Yesus menyatakan Kewibawaan-Nya

YESUS MENYATAKAN KEWIBAWAAN-NYA


Lemah Putro, Minggu, 8 Maret 2020
Pdt. Paulus Budiono


Shalom,

Bagaimana sikap para menteri, kabinet dan para undangan penting lainnya ketika mendengarkan Bpk. Presiden Jokowi sedang berpidato? Mereka terlihat begitu serius mendengarkan dan berusaha menjaga image namun ternyata ada pula beberapa yang guyonan, main HP juga tampak wajah-wajah ngantuk bahkan tertidur disorot oleh kamera di tengah suasana yang begitu khusyuk. Mereka tidak sadar gerak-gerik dan wajah mereka ditonton oleh pemirsa TV di seluruh dunia. Bagaimana dengan sikap dan keseriusan kita saat mendengar Allah dengan pakaian kebesaran-Nya tampil memberikan pesan dan nasihat melalui Firman-Nya? Masihkah kita menghormati Dia saat Ia tampil sebagai manusia Yesus, si tukang kayu berpakaian sederhana? Hendaknya kita memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Sang Firman bukan kepada si Pembicara yang hanyalah manusia belaka. Kenyataannya, sering di mimbar si Pembicara merendahkan diri mengatakan tidak ada apa-apanya tetapi ketika turun dari mimbar tidak disambut dengan baik, dia tersinggung dan merasa tidak dihormati.

Tak dapat disangkal, sukacita penuh pasti meliputi pengantin dan keluarganya juga para tamu undangan ketika Yesus mengubah air menjadi anggur tetapi Ia tidak berhenti di sana. Yesus bergerak ke tempat lain yaitu ke Yerusalem. Apakah Ia juga mengadakan tanda/mukjizat?

Aktivitas Yesus tidak monoton, kali ini Ia mendemonstrasikan kewibawaan-Nya untuk menyatakan kebenaran. Apa yang dilakukan-Nya? Yohanes 2:13-18 menuliskan, “Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"

Bila perubahan air menjadi anggur disambut dengan sukacita besar, tindakan Yesus di Bait Allah mendapat tantangan dari orang-orang Yahudi agar Ia menunjukkan hak-Nya mengapa berani mengobrak-abrik Bait Suci. Yesus, juga orang Yahudi, mau menyatakan kebenaran.

Aplikasi: hendaknya kita tidak hanya suka mendengarkan Firman Tuhan yang menyenangkan dan menyegarkan kemudian menolak Firman bernadakan hajaran dan teguran. Kita harus belajar menerima apa pun kata Firman yang menyatakan kehendak-Nya.

Injil Yohanes dimulai dengan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1) dan Firman itu menjadi manusia (ay. 14) melalui proses kelahiran dari perawan Maria. (Bayi) Yesus mengalami tumbuh kembang dan ketika berumur 30 tahun Ia memulai pelayanan.

Ketika melihat penyalahgunakan Bait Suci, Yesus memorak-porandakannya. Saat itu para murid-Nya juga belum mengerti, mungkin saja mereka berpikir Guru mereka bertindak ekstrem dan terlalu fanatik dalam menangani Bait Suci yang sibuk dengan jual-beli. Mereka baru mengerti setelah Yesus bangkit dari kematian dan percaya akan Kitab Suci juga akan perkataan yang telah diucapkan Yesus (Yoh. 2:22).

Jujur, kita (manusia) penuh dengan keterbatasan dan ketidakmengertian akan perkataan/Firman Tuhan yang disampaikan. Masing-masing mempunyai daya tangkap tidak sama menghasilkan pemikiran dan pandangan berbeda terhadap Firman yang sama. Namun yang penting ialah kita semua memiliki tujuan yang sama. Itu sebabnya kita harus terus belajar agar tidak membias dalam menyerap Firman Tuhan.

Apa respons Yesus menghadapi tantangan orang-orang Yahudi? Ia balik menantang mereka untuk merombak Bait Allah dan dalam tiga hari Ia akan mendirikannya kembali (Yoh. 2:19). Mereka tidak mengerti akan jawaban Yesus karena Bait itu dibangun dalam 46 tahun padahal yang dimaksud Yesus dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri (ay. 20-21).

