Yesus menyatakan Kemuliaan-Nya

YESUS MENYATAKAN KEMULIAAN-NYA

Lemah Putro, Minggu, 1 Maret 2020
Pdt. Paulus Budiono


Shalom,

Hendaknya kita yakin bahwa Tuhan ada dan memberikan shalom/damai kepada kita. Roh Tuhan yang ada dalam hati tidaklah mati tetapi hidup dan bergairah menolong kita dalam menghadapi masalah mulai dari masalah pribadi, pekerjaan, kesehatan, keluarga bahkan problem nikah yang rumit seperti telah terjadi 2.000 tahun lalu di Kana. Sungguhkah Tuhan ada/exist atau sekadar mitos? Dan mampukah Ia menolong kita?

Logikanya, reaksi timbul karena adanya aksi. Demikian pula dengan berubahnya air menjadi anggur di pesta perkawinan di Kana, apa reaksi yang ditimbulkan? Yohanes 2:11, “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Apa yang Yesus perbuat menghadapi masalah nikah di Kana dan apa reaksi para murid serta apa maknanya bagi kita sekarang?

♦ Tanda/mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus pada perkawinan di Kana membuat para murid percaya kepada-Nya; berarti sebelumnya para murid kurang/belum begitu percaya kepada Guru mereka. Ini menunjukkan adanya peningkatan iman percaya mereka kepada Dia.

Bagaimana dengan iman kita setelah mendengar pembahasan Injil Yohanes? Apakah meningkat seperti dirindukan oleh penulis Injil ini yaitu agar kita percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan oleh iman kita beroleh hidup dalam nama-Nya (Yoh. 20:30-31)?

♦ Pada waktu itu murid-murid Yesus aktif mengikut Guru (fisik) mereka ke mana pun Ia pergi, sekarang kita aktif beribadah mendengarkan Firman Tuhan untuk beroleh iman sebab iman timbul dari mendengarkan Firman kristus (Rm. 10:17).

Bila kita tidak serius dan fokus mendengarkan Firman Tuhan (misal: tidur di gereja, main HP dst.), kita tidak akan mengerti pesan dari Firman. Faktanya, tidaklah mudah memercayai Yesus menjadi manusia (Yoh. 1:14); Rasul Yohanes (± 95 tahun) sendiri mengalami pergumulan (ketakutan, kebingungan, ketekadan dll.) ketika menulis Kitab Yohanes sebab ia menghadapi dua sekte/kelompok lain saat itu, yaitu: (1) mereka yang percaya Yesus adalah Allah bukan manusia dan (2) mereka yang percaya Yesus adalah manusia biasa bukan Allah. Hingga kini, orang Kristen liberal, saksi Yehuwa tidak percaya Yesus adalah Allah.

♦ Yesus mendemonstrasikan tanda/mukjizat di hadapan para murid-Nya dan mereka percaya akan apa yang Yesus katakan dan kerjakan. Selain para murid, Maria (ibu Yesus) dan pelayan-pelayan yang mengisi penuh tempayan-tempayan (mencuci kaki dan tangan) juga menyaksikan mukjizat ini. Sementara pemimpin pesta dan mempelai laki-laki tidak tahu dari mana asal usul air anggur yang lebih lezat itu.

Perhatikan, kalau kita tidak tahu proses terjadinya mukjizat yang dikerjakan oleh Firman Tuhan dalam peristiwa/suasana penginjilan, Pendalaman Alkitab, renungan pribadi dll., kita kurang/tidak menghargai Firman Tuhan yang sanggup menumbuhkan iman. Kita malah sibuk mengagumi pendeta yang fasih berkhotbah bukan pada Firman hidup yang berkuasa mengubah kehidupan kita.

Ketika Yohanes Pembaptis menyaksikan bahwa Yesus adalah Anak domba Allah, Penghapus dosa dunia, dua murid Yohanes mengikut Yesus dan menjadi murid-Nya. Andreas mengajak saudaranya, Simon, bertemu Yesus dan percaya kepada-Nya.

Yesus bertemu Filipus dan mengajak dia untuk ikut bersama-Nya. Kemudian Filipus bertemu Natanael dan menyaksikan bahwa dia telah bertemu Yesus yang disebut dalam kitab Taurat dan kitab para nabi. Akhirnya Natanael percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan raja orang Israel.

Introspeksi: apa yang kita katakan kepada orang-orang yang kita temui? Dapatkah kesaksian kita dipercaya, membuat mereka yang mendengarnya percaya kepada Tuhan?

♦ Para murid percaya akan tanda pertama yang dilakukan oleh Yesus. Ini merupakan titik awal yang baik karena banyak tanda lagi akan dilakukan oleh Yesus.

♦ Dalam mengadakan mukjizat, Yesus tidak mengambil air, tidak memanggil mempelai laki-laki, tidak menyuruh pemimpin pesta membeli anggur paling baik. Apa yang dilakukan-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya?

