Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Kristus di Bumi dan di Surga

KRISTUS DI BUMI DAN DI SURGA

Lemah Putro, Kamis, 21 Mei 2020
Pdt. Paulus Budiono

 


Shalom,

Perlu diketahui setelah kita ditebus oleh darah Kristus, tubuh, jiwa dan roh kita bukan milik kita lagi tetapi sepenuhnya menjadi milik-Nya. Namun tanpa sadar kita masih sering menggunakannya untuk kepentingan duniawi sehingga iman kita mudah tergoncang oleh situasi dunia yang tidak aman dan tidak pasti ini.

Kita yakin Yesus mati mengalahkan maut karena pelanggaran kita, bangkit untuk membenarkan kita dan naik ke Surga setelah menuntaskan tugas pelayanan dari Bapa-Nya. Karena Ia hidup, shalom/damai sejahtera-Nya tidak sia-sia tetapi senantiasa bersama kita.

Pada umumnya, ketika seseorang yang dekat dengan kita akan meninggalkan kita, perasaan campur baur (sedih, tegang, cemas, berkesan, dll.) meliputi kita saat mengantarnya ke bandara atau ke stasiun bus/kereta api. Kita tidak sabar untuk segera mengadakan kontak/komunikasi dengannya walau hidup berjauhan. Apakah kita juga memiliki perasaan rindu kepada Tuhan dan suka berkomunikasi dengan-Nya? Ingat, Ia berjanji akan datang kembali menjemput kita untuk tinggal bersama-Nya.

Lazimnya, para hamba Tuhan menggunakan ayat-ayat dalam Kisah Para Rasul 1:9-11 untuk menyampaikan berita tentang kenaikan Yesus ke Surga dan kita telah merayakannya dari tahun ke tahun. Apakah ayat-ayat yang kita baca berulang-ulang masih menggetarkan hati atau kita sudah terbiasa membacanya bahkan hafal di luar kepala? Ayat-ayat ini ditulis oleh dokter Lukas pada tahun 63 M dan sudah dibaca hingga kini (tahun 2020). Apakah kita masih memercayainya walau Ia belum datang hingga saat ini (1957 tahun telah berlalu) atau kisah ini sekadar filosofi orang Yahudi atau dongeng belaka?

Masihkah kita beriman bahwa Yesus naik ke Surga dan akan datang kembali seperti tertulis dalam Alkitab, “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Ayat di atas tampak sedikit “longgar” kebenarannya sebab ditulis “akan datang kembali” dan kita tidak tahu dengan pasti kapan Yesus datang kembali bahkan hingga detik ini pun Ia belum datang. Hendaknya kita mohon Roh Kudus meneguhkan iman kita supaya kita tidak meragukan janji kedatangan-Nya karena Rasul Petrus menubuatkan pada hari-hari zaman akhir ini akan tampil pengejek-pengejek yaitu orang yang hidup menuruti hawa nafsunya dan meragukan janji kedatangan Tuhan sebab sejak bapa-bapa leluhur mereka meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula waktu dunia diciptakan (2 Ptr. 3:3-4).

Perhatikan, Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya (2 Ptr. 3:9). Itu sebabnya Ia menyuruh salah satu murid-Nya, Rasul Yohanes, di Pulau Patmos mencatat (tahun 95 M) perihal kedatangan-Nya yang termuat di dalam Kitab Wahyu 22. Ia sendiri berbicara sebagai penutup dari Kitab Wahyu untuk menegaskan bahwa Ia akan datang segera. Kalau kita yakin bahwa Ia akan segera datang, bagaimana sikap kita dalam masa penantian ini? Ilustrasi: ketika kita diberitahu akan kedatangan seseorang yang kita kenal, ada dua reaksi yang timbul: perasaan takut (mungkin karena kita tidak siap atau pernah melakukan kesalahan dengannya) atau perasaan sukacita dan keinginan untuk segera bertemu karena telah merindukannya. Kita juga akan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangannya. Rasul Yohanes memiliki ikatan hubungan yang erat dengan Yesus. Itu sebabnya ia tidak merasa terpaksa atau ketakutan atau kebingungan tetapi menyambut Yesus dengan penuh kerinduan.

