Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Yesus Pemberi Damai Sejahtera

 

 

 

YESUS PEMBERI DAMAI SEJAHTERA

Yohanes 16:16-33

 

Lemah Putro, Minggu, 4 Oktober 2020 Pdt. Paulus Budiono

 

 

Shalom,

Dari lirik lagu-lagu yang disitir dari Alkitab, kita mengetahui, mengakui dan menghormati Tuhan yang berkarya mulai dari penciptaan, penyelamatan, pemeliharaan, perlindungan dll. hingga pada kesempurnaan. Marilah kita serius beribadah dan melayani-Nya. Kiranya kita dengan segala kelemahan serta kekurangan dilayakkan oleh-Nya dan Roh Kudus berkarya sehingga hati kita menjadi wadah Firman Tuhan berdiam yang kemudian diwujudkan dalam tutur kata, pikiran, keputusan juga tindak tanduk kita.

Tentu kita mempersiapkan diri beribadah online dalam kondisi penuh kesegaran walau kita tidak bertatap muka secara langsung. Bagaimana kondisi Yesus saat Ia berbicara kepada para murid-Nya tertulis dalam Yohanes 16:16- 33? “……Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang bahkan sudah datang bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Saat berbicara kepada para murid, Yesus sangat kelelahan menjelang perayaan Paskah. Sebagai orang Yahudi, Yesus beserta para murid mengikuti ritual Paskah yang mana mereka harus mempersiapkan anak domba jantan tak bercela berumur setahun lalu mengurungnya sampai pada hari ke-14 baru disembelih pada waktu senja (Kel. 12:5-6). Selain itu Yesus tetap melakukan kegiatan padat dalam pelayanan hingga tidak heran (manusia) Yesus merasa capai dan lelah karena kurang istirahat.

Yesus tahu saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa-Nya (Yoh. 13:1a); itu sebabnya Ia membasuh kaki murid-murid-Nya untuk memberi teladan kepada mereka (ay. 4-15), memperingatkan Yudas Iskariot (ay. 21) juga Petrus yang akan menyangkal-Nya (ay. 38). Kemudian Ia berjanji akan mengutus Penolong, Penghibur, yaitu Roh Kudus (Yoh. 14:16,26) berlanjut menyatakan diri sebagai pokok anggur yang benar (Yoh.15) juga berdoa untuk 11 murid-Nya (Yoh. 17) sebab Yudas Iskariot telah meninggalkan mereka.

Karena waktu-Nya tinggal sedikit untuk berkumpul bersama para murid-Nya, Yesus berdoa imamat agar tidak ada satu pun binasa (Yoh. 17:12) termasuk kita. Ia berdoa supaya semua (orang Yahudi dan non-Yahudi) menjadi satu seperti Ia menyatu dengan Bapa-Nya. Ini merupakan kata-kata terakhir setelah itu Ia tidak lagi berbicara kepada para murid. Dalam kelelahan dan ketakutan Ia berdoa di Getsemani sementara tiga murid yang diajak-Nya tertidur. Seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43). Malam itu juga Ia ditangkap dengan kode ciuman pengkhianatan Yudas Iskariot (ay. 47-48).

Introspeksi: sejauh mana kita menyikapi ayat-ayat di atas, apakah ayat-ayat tersebut memengaruhi kita atau malah kita abaikan bahkan membuat kita mengantuk saat membaca dan mendengarnya?

Ternyata kelelahan Yesus tidak menyurutkan keinginan-Nya untuk menyegarkan para murid-Nya (juga kita) menghadapi:

  • “Damai sejahtera” semu yang digaungkan oleh dunia padahal damai sejahtera sejati hanya diperoleh di dalam Yesus. Dengan kata lain, di luar Yesus tidak ada damai.

Rasul Paulus mengatakan di akhir zaman ini orang-orang mengatakan semuanya damai dan aman (1 Tes. 5:3a). Benarkah demikian? Apa yang terjadi dengan dunia saat ini? Secara global kita sedang menghadapi kesulitan dahsyat menyangkut kesehatan, ekonomi dan sosial. Itu sebabnya Rasul Yohanes mengingatkan agar kita tidak mencintai dunia dan apa yang ada di dalamnya (1 Yoh. 2:15). Memang kita hidup di dunia tetapi kita bukan lagi milik dunia (Yoh. 15:19) akibatnya dunia membenci kita.

