Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Ada Jawaban di dalam Yesus

 

 

ADA JAWABAN DI DALAM YESUS

Yohanes 14:1-14

 

Lemah Putro, Minggu, 30 Agustus 2020 Pdt. Stephen Manurung

 

 

Shalom,

Harus kita akui di tengah kesulitan hidup akibat pandemi COVID-19, Tuhan tetap mengerjakan perkara-perkara luar biasa dalam memelihara dan menyertai kita sehingga kita dapat mengakhiri bulan Agustus dan segera memasuki bulan September ini. Bahkan kita masih diberi kesempatan beribadah untuk menyembah Allah yang hidup – Tuhan Yesus Kristus – yang telah menyelamatkan kita; untuk itu sudah selayaknya kita beribadah dan melayani Dia dengan penuh sukacita.

Hari ini merupakan hari ke-22 dilakukan ekskavasi/penggalian situs Kumitir di Mojokerto dalam usaha menemukan struktur bangunan talud – tempat pemujaan dari salah satu raja Kerajaan Singosari. Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur (arkeolog, ahli geologi, sejarawan dan dari pelbagai disiplin ilmu) ingin mencari jawaban tentang apa yang terjadi di masa lampau juga peradabannya untuk menjadi pelajaran bagi kita sekarang. Bukankah Alkitab juga mengatakan bahwa segala sesuatu yang ditulis dahulu telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita (Rm. 15:4)? Walau nanti seandainya bangunan tersebut direkonstruksi, tidak mungkin dapat identik 100% seperti bangunan semula. Uang dan pendidikan mungkin dapat menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang telah terjadi di dunia ini tetapi pengikutan kita kepada Tuhan tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan karena hidup kita bukan hanya terdiri dari aspek jasmaniah tetapi juga rohaniah namun jawaban Yesus komplet menyangkut masa lampau, kini dan masa depan hingga Ia datang kembali.

Apa bentuk jawaban yang ada di dalam Yesus menurut Yohanes 14:1-14?

  • Ada jawaban atas kegelisahan hati (ay. 1-3).

Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”

Terbukti Yesus menjawab kegelisahan hati para murid (juga kita). Perhatikan, kegelisahan tidak boleh dianggap sepele; itu sebabnya Yesus memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini.

Ada beberapa faktor (dari sisi kedokteran, sosial, ekonomi, psikologi dll.) yang memicu orang menjadi gelisah. Namun kegelisahan yang dialami oleh para murid bukan disebabkan karena faktor-faktor sekunder karena semua orang pasti menghadapi masalah ekonomi, kesehatan, sosial dst. yang tidak dapat dihindari.

Apa pemicu kegelisahan yang dianggap primer/utama oleh Yesus hingga Ia berusaha menenangkan para murid (juga kita) agar tidak gelisah hati tetapi percaya? Ternyata bukan karena persediaan uang yang makin menipis atau penyakit yang makin parah tetapi karena tidak percaya.

“Jangan gelisah hatimu” bukan sekadar warning atau mengantisipasi kondisi gelisah tetapi Yesus melihat jelas kegelisahan telah menguasai para murid dan terekspresikan di dalam sikap dan tindak tanduk mereka.

Separah apa kegelisahan berdampak pada kehidupan kita? Minimal kita menjadi susah tidur, tidak suka makan dll. dan paling parah dapat meninggalkan Tuhan. Oleh sebab itu jangan mengentengkan masalah gelisah. Ilustrasi: beberapa hari lalu viral di medsos tentang antrian gugatan cerai di Jawa Barat. Ada 592 gugatan cerai yang sudah masuk ke pengadilan pada bulan Agustus ini. Ketika jurnalis menanyakan petugas panitera muda di pengadilan agama tersebut alasan utama mengapa terjadi perceraian ternyata karena faktor kecemasan, ketidaksabaran (bukan lagi karena adanya orang ketiga) dalam menjalani kondisi sulit di masa pandemi yang berdampak pula pada ekonomi. Tidak menutup kemungkinan kasus ini juga terjadi pada anak- anak Tuhan.

Kata “gelisah” dalam bahasa Yunani: tarasso = kegelisahan yang mengguncang dan mengaduk-aduk hati serta pikiran sehingga dapat merusak suatu hubungan.

Tampak para murid masih perlu dididik perihal untuk percaya walau telah 3½ tahun mengikut Guru mereka. Aneh, mengapa Yesus menegaskan kepada mereka (juga kita) untuk percaya, bukankah mereka (juga kita) sudah ikut dan melayani Dia? Ia ingin agar mereka (juga kita) paham apa arti “percaya” dan mendefinisikannya kembali.