Introspeksi: dengan adanya pandemi COVID-19, semua orang diliputi ketakutan mati dan berseru kepada Tuhan meminta pertolongan-Nya. Apakah mereka (juga kita) melupakan-Nya begitu pandemi ini berakhir dan kondisi menjadi normal kembali? Atau kita ketakutan bila Yesus datang kembali karena kita belum meraih kesuksesan dalam karier, belum menikah dan berumah tangga dst. Dapatkah dibayangkan jika anak kita yang tinggal di luar negeri memberitahu kangen dan ingin datang menemui kita (orang tuanya) namun kita menolak kedatangannya karena merasa terganggu dan membuat kita menjadi sibuk? Akankah kita menolak Dia yang datang jauh dari Surga hanya karena kita masih sibuk menikmati kemegahan dan keindahan dunia yang ditawarkan Iblis padahal semuanya bersifat semu dan fana? Kita bergereja hanya sekadar menjalankan liturgi dan ritualitas semata kemudian mengabaikan kedatangan-Nya?

Sebenarnya Yesus sudah berbicara kepada jemaat Filadelpia perihal kedatangan-Nya (Why. 3:11-12) berarti total Ia mengatakan empat kali dan nadanya makin meningkat mengakhiri Kitab Wahyu pasal 22. Juga Rasul Yohanes menyambut kedatangan-Nya dengan antusias. Kenyataannya, banyak orang tidak begitu antusias menyambut kedatangan Tuhan, bahkan menghadapi serangan virus Corona saja mereka sudah ketakutan karena masih ingin hidup. Kita harus yakin bahwa apa pun yang terjadi di dunia yang makin rusak ini, kita aman dan selamat di tangan Tuhan. Ia menyediakan tempat yang jauh lebih indah daripada dunia yang fana ini. Kisah Para Rasul 1 diperuntukkan bagi gereja yang sudah diselamatkan karena telah mengalami pengampunan dari Yesus yang disalib dan menyaksikan Ia naik ke Surga. Sayang, dengan bergulirnya waktu, gereja Tuhan makin pudar kerinduannya terhadap Dia sehingga Rasul Yohanes dipakai Tuhan untuk mengingatkan mereka akan kedatangan-Nya kembali.

“Aku datang segera” memiliki tiga fase yang saling berkaitan erat satu sama lain, yaitu:

“Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (ay. 7)

Ternyata kedatangan Tuhan tidak untuk membuat kita menjadi bingung, kecewa dll. walau orang di seluruh dunia menangis ketakutan. Apa yang ada pada kita, orang beriman? Apakah kita mengimani Yesus tetapi berpegang dan memeluk harta dunia? Ia tidak mengajarkan kita untuk percaya kepada-Nya dan berjanji memberikan dunia dan segala isinya. Bukankah kepada Petrus yang takut Gurunya menderita sengsara, justru Yesus menegur apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (Mat. 16:21-26)?

Jujur, kita sering terjebak dengan kemewahan dunia serta popularitas dll. namun sesungguhnya berbahagialah mereka yang mendengar, berpegang dan melakukan Firman nubuatan yang tercantum dalam Alkitab. Ketika memutuskan mengikut Tuhan, kita harus mempunyai pandangan mengapa Ia mati dan bangkit bagi kita serta apa untungnya Ia datang kembali.

Lebih lanjut Ibrani 9:27-28 menuliskan bahwa Kristus mati hanya satu kali saja untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia menyatakan diri-Nya sekali lagi (datang kembali) tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan bagi mereka yang menantikan-Nya.

Apa yang harus kita perbuat selama penantian ini? Kita harus membuktikan diri mengasihi-Nya dengan tidak lagi berbohong, berselingkuh, curang, korupsi dll. sebab setiap dari kita pasti mempunyai kelemahan dan setelah mati kita dihakimi. Namun bila kita telah diselamatkan, kita tidak perlu takut menghadapi kematian. Ia telah memberikan cara dan solusinya, marilah kita memanfaatkan kesempatan ini agar Ia menyucikan kita dengan tuntas supaya kita berhak menjadi penghuni Kerajaan Surga dan Mempelai Perempuan-Nya kelak.

