Siapakah Yesus, Anak Allah, Penebus Dosa?

SIAPAKAH YESUS, ANAK ALLAH, PENEBUS DOSA?


Johor, Minggu, 16 Februari 2020
Pdm.Stephanas Budiono


Shalom,

Hendaknya pola pikir kita berubah dari rutinitas pasif (datang ke gereja, duduk bernyanyi memuji Nama-Nya, mendengarkan Firman Tuhan kemudian pulang membawa berkat dari-Nya) menjadi pola pikir aktif untuk dapat berbuat sesuatu bagi Tuhan saat bersekutu dalam ibadah. Untuk itu kita harus menyingkirkan pola pikir bersifat negatif/penolakan seperti “aku tidak mampu”, “tidak bisa apa-apa” dst. menjadi “aku mau belajar Tuhan dengan pertolongan-Mu”. Dari sinilah kegiatan pelayanan kita dimulai yang makin lama makin bertambah indah dan bagus.

Siapakah Yesus itu? Sudahkah kita mengenal Dia? Di zaman Rasul Yohanes, dia berhadapan dengan masalah di dalam jemaat (adanya konflik teologi, perbedaan pendapat dan iman yang menimbulkan perpecahan tentang siapa Yesus) dan masalah dari luar (terjadi penganiayaan). Sungguh, perpecahan itu sangat menyakitkan dan konflik dimulai dari pikiran dan hati. Oleh sebab itu Roh Kudus mengilhami Yohanes untuk menulis yang ditujukan kepada:

♦ Orang percaya yang sudah ‘tahu’ dan ‘kenal’ Yesus, Anak Domba Allah, adalah Penebus dosa.

♦ Orang yang belum/tidak mengenal Yesus.

Apa tujuan dari tulisan Rasul Yohanes? Agar kita percaya (Yunani: pisteuo = to place confidence in, to entrust) bahwa Yesus, Anak Allah, adalah Mesias dan oleh iman beroleh hidup dalam Nama-Nya (Yoh. 20:29-31). Yohanes menggunakan 98 kali kata percaya (pisteuo) yang mengandung makna dasar: keyakinan kuat, dapat diandalkan, kebenaran, kemampuan, kekuatan seseorang atau sesuatu. Jadi, kata “percaya” di sini mengandung konsep bukan asal percaya tetapi percaya setelah melakukan observasi. Iman/percaya kita tidak akan bertumbuh/meningkat bila kita tidak pernah melakukan observasi/menyelidiki Firman Tuhan. Dengan kata lain, jika kita tidak menyelidiki Firman, kata “percaya” hanyalah lip-service tetapi hati tidak percaya karena merasa sudah tahu.

Percaya yang timbul setelah kita melakukan observasi/penelitian hingga kita mempunyai pemahaman yang benar membuat percaya semacam itu meningkat levelnya dari level sebelumnya. Misal: kita tahu Yesus adalah Penebus dosa tetapi hati kita tidak tergetar oleh-Nya ini menunjukkan iman/percaya kita kepada Yesus tidak meningkat sebab kita tidak terdorong untuk mengenal Dia lebih dalam. Bukankah ketika kita mengenal seseorang, kita ingin mengenal dia lebih dalam daripada sebelumnya?

Jujur, persepsi yang salah akan menimbulkan masalah jika kita malu bertanya atau berdiskusi untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Contoh: Yohanes 1:29-30 menuliskan, “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku sebab Dia telah ada sebelum aku.”

Ayat di atas cukup membingungkan beberapa orang terutama kata-kata “kemudian daripadaku” berarti akan datang seorang setelah Yohanes tetapi ayat berikutnya mengatakan “Dia telah ada sebelum aku” yang langsung ditafsirkan tentang penciptaan.

KESAKSIAN YOHANES TENTANG YESUS (YOH. 1:29-34)
Yohanes sendiri mengakui dengan jujur bahwa awalnya dia tidak mengenal Yesus, Penebus dosa, tetapi melalui pekerjaannya (membaptis orang) dia menampilkan Yesus kepada orang Israel (ay. 31). Dia tahu bahwa dia akan bertemu dengan seseorang karena diberitahu oleh Pribadi yang mengutusnya dengan bukti Roh Kudus yang turun ke atas orang itu adalah Anak Allah (ay. 32-34).

Kesaksian Yohanes tentang Yesus menyangkut:

♦ Mengenal Yesus di masa lalu.

♦ Mengenal Yesus waktu bertemu dengan-Nya.

♦ Yakin mengenal Yesus karena buktinya jelas.

Introspeksi: sungguhkah kita mengenal Yesus (di masa lalu) waktu kita bertemu dengan-Nya? Jika kita mengaku mengenal Yesus tetapi Roh Kudus tidak berdiam di dalam kita, sesungguhnya kita tidak pernah mengenal-Nya. Yesus seperti apa yang kita kenal saat ini? Yesus di masa lampau, Yesus masa sekarang atau Yesus yang terus berdiam dalam kita oleh Roh Kudus-Nya? Hendaknya kita bersaksi tentang Yesus bukan karena pengetahuan tetapi karena memiliki pengalaman bersama-Nya. Kalau kita mengenal Yesus, mulut kita tidak akan pernah berhenti berbicara tentang Dia.

Apa yang dimaksud Rasul Yohanes tentang “Dia telah ada sebelum aku”?

