Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Dirombak Firman Allah demi Hidup Kekal

DIROMBAK FIRMAN ALLAH DEMI HIDUP KEKAL
(Yoh. 2:13-25)

Johor, Minggu, 8 Maret 2020
Pdm. Jusak Pundiono


Shalom,

Apa pun perombakan (kecil atau besar) yang dilakukan di dunia ini, semua itu untuk suatu kebaikan. Misal: ada bagian yang sudah usang atau rusak diganti dengan yang baru. Itulah yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Ia melakukannya supaya tidak lagi ada tanda lama/tua atau fana tetapi terus menerus dibarui karena itulah tujuan kita beribadah hingga mencapai pembaruan total dan kekal di Yerusalem baru bersama Dia. Tahukah langit dan bumi yang sekarang ini diwabahi virus corona akan berlalu digantikan dengan langit dan bumi baru?

Apa yang harus dirombak dalam hidup kita?

Tujuan ibadah yang salah (Yoh. 2:13-17)

“Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.” (ay. 13)

Zaman itu merupakan masa transisi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan tiap tahun orang Yahudi menyelenggarakan hari-hari raya mereka termasuk hari raya Paskah. Mereka merayakan Paskah menurut aturan di dalam Taurat dan Kitab Sucinya. Mereka sangat paham apa makna dari Paskah yaitu mengingatkan mereka akan malam ketika Tuhan melewati rumah-rumah orang Mesir dan semua anak sulung dari anak manusia sampai anak binatang dibunuh-Nya sementara rumah-rumah orang Israel bebas dari hukuman kematian karena ada tanda darah anak domba yang dioleskan pada ambang atas dan dua tiang pintu rumah mereka (Kel. 12:5-7,12-13).

Untuk apa orang Israel dilepaskan dari perbudakan Mesir? Beribadah (Kel. 7:14-16; 8:1,20; 9:1,13 dst.) Jadi, Paskah orang Yahudi memiliki nilai ibadah tinggi menyangkut hidup atau mati – kelepasan dari perbudakan untuk beribadah kepada Tuhan. Demikian pula ketika mereka meminta emas, perak serta kain-kain dari orang Mesir, tujuannya tidak berubah yaitu untuk ibadah, membangun Tabernakel.

Allah sendiri menyuruh mereka mendirikan tempat kudus supaya Ia diam di tengah-tengah mereka (Kel. 25:8) – berkaitan dengan ibadah. Selama 40 tahun di padang gurun, mereka mempersembahkan kurban halal untuk ibadah.

Di era Perjanjian Baru, Yesus (orang Yahudi) ke Yerusalem menjelang Paskah dan tahu persis makna Paskah serta fungsi Bait Suci. Itu sebabnya ketika melihat pemandangan yang tidak sesuai dengan Paskah dan fungsi Bait Suci, Ia langsung melakukan penyucian di Bait Allah dan menegaskan untuk tidak membuat rumah Bapa-Nya menjadi tempat berjualan (Yoh. 2:14-16).

Di masa kerajaan Yehuda, Bait Suci yang dibangun oleh Raja Salomo mempunyai visi global/internasional (1 Raja. 8:41-43). Bangsa Israel dijaga/diatur oleh Tuhan untuk tidak bergaul dengan bangsa kafir yang ada di sekitarnya. Mereka beribadah di tempat berbeda, bangsa non-Yahudi (kafir) beribadah di Pelataran luar.

Ketika Pelataran dijadikan tempat berjualan, ibadah bangsa manca negara (non-Yahudi) menjadi terganggu – mereka tidak dapat fokus beribadah. Contoh: sida-sida Etiopia (non-Yahudi) yang datang ke Yerusalem untuk beribadah dan dalam perjalanan pulang membaca Kitab Nabi Yesaya tetapi tidak mengerti sehingga Tuhan mengutus Filipus untuk menerangkan ayat itu (Kis. 8:26-31). Mereka datang dengan ketidakpahaman akan makna ibadah, berada di tempat tersendiri diperparah dengan ributnya suara ternak yang diperjual-belikan juga bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh binatang-binatang tersebut. Melihat kondisi semacam ini, Yesus bertindak membubarkan praktik jual-beli dan mengembalikan fungsi rumah Bapa-Nya untuk fokus ibadah saja.

