Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Kebenaran Injil Dasar Keputusan yang Benar

Kebenaran Injil Dasar Keputusan yang Benar
Lukas 12:49-59
Johor
17-10-2021
Pdm. Sonny J. Garing
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom,

Tahukah bahwa keberadaan hidup kita hari ini merupakan hasil dari keputusan yang kita ambil beberapa waktu lalu? Contoh: saat mendengarkan pengumuman bahwa tanggal 17 Oktober akan diadakan ibadah tatap muka, kita mengambil keputusan untuk hadir. Apa yang kita putuskan pada waktu lalu terjadi hari ini dan apa yang diputuskan hari ini akan menentukan langkah hidup kita di hari mendatang. Bahkan jika kita berpandangan bahwa hidup bukanlah hasil dari suatu keputusan, sebetulnya ini juga merupakan keputusan yaitu kita memutuskan untuk tidak mengambil keputusan.

Kebenaran apa yang dimaksud dengan tema khotbah “Kebenaran Injil Dasar Keputusan yang Benar” di dalam Injil Lukas 12:49-59?

  • Keputusan menerima Yesus berkonsekuensi mengalami pertentangan (ay. 49-53)

"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! …..Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan (division = pemisahan). Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."

Ayat-ayat di atas ditujukan Yesus kepada para murid-Nya (ay. 22). Ia meminta mereka untuk siap sedia dan berjaga-jaga hingga tuannya datang. Bila tuannya datang, para hamba dalam keadaan siap sedia untuk melayani maka berbahagialah hamba itu (ay. 37). Sebaliknya, apabila hamba itu tahu kehendak tuannya tetapi tidak mengerjakannya, dia akan mendapat pukulan (ay. 48). Selanjutnya Yesus menyinggung kata “api” yang dilemparkan ke bumi (ay. 49) itulah penghakiman sebagai bentuk pukulan bagi hamba yang tidak melakukan tugasnya. Akan terjadi pertentangan dan pemisahan sebagai konsekuensi dari keputusan menerima Yesus.

Yesus juga mengatakan bahwa Ia harus menerima “baptisan” (ay. 50) yakni menjalani kematian-Nya (Mrk. 10:38-39).

Sungguhkah Yesus datang ke dunia untuk membawa pertentangan dan perpecahan/pemisahan bukan damai sejahtera? Matius 10:34-35 menuliskan Yesus datang membawa pedang yang memisahkan.

Jangan kita salah mengerti bahwa Ia datang ke bumi untuk membawa kekacauan dan mencabut damai sejahtera. Kehadiran-Nya di tengah-tengah manusia menuntut respons dari kita, bila kita memutuskan untuk menerima Dia sebagai Juru Selamat, kita harus siap dengan konsekuensi terjadinya “pedang” pemisahan dan pertentangan. Hal ini dimengerti dan dialami oleh para rasul ketika Yesus bangkit dari kematian dan naik ke Surga. Mereka diutus menjadi saksi mulai dari Yerusalam, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8) dan mulailah ancaman pertentangan, pemisahan karena aniaya bahkan kematian menanti oleh sebab iman mereka kepada Yesus.

Ternyata pernyataan iman kepada Yesus menimbulkan pertentangan dan pemisahan bahkan di dalam keluarga. Contoh: kita mendengar dan melihat di media sosmed adanya ancaman, persekusi, konflik dalam keluarga bahkan dikucilkan karena seseorang atau salah satu anggota keluarga mengambil keputusan percaya dan beriman kepada Yesus. Ingat peristiwa Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir? Terjadilah pertentangan dan perpecahan di antara orang banyak – orang tuanya tidak berani mengaku sebab takut dikucilkan, orang-orang Farisi marah karena menganggap Yesus tidak memelihara hari Sabat (Yoh. 9:1,7,16, 22).

Pertanyaan: apa respons kita ketika Yesus datang ke bumi? Menerima atau menolak kehadiran-Nya? Beranikah kita menanggung konsekuensi jika kita menerima Dia? Terjadinya konflik tidak hanya di dalam keluarga tetapi juga dalam diri sendiri karena kita tidak lagi kompromi dengan dosa dan kejahatan sebab kehendak Roh bertentangan dengan keinginan daging (Gal. 5:17). Kita tidak lagi hidup sama seperti orang-orang yang belum/tidak mengenal Allah (Ef. 4:17-18) sebab kita ciptaan baru di dalam Kristus (2 Kor. 5:17).

