Sepikiran Dan Seperasaan Dengan Kristus (2)

Sepikiran Dan Seperasaan Dengan Kristus (2)

Pdt. Paulus Budiono, Minggu, Lemah Putro, 10 Desember , 2017

Shalom,

Firman Tuhan Minggu lalu mengisahkan Rasul Paulus meminta jemaat Filipi (juga kita) untuk memiliki pikiran dan perasaan yang ada dalam Kristus Yesus (Flp. 2:5) tetapi kenyataannya sangatlah sulit untuk hidup berdamai dengan sesama karena setiap manusia mempunyai jalan pikiran berbeda. Contoh: jalan pikiran suami berbeda dengan apa yang ada dalam benak si istri, pikiran orang tua dengan anak pasti berbeda juga dalam pergaulan muncul pandangan dan pengertian yang tidak sama. Akibatnya, terbentuklah dua kelompok/kubu yang tidak (dapat) menyatu padahal untuk masuk ke Yerusalem baru hanya tersedia satu pintu itulah Yesus (Yoh. 10:9). 

Sebenarnya jemaat di Filipi tidak mempunyai banyak masalah dibandingkan jemaat-jemaat lainnya; mereka banyak kurban, aktif dalam kunjungan dll. bahkan Rasul Paulus memuji kurban persembahan mereka harum dan diperkenan Tuhan (Flp. 4:14-18) tetapi Rasul Paulus melihat adanya embrio per-pecahan di dalam jemaat Filipi yang tidak terlihat kasatmata. Embrio perpecahan ini mendatangkan ketegangan yang kemudian tidak dapat dibendung lagi sehingga Rasul Paulus mengatakan, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan kuminta kepada-mu juga Sunsugos, temanku yang setia (true companion, yoke fellow): tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” (Flp. 4:2-3)

Perlu diketahui Sunsugos bukanlah nama seseorang tetapi sikap ingin menyatu ditandai dengan kesetiaan sebab seseorang dapat bersatu hati bila disertai kesetiaan. Faktanya, orang yang tidak cocok satu sama lain (hati tidak menyatu) tidak mendapatkan titik temu, masing-masing mempunyai cara pikir berbeda dan tidak ada kesetiaan. Untuk itu mereka perlu ditolong oleh Kristus yang menjadi pusat kesatuan karena Ia setia selamanya.

Rasul Paulus tidak memberitakan sembarang Injil tetapi Injil salib Kristus yang memiliki kuasa (1 Kor. 1:17-18). Demi Injil ini dia rela menderita dan dipenjara serta terbeban dengan dua wanita (Euodia dan Sintikhe) yang telah berjuang bersamanya mengabarkan Injil ini namun ternyata mereka tidak sehati dan sepikir dalam Tuhan. Untuk itu dia memohon pertolongan doa dari Sunsugos demi keutuhan anggota Tubuh Kristus.

Terbukti bukan hanya jemaat yang mohon didoakan tetapi para Hamba Tuhan juga minta didoakan agar terjadi kesatuan antaranggota Tubuh Kristus. Sudahkah kita satu pikiran, satu tujuan, satu perasaan dengan Yesus?

Perhatikan, dalam menciptakan manusia, Allah menanamkan karakter baik sesuai dengan rupa dan gambar-Nya; jelas karakter manusia pertama tidak bertentangan dengan karakter-Nya. Itu sebabnya begitu melihat wanita cantik (Hawa) di depannya, Adam tanpa ragu-ragu mengutarakan pikiran dan perasaannya dengan mengatakan, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku…” (Kej. 2:23)

Namun setelah Adam-Hawa melanggar perintah Allah, akibatnya ditanggung sampai sekarang yaitu pikiran dan perasaan manusia tidak lagi menyatu bahkan bayi kembar pun memiliki pikiran dan perasaan berbeda. Buktinya, jika ada anggota Tubuh Kristus sakit, anggota-anggota lainnya tidak peduli; bila ada anggota Tubuh Kristus dipermuliakan, yang lain bukannya ikut senang tetapi malah iri hati.