Sejauh mana level percaya mereka (juga kita)? Makin dekat saatnya Yesus pergi/naik ke Surga, makin mereka bertambah gelisah. Ternyata definisi percaya para murid (juga kita) identik dengan: visible/dapat dilihat, audible/dapat didengar, touchable/dapat dipegang. Contoh: mereka ( juga kita) percaya setelah melihat Yesus mengadakan mukjizat, mendengar suara-Nya, bersama dengan-Nya secara fisik dst. Sangat berbahaya memiliki iman percaya semacam ini! Firman Allah dengan tegas memberikan definisi tentang iman bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:10). Yesus telah berjanji kalau Ia pergi, Ia tetap Imanuel/menyertai para murid (juga kita) sampai kesudahannya. Jelas, jawaban Yesus yang dapat menghapus kegelisahan mereka (juga kita) ialah “percaya kepada-Nya”. Abraham-Ishak-Yakub telah membuktikan iman mereka dengan hidup tidak bergantung pada perkara dunia; mereka menantikan kota yang dibangun oleh Allah (Ibr. 11:9-10). Karena kehidupan rohani mereka bertumbuh dan ditambahkan, perkara jasmani mengikutinya.

Aplikasi: percaya bukan sekadar kata-kata tetapi harus dimulai dengan memperkatakan “aku percaya”. Jujur, amat mudah kita mengucapkan kata “percaya” tetapi sangat sulit dilakukan ketika hati belum percaya, membuat definisi percaya kita tidak final. Tantangan untuk percaya seharusnya dijawab dengan kata “Amin” bukan menggerutu mengungkapkan keraguan kita karena kondisi sulit yang memang sedang kita alami. Justru keraguan dan ketidakpercayaan membuat kita rugi – hal-hal yang seharusnya menjadi berkat malah menjadi tidak bermanfaat sama sekali kalau percaya kita masih bersifat visible, audible dan touchable.

Ketidakpercayaan para murid memicu kegelisahan karena merasa hopeless/ tidak berdaya ketika Yesus memberitahu Ia akan pergi meninggalkan mereka (Yoh. 13:33,36). Mereka sudah gelisah membayangkan bagaimana hidup tanpa Gurunya lagi sebab selama itu mereka terbiasa hidup bersama dan tidak terpisahkan (Yoh. 14:3-4) juga masalah keseharian hidup mereka (akomodasi dan konsumsi) terjamin. Mereka telah menggunakan azas manfaat di dalam kebersamaan dengan Gurunya. Yesus kemudian meyakinkan bahwa Ia telah menyediakan mereka tempat tinggal untuk menjawab kegelisahan akan masa depan mereka. Jelas, Surga bukanlah sekadar suasana (Surga) tetapi juga menunjukkan eksistensi/keberadaan suatu tempat sehingga mereka (juga kita) tidak perlu rebutan. Kegelisahan murid akan perkara jasmani dijawab dengan jaminan rohani (tempat di Surga). Ia ingin membalikkan logika pikir mereka bahwa Ia tidak menjanjikan warisan jasmani saat ditinggal nanti tetapi tentang kualitas yang lebih tinggi (Surga). Jujur, bukankah kita sering mengorbankan perkara rohani demi sesuatu yang jasmani? Yang benar ialah kita mencari perkara rohani lebih dahulu (Kerajaan Allah) maka segala sesuatu akan ditambahkan (Mat. 6:33).

Saat itu Tomas dan Filipus mewakili rekan-rekannya berbicara kepada Yesus sementara Petrus yang biasanya spontan dan ceplas-ceplos tidak lagi banyak bicara sebab hatinya gelisah luar biasa. Bagaimana mungkin? Kita tahu kisah sebelumnya yang mana Yesus mengatakan salah satu dari 12 murid-Nya akan menyerahkan Dia dan memberikan ciri-ciri si pelaku tetapi tidak satu pun dari mereka tahu siapa dia (Yoh. 13:21-28) bahkan Petrus begitu berapi-api mengatakan rela mati bagi-Nya (ay. 37). Namun apa jawab Yesus? Ia menegaskan sebelum ayam berkokok Petrus akan menyangkal tiga kali (ay. 38). Mendengar jawaban Yesus, para murid lainnya menafsirkan Petruslah yang akan menjadi pengkhianat. Dapat dibayangkan perasaan Petrus (senior) saat mendengar Yesus berbicara terus terang di hadapan rekan-rekan juniornya! Perasaannya pasti diaduk- aduk membuatnya hilang harapan! Petrus merasa gagal tetapi kasih karunia Yesus luar biasa, Yesus menguatkan dia untuk tidak gelisah dan menyiapkan tempat baginya. Perhatikan, nubuat penyangkalan Petrus bukanlah predestinasi Allah (ketetapan Allah sebelumnya) tetapi merupakan prewarning/peringatan sebelumnya agar dia tidak menyangkal Yesus. Setelah kenaikan Yesus ke Surga, Petrus dipenuhi Roh Kudus dan tetap berapi-api memberitakan Injil Kristus bahkan akhirnya mati disalib dengan kepala di bawah karena merasa tidak layak mati seperti Gurunya.

