Introduksi Injil Yohanes (3)

YESUS MENJADI MANUSIA DAN TINGGAL DI ANTARA KITA


Lemah Putro, Minggu, 2 Februari 2020
Pdt. Paulus Budiono


Shalom,

Kita yakin akan janji Tuhan yang mengatakan di mana dua atau tiga orang berkumpul di dalam Nama-Nya, Ia ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). Sudahkah Ia hadir di dalam kehidupan nikah, keluarga dan usaha pekerjaan kita? Dan sungguhkah kita merindukan kesejukan air Firman Allah untuk melepaskan dahaga rohani kita? Yesus menawarkan siapa haus dan datang kepada-Nya, ia akan dipuaskan oleh air Roh Kudus yang menjadi mata air di dalam dirinya yang terus menerus memancar hingga kepada hidup yang kekal (Yoh. 4:14).

Injil Yohanes mempunyai kekhususan dalam penulisan yang tidak terdapat di dalam tiga Injil lainnya (Matius, Markus, Lukas). Ini bukan berarti tiga injil lainnya kurang berbobot sebab setiap pasal dan ayat dari Kejadian sampai Wahyu adalah Firman Allah dan Pribadi Tuhan sendiri.

Kita telah mempelajari tujuan dari penulis Injil Yohanes yaitu supaya kita percaya bahwa Yesus, Anak Allah, adalah Mesias dan oleh iman kita beroleh hidup di dalam Nama-Nya (Yoh. 20:31). Dijelaskan pula bahwa dunia yang diciptakan-Nya tidak dapat memuat seluruh tulisan tentang kegiatan satu persatu yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 21:25).

Pesan apa yang Rasul Yohanes mau sampaikan kepada kita kali ini? Yohanes 1:14,18 menuliskan, Firman itu telah menjadi manusia dan diam (dwelt, tabernacled) di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemulian yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa penuh kasih karunia dan kebenaran…..Tidak seorang pun pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”

Dari ayat-ayat di atas, ada tiga poin yang akan kita renungkan bersama yaitu tentang:

Firman
Kita mengenal Bapa Surgawi melalui Yesus (Yoh. 14:6). Siapakah Yesus ini? Ia adalah Firman yang memberikan kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:17). Bila Injil Matius dan Injil Lukas menuliskan tentang Malaikat Gabriel yang memberitahu (perawan) Maria akan mengandung bayi laki-laki dan harus dinamai Yesus (Mat. 1:20-21; Luk. 1:26-31) sementara Injil Markus menuliskan permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mrk. 1:1), Injil Yohanes langsung diawali dan diakhiri dengan Pribadi Yesus dan aktivitasnya yang makin meningkat dan mendunia (Yoh. 21:25).

Injil Yohanes 1:1 menuliskan bahwa Firman itu adalah Allah sedang Kitab Mazmur menyatakan bahwa Firman-Nya tetap teguh di Surga (Mzm. 119:89). Jadi, seberapa besar Firman itu? Firman Tuhan jauh melebihi jagat raya yang diciptakan-Nya.

Manusia
Apakah Allah – Firman – hanya ada di Surga? Allah yang mahabesar “mengecilkan diri” menjadi manusia Yesus seperti kita yang dapat marah, sedih, lapar dll. Bahkan dalam kondisi manusia pun Ia ditolak oleh umat kepunyaan-Nya (Yoh. 1:11). Jelas, Ia tidak hadir dalam kebesaran/keagungan-Nya tetapi hadir dalam kondisi sangat manusiawi yang sederhana.

Diam/tinggal di antara kita.
Memang sebagai Allah, Ia mahahadir tetapi ketika Ia menjadi manusia/daging, Ia memiliki tempat tinggal selama berada di bumi ini. Buktinya? Ketika dua murid Yohanes bertanya kepada Yesus di mana Ia tinggal, Ia mengundang mereka ke tempat tinggal-Nya dan mereka tinggal bersama-sama dengan-Nya (Yoh. 1:35-39).

Yesus dikandung oleh Maria dan lahir di Betlehem kemudian tumbuh kembang di Nazaret. Umur 12 tahun, Ia dibawa ke Bait Allah di Yerusalem untuk ikut merayakan Paskah (Luk. 2:41-42). Di sini mulai timbul pemikiran tentang Bapa Surgawi.

Hingga berumur 30 tahun, Yesus tinggal bersama orang tua dan saudara-saudara-Nya (Yakobus, Yusuf, Simon, Yudas) juga saudara-saudara-Nya perempuan. Ayah-Nya, Yusuf, adalah tukang kayu (Mat. 13:53-56).

Tidak hanya ayah-Nya (Yusuf) si tukang kayu tetapi Yesus sendiri juga tukang kayu. Ketika di tempat asal-Nya (Nazaret) Yesus mengajar di rumah ibadat dengan penuh hikmat, jemaat yang mendengar-Nya kecewa dan menolak Dia saat mereka tahu bahwa Ia tukang kayu dan mereka mengenal keluarga-Nya (Mrk. 6:1-3). Dapat dimaklumi mereka kecewa sebab banyak dari mereka adalah orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka berpikiran seorang pengkhotbah tentulah orang hebat dan berpendidikan tinggi. Ternyata latar belakang Yesus bukan pengajar atau pengkhotbah tetapi tukang kayu. Masihkah kita mau menerima Dia yang bertangan kasar dan berpakaian bau kayu serta rumah penuh dengan perkakas kayu?

