nya ketika Ia berdoa di Taman Getsemani (Luk. 22:43)? Ia rela menjadi manusia yang lemah bahkan disalib supaya kita diselamatkan.

Kenyataannya, kita sering menghadapi orang lain yang dalam kelemahan, kita tidak menguatkan dia tetapi sebaliknya malah membuat kita lemah juga. Tak jarang suami, istri, anak, orang tua jatuh dalam dosa dengan alasan “masih ditandai kelemahan manusiawi”.

Sejak Saulus/Paulus dipilih Tuhan menjadi alat-Nya untuk memberitakan Nama-Nya kepada bangsa kafir (Kis. 9:15) kondisinya berubah total. Jika sebelumnya dia mengejar-ngejar pengikut-pengikut Yesus, sekarang dia dikejar-kejar oleh orang Yahudi hendak dibunuh (Kis. 9:23). Lebih parah lagi, ketika dia mau menggabungkan diri dengan para rasul, dia ditolak tetapi Barnabas menerimanya dan menjelaskan bahwa Paulus telah bertobat (ay. 26-27).

Rasul Paulus dipakai Tuhan dengan luar biasa, 14 tahun yang lampau, entah di dalam tubuh atau di luar tubuh dia diangkat ke tingkat tiga dari Surga ke Firdaus (Kis. 12:1-4). Pengalamannya bersama Tuhan membuat dia yang sebelumnya begitu bangga dengan segala atribut yang dimilikinya (orang Ibrani asli dari suku Benyamin, disunat pada hari ke-8, orang Farisi yang tidak bercacat cela melakukan Taurat, murid jenius yang berguru kepada Gamaliel dsb. (Kis. 22:3) dianggap sampah untuk memperoleh Kristus (Flp. 3:5-8).

Untuk menghindari kesombongan karena pemakaian Tuhan yang luar biasa, Rasul Paulus diberi duri di dalam daging oleh utusan Iblis untuk menggocohnya (2 Kor. 12:7). Dia sudah berseru tiga kali kepada Tuhan supaya utusan Iblis mundur darinya tetapi Tuhan tidak mengabulkan permintaannya. Ironis, Paulus dapat menyembuhkan orang sakit tetapi doa kesembuhan untuk dirinya sendiri ditolak Tuhan (ay. 9). Kesehatan fisiknya lemah seperti dikatakan kepada jemaat Galatia tetapi mereka menyambut Paulus sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri (Gal. 4:13-14). Iblis paling senang mengganggu seseorang agar menjadi gelisah; berbeda dengan Roh Kudus yang membuat kita menjadi tenang.

Jujur, setiap dari kita (termasuk hamba Tuhan) tidak lepas dari keinginan menjadi popular untuk dihormati dan disanjung. Namun Tuhan mengajar kita untuk belajar rendah hati betapapun tinggi posisi/kedudukan dan status kita. Kita dapat berdoa pribadi langsung kepada Tuhan tanpa perlu minta orang lain mendoakan kita sebab Ia mahahadir bahkan ada di dalam hati kita. Masalahnya, kita sering tidak dapat menerima jika Tuhan menjawab doa tidak sesuai dengan keinginan kita.

Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doa permohonan Rasul Paulus? Sudah cukup kasih karunia-Nya bagi Paulus (2 Kor. 12:9). Perhatikan, kasih karunia Tuhan (termasuk keselamatan, kekuatan) tidak dapat dibeli. Jadi, bukan karena kita berdoa dan berpuasa 40 hari kemudian kekuatan kita meningkat tetapi karena Tuhan yang mahakuasa menyertai kita. Yesus tidak pernah bekerja setengah-setengah – Ia benar-benar mati disalib, bangkit dan naik ke Surga dan akan kembali dengan kuat kuasa sepenuhnya.

Dalam keadaan menderita, Rasul Paulus mendengar jawaban Tuhan yang tidak menyenangkan daging tetapi ia dapat menerimanya. Kata “cukup” berarti tidak berkelebihan juga tidak kekurangan. Tuhan ingin kita makan, minum, pakai secukupnya seperti dalam doa yang diajarkan oleh-Nya “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11) Faktanya, kita yang merusak diri sendiri karena selalu merasa tidak pernah cukup dengan apa yang ada.