Sebelum Yesus – Sang Firman – berinkarnasi menjadi daging/manusia, segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Yoh. 1:1-3). Yohanes mendeskripsikan Yesus sebagai Anak Domba Allah, Penebus dosa, juga keberadaan-Nya sebagai Anak Allah yang tidak pernah berubah. Walau Yesus menjadi manusia sama seperti kita, Ia tetap Anak Allah bahkan Allah sendiri. Jangan salah mengartikan dengan pemikiran karena Dia menjadi manusia maka keallahannya tidak ada lagi!

Bila kita percaya Yesus adalah Anak Allah dan esensinya tetap Allah walau menjadi manusia (Yoh. 1:14), kita akan ada rasa hormat dan takut kepada-Nya. Dia rela membatasi kekuatan-Nya untuk menggenapi rencana Allah dan menjadi sama dengan manusia; bedanya Ia tidak berdosa. Ia adalah satu Pribadi (Yesus Kristus) tetapi naturnya dua (Allah- manusia).

Injil Yohanes ditulis untuk dua kelompok:

♦ Orang yang belum/tidak percaya Yesus agar mereka percaya kepada-Nya.

♦ Mereka yang sudah percaya harus memiliki iman yang berakar dalam dan kuat agar Yesus dipermuliakan. Ujian dalam menghadapi problem/masalah justru meningkatkan pengenalan kita kepada-Nya. Jangan mengandalkan pendeta dan minta didoakan saat kita menghadapi masalah! Siapa Penghapus dosa dan pengangkut dosa manusia? Bukan pendeta tetapi Yesus yang hadir di mana pun! Oleh sebab itu datanglah langsung kepada Yesus, Anak Allah, Penebus dosa dan akui dengan jujur segala kesalahan yang kita perbuat untuk beroleh pengampunan dari-Nya.

Pengalaman kita dengan Yesus harus terus meningkat oleh karena Roh Kudus berdiam dalam hidup kita. Jangan lupa Allah yang mahabesar juga merendahkan diri menjadi begitu “kecil”! Kita melihat Allah yang mahabesar melalui karya ciptaan-Nya. Para ilmuwan tidak dapat mengukur dengan tepat besarnya bumi dan planet-planet yang memenuhi alam semesta; bagaimana mungkin mereka dapat mengukur besarnya Sang Pencipta?

Kini informasi berkembang dengan cepat, kita harus mempelajari Alkitab secara menyeluruh/holistis sebab Alkitab mengajarkan tentang medis, finansial, konseling, hikmat dll. Otak/pikiran memegang peran penting dalam meng-update pengetahuan kita; jika kita malas menambah pengetahuan kita bagaikan hidup di masa lampau akibatnya masalah-masalah tidak dapat diselesaikan karena masa lampau terus.
Sebaliknya, bila hari-hari ini kita belajar tentang masa depan karena Tuhan kita adalah Tuhan di masa depan, kita akan menerima sesuatu yang luar biasa dimulai dari pikiran. Mana yang lebih besar, Sang Pencipta atau benda-benda ciptaan-Nya? Yesus adalah mahabesar karena Dia dapat menciptakan langit dan bumi baru.

Pernahkah Anda melihat sel DNA yang sangat kecil dan baru terlihat dengan alat bantu mikroskop? Siapa yang menciptakannya? Yesus Kristus yang sama – Ia sanggup menciptakan benda-benda besar yang tak kelihatan karena berada di luar angkasa juga benda-benda paling kecil yang tidak kelihatan dan belum diteliti oleh manusia. Bila kita percaya Ia menciptakan segalanya, mengapa kita masih khawatir akan keseharian hidup kita? Siapa yang dapat mengatur hidup kita dan memastikan masa depan kita? Bukankah kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari? Yang penting saat ini kita harus melakukan sesuatu yang terbaik.

KESAKSIAN YOHANES TENTANG DIRINYA SENDIRI (YOH. 1:19-28)
Pengalaman-pengalaman pengenalan akan Allah membuat Yohanes mengaku tanpa perlu ditutup-tutupi bahwa dia bukan Mesias bukan pula Elia (Yoh. 1:25) walau Yesus sendiri mengakui bahwa dia adalah nabi besar (Luk. 7:28).

Yohanes mengaku Yesus adalah Mesias dan dia memosisikan diri di tempat paling rendah bahkan merasa tidak layak membuka tali kasut-Nya (Yoh. 1:27). Betapapun besarnya Yohanes, dia meletakkan diri jauh di bawah karena dia melihat, mengerti dan mengalami betapa besarnya Sang Pencipta itu.

Kita tidak akan pernah dapat mengatakan Tuhan begitu besar kalau kita masih merasa diri besar. Kita juga tidak dapat mengakui Yesus, Anak Allah, Penebus dosa jika kita masih merasa mampu menghilangkan rasa bersalah kita. Kita tidak akan memiliki pengalaman bertemu dengan Tuhan kalau kita fokus dengan masalah kita. Sungguh kita tidak akan pernah mengalami hal baru kalau kita tidak menempatkan diri serendah-rendahnya di hadapan Tuhan. Inilah prinsip sederhana yang disaksikan oleh Yohanes melalui pribadinya sebagai pembaptis.

Marilah kita merendahkan diri untuk dapat menyaksikan kebesaran Tuhan. Jangan tetap hidup di masa lampau sehingga kita tidak dapat melupakan masalah. Tak jarang masalah berat justru mendorong kita untuk berserah total kepada Tuhan. Harus diakui sulit sekali untuk menjalaninya tetapi kalau kita mengenal Tuhan, kita dapat menjadi orang yang rendah hati seperti Yesus. Amin.