Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Yesus, Nubuat Mesias yang Tergenapi

 

 

YESUS, NUBUAT MESIAS YANG TERGENAPI


Lemah Putro, Minggu, 26 Juli 2020

Pdt. Paulus Budiono

 

 

Shalom,

Hati kita percaya akan Firman Tuhan yang kita dengar dan iman yang Ia tumbuhkan memampukan kita bertahan menghadapi masa-masa sulit saat ini. Firman-Nya telah bertabernakel di antara kita bahkan rela berkurban bagi kita. Oleh karena percaya kepada-Nya, kita kembali dapat mendengarkan Firman Tuhan di mana pun kita berada via online sebab kita beriman sama yaitu hanya pada satu Firman yang adalah Allah pada awalnya dan kekal selamanya.

Kembali kita merenungkan Firman Tuhan dari Injil Yohanes 12:12-19 yang menuliskan, “Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya seperti ada tertulis: “Jangan takut, hai putri Sion, lihatlah, Rajamu datang duduk di atas seekor anak keledai.” Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu tetapi sesudah Yesus dimuliakan teringatlah mereka bahwa nas itu mengenai Dia dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia…..”

Terbukti nubuat yang tertulis dalam Perjanjian Lama tepatnya dalam Zakharia 9:9 dan dikutip oleh Rasul Yohanes dalam tulisannya benar-benar digenapi. Masalahnya, para murid Yesus tidak mengerti akan hal ini (sebab Yesus belum mati saat itu). Mereka hanya ikut-ikutan bersama orang banyak yang menghamparkan pakaian di jalan dan menyebarkan ranting-ranting daun palem (Mrk. 11:8) sambil berseru, “Hosana!” Mereka baru sadar setelah Yesus mati dan bangkit bahwa nas dalam Perjanjian lama itu mengenapi Pribadi Yesus.

Memang tidak mudah untuk menjabarkan nubuat-nubuat yang terdapat di dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Sangat berbahaya bila kita tidak mengerti nubuat Firman Tuhan karena reaksi kita bisa terlambat, terlalu cepat, emosi dll. Misal: dengan adanya pandemi COVID-19, bermunculan banyak “nubuat” di medsos yang mengatakan ini dan itu, membuat pembaca malah bingung mana yang benar. Terkadang kita tidak mengerti bahwa apa yang terjadi sudah tercantum dalam Alkitab.

Apakah nubuat yang sudah terjadi berlalu begitu saja? Rasul Petrus mengingatkan bahwa nubuat-nubuat dalam kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri sebab nubuat-nubuat tersebut dihasilkan oleh dorongan Roh Kudus kepada orang-orang yang berbicara atas nama Allah (2 Ptr. 1:20-21). Rasul Yohanes juga menuliskan supaya kita tidak percaya akan setiap roh tetapi diuji apakah berasal dari Allah sebab banyak nabi palsu muncul ke seluruh dunia (1 Yoh. 4:1). Demikian pula Rasul Paulus menegaskan supaya hati-hati di akhir zaman ini banyak nubuat bermunculan dan dicocok-cocokkan dengan Alkitab membuat kita bingung mana yang harus dipegang (2 Tes. 2).

Karena para murid tidak mengerti makna dari nubuat tersebut, mereka melarikan diri saat Yesus ditangkap (Mat. 26:56), Petrus menyangkal Gurunya (ay. 69-75) bahkan Yudas Iskariot mengkhianati dan menjual Yesus (ay. 14-16) yang sudah dirancangkan Allah dan dinubuatkan akan menyelamatkan manusia berdosa.

Sesungguhnya hampir seluruh Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menubuatkan tentang Mesias – Yesus. Ada nubuat dalam Perjanjian Lama yang sudah digenapi namun ada pula yang belum terealisasi. Demikian pula tulisan-tulisan para rasul dalam Perjanjian Baru juga mengandung nubuat – ada yang sudah digenapi ada pula untuk masa akan datang. Oleh sebab itu kita tidak perlu mengambil uraian dan nubuat dari penulis/pengkhotbah hebat mana pun tetapi harus kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya kitab yang diilhami oleh Roh Kudus/napas Allah. Selama uraian dan nubuat dari siapa pun berlandaskan pada apa yang tercantum dalam Alkitab, kita perlu simak dan percayai serta mengerti bahwa ada nubuat yang sudah, sedang dan akan digenapi.