Aplikasi: ketika kita menerima Tuhan, pikiran kita dikuduskan untuk memikirkan hal-hal berguna yang membangun seperti bagaimana kita menjadi berkat bagi orang lain – suami menjadi berkat bagi istri, orang tua menjadi berkat dalam mendidik dan membesarkan anak. Sebaliknya, orang yang tidak merespons kebenaran Firman akan jauh dari hidup bersekutu dengan Allah karena kebodohan dan kedegilan hati mereka. Hati yang degil juga menjadi konflik, misal: terjadi pertentangan ketika suami berwatak keras berhadapan dengan istri yang sama-sama keras hati.

Kembali pada Lukas 12:51-53, terjadi pertentangan antara orang tua dan anak juga mertua dan menantu. Ayat-ayat ini tidak mengajarkan kita yang percaya kepada Yesus membenci orang tua dan saudara yang tidak sepaham dengan iman kita. Memang terjadi pertentangan dan pemisahan tetapi bukan karena kebencian. Ketika merespons Tuhan, kita dipindahkan dari kegelapan kepada terang. Perhatikan, gelap dan terang tidak dapat disatukan (2 Kor. 6:14). Ayat-ayat ini justru mendorong kita ketika kita ditentang oleh sebab pilihan iman, kita mendoakan mereka agar Tuhan menjamah mereka pada waktu dan kesempatan yang Ia tentukan.

  • Keputusan menolak Yesus berkonsekuensi menghadapi penghukuman (ay. 54-59)

“Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat segera kamu berkata: Akan datang hujan dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup kamu berkata: Hari akan panas terik dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Di sini Yesus berbicara kepada orang banyak yang pintar dan ahli menilai tanda-tanda cuaca tetapi bodoh dan tumpul rohani dalam menilai tanda zaman. Yesus menegur mereka sebagai orang-orang munafik (hupokrites = an actor, a stage player). Munafik menunjuk pada seorang actor yang memerankan suatu peran dalam sandiwara. Apa yang dia perankan bukanlah karakter asli darinya. Jadi, orang munafik tampak (di luar) menunjukkan kualitas hidup bermutu namun realitanya tidak.

Yesus mengatakan orang banyak tersebut munafik karena terkontaminasi oleh ragi orang Farisi (Luk. 12:1). Apa “ragi” dari orang Farisi ini? Mereka mengajar tetapi tidak tidak melakukan apa yang diajarkan (Mat. 23:1- 3). Mereka hidup dalam kepura-puraan rohani. Bagaimana respons orang banyak terhadap ajaran Yesus? Mereka melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Yesus tetapi mengambil keputusan tidak menerima-Nya. Mereka tahu apa yang benar, apa yang terpuji dan apa yang termulia tetapi menutup diri dan tidak mempraktikkannya. Ini suatu kemunafikan! Untuk itu Yesus memberikan perumpamaan bagaikan seseorang sedang berjalan bersama lawan menghadap pemerintah dan selama di tengah jalan sebisa mungkin terjadi pendamaian agar tidak dijebloskan ke penjara dan tidak dikeluarkan dari sana sebelum lunas membayar utang.

Dari perumpamaan itu Yesus ingin kita mengambil keputusan yang benar yaitu menerima pendamaian dari Allah melalui pengurbanan-Nya selagi kita masih hidup di bumi ini. Setelah hidup kita diperdamaikan dengan Allah di dalam Yesus, jangan menunda-nunda berdamai dengan suami, istri, anak, teman sekerja dan sepelayanan. Juga jangan bersandiwara dengan menyatakan diri baik-baik padahal sebetulnya menolak lawatan-Nya. Ini merugikan diri sendiri.

Yesus juga mengatakan kita sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Bila respons kita benar, kita diperdamaikan dan ketika tiba pada tempat tersebut kita tidak menerima pehukuman melainkan kasih anugerah.

Jelas sekarang bahwa keputusan yang benar bukan lahir dari kemunafikan. Ambillah keputusan untuk menerima Yesus walau harus menghadapi pertentangan dan pemisahan; jika kita menolak Dia, kita akan menghadapi pehukuman. Terimalah lawatan Allah dan pendamaian dari-Nya selagi kita masih mempunyai waktu! Jangan menunda-nunda tetapi berdamailah dengan sesama sekarang juga. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account