Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Kebenaran Injil Dasar Keputusan yang Benar

KEBENARAN INJIL DASAR KEPUTUSAN YANG BENAR
Lukas 12:49-59
Lemah Putro
17-10-2021
Pdt. Paulus Budiono
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom,

Hendaknya kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita dari lumpur dosa dan selalu rindu jamahan pertolongan-Nya melalui Firman-Nya. Sungguh kita patut bersyukur dapat beribadah tatap muka (on site) lagi walau jumlahnya masih dibatasi dan tetap harus mengikuti prokes yang ditentukan oleh pemerintah.

Kita harus yakin bahwa Tuhan mengatur segala sesuatu dan kita hidup di dalam rencana-Nya. Kita juga tahu bahwa dalam hidup kita diperhadapkan dengan pilihan dan keputusan. Contoh: kita telah memilih dan mengambil keputusan yang benar yaitu beribadah untuk memuji Tuhan dan mendengarkan Firman-Nya.

Beberapa bulan ini kita sedang membahas tentang Injil Lukas. Keputusan benar apa yang harus diambil menurut Lukas 12:49-59?

  • Yesus datang untuk melemparkan api ke bumi (ay. 49-50)
    “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!”

Di awal penciptaan, Allah Tritunggal menciptakan bumi beserta segala isinya dan semua baik adanya (Kej. 1). Namun sekarang Allah di dalam Yesus datang untuk melemparkan api. Apakah Ia tega mau menghancurkan bumi ini? Benarkah Allah begitu kejam sehingga Ia mudah menjatuhkan hukuman seperti terjadi di Perjanjian Lama? Oleh karena kejahatan manusia, Allah telah memusnahkan dunia dengan air bah (Kej. 6 – 7). Dan sekarang bumi (yang tampak indah karena canggihnya teknologi) diancam akan dimusnahkan dengan api. Tuhan pasti menghanguskan dunia ini dengan api tetapi Ia masih sabar menanti agar manusia bertobat (2 Ptr. 3:7-11).

Introspeksi: bagaimana kehidupan rohani kita sekarang ini? Apakah kita beribadah sekadar memenuhi kewajiban liturgi agama? Masihkah kita terpesona dengan dunia yang penuh dengan kejahatan ini? Ingatkah kita akan keselamatan keluarga, famili dan teman kita? Perhatikan, dunia ini bukan tempat tinggal kita sebab Tuhan menjanjikan langit dan bumi baru di mana terdapat kebenaran (ay. 13).

Berkaitan dengan kedatangan Yesus ke dunia, Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Ia (= Yesus; Red.) yang akan datang lebih berkuasa dan membaptis dengan Roh Kudus dan api (Luk. 3:16). Ia akan mengumpulkan gandum-Nya ke lumbung-Nya tetapi debu jerami akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan (ay. 17). Jelas ada dua pekerjaan yang dilakukan-Nya, yakni: penyucian dan pehukuman. Ia mencurahkan api Roh Kudus untuk menyucikan gereja-Nya sebagai bait Allah supaya layak dihuni oleh Roh Kudus (1 Kor. 3:19). Perkataan- Nya adalah api yang menghanguskan “kayu bakar” (Yer. 5:14).

Rasul Paulus juga mengatakan bahwa ia sebagai ahli bangunan meletakkan dasar Yesus Kristus kemudian mengingatkan untuk hati-hati membangun di atasnya entah memakai bahan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami; semua akan diuji oleh api (1 Kor. 3:12-13). Kita adalah bait Allah dan Roh-Nya diam di dalam kita (ay. 16). Api Roh Kudus datang untuk menyucikan kehidupan kita dan kita harus bersedia disucikannya supaya makin berharga, murni dan indah. Jangan malah mudah tersinggung dan menolak pelayanan seperti rumput kering yang mudah terbakar emosinya!

Introspeksi: keputusan mana yang kita ambil? Apakah kita bermain-main dalam ibadah dan pelayanan bagaikan membangun dari rumput kering/jerami yang akan terbakar habis oleh api atau akan keluar cemerlang sebab membangun dari emas, perak dan permata? Ingat, manusia seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering dan bunga gugur (1 Ptr. 1:24). Apa yang mau kita banggakan? Masihkah kita mempertahankan bumi yang sedang lenyap ini (1Yoh 2:17) sementara Tuhan menawarkan bumi dan langit baru yang kondisinya jauh lebih indah dan mulia itulah Yerusalem baru yang jalan-jalannya dari emas murni (Why. 21:1,11-21)?

  • Yesus datang membawa pertentangan di bumi (ay. 51-53)
    “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu bukan damai melainkan pertentangan.”