Rasul Paulus mengakui bahwa dia lebih suka bermegah atas kelemahan supaya kuasa Kristus turun menaunginya (2 Kor. 12:9). Dengan kata lain, justru di dalam kelemahan kuasa Tuhan menjadi sempurna. Selama kita merasa kuat, Tuhan membiarkan kita melakukan sendiri sekuat-kuatnya (merasa mampu mengendalikan gereja, menjadi gembala yang berkuasa, dll.) dan menunggu sampai kapan kita menyerah kepada-Nya.

Rasul Paulus senang dan rela hidup di dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus sebab saat lemah ia kuat (ay. 10). Jadi, rumus Tuhan (bukan doktrin gereja) ialah waktu kita lemah, kita menjadi kuat.

Ingat, bila kita rendah hati, iblis kalah dan lari sebab Roh Kudus yang ada dalam kita jauh lebih besar daripada roh yang ada di dunia (1 Yoh. 4:4). Sebaliknya, jika kita merasa kuat, kita menjadi permainan si Iblis seperti dialami oleh Ayub. Iblis mencobai Ayub (seizin Allah) dengan menghabiskan seluruh kekayaan, keluarga dan kesehatannya dalam waktu tidak lama (Ay. 1).
Awalnya Ayub dapat menerima ujian ini dan mengatakan dengan telanjang ia keluar dari kandungan ibunya, dengan telanjang pula ia akan kembali ke dalamnya (Ay. 1:20). Namun daya tahan Ayub ada batasnya dan mulailah dia berbantah-bantah merasa tidak bersalah. Tanpa sadar dia membenarkan diri sendiri dan Iblis tertawa gembira melihat hal ini serta makin gencar memprovokasi agar dia berpaling dari Allah.

Bagaimanapun juga Allah tidak melepaskan total hamba-Nya (Ayub) tetapi turun tangan mengingatkan dia tentang kekuasaan TUHAN di alam semesta (Ay. 38-39). Ayub segera sadar dan merendahkan diri di hadapan-Nya (Ay. 39:36-38). Dia mencabut perkataannya dan menyesali diri (Ay. 42:1-6) sehingga keadaannya dipulihkan (a. 7-14). Kemudian dia mempersembahkan kurban dan doanya didengar oleh Allah.

Aplikasi: doa orang berdosa yang dilakukan penuh penyesalan akan diterima Tuhan daripada doa orang yang terus membenarkan diri.

Demikian pula dengan Rasul Paulus, utusan Iblis terus mengganggunya dengan penderitaan fisik agar dia menyangkal Tuhan. Paulus tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri yang menjadi kebanggaannya sebelum bertobat. Dia merendahkan diri dan merasa orang paling berdosa (1 Tim. 1:15) maka dia mendapatkan kekuatan besar untuk mampu mengatasi kelemahan tubuhnya. Paulus mendapat kasih karunia besar dari Allah sebab dia mendapatkan rahasia-Nya yaitu waktu dia lemah, dia kuat di dalam-Nya.

Aplikasi: hendaknya kita mengaku dengan jujur akan kelemahan kita maka Tuhan akan memberikan kekuatan agar kita dapat menanggung segala perkara di dalam Dia. Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah (1 Kor. 1:24) dan di bawah langit tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia kecuali Nama Yesus yang dapat menyelamatkan (Ki.s 4:12).

Apakah kita membutuhkan perlindungan dalam mengarungi tahun baru 2020 yang makin tak menentu kondisi alam (bencana banjir, gempa bumi, kebakaran hutan dll.) maupun suhu politik dan sosialnya? Tidak ada jalan lain kecuali merendahkan diri di hadapan Tuhan, mengakui ketidakberdayaan kita maka kita dapat menanggung segala perkara/masalah di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepada kita. Yakinlah walau sukar jalan kita menuju ke Surga oleh sebab banyaknya rintangan yang diluncurkan oleh Iblis, kita tetap bersukacita sebab Ia mengatur langkah kita dengan penuh kasih dan kuasa. Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Tutup Buka Tahun - Menjadi Kuat Dalam Segala Prkara - Pdt. Paulus Budiono.