Pembelajaran: siapa dari kita tidak pernah gagal? Namun jangan seenaknya mengatakan kegagalan dan perbuatan dosa kita adalah rencana Tuhan. Jangan fokus pada kegagalan tetapi harus ada perubahan dan perbaikan diri sebagai tujuan yang harus dicapai! Ingat, kegagalan kita tidak menghentikan kasih Allah untuk menolong dan memperbaiki kita. Oleh sebab itu jangan berkecil hati dan berputus asa. Pengampunan-Nya cukup untuk mengampuni kegagalan kita.

Terbukti kegelisahan timbul akibat kelemahan juga kegagalan dan Yesus berusaha mencegahnya.

  • Ada jawaban atas ketidaktahuan akan Yesus (ay. 4-14).

Tomas mengatakan tidak tahu ke mana Yesus pergi jadi dia tidak tahu jalan ke sana; demikian pula Filipus tidak mengenal Bapa padahal dia telah hidup bersama Dia selama 3½ tahun.

Kata “tidak tahu” dalam bahasa Yunani memiliki tiga pengertian, yaitu:

  • Ginosko = to know by experience → mengetahui/mengenal berdasarkan pengalaman
  • Epiginosko = to know fully → mengetahui/mengenal dengan jelas, dikaitkan dengan perkara rohani
  • Oida = absolute knowledge → pengenalan absolut seperti pengenalan Yesus terhadap Petrus yang diakui bahwa Ia tahu segala sesuatu (Yoh. 21:17).

Tomas dan murid-murid lainnya tidak tahu (= ouk ginosko) jalan ke situ → mereka belum pernah punya pengalaman atau mendengar jalan ke situ. Mereka tidak punya gambaran bakal pergi ke mana Gurunya padahal Yesus berulang-ulang memberikan setidaknya pengetahuan (ginosko) bahwa Ia berasal dari atas, dari Bapa (Yoh. 8:23-47). Bukankah mereka sudah memiliki pengalaman bersama Yesus selama 3½ tahun dan mendengar Ia mengatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, Roti hidup dll? Ternyata berdasarkan pengalaman pun, para murid tidak tahu sama sekali ke mana Yesus pergi juga jalan ke situ. Dengan tegas Yesus menjawab Ialah jalan yang dimaksud itu (ay. 6).

Parahnya mereka tidak mengenal Gurunya sebab Yesus mengatakan, “Sekiranya kamu mengenal (ginosko = mengenal dengan pengalaman) Aku….” (ay. 7) Jadi, selama 3½ tahun hidup bersama Yesus, hubungan dan pengenalan apa yang mereka alami dengan-Nya? Ironis bukan?

Introspeksi: setelah lama bahkan puluhan tahun ikut Tuhan, tahukah ke mana kita pergi setelah meninggal? Sudahkah kita mengenal siapa Allah Tritunggal itu? Apa tujuan pengikutan kita kepada-Nya? Apakah ada azas manfaat agar kehidupan kita dipelihara oleh-Nya? Pengalaman hidup apa yang kita peroleh bersama-Nya?

Demikian pula jawaban Yesus kepada Filipus menyiratkan kekecewaan, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?” (ay. 9) Pernyataan Yesus selanjutnya merupakan prosa bermakna dalam bagaikan seorang suami yang berusaha meyakinkan istrinya (karena kelemahannya) yang mulai meragukan suaminya. “Si suami” memulai dengan pertanyaan Tidak percayakah engkau..? dilanjutkan dengan Percayalah kepada-Ku…atau setidak-tidaknya percayalah karena pekerjaan- pekerjaan itu sendiri (mukjizat-mukjizat yang Kuperbuat – Red.).” (ay. 10-11)

Lebih lanjut Yesus menjanjikan, “Barangsiapa percaya kepada-ku, ia akan melakukan juga pekerjaan- pekerjaan yang Aku lakukan bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu..” (ay. 12) Dan, apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya..” (ay. 13)

Ilustrasi: bagaimana perasaan suami ketika si istri tiba-tiba mengatakan tidak percaya dan tidak mengenal nya padahal mereka telah hidup bersama bertahun-tahun?

Betapa bahagianya kita memiliki Yesus yang mampu memberikan jawaban dari setiap masalah kita yang sudah, sedang dan akan terjadi. Tidak hanya itu saja, Ia menjamin masa depan kita dan telah menyiapkan tempat tinggal bersama-Nya. Oleh sebab itu kenali Dia tidak hanya sebagai Pemelihara hidup jasmani kita tetapi sebagai Allah, Pemilik hidup kita selamanya. Amin.

 

Anda dapat melihat rekaman Video Ibadah secara lengkap DISINI