Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Yesus Memilih Kita dari Dunia

 

 

 

YESUS MEMILIH KITA DARI DUNIA

Yohanes 15:18-27

 

Lemah Putro, Minggu, 20 September 2020 Pdm. Setio Dharma Kusuma

 

 

Shalom,

Dalam beberapa bulan mendatang kita akan menghadapi pilkada (pemilihan kepala daerah) dan kita telah mengalami pemilihan presiden serta wakil presiden di tahun 2019. Apa syarat seseorang dipilih menjadi presiden dan wakilnya? Negara telah mengatur dalam UUD 1945 pasal 6 dan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh calon presiden dan wakil presiden yaitu: mereka harus warga Negara Indonesia sejak lahir, tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, mampu secara jasmani maupun rohani melakukan tugas dan kewajiban negara. Kalau sudah terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, mereka mengemban tugas berat, bertanggung jawab dan berperan penting dalam mengelola negara menurut kewenangannya. Hal ini berlaku di semua negara.

Yakinkah Yesus telah memilih kita dari dunia? Apakah setelah dipilih oleh-Nya, kita tidak ada peran, inisiatif dan tanggung jawab untuk berbuat sesuatu tetapi pasrah dan menyerah serta yakin pasti selamat? Orang yang dipilih Yesus dari dunia harus ada tanda, peran dan tanggung jawabnya.

Apa tanda-tanda kita dipilih Yesus dari dunia berdasarkan Injil Yohanes?

  • Dunia adalah musuh kita

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa Ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia sebab itulah dunia membenci kamu(ay. 18-19).

Dunia menjadi musuh kita karena ada kebencian di dalamnya. Sebaliknya, jika kita tidak dipilih oleh Yesus, dunia akan mengasihi kita sebagai miliknya.

Siapa/apa yang dimaksud dengan dunia (= kosmos) di sini? Sistem yang jahat, kesenangan duniawi ataupun orang-orang yang mendiaminya.

Mengapa dunia membenci Yesus lebih dahulu daripada kita? Bukankah Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal (Yoh. 3:16)? Alasan kebencian ini diungkap Yesus diawali dari peristiwa pemberian makan kepada

5.000 orang laki-laki (Yoh. 6) kemudian mendekati perayaan Pondok Daun (Yoh. 7). Ternyata kedatangan Yesus ke dunia untuk menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan yang ada di dunia ini jahat (Yoh. 7:6-7).

Bagaimana mungkin pekerjaan dan sistem di dunia ini jahat? Oleh sebab dosa sudah masuk ke dalam dunia jauh sebelum adanya hukum Taurat (Rm. 5:13). Yesus sangat tahu akan hal ini; buktinya Ia masuk ke dalam Bait Allah mengusir pedagang-pedagang ternak dan penukar-penukar uang karena telah menjadikan rumah Bapa-Nya tempat berjualan (Yoh. 2:13-16). Ia juga dibenci karena dianggap meniadakan hari Sabat dan menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yoh. 5:18). Orang-orang Yahudi, Farisi dan imam-imam kepala begitu membenci Yesus ketika Ia bersaksi tentang diri-Nya dan berusaha menangkap bahkan membunuh-Nya (Yoh. 7:14-32).

Introspeksi: apakah kita memiliki tanda-tanda memusuhi sistem dan pekerjaan jahat dunia ini, serta tidak mencintai kesenangan duniawi? Kalau kita tidak punya tanda-tanda ini berarti kita adalah milik dunia.

Penulis Surat Yakobus menegaskan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Sementara itu Rasul Yohanes tidak berhenti menulis di Injil Yohanes saja, ia mendeskripsikan dunia dan apa yang ada di dalamnya di surat Yohanes yaitu: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Dan dunia ini sedang lenyap bersama keinginannya (1 Yoh. 2:15-17). Perhatikan, keinginan daging dinyatakan dalam perbuatan daging (Gal. 5:17-21). Salah satu contoh perbuatan daging ialah pesta pora.

