Allah Damai Sejahtera Menyertai Kita

ALLAH DAMAI SEJAHTERA MENYERTAI KITA

Lemah Putro, Minggu, 29 Desember 2019
Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Ketika kita menyanyikan lagu “Ajar kami Tuhan menghitung hari-hari”, benarkah kita telah menghitung hari-hari yang kita lalui? Atau kalau ada problem pribadi, nikah dan rumah tangga menyangkut ekonomi, kesehatan dll. baru kita menghitung hari dan masalahnya kemudian datang kepada Tuhan dalam doa dan puasa untuk meminta pertolongan dari-Nya?

Sungguhkah Allah mampu menolong kita? Apa yang dijanjikan-Nya? Filipi 4:8-9 menuliskan, “Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar (1), semua yang mulia (2), semua yang adil (3), semua yang suci (4), semua yang manis (5), semua yang sedap didengar (6), semua yang disebut kebajikan (7) dan patut dipuji (8), pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Yakinkah kita bahwa Allah sumber damai sejahtera menyertai kita? Mana yang lebih dekat dan intens, Allah atau bodyguard dalam menyertai kita? Penyertaan dan penjagaan bodyguard masih dibatasi oleh waktu dan tempat sementara Allah menyertai kita di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi apa pun.

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus yang sedang dipenjara; tentu dia telah mengalami perbedaan penyertaan dari keluarga dan teman yang hanya mampu menyertainya beberapa jam sesuai dengan jam kunjungan sementara Allah menyertainya senantiasa baik di kala sukacita maupun dukacita.

Perhatikan, penyertaan Allah terjadi bila kita lebih dahulu percaya/beriman bahwa Ia ada (Ibr. 11:6) seperti telah dialami oleh orang-orang beriman: Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sara, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Rahab dll. (ay. 4-5, 7-39). Ia mencurahkan berkat damai sejahtera kepada orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya.

Bila kita benar-benar mengenal Allah dengan tepat, kita tidak akan hidup sembrono dalam pergaulan di sekolah, tempat kerja maupun pelayanan. Dampaknya, Allah menyertai kita dan berkat damai sejahtera meliputi kita

Bagaimana fase dan prosesnya untuk beroleh damai sejahtera dari Allah? Memikirkan (iman) → melakukan (pengharapan) → Allah (kasih) menyertai maka damai sejahtera dicurahkan. Dengan kata lain, kalau kita tidak mengimani Firman Tuhan, kita tidak beroleh apa-apa; kalau kita tidak melakukan, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati (Yak. 2:17,26) dan orang mati tidak mendapatkan apa-apa, tidak merasa apa-apa juga tidak membutuhkan apa-apa.

Ternyata hampir semua kitab dalam Perjanjian Baru kecuali Surat Yohanes menyebutkan kata “damai sejahtera (bhs. Ibrani: irene)”. Siapa yang pertama kali mengucapkannya? Yesus. Ia menyuruh para murid-Nya untuk mengucapkan “Irene” ketika memasuki suatu rumah (Luk. 10:5). Setelah bangkit dari kematian, Yesus mendatangi para murid-Nya yang bersembunyi ketakutan dengan pintu terkunci kemudian mengatakan "Damai sejahtera (= irene) bagimu!" hingga dua kali (Yoh. 20:19,21). Terjadi keubahan dari dukacita menjadi sukacita begitu kata “Irene” keluar dari mulut Yesus.

Aplikasi: hendaknya “Irene” yang kita utarakan dapat membuat orang lain sukacita.

Mengapa pikiran kita (manusia) harus diselaraskan dengan pikiran yang ada pada Kristus Yesus (Flp. 2:5)? Sebab pikiran kita masih berpikiran duniawi. Contoh:

  • Yusuf sempat berpikir menusiawi dan diam-diam ingin menceraikan Maria yang mengandung tanpa hubungan seks dengannya (Mat. 1:19). Yusuf menggunakan pikirannya dan akan bertindak sesuai dengan pikirannya. Memang pikiran Yusuf cukup logis dan tindakannya tidak salah tetapi Tuhan mengintervensi pikiran dan tindakannya yang salah dan menyuruh mengambil Maria menjadi istrinya serta menamakan Anak yang dilahirkan itu Yesus untuk menggenapi Firman nabi-nabi juga Imanuel yang berarti: Allah beserta kita (ay. 20-23).
  • Bagaimana dengan pikiran perawan Maria (± 14-15 tahun) ketika mengetahui dia mengandung? Awalnya dia berpikir mustahil terjadi karena dia belum bersuami (Luk. 2:27-31). Namun mindset-nya berubah setelah mendapat penjelasan dari malaikat Gabriel dan menerimanya (“jadilah padaku menurut perkataanmu”) serta memosisikan diri sebagai hamba Tuhan (ay. 38).

Rasul Paulus menghimbau kita untuk memiliki delapan pikiran seperti tertulis dalam Filipi 4:8 yaitu: yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikan dan yang patut dipuji. Bila kita mampu berpikiran delapan perkara ini (bukan hanya sebagian) kita akan menerima janji penyertaan Allah.