Sesungguhnya kemuliaan sudah ada di dalam kekekalan dan Ia meneguhkannya saat berdoa kepada Bapa-Nya (Yoh. 17:5).

Ternyata Yesus hanya berbicara memerintahkan para pelayan untuk mengisi penuh tempayan dengan air. Dengan kata lain, Yesus memerintahkan sesuatu dan pelayan melakukannya.

Aplikasi: bila kita ingin mengalami mukjizat, kita harus mempraktikkan Firman Allah. Kenyataannya, sering terjadi kita menginginkan mukjizat tetapi kita berdiam diri dan membiarkan Tuhan bekerja sepenuhnya. Tentu

Tuhan mampu bekerja sendiri, bukankah alam semesta dan isinya diciptakan oleh-Nya? Namun Ia “sengaja” meminta manusia ikut ambil bagian dalam bekerja supaya kita dekat dengan-Nya melalui pembacaan dan perenungan Alkitab yang membuka jalan, memberikan solusi dan pertolongan tepat waktu.

♦ Ketika air menjadi anggur, Yesus menyuruh pelayan memberikan anggur itu kepada pemimpin pesta. Setelah dicicipi, pemimpin pesta bingung dan heran bagaimana mungkin anggur tersebut jauh lebih lezat daripada anggur yang telah disuguhkan. Dia juga tidak tahu dari mana asalnya anggur lezat ini lalu bertanya kepada pengantin laki-laki yang ternyata tidak tahu pula. Umumnya, pasangan mempelai menjadi “raja dan ratu sehari” yang menikmati pesta penuh sukacita tanpa memikirkan masalah yang terjadi saat itu.

Pemimpin pesta tahu dengan pasti bahwa setiap orang menghidangkan anggur yang baik terlebih dahulu (nomor satu) kalau sudah kehabisan baru menyuguhkan anggur yang kurang baik (nomor 2). Jelas, pesta di Kana ini juga kehabisan anggur yang kurang baik membuat pesta ini tercoreng.

Yesus dapat menjadikan air menjadi anggur yang tidak baik (nomor 2) atau anggur baik (nomor 1) seperti yang disuguhkan pertama kali supaya tidak terjadi gejolak tetapi Ia memberikan anggur sukacita yang terbaik.

Jangan menutup diri bila kurang/tidak ada sukacita dalam kehidupan nikah, datanglah kepada Yesus yang mampu memberikan sukacita penuh.

♦ Maria (ibu Yesus) tidak tersinggung ketika Yesus (30 tahun) memanggil dia “Perempuan (woman)” bukan “Ibu” dan mengingatkan bahwa saat-Nya belum tiba.

Jika kita flashback, Maria tidak mengerti dan mengajak Yesus (12 tahun) pulang bersamanya ketika Yesus tertinggal di Bait Allah di Yerusalem (Luk. 2:45-50). Yesus tinggal bersama orang tuanya hingga umur 30 tahun dan Ia memulai pelayanan.

Maria memberitahu Yesus bahwa pesta perkawinan di Kana kehabisan anggur tetapi Yesus menegaskan, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan (woman)? Saat-Ku belum tiba.” Maksudnya, Maria harus tahu posisinya dengan tepat. Manusia boleh mengajukan masalah tetapi kita harus tahu siapa di atas masalah yang dapat menyelesaikannya.

Aplikasi: jika kehidupan nikah sudah di ambang kehancuran kehabisan anggur sukacita, jangan malah meninggalkan Yesus yang mau menolong dan memberikan sukacita besar yang tidak dapat diciptakan manusia mana pun. Oleh sebab itu jangan mengabaikan hadirnya Yesus dalam Firman-Nya.

Maria menyimpan semua perkara dalam hatinya ketika (1) diberitahu Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung bayi Yesus oleh Roh Kudus, (2) Yesus (40 hari) diserahkan kepada Tuhan di Yerusalem dan digendong oleh Simeon tua yang bersukacita menyambut-Nya sebab ia melihat keselamatan dan (3) Yesus (12 tahun) berada di Bait Allah di dalam rumah Bapa-Nya.

Namun di pesta perkawinan ini Maria tidak lagi menyimpan dalam hati tetapi langsung mengatakan kepada pelayan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus. Maria makin mengenal siapa Yesus, dia tahu diri bahwa dia tidak dapat semena-mena memerintah Yesus karena merasa sebagai ibu-Nya. Dia memahami bahwa Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia.

Aplikasi: makin lama kita kita bergereja makin kita meningkat dalam pengenalan akan Pribadi Yesus itulah Firman menjadi Manusia yang mampu memberikan kita sukacita Surgawi.