Jangan menganggap sepele tentang pesta pora. Sudah umum bagi pasangan calon suami-istri untuk membuat foto prewedding tetapi akhir-akhir ini lagi nge-trend pembuatan foto presweet seventeen. Ada seorang remaja dari keluarga kaya merayakan presweet seventeen dengan membiayai beberapa temannya pergi ke Paris dilanjutkan ke Bali dan merayakan lagi di Surabaya. Foto-fotonya di-upload di sosmed dan dilihat oleh gadis remaja dari latar belakang ekonomi pas-pasan. Gadis ini menuntut orang tuanya untuk merayakan presweet seventeen juga. Ayah dan ibunya sangat sedih mendengar permintaan anak tunggal mereka. Si ibu yang juga aktif di medsos “curhat” ke teman-temannya di grup yang malah memanas-manasi agar si ibu mengusahakan terjadinya event tersebut. Tahukah apa yang terjadi dengan gadis remajanya? Dia begitu terobsesi dengan presweet seventeen sehingga stres berat memikirkan kegiatan ini. Jangan menyalahkan medsosnya tetapi medsos berpotensi untuk menjadi sarana keangkuhan hidup (sifat ingin diakui orang banyak), keinginan mata dan keinginan daging muncul di sana. Firman Allah dengan tegas mengingatkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2). Dengan kata lain dari dunia, bahwa keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup harus menjadi musuh kita. Sudahkah kita hidup berbeda dengan (orang-orang) dunia? Kalau kita tidak mau berubah, kita menempatkan Allah sebagai musuh kita.

Waspada, jika ada kekecewaan dalam mengiring Yesus (Yoh. 16:1-2), ini menunjukkan gejala kita mulai bersahabat dengan dunia dan pada akhirnya akan menolak Dia. Hendaknya kita dijauhkan dari pemikiran maupun perilaku semacam ini.

  • Menghasilkan buah dan berbuah tetap

“Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap……” (Yoh. 15:16-17)

Bagaimana cara menghasilkan buah dan berbuah tetap? Dengan tinggal (meno = tetap hidup, permanen) di dalam Yesus sebab di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh. 15:5). Jadi, apa yang mau kita sombongkan ketika kita berbuah banyak dalam pelayanan? Ingat, di luar Yesus, kita tidak akan dapat berbuah; kita bagaikan ranting kering yang siap dicampakkan ke api untuk terbakar habis.

Apa tujuan kita berbuah? Supaya apa yang kita minta kepada Bapa diberikan kepada kita (Yoh. 15:16b). Namun kenyataannya Bapa sering tidak memberi ketika kita meminta kepada-Nya karena kepermanenan kita di dalam Yesus kurang/belum sungguh-sungguh. Kita merasa berbuah itu merupakan hasil kekuatan, jerih payah dan andil kita. “Di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa” tidak sekadar menjadi konsep pemikiran tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan nyata → iman kita tetap di dalam Yesus apa pun yang terjadi.

Buah macam apa yang dihasilkan? Buah itu menjadi perintah yaitu mengasihi seorang akan yang lain (ay. 17). Bentuk “mengasihi” orang lain di luar Kristus hanya berupa bantuan sosial untuk diliput di medsos kemudian diketahui oleh orang banyak padahal Alkitab mengajarkan jika kita memberi sedekah, jangan tangan kiri mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanan (Mat. 6:3). Perbuatan sosial kita harus beda sebab kita memang mengasihi sesama dengan terlebih dahulu kita tinggal di dalam Yesus. Perlu diketahui kasih itu berasal dari Allah, setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal-Nya (1 Yoh. 4:7). Jadi, kita sendiri tidak memiliki kasih. Ketika kita tinggal di dalam Yesus, iman dan kasih bertumbuh sehingga kita tidak berat untuk memberi.

Kasih Yesus itu unconditional/tanpa syarat; berbeda dengan dunia yang mau memberi kalau memenuhi kriteria yang diajukan. Berkaitan dengan pembenaran dan pertobatan, kasih Yesus berlaku tanpa syarat dibuktikan dengan pengurbanan-Nya di atas kayu salib justru pada saat kita menjadi musuh Allah. Namun setelah kita menjadi milik-Nya dan kehidupan rohani kita bertumbuh, kita harus berjuang dan bertanggung jawab memenuhi kualifikasi dan kriteria yang Tuhan inginkan. Kita harus tahu mana porsi Tuhan dan mana porsi yang harus kita kerjakan. Kita tidak boleh terus berdiam diri – tanpa inisiatif dan tindakan – hanya menunggu dari Tuhan.