Penulis Mazmur mengatakan, “Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buahnya pada musimnya dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm. 1:2-3)

Perlu diketahui pikiran akan menghasilkan perbuatan. Faktanya kita sering terjebak dengan apa yang kita lihat, dengar dan rasakan lalu mulai berpikir. Akibatnya, apa yang kita pikirkan tidak seluruhnya benar. Mampukah kita merenungkan/memikirkan Firman Tuhan (Taurat) siang dan malam (24 jam) bercirikan delapan perkara di atas? Ingat, Alkitab ditulis bukan hanya diperuntukkan bagi pendeta tetapi untuk kita semua, manusia berdosa, supaya kita ditolong, dilindungi dan disertai oleh Tuhan. Masalahnya, bagaimana Ia mau menolong kita jika kita tidak mau merenungkan Firman-Nya? Bahkan tak jarang kita mengomel jika mendengar Firman Tuhan disampaikan lebih panjang dan lama dari biasanya? Namun ketika masalah datang, kita getol berdoa kepada Tuhan dan menyalahkan Dia jika masalah tidak segera terselesaikan oleh-Nya. Waspada, jika kita menggunakan pikiran sendiri yang salah dan tidak baik akan berakibat pada tindakan yang salah juga. Sebaliknya, jika kita menggunakan otak pikiran dengan benar, seluruh tubuh, jiwa roh kita akan dipenuhi dengan kebenaran.

Apa yang dimaksud dengan “yang benar”? Semua perkara yang tidak disembunyikan alias ada keterbukaan, misal: kebohongan-kebohongan yang ada pada kita tidak boleh disembunyikan, semua harus diakui agar kita dapat bertindak benar sehingga kita ada damai sejahtera.

Siapa yang benar? Dasar Firman Allah adalah kebenaran dan hukum-hukum-Nya adil untuk selama-lamanya (Mzm. 119:160).

Di manakah Firman Allah? Firman Allah tetap teguh di Surga (Mzm. 119:89). (Firman) Allah ada di Surga yang luasnya tak terukur karena Ia Sang Pencipta langit dan bumi. Bagi-Nya, bumi yang diciptakan oleh-Nya terlihat sangat kecil apalagi kita yang tinggal di bumi. Kebenaran-Nya begitu besar untuk melindungi kehidupan kita. Firman-Nya terbuka dan tidak ada kebohongan sedikit pun di dalamnya sebab Ia tidak mungkin berdusta (Ibr. 6:18).

Terlalu besarkah Allah? Memang Ia mahabesar tetapi menjadi manusia (Yesus) seperti kita hanya Ia tidak berdosa. Bukankah ketika kita menjalin hubungan erat dengan seseorang, kita makin senang berkomunikasi dengannya juga suka membaca surat berisi pesan dan nasihatnya untuk dituruti? Beda jika kita tidak senang dengan seseorang, kita akan cuek dan tidak mau menyentuh suratnya! Kenyataannya, kita malas dan tidak senang membaca Alkitab yang mau mengoreksi kesalahan dan kekurangan kita untuk beroleh damai sejahtera dari-Nya.

Allah yang mahabesar menjadi manusia dan berjanji akan tinggal dalam (lubuk) hati sehingga tidak ada sedikit pun tersembunyi/tertutup di hadapan-Nya.

Sungguh Allah itu benar, hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya (Yer. 10:10). Ia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal datang ke dunia (Yoh. 3:16) supaya kita mengenal dan ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus (1 Yoh. 5:20-21)

Rasul Paulus tidak hanya mendorong jemaat Filipi (juga kita) untuk berpikiran delapan perkara di atas tetapi lebih lanjut dia mengatakan untuk mencontoh apa yang telah dipelajari, diterima, didengar dan dilihat darinya (Flp. 4:9). Dengan kata lain, Paulus menjadi figur panutan karena dia juga mencontoh Kristus (1 Kor. 11:1). Tidak ada yang mustahil bagi Allah (Luk. 1:37), Ia sanggup mengubahkan hidup Paulus yang dahulu ganas dan berdarah dingin terhadap pengikut Yesus menjadi pengikut-Nya yang penuh kasih dan rendah hati.

Rasul Paulus menasihati Timotius muda untuk tidak meniru Yanes dan Yambres yang menentang kebenaran, akal mereka bobrok dan imannya tidak tahan uji (2 Tim. 3:8-9). Sebaliknya, Timotius diminta untuk mengikuti ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih dan ketekunan Paulus (ay. 10). Timotius ikut menderita sengsara seperti telah dialami oleh Paulus (ay. 11) dan diingatkan bahwa Kitab Suci yang dikenalnya sejak kecil telah memberinya hikmat dan menuntunnya kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (ay. 15).

Aplikasi: hendaknya gembala, penatua, majelis, ketua kelompok, imam-imam dst. makin menekuni Firman Tuhan dan mempraktikkannya agar dapat menjadi figur teladan bagi jemaat dan orang-orang di sekitarnya.

Apakah kita ingin beroleh damai sejahtera dan penyertaan Tuhan dalam menghadapi tantangan hidup yang makin berat? Tidak ada cara/jalan lain kecuali kita harus memikirkan (beriman) apa yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikan, yang patut dipuji dan melakukannya membuat kita berpengharapan akan masa depan maka (kasih) Allah menyertai kita (Imanuel) dan damai sejahtera (Irene) meliputi hidup kita. Amin.

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - Allah Damai Sejahtera Menyertai Kita - Pdt. Paulus Budiono.