Jesus is the only Way

JESUS IS THE ONLY WAY


Lemah Putro, Sabtu, 18 April 2020

Paskah Kaum Muda-remaja GKGA

Pdt. Paulus Budiono

 

 

Shalom,

Saat ini Kaum Muda-Remaja GKGA sedang merayakan Paskah. Paskah bagi orang Israel ialah lewatnya (pass over) semua anak sulung manusia sampai anak binatang dari pembunuhan karena adanya tanda darah (Kel. 12:12-13) dan mereka bebas dari perbudakan orang Mesir. Paskah bagi kita ialah Yesus berkurban mati untuk mengampuni kita dan bangkit untuk membenarkan kita (Rm. 4:25). Rahmat/kasih karunia-Nya jauh melebihi dosa kita. Dia hidup dan kita dihidupkan bersama-Nya. Peristiwa kematian-kebangkitan Yesus telah lewat 2.000 tahun. Apa bukti kita telah diampuni dan hidup bagi-Nya? Dan apa yang harus kita perbuat bagi-Nya?

Rasul Paulus menekankan bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Rm. 6:11). Untuk itu kita harus menyerahkan diri kita kepada Allah (ay. 13) dan mengikuti jalan-Nya. Benarkah Yesus adalah satu-satunya jalan? Berkaitan dengan jalan, kita tidak boleh melepaskan dengan ayat seutuhnya yang mana Yesus sendiri mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:6) Untuk dapat datang mendekat kepada Bapa Surgawi, harus ada jalannya dan Yesus telah menjelaskan dengan gamblang bahwa tanpa-Nya tak seorang pun dapat bertemu dengan Bapa-Nya.

Sudahkah kita berada di jalan Tuhan? Seperti diketahui, ada banyak model/macam jalan umum untuk dilewati, antara lain: jalan tol, jalan utama yang lebar, jalan sempit, jalan ‘tikus’ dll. Bagaimana model jalannya Yesus? Jangan sampai terjadi mereka yang melalui jalan Yesus kaget, kecewa bahkan tidak mau melanjutkan perjalanannya lagi karena tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Mengapa Yesus mengatakan bahwa Ia satu-satunya jalan untuk datang kepada Bapa? Apakah ini bukan bentuk kesombongan diri? Banyak agama tidak mau menerima Yesus sebab Ia selalu mengatakan Akulah terang dunia (Mat. 8:12), Akulah roti kehidupan” (Yoh. 6:35), Akulah Pintu” (Yoh. 10:9), Akulah gembala yang baik” (Yoh. 10:11) dll. Lebih lanjut Ia memerinci bahwa pintu yang sesak dan jalan yang sempit menuju kepada kehidupan sedangkan pintu lebar dan jalan yang luas di mana banyak orang masuk melaluinya berakhir pada kebinasaan (Mat. 7:13-14). Bahkan Amsal 14:12 dan 16:25 mengingatkan adanya jalan yang disangka lurus tetapi ujungnya menuju maut. Benarkah ini? Ilustrasi: kita bergereja di Gereja Kristus Gembala (GKG) bertempat di jalan Lemah putro I/18 yang ternyata tidak ditemukan di Google Map. Kita dapat melewati jalan utama/besar dari Utara, Selatan, Timur, Barat tetapi untuk tiba di gereja GKG kita tetap hanya melewati satu gang kecil. Jadi, dapat dimengerti Yesus tidak menyombongkan diri sebab Ia memang jalan bagi kita untuk mengenal Bapa.

Introspeksi: sudahkah kita memilih jalan yang benar untuk beroleh kehidupan? Perhatikan, setelah mendeklarasikan diri bahwa Ia adalah jalan (Yoh 14:6), tak lama setelah itu Yesus masuk dalam penderitaan – ditangkap, diadili dan mati disalib (Yoh. 18-19) – kemudian bangkit (Yoh. 20). Seandainya Yesus tidak bangkit maka “He is the only way” hanyalah omong kosong belaka. Justru karena Ia bangkit dan hidup, jalan menuju Bapa Surgawi merupakan suatu kepastian bukan sekadar angan-angan. Apa penyebab kita capai dan bosan bolak balik masuk gereja? Karena kita bergereja hanya sebatas peraturan bukan bertemu Yesus. Pengalaman keubahan setelah mengenal Yesus membuat kita tidak jenuh beribadah. Tentu pengalaman kita bertemu Yesus tidak selalu sama tetapi jalannya tetap sama yaitu melalui Dia saja.