Jelas, penyucian Bait Allah dikaitkan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan kata lain, kita tidak akan mengerti cara Tuhan menyucikan gereja-Nya kalau kita tidak menghargai kematian dan kebangkitan-Nya. Jadi, kalau kita mendengar Firman Tuhan tanpa kurban Kristus, kita hanya tertarik dan fokus pada berkat jasmani (fisik) saja. Contoh: peristiwa Yesus mengubah air menjadi anggur di pesta perkawinan di Kana lebih mengesankan Yesus memberkati kehidupan nikah dengan sukacita Surgawi. Padahal melalui mukjizat pertama itu Yesus ingin murid-murid percaya akan kemuliaan-Nya (Yoh. 2:11). Injil Yohanes berulang-ulang berbicara tentang Yesus dipermuliakan antara lain: ketika Yesus menunggang keledai masuk ke Yerusalem (Yoh. 12:12-15); ketika Filipus memberitahu Yesus orang-orang Yunani ingin menemui-Nya, Ia mengatakan telah tiba saatnya Anak manusia dipermuliakan (ay. 20-23) dst. Namun faktanya, manusia lebih suka dengan berkat, keberhasilan, popularitas, penyanjungan dll. lalu mengabaikan kemuliaan Yesus. Tak jarang kita menerima ejekan ketika memperkenalkan Yesus seperti dilakukan oleh Natanael ketika Filipus memperkenalkan Yesus dari Nazaret kepadanya (Yoh. 1:45-46). Perhatikan, hendaknya kita belajar untuk tidak mudah dan cepat berkomentar negatif sebelum kita mengetahui/mengenal seseorang atau sesuatu dengan baik. Misal: jangan langsung menilai dan berkomentar tentang lezat/tidak lezatnya makanan sebelum kita mencicipinya. Demikian pula dalam merespons Firman Tuhan, dengarkan baik-baik hingga Pembicara selesai menyampaikannya. Jangan malah menyanjung si Pembicara ketimbang Firman Tuhan yang hebat! Seusai mendengar perkataan Yesus, Natanael langsung mengakui Yesus Anak Allah, Raja orang Israel (ay. 47-49). Pengakuan jujur Natanael membuat dia melihat hal-hal lebih besar seperti dijanjikan oleh Yesus (ay. 50-51).

Bagaimana dengan Bait Allah yang diporak-porandakan oleh Yesus? Bait ini dibangun oleh Raja Herodes selama lebih dari 46 tahun dan dihancurkan oleh tentara Romawi di bawah pimpinan jenderal Titus pada tahun 70.
Injil Yohanes ditulis pada tahun 85-90 M sesudah Yesus naik ke Surga dan para murid mati syahid kecuali Rasul Yohanes yang menulis Injil ini. Jangan menganggap Alkitab ini kuno hanya menuliskan sejarah Israel dan berbicara banyak tentang orang Yahudi. Ingat, Alkitab adalah Firman Allah yang ditulis oleh lebih dari 40 penulis dari latar belakang dan zaman berbeda atas ilham Roh Allah/Kudus.

Apa yang terjadi seusai Yesus mengobrak-abrik Bait Allah?

Banyak orang percaya dalam nama-Nya karena melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya (Yoh. 2:23).

Banyak orang (kita juga) percaya dalam Nama Yesus. Memang Nama-Nya luar biasa hingga hari ini. Sebelum Yesus lahir di bumi, Nama-Nya ialah Firman. Ketika perawan Maria sedang mengandung janin Yesus, Malaikat Gabriel menyuruh memberi nama anak laki-laki yang akan dilahirkan itu Yesus (Luk. 1:26-31). Juga dalam mimpi, Yusuf diberitahu untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan menamakan anak yang dikandungnya itu Yesus (Mat. 1:20-21). Bayi Yesus berumur 8 hari lahir ketika disunat dan diberi nama Yesus (Luk. 2:21).

Yesus masih mengadakan banyak tanda setelah peristiwa ini dan tidak semua ditulis satu persatu (Yoh. 21:25). Percayakah kita bahwa mukjizat masih berlaku hingga sekarang? Masalahnya, jangan kita fokus pada mukjizat (kesembuhan, berkat jasmani) tetapi kita harus fokus pada Pribadi yang melakukan mukjizat itulah Yesus – Sang Firman kekal – Pencipta alam semesta dan isinya termasuk pria dan wanita yang memiliki karakter beda.

Sayang, banyak orang percaya dalam Nama-Nya oleh sebab melihat tanda/mukjizat. Apakah kita beriman oleh karena mukjizat? Apa respons Yesus terhadap orang-orang semacam ini?

♦ Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia (ay. 24-25).

Jujur, kita sering menilai seseorang berdasarkan emosi dan perasaan kita juga kita lebih terkesan dengan tanda/mukjizat berkaitan dengan perkara jasmani yang kita butuhkan.

