Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Kesadaran yang membuahkan Pertobatan

KESADARAN YANG MEMBUAHKAN PERTOBATAN
Lukas 13:1-9
Lemah Putro
24-10-2021
Pdm. Agus Muljono
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom,

Hendaknya kita tak henti-hentinya belajar mengerti kebenaran Firman Tuhan dan menerapkannya dalam keseharian hidup untuk menjadi berkat bagi mereka yang belum/ tidak mengenal Tuhan agar mereka juga beroleh jalan keselamatan melalui kesaksian hidup kita.

Kebenaran Firman Tuhan yang akan kita pelajari pagi ini terambil dari Injil Lukas 13:1-9:
•    Tentang dosa dan penderitaan (ay. 1-5)
•    Tentang perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (ay. 6-9)

Ketika musibah dan penderitaan melanda seseorang, secara naluri dia akan bertanya- tanya mengapa hal tersebut terjadi pada dirinya, bagaimana harus mengatasi masalah ini dll. Juga timbul reaksi bermacam-macam antara lain: panik, khawatir, takut, cemas, tidak tahu harus berbuat apa atau malah acuh, tidak mau mengambil langkah/ sikap memperbaiki diri agar keadaan tidak lebih parah atau menyalahkan dan mengambinghitamkan orang lain/ sesuatu di sekelilingnya. Contoh: di masa pandemi ini, ketika sebagian besar negara sedang berjuang keras mengatasi wabah COVID-19, respons dari masyarakat pun beraneka ragam. Ada yang menanggapi positif dan menaati prokes pemerintah tetapi ada pula yang menolak divaksinasi bahkan tak jarang menyalahkan pemerintah yang lamban menangani masalah ini. Bagaimana dengan gereja kita atas peristiwa ini? Kita terpanggil untuk peduli dan berbelas kasihan kepada mereka yang terdampak dengan mendoakan dan memberikan obat- obatan yang diperlukan oleh si penderita.
 
Sebenarnya di saat musibah dan penderitaan terjadi, respons yang hampir tidak pernah muncul padahal justru ini yang Yesus ingin kita perbuat yaitu pertobatan pribadi seperti dikatakan-Nya hingga dua kali, “…Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian… tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (ay. 3,5)

Harus diakui tidaklah mudah menyerukan pertobatan kepada mereka yang sedang mengalami musibah atau penderitaan karena terdengar tidak manusiawi dan tidak berbelas kasihan bahkan dapat disalahartikan kita menyalahkan mereka atas kemalangan yang terjadi. Namun Yesus tidak memberikan arahan dan tanggapan lain kecuali dengan tegas mengingatkan untuk bertobat yang pasti ditandai dengan kerendahan hati.

Saat itu sekelompok orang Yahudi berbicara kepada Yesus tentang bencana yang menimpa orang-orang Galilea dalam perjalanan ziarah ke Yerusalem. Mereka membawa kurban persembahan tetapi dibunuh dan Pilatus mencampur darah mereka dengan darah persembahan kurban. Yesus kemudian memberi saran supaya orang- orang Yahudi ini hati- hati juga rendah hati dalam menilai pribadi seseorang yang sedang mengalami penderitaan. Namun tampaknya mereka kurang peka sehingga Yesus menyinggung peristiwa 18 orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam dan mengajukan pertanyaan yang sama sebab Ia mengetahui hati mereka. Ia ingin meluruskan persepsi mereka yang salah dan menegaskan bahwa mereka yang terbunuh/ menderita itu bukan berarti kesalahan mereka lebih besar daripada kesalahan orang lain. Cara pandang seperti ini umum terjadi di kalangan orang beragama waktu itu karena tercampur dengan adat dan tradisi. Contoh: saat Ayub menderita begitu berat, sahabat- sahabatnya (Elifas, Bildad, Zofar) beranggapan Ayub menderita akibat dosa yang diperbuatnya (padahal karena ujian) dan menyarankan untuk bertobat; timbul pertanyaan apakah orang buta sejak lahir akibat dari dosanya sendiri atau dosa orang tuanya (Yoh. 9). Pemikiran semacam ini (menderita akibat dosa melanggar perintah Allah) tampak rasional dan sudah ada sejak dahulu serta masih berlaku hingga sekarang.