Bagaimana mungkin Rasul Paulus mengerti pikiran dan perasaan Yesus padahal dia bertemu Yesus hanya sekali ketika Ia dalam kemuliaan-Nya datang untuk menyelamatkan Saulus/Paulus (Kis. 9:3-6)? Setelah Paulus mengenal Yesus, hidupnya diubahkan total – hidupnya bukan lagi dia yang hidup tetapi Kristus hidup di dalamnya (Gal. 2:20). Kemudian melalui wahyu yang diterima dari Tuhan, Paulus menginginkan jemaat Filipi (juga kita) memiliki perasaan dan pikiran Kristus agar terjadi kesatuan dalam anggota Tubuh-Nya.

Lebih lanjut Rasul Paulus menjelaskan posisi Yesus dan teladan apa yang patut kita tiru dari-Nya, yaitu:

  • Yesus dalam rupa Allah tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah (Flp. 2:6).

Kondisi dunia dewasa ini memberikan kita kebebasan untuk pro/against terhadap pribadi atau kelompok tertentu sehingga memunculkan adanya pribadi yang dikagumi bahkan diangkat men-jadi bapak/ibu teladan. Namun dalam gereja Tuhan, Ia tidak mengajarkan kita untuk pro Paulus, Kefas, Apolos dll. (1 Kor. 3:4-5) tetapi berfokus pada satu pribadi itulah Tuhan. Sayangnya, gereja Tuhan tidak menghendakinya berakibat munculnya guru palsu, nabi palsu, rasul palsu yang bertujuan menghancurkan kesatuan Tubuh Kristus.

Kehancuran (nikah, rumah tangga, dst.) hanya dapat disatukan oleh salib Kristus (Ef. 2: 14-15) karena tujuan kedatangan-Nya ke dunia melalui kelahiran adalah menjadikan kita satu. Jujur, tidak ada kesatuan yang benar di luar Firman Allah sebab kesatuan manusia dengan beda pikiran, perasaan dan keinginan sendiri dapat dikamuflase sementara keinginan Tuhan dan kasih-Nya tidak pernah berubah.

Hanya Yesus – Sang Firman – menjadi satu-satunya teladan sempurna bagi manusia. Banyak orang menjadikan Yesus teladan karena Ia memiliki kepedulian sosial tinggi (menyembuhkan orang sakit, memerhatikan orang miskin dst.) dan konsisten membenci kejahatan. Apakah teladan-Nya hanya sebatas itu? Sungguhkah kita telah mengenal Dia? Tahukah kita apa tujuan Ia lahir ke dunia? Sebelum lahir, Yesus sudah tahu apa tujuan-Nya dan apa yang harus dikerjakan-Nya. Banyak kali orang tua mempunyai anak yang dilahirkan tanpa mengerti tujuannya. Pokoknya mereka menjaga, merawat dengan makanan bergizi sehingga anak malah bertumbuh kurang sehat karena mengonsumsi gizi yang belum/tidak tepat waktu.

  • Yesus adalah Allah tetapi Ia mengambil posisi Hamba

Bukankah gereja-gereja akhir zaman ini penuh persaingan memperebutkan nama dan aset gereja? Ini membuktikan mereka tidak mempunyai pikiran dan perasaan Kristus dalam hatinya! Yesus telah memberikan teladan bila kita menjadi pemimpin/kepala, kita tidak harus memper-tahankan diri di posisi atas kemudian memerintah melulu tetapi harus berani ‘turba’ mengambil posisi hamba yang ikut bekerja tanpa paksaan atau tekanan dari siapa pun.

