Pengenalan yang Teguh terhadap Yesus

PENGENALAN YANG TEGUH TERHADAP YESUS

(Yohanes 7:25-52)


Lemah Putro, Minggu, Mei 17, 2020
Pdm. Budy Avianto


Shalom,

Waktu bergulir tanpa dapat dicegah dan tak terasa beberapa hari lagi kita akan memperingati hari kenaikan Yesus Kristus. Empat puluh hari lalu kita memperingati hari kebangkitan-Nya dari kematian. Mengapa kita patut memperingatinya? Karena Ia mati dan bangkit demi manusia berdosa termasuk kita. Ia – Sang Firman – diutus oleh Bapa-Nya menjadi manusia dan diam/bertabernakel di antara kita (Yoh. 1:1-3, 14). Sayang, Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi orang-orang kepunyaan-Nya tidak menerimanya alias menolak (ay. 11) bahkan menyalibkan Dia. Apakah ini berarti tugas-Nya sebagai Utusan Allah gagal? Tidak. Ia beralih kepada semua orang yang menerima-Nya dan yang percaya di dalam nama-Nya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah (ay. 12). Dengan demikian kita (bukan orang Yahudi) menjadi terhibur dan beroleh pengharapan untuk terisap menjadi anak Allah. Kini kita memiliki dua kewarganegaraan: WNI dan warga Kerajaan Surga.

Sebenarnya Ia datang tepat waktu untuk menebus utang dosa yang membawa maut (Rm. 6:23). Ilustrasi: ketika seorang yang berutang banyak tidak mampu membayar utangnya, dia terancam dilaporkan ke pengadilan untuk dipenjara. Di saat genting tidak tahu bagaimana harus membayar tiba-tiba ada seorang berbaik hati melunasi seluruh utangnya. Akankah orang yang berutang itu menolak kebaikan orang yang menolongnya dan memilih lebih suka masuk penjara? Tidak mungkin bukan? Namun benar-benar tidak masuk akal, Yesus datang untuk melunasi utang dosa umat pilihan-Nya tetapi ditolak oleh mereka.

Siapa yang dimaksud orang-orang kepunyaan-Nya yang menolak Dia?

⊗ Orang-orang Yahudi berusaha membunuh-Nya (Yoh. 7:1).

⊗ Saudara-saudara (kandung) Yesus tidak percaya kepada-Nya (Yoh. 7:5).

Yang dimaksud “saudara” di sini dapat berarti sekandung, seiman, tetangga, teman dekat, sebangsa.

Bila kita membaca lebih cermat, orang sebangsanya menolak Yesus, siapakah mereka?

Orang Yahudi
“Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ. Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!” Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.”…..Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya.” (Yoh. 7:14-16,27)

Awalnya orang-orang Yahudi mengagumi Firman yang disampaikan oleh Yesus (tentang Kerajaan Allah dan keselamatan) tetapi begitu ingat/tahu siapa Dia mulailah mereka melecehkan-Nya dan mencari-cari alasan untuk mengabaikan/tidak memercayai Firman-Nya sebab mereka tahu asal usul Yesus – siapa orang tuanya, pekerjaan dan tempat tinggal mereka.

Aplikasi: hendaknya kita tidak terlalu melihat/menilai siapa yang khotbah oleh karena kita kenal dekat dengannya. Ini tidak menguntungkan tetapi malah merugikan diri sendiri. Sebaiknya kita memeriksa apakah topik yang dibicarakan fokus tentang Tuhan, Kerajaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar atau semata-mata persoalan dunia? Jangan cepat menilai seorang pengkhotbah secara fisik.

Apakah semua orang Yahudi menolak Yesus? Ternyata di antara mereka ada yang percaya kepada-Nya (ay. 31,41) tetapi imannya harus bertumbuh sebab masih banyak pertanyaan karena kekurangpengertian akan Firman Tuhan.

Implikasi: ketika kita belum/tidak mengerti akan Firman Tuhan, jangan mudah menyerah lalu berbalik menjadi orang tidak percaya. Sebaliknya, tekuni Firman-Nya maka Allah sendiri akan menjelaskannya.

Kita harus hati-hati terhadap orang yang diutus Tuhan untuk memberitakan Firman-Nya. Siapa diutus Allah, pribadi Allah Tritunggal ada di dalamnya sebab Allah mengaruniakan Roh-Nya tanpa batas untuk berbicara tentang Yesus – Firman (Yoh. 3:34). Jujur, tidaklah mudah bagi seorang pembicara dalam mempersiapkan Firman Tuhan kalau Roh Kudus tidak menolong menjelaskannya.

Orang-orang sebangsanya (Yahudi) menolak Yesus karena mereka mempermasalahkan pendidikan dan latar belakang-Nya. Salah satu dari mereka ialah Saulus/Paulus yang berpendidikan tinggi dan dididik di bawah pimpinan Gamaliel (Kis. 22:3), disunat pada hari kedelapan, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, orang Farisi dan berpendirian teguh terhadap hukum Taurat (Flp. 3:5-6). Dengan latar belakang yang dibanggakannya ia justru mengalami kegagalan karena mengejar dan membunuh pengikut Kristus. Keadaan berbalik setelah bertemu Yesus, dia sadar patut mendapat hukuman tetapi Yesus datang untuk menanggung dosa kejahatannya. Ia percaya, dibaptis, dipenuhi Roh Kudus (Kis. 9:17-18) dan hidupnya berubah total menjadi pengikut Yesus yang militan. Dengan rendah hati ia menyaksikan bagaimana kasih karunia Allah berlaku baginya bahwa ia dipilih untuk memberitakan Anak-Nya, Yesus Kristus, di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi – bangsa kafir (Gal. 1:12-17).