Disebutkan “Jangan takut, hai putri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai”; terdengar aneh seorang raja duduk di atas anak keledai bukan di atas kuda tinggi, gagah dan kuat. Mampukah anak keledai membawa raja maju ke medan perang? Rasul Yohanes menyitir ayat dari Zakaria 9:9 yang membicarakan tentang raja yang menyelamatkan putri Sion. Raja tersebut berkarakter adil, jaya (having salvation = memiliki keselamatan) dan lemah lembut. Ini menubuatkan Yesus (Raja orang Yahudi) yang berperangai lemah lembut, adil, serta menyelamatkan putri Sion/Yerusalem/orang-orang Yahudi waktu itu.

Yesus yang bersifat lemah lembut, adil dan rendah hati bahkan rela mati demi keselamatan manusia berdosa akan datang kembali tidak lagi menunggang anak keledai tetapi menunggangi kuda putih diikuti oleh semua pasukan dari Surga yang menunggang kuda putih juga (Why. 19:11-13). Ia akan mengalahkan binatang (antikristus) dan nabi palsu serta melemparkannya hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang (ay. 19-20). Terakhir Iblis juga dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang (Why. 20:10).

Para murid (termasuk Yohanes) telah mengikut Yesus selama ± 3½ tahun tetapi tidak mengerti nubuat di Perjanjian Lama tentang siapa Raja yang datang dan duduk di atas seekor keledai sebab saat itu Yesus belum dipermuliakan dan Roh Kudus belum datang (Yoh. 7:37-39). Setelah Yesus mati, bangkit dan naik ke Surga Ia mencurahkan Roh Kudus. Dan setelah 60 tahun berlalu, Roh Kudus menggerakkan hati Rasul Yohanes untuk menulis Injil Yohanes di usia tua (± 85-90 M).

Aplikasi: hendaknya kita mendoakan para Pembicara di mimbar untuk tidak menguraikan Firman Allah menurut tafsiran sendiri atau mengambil filosofi dunia serta tulisan-tulisan dari orang hebat untuk memuaskan telinga pendengar tetapi hendaknya mereka menjelaskan Alkitab dalam urapan Roh Kudus sebab Alkitab itu sempurna.

Allah memiliki waktu-Nya sendiri dan tidak ada yang terlambat bagi-Nya. Kapan Yohanes percaya akan nubuat tersebut? Setelah Roh Kudus dicurahkan di hari Pentakosta (Kis. 2:1-11). Demikian pula dengan Petrus, setelah diurapi oleh Roh Kudus, ia berkhotbah dengan lantang mengatakan Yesus yang disalib menjadi Tuhan dan Kristus. Para rasul berani menjelaskan Firman Allah dalam ilham Roh Kudus membuat 3.000 orang bertobat (ay. 41) dan makin hari makin bertambah hingga menjadi 5.000 orang (Kis. 4:4).

Rasul Yohanes juga menulis tentang Maria, saudara Lazarus dan Marta, yang menuangkan minyak narwastu murni ke kaki Yesus dan baunya mengharumkan seluruh rumah. Yesus menegaskan bahwa kurban Maria untuk mengingat hari penguburan-Nya (Yoh. 12:7). Saat itu Yesus juga belum dipermuliakan; itu sebabnya para rasul tidak mengerti.

Lebih lanjut ada beberapa orang Yunani ikut beribadah pada hari raya Paskah dan mereka mengatakan kepada Filipus bahwa mereka ingin bertemu Yesus. Filipus memberitahu Andreas dan berdua menyampaikan kepada Yesus (Yoh. 12:20-22). Apa respons Yesus? “Telah tiba saatnya Anak manusia dimuliakan.” (ay. 23). Kemudian Yesus memberitahukan kematian-Nya dengan mengambil contoh biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati untuk menghasilkan banyak buah (ay. 24). Jelas, kemuliaan Yesus didahului dengan kematian – kebangkitan – naik ke Surga. Ini merupakan proses yang harus kita lalui untuk mengalami kelepasan total dari hukuman dosa itulah maut.