  • Yesus menjadi samadenganmanusia. Dapatkah dibayangkan betapa sulitnya keputusan yang diambil oleh-Nya? Ia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita (manusia berdosa) supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5:21); untuk itu Yesus harus disalib. Dia meninggalkan posisi sebagai Allah menjadi manusia yang harus mati karena Allah tidak bisa mati tetapi manusia akan mati.

Pengurbanan-Nya menjadi teladan bagi kehidupan nikah, keluarga dan berjemaah agar masya-rakat dapat menyaksikan sikap orang Kristen sesungguhnya yaitu suka mengalah, tidak bersikap otoriter meskipun berkedudukan tinggi sebagai atasan tetapi suka mengulurkan tangan untuk bekerja. Jangan khawatir kehilangan wibawa hanya karena meninggalkan hak sebagai tuan men-jadi hamba!

Dalam kedudukan-Nya sebagai Manusia, Yesus rela merendahkan diri. Sikap ini harus menjadi teladan bagi suami, istri, orang tua, anak apalagi pendeta yang sudah tenar namanya karena sifat manusiawi, makin tinggi kedudukan seseorang makin sulit baginya untuk rendah hati. 

Sebagai manusia, Yesus tidak hanya merendahkan diri tetapi taat sampai mati. Jujur, bukankah manusia takut mati meskipun mereka ditetapkan pasti mati karena telah melanggar perintah Allah (Kej. 2:17; 3:19)? Waspada, jangan melecehkan Firman kebenaran dengan tidak mau mengerti seperti telah dilakukan oleh Adam-Hawa apalagi mencoba memutarbalikkannya untuk dicocokkan dengan hati kita yang sudah tercemar oleh dosa!

Meskipun Yesus ditolak oleh umat-Nya (Yoh. 1:11), Ia tetap datang ke dunia – Sang Firman menjadi daging (Yoh. 1:14). Jangan kita merayakan Natal hanya untuk pesta penuh kegembiraan tetapi kita juga harus rela menerima penolakan dan caci maki seperti yang dialami-Nya. Jangan hanya menerima Yesus yang melakukan banyak mukjizat tetapi menolak kematian-Nya karena rencana keselamatan telah dicanangkan Allah ribuan tahun lalu dan diwujudkan melalui kematian Yesus tersalib. Marilah kita bersatu hati mencontoh Yesus sampai pada titik nol – tunduk dan pasrah tanpa ada tanda-tanda pemberontakan apa pun. Ingat, siapa percaya kepada Anak (Yesus), dia beroleh hidup kekal tetapi barang siapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup melainkan murka Allah tetap ada di atasnya (Yoh. 3:36).

Yesus datang ke dunia dan tahu bahwa tidak semua orang menerima-Nya, Dia akan dihina, ditolak bahkan mati disalib. Rasul Paulus yang telah mengalami keubahan total mengerti bahwa dia diutus untuk memberitakan Injil salib Kristus yang menjadi kebodohan bagi mereka yang akan binasa tetapi merupakan kekuatan Allah bagi kita yang diselamatkan (1 Kor. 1:17-18).

Perhatikan, jangan menginjil/memberitakan Yesus tanpa salib sebab hal ini membuat pen-dengarnya binasa. Kenyataannya, banyak kegiatan ‘penginjilan’, seminar dan misi dilakukan hanya sebatas filosofi dunia tanpa peduli apakah pendengarnya benar-benar bertobat. Mereka melakukannya dengan tujuan penambahan jumlah jemaat; sesungguhnya mereka takut masuk dalam penderitaan aniaya bila memberitakan Yesus tersalib. Percayalah bahwa Allah telah mem-buat Yesus yang disalibkan menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36)!

  • Yesus disalib menanggung kutukan dari Allah padahal Ia tidak berbuat dosa apalagi sepadan dengan hukuman mati digantung pada sebuah tiang (Ul. 21:22-23) dan disejajarkan dengan dua penyamun yang disalib di kiri kanan-Nya.

