Firman Tuhan itu Agung dan Mulia

FIRMAN TUHAN ITU AGUNG DAN MULIA


Lemah Putro, Minggu, 9 Februari 2020
Pdm. Jusuf Wibisono


Shalom,

Saat ini kita sedang mempelajari Injil Yohnes yang berbicara tentang Yesus sebagai Anak Allah. Tentu Firman Tuhan yang disampaikan bertujuan agar kita boleh melihat keagungan Firman-Nya sehingga kita tidak lagi dirundung susah dan takut; sebaliknya, kita dapat memuji dan memuliakan Dia.

Siapa Firman itu? Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Manusia diberi kesempatan untuk menerima Firman Tuhan tetapi sering kita kurang/tidak menghargainya bahkan murid-murid-Nya meninggalkan Dia karena menganggap perkataan/Firman-Nya (yang mengandung nasihat, teguran dan hajaran) bersifat keras (Yoh. 6:60,66).

Firman Tuhan yang disampaikan menampilkan Pribadi Yesus, Anak Tunggal Bapa, tetapi dunia tidak mengenal Dia dan umat kepunyaan-Nya menolak Dia (Yoh. 1:1-11). Siapa orang-orang kepunyaan-Nya? Itulah mereka yang sudah ditebus oleh darah-Nya yang mahal namun sayang mereka tidak mau menerima Dia. Padahal Perjanjian Lama tepatnya kitab Yesaya 40:1-5 telah menubuatkan, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya. Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, Tuhan sendiri telah mengatakannya.”

Nubuat di Perjanjian Lama ini diwujudkan dalam Perjanjian Baru yang mana Yohanes (Pembaptis) diutus untuk menyaksikan tentang terang itu (Yoh. 1:6-8). Dia harus mempersiapkan jalan Tuhan seperti dikatakan oleh Nabi Yesaya agar kemuliaan Tuhan dinyatakan. Ilustrasi: untuk mendapatkan hasil yang efektif, kita perlu persiapan berpuasa lebih dahulu sebelum melakukan check up darah. Demikian pula kita akan dapat menerima Firman Tuhan dengan efektif untuk dapat melihat kemuliaan yang dinyatakan oleh-Nya bila kita mempersiapkan diri (dengan penuh kesadaran) akan kebutuhan menerima terang-Nya dalam menghadapi dunia yang gelap ini.

Ketika Allah menjatuhkan tulah ke-10 kepada orang Mesir, orang Israel dapat lolos dari kematian anak sulung karena adanya tanda darah pada dua tiang pintu dan ambang atas (Kel. 12:7). Bukankah di Mazbah Kurban Bakaran terdapat banyak darah binatang kurban yang tertumpah untuk kurban keselamatan dan penghapus dosa? Yesus, Anak Domba Allah, “dibakar’ mati di kayu salib dan darah-Nya tercurah untuk menebus dosa kita agar kita berbalik kepada-Nya untuk beroleh keselamatan kekal. Mazbah Kurban Bakaran berbicara tentang pertobatan. Marilah kita “menutup” lubang kemarahan, dendam, iri hati dll. dengan tidak mengungkit-ungkit persoalan lama dan meratakannya dengan kasih Tuhan yang mampu menutupi segala sesuatu.

Sering kita tidak dapat menyatakan kemuliaan Allah oleh sebab dosa masih bercokol di dalam hati juga kita tidak menghargai kurban Yesus. Contoh: Nikodemus, orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi, tidak dapat melihat kemuliaan Kerajaan Surga meskipun ia orang pandai. Untuk itu Yesus menyuruhnya agar ia dilahirkan baru melalui air dan Roh (Yoh. 3:1-5). Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes untuk menggenapi seluruh kehendak Allah. Ketika keluar dari air, Yohanes melihat langit terbuka dan Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya juga mendengar suara dari Surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat. 3:13-17) Walau Yohanes seorang nabi besar, ia tetap melakukan kebenaran Firman Tuhan; berdampak ia dapat melihat dan mendengar perkara-perkara Surgawi.