Yesus – Sang Firman – mengatakan bahwa Ia adalah jalan maka Firman Tuhan adalah jalan yang dapat kita baca, renungi, ikuti bahkan alami dalam keseharian hidup. Kita mempelajari lebih jauh apa yang terjadi pada Paskah bagi umat Israel dan kita sekarang?

• Allah berjalan di depan pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun bangsa Israel dan pada malam hari dalam tiang api untuk menerangi mereka sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam (Kel. 13:21- 22). → pemeliharaan dan perlindungan Allah

Paskah merupakan peristiwa luar biasa bagi orang Israel sebab mereka dilepaskan/dibebaskan Allah dari perbudakan orang Mesir selama 430 tahun (Kel. 12:40) di bawah pemerintahan Firaun yang kejam. Setelah keluar dari Mesir, bangsa Israel tidak langsung “terbang” ke Tanah Perjanjian tetapi Allah menuntun mereka melalui jalan di padang gurun menuju Laut Teberau (Kel. 13:17). Allah tidak menuntun mereka melalui jalan paling dekat (jalan pintas) – negeri orang Filistin – sebab ditakutkan mereka kembali ke Mesir ketika menghadapi peperangan.

Memang Allah menuntun bangsa Israel dalam perjalanan di siang dan malam hari untuk bergerak maju. Namun Ia tidak ingin mereka maju dengan ngawur. Begitu tidak ada makanan, mereka mengomel lalu Allah mengirim Manna dan burung puyuh (Kel. 16). Mereka diizinkan kelaparan agar mengerti pemeliharaan Allah (ay. 12) dan perlindungan-Nya ketika menghadapi Laut Teberau di depan juga Firaun dengan bala tentaranya di belakang mereka (Kel. 14:15-31).

Sebanyak ± 2,5 juta orang Israel berjalan keluar dari Mesir dipimpin oleh Allah. Tiga bulan kemudian mereka tiba di padang gurun Sinai (Kel. 19). Musa dipanggil naik gunung untuk menerima rancang bangun Tabernakel. Mereka membangun Tabernakel supaya dapat beribadah selama dalam perjalanan menuju Kanaan. Sayang, bangsa Israel hanya memikirkan perkara jasmani dan hati mereka memberotak ketika mengalami kondisi tidak nyaman. Sikap semacam ini membuat Allah murka.

Yesus – Firman Tuhan – adalah jalan, kebenaran dan hidup. Di awal pengenalan kita kepada Tuhan, Ia tidak langsung menghadapkan kita pada “peperangan”. Setelah bertobat, kita diberi waktu untuk mengalami ketenangan. Bukankah gereja mula-mula setelah dibaptis dan menerima Roh Kudus terus berkembang (Kis. 2 – 6) baru kemudian masuk dalam penderitaan (Kis. 7)?

Aplikasi: kita harus belajar bersyukur untuk tidak mudah mengomel dalam kondisi apa pun. Kita telah diampuni, diselamatkan dan mulai bertumbuh dengan membaca Alkitab untuk beroleh Roti kehidupan yang dapat memuaskan kita. Kehidupan rohani kita harus berjalan maju menurut jalan yang sudah ditentukan oleh- Nya walau terkadang tidak enak dan tidak nyaman.

• Orang Israel meninggalkan padang gurun Sinai pada tahun kedua berjalan selama tiga hari untuk mencari perhentian (Bil 10:11-12, 33-34). → memberikan perhentian

Sekali Allah memimpin, Ia akan bertanggung jawab tidak melepaskan bangsa Israel sendirian walau mereka sering menyakitkan hati-Nya. Ia kembali menunjukkan kasih setia-Nya ketika Musa memohon ampun atas pelanggaran bangsa Israel dan Ia juga ingat akan janji-Nya kepada Abraham-Ishak-Yakub. Setelah ada Tabernakel, mereka berjalan dan dipimpin untuk beristirahat. Pada hari Sabat mereka diberi kesempatan untuk beribadah dan menyembah kepada Tuhan. Ia memimpin kapan berhenti dan kapan melanjutkan perjalanan. Sayang, bangsa Israel tidak tahu berterima kasih, mereka disuruh berhenti tidak mau, diperintahkan untuk berangkat juga menolak. Surat Ibrani menuliskan akibat ketidaktaatan orang Israel, Allah murka dan menghukum tidak satu pun dari mereka masuk dalam tempat perhentian-Nya (Ibr. 3:7-11).