Yesus mengatakan “Semuanya ini Kukatakan kepadamu” (Yoh. 16:1a) berarti semua (ayat) perkataan-Nya (tidak ada satu pun yang disimpan) ditujukan kepada kita bukan untuk “menembak” orang lain. Oleh sebab itu jangan memilah-milah ayat tetapi terimalah semuanya dengan ucapan syukur, bersikaplah hormat saat mendengarkan Firman Tuhan – jangan tertidur atau sambil main HP.

Semua ayat ini diberikan kepada kita supaya kita menang atas dunia. Bila dunia tampak tidak begitu mengancam dan kita masih diberi kebebasan untuk beribadah, manfaatkan sebaik-baiknya jangan malah mengejar apa yang dunia sediakan.

Selain damai sejahtera kita juga menerima Pribadi-Nya yang memberikan damai tersebut. Bila kita mengaminkan semua yang dikatakan-Nya, kita akan mengalami damai yang tidak pernah diberikan oleh dunia yang sedang berusaha menghancurkan damai sejahtera itu karena dunia tidak mau menerima Yesus yang adalah Allah sendiri.

  • Penderitaan dan penganiayaan.

Dunia membenci kita dan ia menghadirkan penganiayaan serta penderitaan. Buktinya, makin meningkat jumlah pengikut Kristus yang mati syahid. Namun Yesus mengingatkan agar kita menguatkan hati dan tidak perlu keluar dari bumi pergi ke bulan atau planet-planet lainnya sebab Ia menyertai kita. Kita akan menang atas dunia karena Ia telah mengalahkan dunia.

Ia berdoa agar para murid-Nya (juga kita) bersatu dan dilindungi dari yang jahat (Yoh. 17:15,20-21). Perlu diketahui, dunia (di luar Tuhan) penuh dengan penderitaan dan penganiayaan tetapi kita yang berada di dalam Tuhan tetap dipenuhi damai sejahtera.

Selain penderitaan dan penganiayaan, dunia juga menjebak kita dengan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup yang semuanya sedang lenyap (1 Yoh. 2:16-17). Yang dimaksud damai sejahtera bukanlah secara fisik kita keberkatan jasmani, tidak mengalami masalah serius, kesehatan prima; ini merupakan pemikiran dan jebakan dunia.

Rasul Yohanes memberikan jaminan bila kita percaya Yesus adalah Anak Allah dan tinggal di dalam-Nya, kita akan mengalahkan dunia dan beroleh hidup kekal (ay. 24-25). Kenyataannya, banyak orang Kristen dikalahkan oleh dunia karena kompromi dengan dunia dan ragu-ragu mengakui Yesus sebagai Anak Allah bukan sekadar nabi besar yang tidak dapat memberikan damai sejahtera. Bukankah di awal penciptaan, semua berlaangsung begitu damai? Ingat, lebih baik tinggal di dalam Yesus untuk beroleh damai walau harus menderita dan menghadapi tantangan sebab Ia menjanjikan kita kemenangan melawan dunia.

Dalam kelelahan, Yesus menasihati para murid, “kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Sebelum Ia mengatakan hal ini, Ia ingin mereka memercayai-Nya sebagai Utusan dari Allah walau saat itu mereka belum mengerti Ia akan masuk dalam penderitaan salib. Merupakan penghiburan dan penyemangat bagi-Nya ketika pada akhirnya mereka percaya Ia datang dari Allah (Yoh. 16:30).

Introspeksi: bagaimana sikap kita terhadap Sang Firman? Apakah kita masih meragukannya? Atau percaya Ia berkuasa menciptakan, melindungi, mengayomi, memelihara dst.? Apapun bentuk Firman yang disampaikan – teguran, penghiburan, nasihat dll. – Ia berkarya menopang hidup kita. Ia menghibur kita bahwa dukacita yang kita alami hanyalah sesaat seperti perempuan hamil yang kesakitan waktu melahirkan tetapi sesudah kelahiran bayinya ia tidak ingat lagi akan penderitaannya diganti dengan sukacita/kegembiraan yang meluap- luap. Dan tidak seorang pun dapat merampas kegembiraan kita (Yoh. 16:20-22).

