Salam di dalam Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus

SALAM DI DALAM KASIH KARUNIA TUHAN YESUS KRISTUS


Filipi 4:21-23
Johor, Minggu, 12 Januari 2020
Pdm.Kasieli Zebua


Shalom,

Kita patut bersyukur dan bersukacita masih diberi kesempatan beribadah kepada Tuhan di awal 2020 ini. Sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati bersama, hari ini merupakan pembahasan terakhir mengenai Surat Filipi.

Kita telah mempelajari Surat Filipi yang mana surat ini berbicara tentang sukacita. Walaupun Rasul Paulus berada dalam penjara dan menghadapi berbagai problem serta ajaran-ajaran yang menyesatkan dalam jemaat Filipi, ia tetap bersukacita dan mendorong jemaat juga tetap bersukacita di dalam Tuhan.

Di awal suratnya kepada jemaat Filipi Rasul Paulus memulai dengan salam, “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” (Flp. 1:1-2). Salam yang disertai harapan dan doa penyertaan kasih karunia bagi jemaat Filipi.

Tanpa disadari kita sering menyapa orang hanya dengan kata-kata ‘pagi’, ‘siang’ tanpa menyebut kata ‘selamat’ di depannya. Padahal sapaan yang benar adalah ‘selamat pagi’ karena kita mengharapkan orang yang kita beri salam dalam keadaan selamat.

Kita telah mempelajari Surat Filipi ± 6 bulan, apakah kita juga bersukacita dan merasakan kasih karunia serta damai sejahtera Allah menyertai hidup nikah, rumah tangga, studi, pekerjaan dan pelayanan kita? Atau kita merasa biasa-biasa saja bahkan sudah melupakannya?

Setelah salam, Rasul Paulus menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan karena kemajuan Injil, juga memberikan nasihat-nasihat agar jemaat Filipi tetap setia, tetap satu hati, satu jiwa, satu roh, memiliki perasaan dan pikiran seperti Kristus, juga supaya berhati-hati terhadap pengajaran-pengajaran sesat. Nasihat kepada Euodia dan Sinthike supaya sehati sepikir di dalam Tuhan dan ucapan terima kasih atas persembahan jemaat Filipi serta pengalaman Paulus menghadapi segala perkara dalam kekuatan Tuhan. Kemudian diakhiri dengan salam.

Apakah arti dan pentingnya salam penutup ini? Tidak dicatat apakah jemaat Filipi menerima tulisan Rasul Paulus sebagai kebenaran dan mau melakukannya tetapi di dalam salam penutup ini terkandung kerinduan, perhatian, kepedulian, doa dan harapan rasul Paulus yang besar bagi jemaat Filipi untuk hidup dalam kebenaran.

Apa pesan Rasul Paulus mengakhiri tulisannya kepada jemaat Filipi? “Sampaikanlah salamku kepada tiap-tiap orang kudus dalam Kristus Yesus. Salam kepadamu dari saudara-saudara yang bersama-sama dengan aku. Salam kepadamu dari segala orang kudus khususnya dari mereka yang di istana Kaisar. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai rohmu!” (Flp. 4:21-23)

♦ Salam sebagai bentuk perhatian dan kepedulian (ay. 21-22).

Ketika kita memberi salam yang tulus kepada seseorang, di dalamnya terkandung rasa hormat dan kepedulian kita terhadap orang tersebut. Contoh: ketika bertemu dengan orang yang kita hormati, kita pasti memberi salam bahkan kita mencari orang yang kita anggap penting untuk disalami.

Rasul Paulus memang tidak bertemu langsung dengan jemaat Filipi karena dipenjara tetapi dia sangat peduli kepada setiap orang kudus di Filipi yang pernah dilayaninya. Salamnya tidak ditujukan hanya kepada orang-orang tertentu tetapi kepada setiap jemaat yang telah ditebus darah Kristus. Dia berharap mereka membaca suratnya dan hidup seperti apa yang ditulis di dalam suratnya. Salam itu juga tertuju kepada kita sekarang yang membaca suratnya.

Salam yang ditujukan kepada semua orang kudus di Filipi tidak terbatas hanya dari Paulus tetapi juga dari saudara-saudara yang ada bersamanya. Mungkin mereka berada di dalam penjara atau di luar penjara yang telah menerima Injil dan kasih karunia Allah.