  • Bukan hamba uang

Bila kita cermati dalam Yohanes 6:70-71, tampak adanya pemilihan yang aneh dan tidak masuk akal yaitu Yesus memilih 12 murid tetapi satu di antaranya adalah iblis (= diabolos). Apakah Yesus tidak tahu dan salah pilih seperti kita sering keliru memilih kemudian menyesal? Amsal 16:4 menuliskan, “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Jelas sekarang, tidak ada sesuatu yang dibuat Tuhan (termasuk memilih Yudas Iskariot) tanpa tujuan. Yesus tidak pernah salah dan tidak akan salah.

Seusai memberi makan 5.000 orang laki-laki, Yesus menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh. 6:15) tetapi orang banyak masih terus mencari-Nya dan menemukan-Nya (Yoh. 6:25). Apa kata Yesus kepada mereka? Mereka mencari Dia bukan karena telah melihat tanda-tanda tetapi karena makan roti dan kenyang (ay. 26). Dengan kata lain, mereka mencari Yesus untuk kebutuhan jasmani. Apakah Yesus kemudian mengusir mereka? Tidak, Ia menasihati mereka agar bekerja untuk makanan yang tidak binasa (ay. 27). Kemudian mereka bertanya pekerjaan apa yang harus dikerjakan, Yesus menjawab supaya mereka percaya kepada-Nya yang diutus Allah (ay. 29) lalu Ia memperkenalkan diri sebagai roti hidup (ay. 35). Mereka menjadi goyah mendengar berita salib (minum darah-Nya dan makan daging-Nya; ay. 53-56) dan akhirnya mengundurkan diri (ay. 66).

Yesus tahu dari semula siapa yang tidak percaya dan akan menyerahkan Dia (ay. 64). Judas Iskariot tidak percaya bahwa Yesus adalah roti hidup tetapi dia tidak mengundurkan diri. Mengapa? Karena pengikutannya kepada Yesus hanya semata-mata untuk kebutuhan jasmani. Kepercayaan pelayanan sebagai bendahara disalahgunakan dengan tindakan sering mencuri uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:5- 6). Pikirannya semata-mata tertuju pada uang dan pelayanannya diukur dengan “wani piro” ketika hendak menjual Yesus kepada imam-imam kepala (Mat. 26:15). Sebenarnya Yesus memberi kesempatan kepada Yudas untuk bertobat tetapi dia tidak mau memanfaatkannya (ay. 21-25) alias tidak mau berubah.

Jangan berpikir mereka-mereka yang berkecimpung dalam teologi dan pelayanan tidak ada yang menjadi hamba uang! Contoh: orang-orang Farisi yang tahu Alkitab dan bertugas mencerahkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang Israel ternyata hamba uang pula (Luk. 16:14).

Apa nasihat dari Ibrani 13:5? “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Sungguh Tuhan tidak akan membiarkan apalagi meninggalkan kita terlebih di masa pandemi COVID-19 ini yang berdampak hebat pada seluruh sendi kehidupan (kesehatan, ekonomi, sosial). Jangan di masa sukar ini kita hanya mencintai diri sendiri dan menjadi hamba uang (1 Tim. 3:1-2)! Kiranya dijauhkan pengikutan kita kepada Yesus semata-mata karena kebutuhan jasmani. Memang kita butuh uang tetapi jangan diperbudak oleh uang.

Sungguh kita patut bersyukur dipilih Tuhan menjadi milik-Nya namun hal ini harus dibuktikan apakah kita memiliki tanda-tanda menjadi musuh dunia (tidak menuruti keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup), menghasilkan buah tetap yaitu mengasihi sesama dan tidak menjadi hamba uang. Bila orang lain menyaksikan tanda-tanda tersebut dalam kehidupan kita, kita tidak perlu sombong sebab semua itu terjadi karena kita dipilih oleh Yesus dan kita tinggal permanen di dalam Yesus. Dengan demikian Nama Bapa Surgawi dipermuliakan. Amin.

 

Anda dapat melihat rekaman Video Ibadah secara lengkap DISINI