Kitalah yang seharusnya menerima kutukan Allah karena dosa-dosa kita dan meminum cawan kutuk dari-Nya tetapi Yesus menggantikan kita dan menanggung semua kutukan Bapa-Nya. Pantaskah kita kemudian melupakan penderitaan yang dilakukan-Nya (demi kita) lalu kita hanya senang menerima hasilnya? Penderitaan Yesus disalib hingga mati benar-benar sangat menge-rikan belum lagi semua murid meninggalkan-Nya bahkan Bapa-Nya pun meninggalkan-Nya (Mat. 27:46).

Yesus telah menanggung kutuk kita, marilah kita belajar untuk tidak mudah tersinggung dan sakit hati kalau orang lain mengejek atau ‘mengutuk’ kita. Bersediakah kita disalahkan padahal kita tidak salah? Yesus yang disalib memberikan teladan kepada kita bahwa Ia tidak mudah terpicu emosi dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan kepada-Nya.

Yesus lahir menjadi Juru Selamat dan salib mendamaikan manusia berdosa dengan Allah yang kudus. Orang pertama yang diselamatkan ialah penyamun yang disalib di sebelah Yesus karena dia mengakui dosanya dan percaya Yesus datang sebagai Raja (Luk. 23:41-43).

Apa yang dipikirkan Yesus? Pikiran-Nya hanya berfokus mengampuni orang berdosa dan menye-lamatkan mereka, bukan menghakiminya (Yoh. 12:47b). Itu sebabnya perkataan pertama yang keluar dari mulut-Nya saat Ia disalib ialah, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34) Dan sebelum mengembuskan napas terakhir, Ia mengucapkan, “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30) karena Ia yakin pekerjaan keselamatan telah dituntaskan-Nya.

Kita juga harus mempunyai perasaan dan pikiran untuk selalu berdamai dengan Allah dan manusia. Harus diakui tidaklah mudah berdamai bagi suami-istri karena latar belakang berbeda (beda budaya, pendidikan, tingkat ekonomi, etnik dst.) kecuali kita menerima didikan Surgawi dari Allah dan Firman-Nya.

Saat Yesus menyerahkan nyawa-Nya di atas salib, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Mrk. 15:38) membuat jalan bagi kita untuk dapat masuk ke Tempat Mahakudus. Jelas, bila Yesus menyucikan seseorang dengan darah-Nya, orang itu menjadi kudus dan kita tidak mempunyai hak untuk memutuskan apakah orang itu layak atau belum waktunya menjadi imam-imam. Jangan kita mudah menilai dan mengatur tingkat kerohanian seseorang, misal: si A berada di Pelataran sementara kita sudah berada di Tempat Kudus dll. Tindakan seperti ini sama dengan kita meremehkan kurban Kristus yang mana Dia telah merobek tirai pemisah antara manusia dengan Allah.

Apa yang telah dituntaskan oleh Yesus? Melalui kematian-Nya, Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut juga membebaskan mereka yang seumur hidup dikuasai ketakutan akan maut (Ibr. 2:9-15).

Sejak Adam dan Hawa melanggar perintah Allah dengan makan buah terlarang, manusia pasti mati artinya manusia hilang hubungan dengan Allah. Kematian ini dapat terjadi secara fisik atau seumur hidup dikuasai ketakutan akan maut, misal: bukankah bayang-bayang maut mengancam ibu bersalin yang hendak melahirkan juga mereka yang menderita sakit takut mati? Untuk itu Yesus datang memberi hidup tetapi Ia sendiri harus mati.

Bila kita mempunyai pikiran dan perasaan seperti yang terdapat dalam Kristus Yesus, kita akan hidup berdamai dengan Allah dan manusia, rendah hati dan bebas dari rasa takut akan maut sebab oleh salib-Nya kita beroleh hidup dan mengalami kemenangan. Amin.

 

Subscribe Youtube GKGA

Silahkan klik tombol YouTube untuk berlangganan Video Ibadah