Pertentangan apa yang terjadi? Ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya (ay. 53). Apakah ini berarti Yesus suka melihat rumah tangga yang tampaknya adem ayem menjadi terpecah belah dan hancur? Sama sekali tidak! Ia memberi perumpamaan tentang Iblis yang tidak pernah bertengkar melawan kawan-kawannya sendiri (Mrk. 3:23-26) tetapi bersatu untuk menyeret manusia jatuh bersama mereka. Dengan kata lain, Ia mengingatkan bahwa suatu keluarga tidak akan mampu bertahan kalau anggotanya terpecah belah. Faktanya banyak terjadi ketidakcocokan bahkan pertentangan antara orang tua dan anak, mertua dengan menantu.

Markus 3:20-27 mengisahkan saudara-saudara Yesus dan ibu-Nya yang mau mengambil Yesus untuk dibawa pulang sebab Yesus dianggap tidak waras. Apa kata Yesus? “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (a. 35)

Siapa Yesus? Ia adalah Sang Firman yang berperan dalam kehidupan rumah tangga. Keputusan mana yang kita pilih agar ada kesatuan dalam rumah tangga? Firman Allah atau tradisi dan kebudayaan? Lebih berpihak kepada kebudayaan dengan berhala dan mitosnya atau kepada Yesus dan menyembah kepada Allah yang hidup?

Bicara mengenai tradisi, Rasul Paulus pernah menegur Rasul Petrus yang berubah sikap ketika ketahuan makan sehidangan dengan orang-orang non-Yahudi (Gal. 2:11-12). Petrus kehilangan dasar kebenaran Injil oleh sebab kemunafikan (ay. 13-14). Terjadilah pertentangan, apakah ini berarti Paulus membenci Petrus? Tidak! Ini bukan soal sentimen tetapi berkaitan dengan kebenaran. Perhatikan, jika beribadah sekadar agama, sikap dan tindakan seseorang akan berubah saat disanjung atau ditegur tetapi Firman Allah tetap kebenaran untuk selama-lamanya.

Apakah Rasul Petrus tersinggung dan mempertahankan kesalahannya? Rasul Petrus mengakui Paulus sebagai saudara yang kekasih (2 Ptr. 2:15-16) berarti mereka tetap dalam persatuan di dalam kebenaran Injil. Pertentangan dapat terjadi tetapi kalau menyangkut kebenaran Firman Tuhan kita tidak boleh toleransi dan kompromi. Mereka bisa lemah dan terjadi kesalahpahaman tetapi tetap di dalam kesatuan. Di akhir hidupnya, mereka berdua dieksekusi di waktu yang hampir bersamaan di zaman Kaisar Nero.

Aplikasi: kita tidak perlu mencari masalah untuk bertentangan tetapi kalau menyangkut sesuatu yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan kita harus berani bertindak. Bila Firman Tuhan hadir, terjadilah pertentangan bagi yang tidak seiman tetapi kalau mereka mau menerima Yesus terjadilah persatuan. Dengan kata lain, pertentangan terjadi supaya mengerucut menjadi satu di dalam Tuhan.

  • Yesus datang untuk urusan utang piutang (ay. 54-59)
    “…Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan supaya jangan engkau menyeretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: engkau tidak akan keluar dari sana sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

    Yesus datang ke bumi supaya kita tidak ada utang piutang. Ia memberi solusi agar kita berdamai di tengah jalan (masih hidup di bumi) sebelum masuk ke pengadilan sebab semua akan menghadap takhta pengadilan Kristus dengan semua yang dilakukan dalam hidupnya (2 Kor. 5:10; Why. 20:11-15).

Pertanyaan: sungguhkah kita tidak mempunyai utang sama sekali? Setiap manusia berdosa berutang kepada Allah tetapi Ia menebusnya dengan kematian Anak-Nya disalib (Kol. 2:14) sebab tahu kita tidak mampu melunasinya. Logikanya, kalau dipenjara tidak mungkin dapat bekerja untuk melunasi utang.

Juga sebelum mengenal Allah, kita adalah musuh-Nya tetapi diperdamaikan oleh darah salib Kristus (Kol. 1:19- 22). Kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar, sekarang kita didiami oleh Roh Kudus (1 Kor. 6:18-20). Sudah selayaknya kita tidak lagi hidup dalam pertentangan di rumah tangga, di sekolah, di tempat kerjaan bahkan di gereja. Menjadi tugas kita untuk memberikan solusi bagi mereka yang dililit utang dosa supaya mereka berdamai dengan Tuhan.

Marilah kita mengambil keputusan benar berdasarkan kebenaran Injil untuk beribadah sungguh-sungguh, bersedia disucikan oleh api Roh Kudus supaya terhindar dari api pehukuman, disatukan oleh Firman bagi yang terpecah belah dan diperdamaikan dengan Allah di dalam Kristus Yesus hingga kita dilayakkan tinggal bersama-Nya di dalam Yerusalem baru selamanya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account