♦ Dalam bekerja, Yesus memakai “alat” paling rendah yaitu pelayan/hamba bukan mempelai atau pemimpin pesta. Secara manusiawi, bisa saja para pelayan mengomel disuruh mengisi tempayan kosong dengan asumsi harus mencuci lagi kaki tangan para tamu. Waspada, kadang Iblis muncul membisikkan suatu alasan yang cukup masuk akal. Namun mereka tidak protes ketika diingatkan oleh Maria untuk melakukan apa yang dikatakan Yesus.

Aplikasi: Yesus suka berbicara kepada orang yang rendah hati dan siap bekerja serta tidak mudah mengomel. Jangan pertahankan gengsi dan kesombongan agar Firman Tuhan tidak “bungkam” dan tertutup! Sudahkah kita berhati hamba untuk melakukan perintah/Firman Tuhan agar kehidupan nikah dan rumah tangga kita tertolong?

♦ Pemimpin pesta tidak tahu kalau tempayan buat cuci tangan dan kaki dipakai untuk menampung air yang nantinya berubah menjadi anggur yang lezat sekali. Dia pasti marah dan merasa jijik kalau tahu asal usul anggur yang disajikan kepada para tamu undangan. Sementara itu para pelayan menggunakan tangan dan kaki mereka untuk mengambil air dan pekerjaan mereka tidak sia-sia.

Aplikasi: Tuhan mengizinkan adanya masalah dalam kehidupan nikah dan memakai orang berhati hamba untuk menguatkan tangan yang lemah, lutut yang goyah dan meluruskan jalan bagi kaki sehingga yang pincang tidak terpelecok tetapi menjadi sembuh. Semua ini untuk kebaikan supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9-13).

Perhatikan, bila kita mematuhi perintah Firman Tuhan, pekerjaan kita tidak sia-sia. Semakin kita rendah hati, semakin cepat selesai masalah yang kita hadapi. Tuhan mendidik dan menghajar kita untuk menghasilkan anggur sukacita luar biasa. Masalahnya, bersediakah tangan-kaki kita dicuci/dikuduskan? Maukah kita menggunakan kaki dan tangan untuk bekerja dalam pelayanan? Jujur, kita malah sering menggunakan (jari) tangan untuk menuding dan menghakimi orang lain dan menyuruh (kaki) orang lain untuk pergi melayani Tuhan. Ke mana arah kita berjalan? Ke Yerusalem Baru. Hati-hati, jangan menjadi hamba yang malas membaca Firman dan menolak pelayanan! Yesus sendiri menjadi teladan sempurna dengan mengosongkan diri mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp. 2:3-7).

Yesus adalah Allah yang berkuasa sekaligus Hamba yang rendah hati dan datang melayani rumah tangga kita. Ia mampu melakukan pekerjaan paling mulia juga yang paling tidak mengenakkan. Hanya Dia satu-satunya yang dapat menolong masalah kita.

♦ Peristiwa pesta perkawinan di Kana menjadi tanda/mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus sebab berkaitan dengan nikah.

Adam dan Hawa diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal (Kej. 1:26) dan tinggal di Taman Eden penuh dengan kemuliaan-Nya. Namun karena jatuh dalam dosa, mereka kehilangan kemuliaan Allah dan diusir keluar dari Eden. Untuk itu Yesus datang ke dunia menjadi Hamba bertujuan menyelamatkan manusia berdosa. Ia “kehilangan” kemuliaan Allah menjadi hamba dan manusia untuk menanggung dosa seluruh umat manusia. Itu sebabnya Allah sangat meninggikan dan memuliakan Dia.

Aplikasi: kita tidak perlu menjaga image dengan malu menjadi hamba oleh sebab posisi kedudukan kita ang mapan. Jika kita mau menjadi Mempelai Perempuan Surga, kita harus bersedia menjadi hamba yang melayani dengan rendah hati.

Yesus bekerja hingga hari ini dan masih melakukan mukjizat-mukjizat dimulai dari bawah bukan yang muluk-muluk dari langit seperti diminta oleh ahli Taurat dan orang Farisi yang tidak dikabulkan kecuali tanda Yunus di dalam perut ikan tiga hari tiga malam (Mat. 12:38-40). Mau menikmati sukacita dalam nikah? Mulailah dari bawah dahulu dengan menjadi hamba dan kaki-tangan kita bersedia disucikan. Menghadapi masalah terbesar dan terberat sekalipun, Yesus mulai dari bawah (menjadi hamba) dan naik ke salib untuk memberikan pertolongan yang sempurna. Sungguh kita patut bersyukur Ia menjadi teladan sempurna untuk kita teladani agar masalah nikah, rumah tangga, pekerjaan dll. terselesaikan! Terlebih dari itu, kita persiapkan diri dengan dikuduskan oleh air Firman Allah untuk menjadi mempelai Perempuan-Nya dan siap bersanding dengan Dia di Yerusalem baru selamanya. Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - Yesus Nyatakan Kemuliaan-Nya - Pdt. Paulus Budiono.