Berbicara tentang “Rumah Bapa-Ku”, Yesus (umur 12 tahun) ikut orang tua-Nya merayakan Paskah di Bait Allah di Yerusalem (Luk. 2:42). Saat itu Ia tetap tinggal di Bait Allah sementara orang tua-Nya pulang ke rumah. Ketika Yusuf-Maria balik ke Yerusalem dalam usaha mencari Dia dan menemukan-Nya di Bait Allah, Maria mengutarakan kecemasannya tetapi Yesus menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (ay. 49)

Orang Yahudi mengadakan upacara Bar Mitzvah bagi anak laki berumur 12 tahun untuk menandai masuknya anak itu menjadi anggota dewasa dalam masyarakat. Yesus mulai menunjukkan ketegasan-Nya dalam berbicara kepada orang tua (jasmani) dan berkomunikasi dengan alim ulama. Di situ Ia belajar mengenal lebih jauh tentang rumah Allah. Ia masih tinggal bersama orang tua-Nya selama 18 tahun dan mengikuti ibadah sambil meneliti rumah Bapa-Nya. Baru pada usia 30 tahun Ia memulai pelayanan dan menyucikan Bait Allah sebab Ia tahu orang-orang Yahudi tidak menggunakan rumah Bapa-Nya dengan tepat.

Introspeksi: bagaimana kita merayakan Paskah dari tahun ke tahun? Sudahkah kita merayakannya dengan tepat untuk memperkenan hati Tuhan? Ingatkah bahwa kita menjadi (calon) mempelai Tuhan oleh karena kurban darah Yesus? Sudahkah kita memperlakukan rumah Allah sebagai rumah doa bukan sarang penyamun (Luk. 19:46)?

Ketika Yesus mengatakan “cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku”, para murid teringat penyataan yang tertulis di Perjanjian Lama tepatnya di Mazmur 69:10; 119:139. Bagaimana gereja Tuhan saat ini? Masihkah kita suka membaca Perjanjian Lama?

Yesus sangat mencintai rumah Bapa-Nya; itu sebabnya Ia marah sekaligus sedih melihat rumah bapa-Nya dirusak menjadi tempat jual beli mencari keuntungan. Jangan gereja dijadikan tempat mencari duit dan keuntungan pribadi!

Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi untuk merombak bait Allah itu dan dalam tiga hari Ia akan mendirikannya kembali. Apa maknanya? Kita (rumah Allah) kembali memiliki arti sesungguhnya; sama seperti Tabernakel, begitu masuk Pintu Gerbang hanya ada Mazbah Kurban Bakaran dan Bejana Pembasuhan di Pelataran; masuk Tempat Kudus hanya ada Meja Roti Sajian, Kandil Emas dan Mazbah Pembakaran Ukupan; masuk Tempat Mahakudus hanya ada Tabut Perjanjian. Yang dimaksud Yesus tentang Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri (Yoh. 2:21) dan kita adalah tubuh-Nya (1 Kor. 3:16). Ia memercayakan tubuh-Nya kepada kita, gereja-Nya, dan Firman-Nya tinggal dalam kita.

Para murid baru mengerti dan percaya akan Kitab Suci dan akan perkataan yang diucapkan Yesus setelah Ia bangkit dari kematian (ay. 22). Ironis, mereka sudah mengikut Yesus selama ± 3½ tahun tetapi kurang/belum percaya sepenuhnya kepada Guru mereka. Jangan pernah terjadi kita juga telah giat “mengikut dan melayani” Tuhan tetapi pada akhirnya Ia tidak mengakui mengenal kita (bnd. Mat. 7:22-23).

Yesus lebih mementingkan bangunan rohani ketimbang bangunan jasmani betapapun hebat dan megahnya bangunan (fisik) tersebut. Persoalan jasmani akan runtuh tetapi persoalan rohani dibangun atas kurban Kristus. Kita dipercaya menjadi milik Tuhan oleh sebab kita menghargai kurban-Nya.

Marilah kita membuka diri dan mengundang Yesus menyelidiki hati dan menguji segala pikiran kita agar jalan (nikah, rumah tangga, pekerjaan dll.) kita tidak serong dan kita dituntun ke jalan kekal (Mzm. 139:23-24). Pilihlah jalan sempit dan pintu sesak yang menuju kepada kehidupan (Mat. 7:14)! Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - "Yesus Menyatakan KewibawaanNya" Pdt.Paulus Budiono.