 “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” (ay. 12)

Apa yang dikerjakan oleh para murid Yesus untuk beroleh upah/pahala setelah Ia naik ke Surga? Mereka memberitakan Injil ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja disertai dengan tanda-tanda (Mrk. 16:19-20). Mereka penuh kuasa Roh Kudus dan bersemangat menginjil tanpa perlu diundang atau mencari popularitas.

Perhatikan, apa yang kita perbuat akan mendatangkan upah atau hukuman. Tentu tidak satu pun dari kita ingin dihukum oleh sebab kita belum menuntaskan masalah dosa. Namun bila kita yakin akan mendapatkan berkat dari-Nya, kita akan menantikan-Nya dengan sukacita dan rindu Ia datang kembali. Selain itu, kita juga suka bersaksi dan memberitakan Injil tanpa motivasi tertentu untuk memenangkan jiwa yang belum mengenal Dia.

“Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah Tuhan Yesus!” (ay. 20)

Kini tidak lagi berkisar pada Firman nubuatan untuk mengasihi Firman-Nya, penuh urapan Roh Kudus untuk menginjil tetapi makin meningkat sehingga terjadi penyatuan dan kesatuan antara Mempelai Pria Surga dan Mempelai Perempuan-Nya.

Apa yang murid-murid lakukan setelah Yesus naik ke Surga? Lukas 24:50-53 menuliskan mereka sujud menyembah Dia lalu pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di Bait Allah dan memuliakan-Nya.

Introspeksi: apa yang kita lakukan sebagai (calon) mempelai Perempuan Tuhan? Apakah hati kita penuh kerinduan untuk beribadah kepada-Nya seperti telah dilakukan oleh gereja mula-mula yang senantiasa beribadah tanpa mempersoalkan kapan tiba waktunya Ia datang kembali? Ilustrasi: menjelang hari pernikahan, calon mempelai perempuan pasti sangat memerhatikan perawatan tubuh, persiapan gaun pengantin, menghitung hari-hari kapan pesta pernikahan tiba dll. Persiapan apa yang telah kita lakukan menghadapi hari pernikahan dengan Mempelai Pria Surga yang akan datang menjemput kita?

Ketika Mempelai Pria Surga menyatakan diri-Nya sebagai tunas, keturunan Daud, bintang timur yang gilang gemilang, mempelai Perempuan-Nya didorong oleh Roh Kudus merespons dan mengundang orang lain untuk menikmati air kehidupan dengan cuma-cuma yang mengalir dari takhta Anak Domba (Why. 22:16-17,1). Namun jangan lupa Rasul Yohanes mengingatkan agar jangan menambah atau mengurangi perkataan-perkataan nubuat ini agar terhindar dari malapetaka atau tidak mendapat bagian dari pohon kehidupan dan kota kudus, Yerusalem baru (ay. 18-19).

Jika kita dikuasai oleh Roh Kudus, kita pasti suka memuliakan Tuhan juga peduli akan keselamatan orang lain untuk juga menikmati air kehidupan. Jangan menambah/mengurangi Firman Allah yang sudah lengkap dan sempurna dengan alasan bahasanya sudah kuno tidak cocok untuk zaman now atau mengurangi ketegasan perintah-Nya jika kita tidak mau mengalami malapetaka. Yesus – Sang Firman – selalu mengikuti perkembangan zaman.

Yesus datang bukan untuk menjatuhkan murka tetapi memberkati kita. Ia mau memberikan buah pohon kehidupan yang ada di kota kudus, Yerusalem baru. Adam-Hawa dan seluruh keturunannya termasuk kita telah kehilangan buah pohon kehidupan juga kepada jemaat Efesus dijanjikan makan dari pohon kehidupan bila mereka menang (Why. 2:7).

Hendaknya iman kita tetap teguh dan yakin Yesus akan segera datang menjemput kita dan menjadikan kita Mempelai Perempuan-Nya. Selama masa penantian ini, marilah kita berjaga-jaga dan mempersiapkan diri dengan senantiasa menuruti perkataan Firman-Nya, mengalami keubahan hidup untuk satu kali kelak dipersatukan dengan-Nya, Mempelai Pria Surga, dan menikmati kebahagiaan bersama-Nya di Yerusalem baru selamanya. Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Kenaikan Kristus - 21 Mei 2020 - Pdt. Paulus Budiono.