Di malam Paskah Yesus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa seorang di antara mereka akan menyerahkan Dia. Petrus menyuruh Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, untuk menanyakan siapa yang akan menyerahkan Dia. Yesus menjawab orang yang menerima roti setelah Ia mencelupkannya (Yoh. 13:21-26). Para murid tidak mengerti dan ketika Yudas Iskariot keluar setelah menerima roti, Yesus mengatakan, “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.” (ay. 28-31)

Di kesempatan lain Yesus berdoa, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-mu mempermuliakan Engkau.” (Yoh. 17:1) Lebih jauh Ia berdoa imamat, “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita adalah satu.” (ay. 22) Jelas, tujuan dari kemuliaan yang Allah berikan kepada kita bukan membuat kita sombong (merasa gereja kita paling hebat, pengajaran kita paling murni dsb.) tetapi supaya kita bersatu dan menyatu. Waspada, dunia saat ini mengejar kemuliaan yang sia-sia bahkan dalam gereja pun terjadi saingan siapa lebih populer dalam pelayanan, berkurban dst.

Kapan Yesus dipermuliakan? Saat Yesus naik ke Surga dan murid-murid dipenuhi Roh Kudus di hari Pentakosta. Sejak itu para rasul dan gereja mula-mula senantiasa memuliakan Yesus; mereka mengembalikan kemuliaan yang mereka terima kepada Yesus, Pemberi kemuliaan. Jadi, kemuliaan bukan karena kita aktif dalam pelayanan dan rajin memberikan persepuluhan maupun kurban tatangan.

Yesus tahu para murid-Nya masih banyak belum mengerti tetapi Ia menghibur bila Roh Kudus datang, Ia akan mengingatkan mereka semua yang Yesus katakan kepada mereka (Yoh. 14:26). Memang oleh karena ketidakpengertian, mereka semua nyaris gagal tetapi kemudian menyesal (kecuali Yudas Iskariot) dan Yesus berkenan memenuhi mereka dengan Roh Kudus. Hati-hati, jika kita mendukacitakan Roh Kudus, kita tidak mungkin mengerti Firman Tuhan. Oleh sebab itu berdamailah dengan Roh Kudus supaya kita dapat mengingat perintah Firman Tuhan untuk kita lakukan.

Semua peristiwa di atas (Maria mengurapi kaki Yesus, Yesus dielu-elukan di Yerusalem, orang-orang Yunani yang ingin bertemu Yesus, Yudas Iskariot menjual Yesus) terjadi sebelum Yesus dimuliakan namun kaki-Nya berjalan ke Golgota menuju kemuliaan dilandasi dengan ketaatan dan kesalehan luar biasa sehingga Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:7-10). Sebenarnya Yesus berkuasa memberikan nyawa-Nya dan berkuasa mengambilnya kembali (Yoh. 10:18) tetapi sebagai Gembala baik Ia rela melepaskan nyawa bagi domba-domba “nakal” (orang Yahudi) dan domba-domba lain (non-Yahudi). Di atas salib, Ia dipermuliakan oleh salah satu penjahat yang bertobat dan menghargai-Nya sebagai Raja (Luk. 23:40-43).

Kini kita memiliki Alkitab yang berumur lebih dari 2.000 tahun dan Yesus telah dipermuliakan. Mari kita meninggalkan semua beban dosa yang merintangi dan berlomba dengan mata tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan (Ibr 12:1-4). Ingat, proses menuju kemuliaan dilalui dengan tekun memikul salib dan tidak meninggalkan kurban Kristus. Pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah.

Sesungguhnya Kitab Kejadian telah menubuatkan dari keturunan perempuan (itulah Yesus) akan meremukkan kepala ular (Iblis; Kej. 3 bnd. Gal. 4) dan Kitab Wahyu menuliskan Yesus adalah Raja di atas segala raja (Why. 17:14) yang memenangkan peperangan melawan Iblis beserta antek-anteknya (Why. 19–20). Sekarang Yesus sudah dipermuliakan dengan mengalahkan maut dosa yang dilakukan melalui pengurbanan-Nya mati disalib. Sementara menunggu kedatangan-Nya, bagaimana hati kita dalam melayani Dia? Apakah calvari atau kemuliaan dunia yang menarik kita? Perhatikan, pilihan yang kita putuskan sekarang menentukan kehidupan masa depan kita. Amin.

 

Video Ibadah selengkapnya: Ibadah Minggu Raya - 26 Juli 2020 - Pdt. Paulus Budiono