Sungguhkah dunia dapat memberikan pengharapan? Walau ada di dunia, kita tidak berasal dari dunia tetapi dipilih oleh Tuhan untuk mengalami keubahan dari dukacita menjadi sukacita/kegembiraan yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Hal sama terjadi ketika Marta yang sibuk melayani Yesus mengomel melihat Maria hanya duduk mendengarkan perkataan-Nya. Yesus membela Maria dan mengatakan, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk. 10:41-42).

Perlu diketahui, dunia hanya memberikan pengharapan semu/palsu bukan sukacita dan kegembiraan (kekal) yang diberikan oleh Yesus. Oleh sebab itu miliki damai sejahtera dari-Nya di dalam hati bukan hanya di otak seperti dikatakan Daud, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu (Your word = perkataan-Mu) supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” (Mzm. 119:11) Daud mengatakan hal ini sebab dia pernah menyakiti hati Tuhan karena hatinya tidak ada Firman.

Kapan sejahtera (= shalom, irene) ada di dalam kita? Firman adalah Allah (Yoh. 1:1), Sumber shalom/damai sejahtera, yang ada dari kekal sampai kekal. Ketika Yesus bangkit dari kematian, janji-Nya (Yoh. 14:27) dipenuhi/diwujudkan dengan memberikan damai sejahtera kepada murid-murid-Nya yang sedang ketakutan terhadap orang-orang Yahudi (Yoh. 20:19-21). Damai sejahtera (hasil dari pengurbanan darah-Nya) juga memerintah dalam hati kita oleh sebab Firman Kristus (yang kekal dan utuh) diam di dalam kita yang dipanggil menjadi satu tubuh (Kol. 3:15-17).

Saat itu Tomas tidak ada bersama-sama mereka ketika Yesus memberikan damai sejahtera. Ketika Tomas muncul, Yesus memberikan damai sejahtera lagi (ay. 24,26). Sayang, banyak orang mencari damai sejahtera bahkan pengungsi berbondong-bondong mencari suaka agar hidup damai di negeri lain tetapi sesungguhnya damai sejati hanya diperoleh di dalam Yesus.

Aplikasi: kita sering tidak menerima damai sejahtera karena kita menjauh (absen) dari Yesus padahal sekali Ia berfirman, Ia pasti menggenapi janji-Nya asal kita senantiasa ada di dalam Dia.

Sesungguhnya Tuhan memberikan damai sejahtera asal kita memikirkan semua yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Jika kita tidak hanya memikirkan tetapi melakukannya/mempraktikkannya, Allah, sumber bahagia, akan menyertai kita (Flp. 4:7- 9). Namun apa yang kita pikirkan saat ini ketika menghadapi kemerosotan kesehatan dan ekonomi? Ingat, penyertaan Tuhan jauh melebihi ribuan manusia yang penyanjung kita.

Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kita harus mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, saling mengampuni juga kasih yang mempersatukan maka damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati (Kol. 3:12-15).

Kedatangan Yesus seperti pencuri pada malam juga seperti wanita hamil ditimpa sakit bersalin (1 Tes. 5:1-3; bnd. Why. 12:2) tetapi bagi kita, anak-anak terang, murka Allah tidak menimpa kita; sebaliknya, penderitaan sesaat diganti sukacita tak terkatakan. Dan tahukah bahwa iman, pengharapan dan kasih melindungi kita dari kepala hingga kaki (1 Tes. 5:8) sehingga kita mampu menang melawan kuasa kegelapan dan diri sendiri (ay. 4-11)?

Hendaknya kita tidak lagi “angin-anginan” membaca Alkitab – Firman Allah – yang membuat kita mudah terpengaruh dengan berita-berita “bernadakan” Firman yang belum tentu pasti kebenarannya. Alkitab ditulis berlumuran darah (Anak Domba) dan sudah lengkap ditulis. Sekarang tugas kita untuk mengimani setiap ayat dalam Alkitab agar tubuh, jiwa dan roh kita disegarkan dan bertumbuh maka damai sejahtera-Nya sekaligus Pribadi Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kita selamanya. Amin.

 

Anda dapat melihat rekaman Video Ibadah secara lengkap DISINI