Aplikasi: ketika Hamba Tuhan menyampaikan Firman Tuhan berupa nasihat dan teguran, jangan kita mencari-cari alasan apalagi menuduh si Pembicara sudah mengetahui kesalahan kita lalu menyinggungnya di mimbar. Bila kita datang kepada Tuhan dengan hati haus untuk mendengarkan Firman-Nya, Roh Kudus dicurahkan (Yoh. 7:37-39) untuk memberi pengertian agar kita makin mengenal Pribadi-Nya dan kita makin hari makin dikuduskan serta kehidupan kita diperbarui.

♦ Orang Farisi dan imam kepala
Ternyata yang menolak Yesus bukan rakyat jelata tetapi malah pejabat/pimpinan gereja yaitu orang-orang Farisi dan imam-imam kepala yang menyuruh penjaga-penjaga Bait Allah menangkap Yesus (Yoh. 7:32). Namun apa respons dari penjaga-penjaga Bait Allah? Mereka malah kagum dengan perkataan Yesus dan menjawab, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (ay. 46)

Bukankah saat Yesus dibawa ke hadapan Pilatus untuk diadili, Pilatus mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan kesalahan apa pun pada Yesus (Luk. 23:4) tetapi tua-tua bangsa Yahudi, imam-imam kepala dan ahli Taurat (Luk. 22:66) makin kuat menuduh Yesus menghasut rakyat dengan ajaran-Nya (Luk. 23:5). Namun ketika Yesus mati, kepala pasukan Romawi mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 15:39).

Bagaimanapun juga hati para pimpinan (orang Farisi, imam kepala, ahli Taurat) tidak tergoyahkan, mereka bersikeras ingin membunuh Yesus sebab mereka tidak percaya kepada-Nya. Yesus pernah mengecam sikap dan tindakan mereka, antara lain:

• Mereka mengajarkan hukum Taurat tetapi tidak melakukannya (Mat. 23:2-3).
• Mereka menutup pintu-pintu Kerajaan Surga dan merintangi mereka yang berusaha untuk masuk (ay. 13).
• Mereka munafik (ay. 15).
• Mereka membayar persepuluhan tetapi mengabaikan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (ay. 23).
• Mereka membersihkan sebelah luar dari cawan dan pinggan tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan (ay. 25).
• Mereka buta, seharusnya cawan bagian dalam yang dibersihkan lebih dahulu maka sebelah luarnya akan bersih (ay. 26).
• Mereka seperti kuburan berlabur putih yang mana sebelah luarnya tampak bersih tetapi di dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran (ay. 27).
• Mereka membangun makan nabi-nabi dan memperindah tugu orang saleh padahal mereka keturunan pembunuh nabi-nabi itu (ay. 29-32).
• Mereka keturunan ular beludak (ay. 33).

Waspada bagi pimpinan gereja seperti gembala, penatua, diaken, pimpinan kelompok! Hendaknya hati dan ucapan di mulut satu adanya. Jangan ibadah sekadar show dan teori sehingga tidak menjadi contoh/teladan bagi jemaat! Ingat, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati (Yak. 2:17,26). Yang penting dan harus dibersihkan lebih dahulu ialah hati (bagian dalam) yang menjadi sumber dari segala kejahatan dan kenajisan (Mat. 15:19) dan keluar dari mulut (Mat. 12:34-35). Ibadah hanya kamuflase tetapi hatinya penuh dengan kebusukan.

Apakah semua para pimpinan bersikap munafik? Tetap ada yang berbeda. Seorang pemimpin agama Yahudi, Nikodemus, berusaha membela Yesus (ay. 50-52). Siapa Nikodemus ini? Ia pernah menemui Yesus di waktu malam dan berdialog tentang kelahiran kembali. Yesus menegaskan bila seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:1-5). Setelah bertemu Yesus, Nikodemus diperbarui hati nuraninya sebab dilahirkan dari air (baptisan) bertujuan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah (1 Ptr. 3:21).

Juga Yusuf dari Arimatea, murid Yesus, dengan sembunyi-sembunyi meminta kepada Pilatus supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Nikodemus bersama Yusuf dari Arimatea mengafani mayat Yesus dan membubuhinya dengan rempah-rempah lalu menguburkan-Nya di kuburan baru dekat tempat di mana Ia disalibkan (Yoh. 19:38-41).

Sungguh, jika kita mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, kita akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dengan mulut orang mengaku dan diselamaatkan. Bila kita berseru kepada Nama Tuhan, kita diselamatkan (Rm. 10:9-13).

Aplikasi: barangsiapa bertemu Yesus dan percaya kepada-Nya, hati yang penuh dengan kejahatan akan dibersihkan dan diperbarui sehingga tidak lagi ada kemunafikan dan dapat menghargai kematian Yesus seperti Nikodemus ada saat Yesus disalib.

Di mana sikap kita saat ini? Apakah menolak Dia karena tidak ada konsistensi antara ucapan dan hati? Pengenalan kita kepada Tuhan harus terus ditingkatkan, iman tetap bertumbuh dengan haus mendengarkan Firman Tuhan yang membawa kita masuk ke dalam seluruh kebenaran. Amin.

 

Video selengkapnya: Ibadah Minggu Raya - 17 Mei 2020 - Pdm. Budy Avianto.