Pekerjaan dari tukang kayu ialah memperbaiki, merombak, menguatkan/mengukuhkan, membuat elemen rumah (pintu, jendela dll.), membangun rumah. Yesus adalah “tukang kayu” andal yang mampu merombak dan merestorasi tempat di mana Ia tinggal/bertabernakel.

Bukankah perabot Tabernakel dibuat oleh tukang kayu? Contoh: Mazbah Kurban Bakaran terbuat dari kayu penaga disalut dengan tembaga (Kel. 27:1-2); Meja Roti Sajian dari kayu penaga dilapisi emas murni (Kel. 25:23-24), Mazbah Pembakaran Perukupan terbuat dari kayu penaga disalut emas murni (Kel. 30:1-3); Tabut Perjanjian di Tempat Mahakudus juga dibuat dari kayu penaga disalut emas murni (Kel. 25:10-11). Aholiab dan Bezaleel diberi keahlian, pengertian dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan sehingga Tabernakel berdiri di padang belantara dan Allah berhadirat di tengah-tengah bangsa Israel.

Kini Firman menjadi daging dan bertabernakel di tengah kita bukan hanya saat kita beribadah di gereja.

Di era Musa, Tabernakel bersifat bongkar pasang; “Tabernakel Yesus” juga bersifat mobile – Ia tidak menetap di satu tempat tetapi juga di tempat lain. Contoh: Yesus membuat mukjizat pertama di Kana kemudian pergi ke Kapernaum dan tinggal beberapa hari di sana (Yoh. 2:11-12). Ia bersama para murid-Nya pergi ke tanah Yudea dan diam di sana untuk membaptis (Yoh. 3:22). Ia tinggal di Samaria dua hari dan lebih banyak lagi orang percaya akan perkataan-Nya (Yoh. 4:39-41). Kemana Yesus pergi dan tinggal, di sana terjadi pengajaran, penginjilan dan ada pengampunan serta mukjizat membuat banyak orang percaya kepada-Nya. Tentu Yesus menghadapi kasus berbeda di tempat yang berbeda pula.

Introspeksi: berapa orang menjadi percaya atas kesaksian kita ke mana kita pergi dan di mana kita berdiam? Sudahkah anggota keluarga yang tinggal bersama kita percaya kepada Yesus? Bersediakah kita keluar (dari zona nyaman) untuk memperkenalkan Yesus kepada mereka yang belum/tidak percaya kepada-Nya? Perhatikan, Firman yang sama mampu menyelesaikan kasus berbeda dari kehidupan pribadi, rumah tangga dan nikah orang yang berbeda pula. Ingat, tanpa Yesus hidup kita akan kacau dan porak-poranda. Bukankah Yesus memulihkan kehidupan nikah di Kana (Yoh. 2:1-10) juga menyembuhkan anak pegawai istana yang hampir mati (Yoh. 4:46-53)?

Hendaknya kita mengikuti gerakan Yesus dan tahu ke mana tujuan akhirnya. Ia menghibur kita untuk tidak perlu gelisah sebab di rumah Bapa-Nya ada banyak tempat tinggal (Yoh. 14:1-2). Ia menyediakan tempat yang tidak diketahui jalannya oleh Tomas. Yesus menjawab, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (ay. 6) Filipus juga tidak tahu siapa Bapa itu. Yesus menjelaskan barangsiapa melihat Dia, ia telah melihat Bapa sebab Yesus tidak berkata-kata dari diri-Nya sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Dia yang melakukan pekerjaan-Nya (ay. 8-10). Ternyata murid-murid Yesus hanya senang melihat hal-hal jasmani tetapi Ia membawa mereka sampai pada puncaknya itulah diam di rumah Bapa.

Sebelum Yesus mengutarakan tentang banyaknya tempat tinggal di rumah Bapa-Nya, Ia membasuh kaki murid-murid-Nya tetapi kaki dari salah satu murid-Nya (Yudas Iskariot) yang sudah bersih kembali menginjak tempat kotor/tidak baik dengan menjual Gurunya (Yoh. 13:2-5).

Allah menyediakan rumah bagi kita dan Ia ingin Tabernakel ada di tengah-tengah kita itulah Yerusalem baru yang turun dari Surga (Why. 21:1-3).

Hendaknya di mana pun Tabernakel ada, seyogianya kita juga ada di sana. Tabernakel bukanlah sekadar upacara ibadah. Dimulai dari Pintu Gerbang – Tempat Kudus – Tempat Mahakudus, Yesus mengawali pula dengan mengatakan “Akulah jalan – kebenaran – hidup”.

Biarlah Yesus bertabernakel/berdiam dalam kita supaya saat kita menghadapi masalah Ia siap menolong dan menyediakan kemenangan bagi kita; bila kita diberkati, Ia siap menerima pujian.

Yesus (Sang Firman) menjadi teladan sempurna dalam kerendahan hati dengan menjadi manusia. Firman (Allah) menciptakan Adam dan Hawa menurut gambar rupa-Nya namun mereka jatuh dalam dosa maka Yesus – Adam terakhir – datang menjadi manusia untuk merestorasi kita agar kita dapat kembali masuk dalam kemuliaan bersama Dia selamanya di Yerusalem baru. Amin.

 

Video Ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - "Firman Jadi Manusia" - Pdt. Paulus Budiono.