Aplikasi: Tuhan memberikan “istirahat” dalam pengikutan kita kepada-Nya. Kita dididik untuk tertib mengikut Dia di dalam jalan-Nya. Jangan melayani Tuhan penuh semangat saat in the mood tetapi langsung ngambek begitu kesandung dengan sesama anggota pelayan. Setelah diselamatkan, kita dipenuhi Roh Kudus dan menjadi bait/rumah Allah untuk bertumbuh. Kita dipimpin kapan bergerak dan beristirahat bukan berhenti karena dunia bukanlah tempat tinggal permanen; kita menuju Kanaan Surgawi.

• Bangsa Israel menempuh jalan baru yang belum pernah dilalui untuk berperang meraih kemenangan.
→ memberikan kemenangan
Bangsa Israel berkemah di pinggir Sunyai Yordan untuk menyeberang masuk Kanaan (Yos. 3:1). Mereka diberi perintah bagaimana menyeberang menuju Kanaan yaitu para imam Lewi berjalan di depan sambil mengangkat Tabut Perjanjian dan ada jarak 2.000 hasta orang Israel mengikuti di belakangnya supaya mereka mengetahui jalan yang ditempuh sebab jalan itu belum pernah dilaluinya (ay. 3-4). Bangsa Israel menghadapi tantangan/pandangan/situasi baru ketika masuk ke Tanah Kanaan. Mereka menang menghadapi kota Yerikho tetapi kalah terhadap kota Ai. Mereka harus merebut kota demi kota dengan jalan/cara baru. Orang-orang

Israel yang masuk Kanaan merupakan generasi baru yang lahir di padang gurun sementara semua generasi tua yang keluar dari Mesir mati bergelimpangan di padang gurun akibat ketidaktaatan mereka kecuali Kaleb dan Yosua (Bil. 14:29-35). Generasi baru ini belum pernah berperang sebelumnya tetapi mereka menghargai “istirahat/perhentian” dan ketertiban.

Aplikasi: memang (jalan) Yesus adalah sama tetapi kita menghadapi peristiwa berbeda-beda untuk meraih kemenangan. Setelah bertobat, kita menikmati Sabat sebab Yesus adalah Tuhan atas Sabat (Mat. 12:8). Paskah yang kita rayakan beda dengan Paskah yang dirayakan oleh bangsa Israel. Mereka menyembelih domba dari tahun ke tahun tanpa mengalami keubahan hidup. Sementara kita mengalami kematian dan kebangkitan Anak Domba Allah, Yesus, untuk memiliki pandangan dan kehidupan baru yang dipimpin oleh- Nya.

Ketika Yesus mengatakan bahwa Ia adalah jalan, Tomas dan Filipus tidak mengerti (Yoh. 14:5,8). Perlu diketahui Allah Tritunggal itu Esa/satu tetapi masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri yang tidak bertentangan satu sama lain. Yesus dalam posisi sebagai Manusia dapat mati tetapi Allah Bapa hidup kekal selamanya.

Marilah kita mengikut jalan-Nya Yesus dan Ia sendiri yang memimpin kita menuju kepada kehidupan kekal. Perhatikan, jalan orang benar itu seperti cahaya fajar yang kian menjadi terang sampai rembang tengah hari (Ams. 4:18). Sebaliknya, jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung (ay. 19). Masihkah kita mudah tersinggung apabila dinasihati, ditegur dan diingatkan oleh Firman Tuhan juga oleh seseorang atas kesalahan kita? Ingat, tidak ada seorang pun baik dan benar di hadapan Allah (Rm. 3:10-12) kecuali dia percaya dan dibenarkan oleh Yesus kemudian hatinya diterangi oleh Firman-Nya. Harus diakui, ada kalanya kita yang sudah dibenarkan Tuhan tergelincir dan jatuh tetapi tidak sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangannya (Mzm. 37:23-240). Hendaknya kita senantiasa dipimpin oleh-Nya untuk tetap berada dalam jalan-Nya menuju kepada kekekalan. Amin.

 

Video selengkapnya dapat disimak di Ibadah Paskah Kaum Muda - 18 April 2020 - Pdt. Paulus Budiono.