Introspeksi: ada tujuan kita datang ke rumah Tuhan? Apakah untuk mencari penyelesaian masalah, minta kesembuhan atas penyakit yang diderita? Mengucap syukur atas pertolongan-Nya? Apa pun motivasinya dan siapa pun kita (suku dan etnis beda), dasar dari tiap ibadah (besar, sedang atau kecil) haruslah karena cinta/gairah akan rumah Allah yang menghanguskan (Yoh. 2:17; Mzm. 69:10) – bukan gairah akan berkat-berkat jasmani atau ingin dipuji manusia. Gairah cinta yang menghanguskan akan membuat kita tidak mudah putus asa dalam pelayanan atau gampang undur saat menghadapi tantangan. Dahulu bangunan fisik yang dirombak, sekarang tubuh kita adalah bait Roh Kudus (1 Kor. 6:19). Kiranya gairah cinta Allah membuat kita makin tekun dan fokus beribadah sebab ibadah yang benar membawa kita kepada kekekalan.

Perlu diketahui Mazmur 69 tidak dipenuhi oleh ayat-ayat berkat atau sukacita tetapi kesesakan. Raja Daud dalam keadaan stres dan menulis ayat-ayat tersebut. Di sini kita boleh belajar bahwa kita harus menghargai setiap ayat di Alkitab dan suatu saat ayat itu akan memberikan kita dorongan dan “nyala api” dalam menghadapi masalah juga menerobosi tantangan untuk dapat beribadah kepada Tuhan. Sudah berapa banyak ayat yang kita baca? Roh Kudus akan mengingatkan ayat itu ketika kita membutuhkannya. Ini adalah fungsi dari Roh Kudus dan kita adalah bait-Nya yang menyimpan nyala api cinta kepada Tuhan yang tidak dapat dipadamkan oleh apa pun.

Tuhan mau merombak kita agar tujuan ibadah kita tidak salah bukan untuk kepentingan sendiri tetapi untuk Dia yang sudah melepaskan kita dari ikatan-ikatan yang membelenggu kita.

♦ Praktik ibadah yang diatur manusia (ay. 18-22).

Orang Yahudi tidak terima Yesus menyucikan Bait Allah padahal sebagai orang Yahudi mereka pasti tahu tujuan Paskah orang Yahudi dan fungsi Bait Suci pada awalnya. Mereka tidak perlu minta tanda kepada Yesus ketika melihat Pelataran Bait Allah dikotori dengan segala macam praktik berjualan. Mereka seharusnya sudah mengerti mengapa Yesus merombak semua kekacauan itu. Jadi, kalau orang Yahudi masih minta tanda, ini menunjukkan tanda kekerasan hati dan menolak untuk diinsafkan.

Bukankah saat puji-pujian, pemimpin pujian menyanyi di depan dan memberikan tanda serius kita memuji hanya bagi Tuhan? Demikian pula kita melihat tanda wajah-wajah penuh sukacita saat menyanyi? Namun kita malah sibuk menoleh kiri-kanan tidak serius menyanyi! Berikan suara terbaik yang terpancar dari hati dan keluar di mulut menjadi nyanyian pujian terindah bagi-Nya.

Orang-orang Yahudi tidak mengerti ketika Yesus menyuruh mereka merombak Bait Allah dan dalam tiga hari Ia akan membangunnya kembali. Mereka mengatakan Bait Allah dibangun dalam waktu 46 tahun, bagaimana mungkin Yesus dapat membangunnya dalam tiga hari? Justru kata-kata “46 tahun dibangun” membongkar ketidakberesan Bait Allah dan sistem ibadah di dalamnya.

Bait Allah sudah mengalami perombakan dua kali. Pertama, Bait Suci Salomo yang dibangun begitu indah dihancurkan oleh Babilonia karena menjadi ibadah buatan manusia penuh pemberhalaan dan kenajisan. Lima puluh tahun kemudian, bangsa Israel kembali dari pembuangan dan membangun kembali Bait Allah di masa Zerubabel yang makan waktu 20 tahun. Mereka mengalami banyak tantangan dan bangunannya lebih sederhana tetapi Tuhan menginginkan Bait Allah dibangun kembali untuk ibadah.

Bangsa Yahudi seharusnya menyadari dan jujur mengakui bahwa Bait Allah telah diprakasai dan dibangun oleh Herodes, non Yahudi, yang mengatur sistem ibadah termasuk mengangkat imam besar untuk tujuan-tujuan politiknya. Bait Allah selama 46 tahun berada dalam kontrol/kendali dan kekuasaan (manusia) Herodes – menjadi ibadah buatan manusia (Mat. 15:7-9) untuk menyenangkan manusia dan penguasa, bukan lagi ibadah penuh kuasa Allah. Untuk itu Yesus memberikan tanda besar (Yoh. 2:21-22) untuk merombak Bait Allah dari fokus ibadah yang salah (buatan manusia) menjadi ibadah buatan Allah yang dikendalikan oleh-Nya. Kita sudah hidup dalam tanda kematian dan kebangkitan-Nya yang mengarah pada ibadah kekal di Yerusalem baru dan Ia menjadi Bait-Nya (Why. 21:22).