Bagaimana kita dapat menghargai kurban-Nya? Dengan melihat, mendengar dan meraba Firman hidup. Sungguh merupakan suatu kasih karunia bagi para murid Yesus untuk dapat mendengar dan melihat sebab banyak nabi dan raja ingin melihat dan mendengar apa yang dilihat dan didengar oleh para murid tetapi mereka tidak melihat dan mendengarnya (Luk. 10:21-24).

Mengapa Yohanes harus berseru-seru mempersiapkan jalan bagi Yesus? Karena umat manusia seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu tetapi Firman Allah tetap untuk selama-lamanya (Yes. 40:6-8). Lebih lanjut dikatakan Tuhan Allah datang seperti seorang gembala yang menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba dipangku-Nya dan induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (ay. 11).

Jelas Firman Tuhan mengarahkan kita untuk bertobat dan meluruskan/memperbaiki segala yang salah. Untuk itu kita sangat membutuhkan Firman-Nya yang agung dan mulia karena kita ini seperti rumput dan kemuliaannya seperti bunga rumput.

Ketika kita menerima Firman Tuhan yang kekal, mata kita terbuka dapat memandang kemuliaan Bapa di dalam Anak Tunggal-Nya yang penuh kasih karunia dan kebenaran. Hendaknya kita sejak kecil telah mengenal Kitab Suci dan dengar-dengaran terhadap suara Gembala yang mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran. Dengan demikian, kita diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim. 3:15-16).

Kita patut bersyukur dididik, ditempa, dibina, digodok oleh Firman Allah supaya (iman) kita keluar bagaikan emas murni (1 Ptr. 1:7) dan tampil bagaikan bejana yang siap dipakai oleh tuannya. Kita siap menjadi “domba” yang diberkati untuk menjadi berkat bagi sesama bukan hidup untuk diri sendiri/egois. Berkat apa yang dibagikan oleh domba-domba-Nya? Mereka memberi makan, minum, tumpangan, pakaian, lawatan bagi yang sakit dan kunjungan saat dipenjara (Mat. 25:34-36). Selain diberkati, “domba” juga siap disucikan oleh Gembala agung dengan tongkat dan gada, dibimbing ke air yang tenang, dibaringkan di padang berumput hijau bahkan disediakan hidangan di hadapan lawan (Mzm. 23:1-5) tanpa rasa takut. Yesus Kristus, Firman menjadi daging, dan darah-Nya menjamin kita menjadi domba-domba-Nya yang bermanfaat dan menjadi berkat bagi sesama.
Introspeksi: sudahkah kita peduli terhadap orang-orang di sekitar kita yang hidup dalam kekurangan/kesulitan ekonomi, sakit/lemah rohani, terbelenggu/terikat oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan?

Untuk dapat menjadi berkat, terlebih dahulu kita membutuhkan Firman Tuhan yang agung untuk memperbarui hidup kita sehingga kita tidak lagi terbelenggu oleh kegelapan dunia yang penuh dengan kebencian untuk dapat melihat terang kemuliaan-Nya. Firman hidup yang telah kita dengar, lihat dan raba kemudian kita beritakan kepada sesama agar mereka juga beroleh persekutuan dengan Bapa dan anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yoh. 1:1-4).

Hendaknya pancaindra kita berfungsi baik dalam merespons Firman Tuhan yang hidup, mulia dan agung sehingga hidup kita diperbaharui dengan adanya tanda darah (Anak Domba Allah), (baptisan) air dan (kepenuhan) Roh Kudus. Setelah kita beroleh berkat hidup baru, kita tidak hidup egois tetapi berbagi berkat dengan orang-orang yang membutuhkan keselamatan di dalam Yesus Kristus sehingga terjadi persekutuan indah dan sukacita penuh di dalam satu Tubuh Kristus karena kita semua percaya dan mengakui Yesus, Anak Allah, adalah Mesias dan oleh iman kita beroleh hidup dalam Nama-Nya (Yoh. 20:31). Amin.

 

Video Ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - "Firman Tuhan yang Agung dan Mulia" - Pdm. Yusuf Wibisono