Perlu diketahui kesatuan dimulai dari kepedulian. Rasul Paulus memberikan teladan bagaimana menunjukkan kepeduliannya kepada jemaat. Mereka pasti sangat bersukacita beroleh salam dari seorang hamba Tuhan yang sedang dalam penjara yang memiliki sejahtera luar biasa dan berbagi kepada mereka. Jujur, bukankah sering terjadi jika seseorang titip salam kepada kita untuk disampaikan kepada saudara lain, kita lupa dan tidak menyampaikan salam tersebut sebab kita tidak peduli dan meremehkannya.

Rasul Paulus juga menyampaikan salam kepada jemaat Filipi dari orang-orang di istana yang percaya Kristus melalui pelayanan Paulus. Terbukti ada kepedulian dari orang-orang di istana juga harapan untuk hidup sesuai dengan kasih karunia terhadap jemaat Filipi.

Aplikasi: marilah kita belajar untuk peduli dan memerhatikan satu sama lain. Jangan bersikap masa bodoh ketika melihat orang sedang membutuhkan pertolongan; paling sedikit kita mendoakan dia.

♦ Salam disertai dengan doa (ay. 23).

Gaya tulisan Rasul Paulus dalam beberapa tulisannya selalu diakhiri dengan “kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu” (bnd. 1 Kor. 16:23-24; 2 Kor. 13:13; Ef. 6:23-24, dll). Sebagai penutup surat, Rasul Paulus menyampaikan berkat dan doa. Dalam doa berkat setiap mengakhiri ibadah, kita juga menyebut kalimat ini. Itu sebabnya kita harus berusaha datang dan pulang ibadah tepat waktu. Mengapa? Karena waktu datang, kita menerima berkat; mengakhiri ibadah juga ada doa berkat disertai kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai kita. Kita perlu penyertaan Tuhan dan kasih karunia-Nya dalam menjalani hidup dari hari ke hari.

Doa penutup Rasul Paulus juga merupakan seruan agar jemaat Filipi kuat dan dimampukan Tuhan untuk terus sehati sepikir, memiliki perasaan dan pikiran seperti Kristus, ada kerendahan hati, ketaatan dan makin setia mengikut Dia. Bukankah gembala dan para hamba Tuhan juga berdoa agar Tuhan memberikan kita (jemaat) kekuatan dan kasih karunia-Nya menyertai kita? Kita telah banyak menerima kasih karunia Tuhan yang menyertai perjalanan kehidupan pribadi, nikah, keluarga dan pengikutan kita kepada-Nya. Tanpa kasih karunia-Nya, jangan harap kita dapat sehati, sepikir dan peduli terhadap orang lain.

Marilah kita memiliki hati seperti Rasul Paulus yang tidak hanya berdoa untuk diri sendiri atau hanya minta didoakan tetapi dia berdoa untuk orang lain. Jelas, dia menunjukkan kepeduliannya kepada orang lain.

Marilah kita belajar peduli terhadap sesama anggota Tubuh Kristus. Bila mereka mengalami kelemahan fisik (sakit, kesulitan ekonomi dll.) atau kelemahan rohani (tidak setia, mundur dari pelayanan dll.), jangan malah menggosipkan tetapi doakan mereka.

Hendaklah di tahun baru ini kita memiliki pikiran, semangat dan hati diperbarui serta berkomitmen dalam pelayanan. Jangan lupa mendoakan gembala dan penatua agar mereka benar-benar memiliki kepedulian terhadap pelayanan dan keselamatan jiwa jemaat yang digembalakan. Kiranya mereka diberi kekuatan dari Tuhan untuk dapat menghadapi masalah jemaat tidak dengan emosi atau kemampuan diri sendiri tetapi dengan pertolongan-Nya, demikian juga sebaliknya.

Mulailah dari diri sendiri dalam membangun kepedulian dan saling mendoakan satu sama lain sebab orang-orang kudus di dalam Tuhan juga bisa lemah dan bisa jatuh dalam dosa. Kita semua membutuhkan penyertaan Tuhan dan kasih karunia-Nya menyertai roh kita. Amin.