Aplikasi: memang demi kelancaran acara ibadah diatur oleh manusia tetapi manusia yang mengatur adalah sebagai Bait Allah Roh dengan menggunakan karunia-karunia Roh untuk melayani Tuhan, bukan mengatur dengan akal, kemampuan manusia Bait Tubuh fana. Para pelayan ibadah jangan melayani karena hobi, sebab hanya dari kemampuan Bait Tubuh fana, tetapi melayani ibadah sebagai manusia Bait Roh dalam karunia Roh. Tuhan mau kita melakukan semua kegiatan pelayanan oleh sebab gairah cinta kepada-Nya yang menghanguskan. Cinta karena mengalami tanda “tiga hari” kematian dan kebangkitan Kristus. Ia mau kita melakukan untuk kekekalan walau sekarang masih dalam tubuh fana.

Kesalahan memahami iman dalam ibadah (ay. 23-25).

Sementara Yesus berada di Yerusalem selama hari Raya Paskah, ada kesempatan dan cukup waktu untuk memahami apa yang dilakukan-Nya di Bait Allah. Iman dan ibadah selalu berkaitan (Ibr. 11:6). Banyak orang percaya dalam Nama-Nya karena melihat tanda dan ini dituntut oleh orang-orang Yahudi (Yoh. 2:18). Injil Yohanes juga menulis tanda-tanda yang unik dan luar biasa (Yoh.20:30-31), Orang Yahudi menanyakan tanda dan langsung dijawab Yesus dengan tanda final yaitu tanda kematian-kebangkitan-Nya. Jangan lupa saat pertama kali datang kepada Tuhan, kita mengalami pengampunan dosa dari segala kejahatan kita. Ini adalah tanda besar yang menolong iman kita tidak terbatas pada perkara-perkara jasmani tetapi menuju perkara-perkara yang kekal.

Yesus menolong, memberkati dan menyembuhkan kita tetapi tidak memercayakan diri-Nya kepada kita; maksudnya tidak langsung terjadi persekutuan kita dengan Yesus. Ini terjadi karena kesalahan dalam memahami iman dan ini yang perlu dirombak, yaitu rasa puas diri dengan tanda/mukjizat berkat, kesembuhan dan pertolongan jasmani tetapi semua ini tidak berarti tanpa adanya tanda final – kematian dan kebangkitan Kristus – dan menyatu dalam penderitaan dan kematian-Nya.

Persekutuan kita dengan Yesus terjadi jika ada tanda kematian-kebangkitan-Nya dan ini dikejar oleh penulis dan rasul Perjanjian Baru termasuk Rasul Paulus yang ingin menjadi serupa dengan Dia dalam kematian supaya beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Flp. 3:10-11). Persekutuan dalam kematian dan kebangkitan-Nya harus menjadi tujuan final iman yang kita kejar melalui ibadah dan pelayanan. Contoh: saat menghadapi masalah rumit sekalipun, kita menyelesaikan masalah itu dengan memahami bahwa masalah, kerumitan apa pun merupakan jalan untuk serupa dalam penderitaan dengan Kristus sehingga kita tidak mudah bersungut-sungut sampai kita mengalami kebangkitan bersama-Nya.

Persekutuan dengan Tuhan tidak hanya terjadi saat kita makan dan minum Perjamuan Tuhan tetapi sepanjang umur hidup kita sehingga ada keserupaan dengan-Nya dalam setiap pelayanan dan aktivitas kita.

Hendaknya kita terus menyatu dengan Tuhan hingga kita memiliki hidup kekal bersama-Nya. Ia mengenal hati kita dan tidak ada sesuatu pun tersembunyi di hadapan-Nya. Ia mengetahui apa yang harus diubah dalam hidup kita: apakah tujuan ibadah dan fokus ibadah kita sudah tepat, sudahkah praktik ibadah kita ditujukan kepada Tuhan bukan di bawah kendali manusia dan pemahaman iman kita tidak berpusat pada tanda/mukjizat tetapi pada Pribadi-Nya hingga satu saat kita tinggal bersama-Nya di bait Allah yang kekal di Yerusalem Baru. Amin.