Untuk itu Yesus ingin meluruskan pemikiran yang tidak benar berkaitan dengan kesalahan dalam “menghakimi” seseorang yang menderita. Hikmat dan pekerjaan-Nya melampaui pikiran manusia. Bukankah Ia menurunkan hujan bagi orang benar dan yang tidak benar (Mat. 5:45)? Ia ingin menyadarkan bahwa kita sendiri tidak berada dalam posisi (rohani) yang lebih benar sehingga terhindar dari malapetaka kemudian menilai mereka yang mengalami musibah dan penderitaan adalah akibat dari dosa.

Sesungguhnya kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan kita walau saat ini kita terhindar dari penderitaan tetapi perlu diingat kita, orang percaya, tidak kebal bencana, persoalan dan penderitaan namun Tuhan hadir menyatakan kasih-Nya dan tidak pernah meninggalkan kita. Kesaksian: ketika keluarga Pembicara mengalami dukacita karena ibunda beliau dipanggil kembali ke rumah Bapa Surgawi, justru saat itu terjadi perbaikan dan pendamaian di antara anggota keluarga.

Faktanya kita melihat orang yang kita anggap baik dan saleh sering mengalami penderitaan sementara orang yang bergelimpang dosa malah hidupnya tampak baik-baik saja. Sebenarnya pengalaman penderitaan dimaksudkan untuk membangkitkan kerendahan hati supaya kita berhati-hati dalam memikirkan dan membicarakan penderitaan orang lain. Jangan langsung “menilai/ menghakimi” mereka menderita karena dosanya lebih besar dan lebih banyak!

Memang Yesus tidak memberitahukan alasan penderitaan orang- orang Galilea yang dibunuh; jadi, ketika penderitaan berat menimpa seseorang, ini merupakan kedaulatan Tuhan dan kita tidak perlu memberikan penilaian kepada si penderita.

Walau Yesus tidak memberikan alasan sebenarnya, Ia mengingatkan, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Apa maksudnya?
Kita dibawa kembali untuk memahami dua peristiwa yang tertulis di dalam Alkitab, yaitu:

  • Kutukan yang dialami oleh Adam-Hawa ketika mereka jatuh ke dalam dosa dan kita, keturunannya, terkena imbasnya. Akibat dari dosa yang mereka lakukan, Tuhan menyatakan pehukuman dan penghakiman. Adam, Hawa, ular dan bumi dikutuk. Karena dosa pula, manusia terpisah dari Tuhan dan kematian menanti.
    Sekarang bumi sedang menuju kebinasaan (1 Yoh. 2:17) dan manusia dari debu kembali menjadi debu alias mati karena upah dosa adalah maut (Rm. 6:23) juga tidak ada seorang pun benar dan baik, semua telah berbuat dosa (Rm. 3:10, 12,23).
  • Sebenarnya kalau Tuhan mau menerapkan kebenaran dan keadilan-Nya, Ia dapat langsung melenyapkan manusia begitu jatuh dalam dosa. Namun terbukti Ia menunjukkan kasih dan karunia-Nya yang besar dengan memberikan kesempatan manusia untuk bertobat agar beroleh keselamatan. Bagaimanapun juga kalau kemurahan Tuhan sudah selesai dan waktu bagi mereka untuk berpaling kepada- Nya sudah habis, Ia akan menghakimi seluruh dunia dengan kebenaran yang sempurna. Penghakiman-Nya bersifat menyeluruh dan kekal, kita satu persatu akan menghadap takhta pengadilan Kristus atas semua yang dilakukan semasa hidup (2 Kor. 5:10; Why. 20:11-15). Oleh sebab itu jangan sia-siakan waktu dan kesempatan untuk bertobat sebelum terlambat.

Perhatikan, penyakit, wabah, kekerasan, penindasan politik, kecelakaan menyerikan dll. terjadi akibat kutukan dosa yang menimpa seluruh dunia. Seharusnya kondisi semacam ini menjadi momen untuk tidak menghakimi orang lain tetapi menyadarkan kita untuk bertobat agar tidak ikut terhukum bersama dunia.

Yesus juga mengingatkan kutukan dosa jatuh kepada siapa pun. Untuk mempertegas ajaran-Nya, Ia memberikan perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah dan patut ditebang karena percuma dibiarkan hidup. Konteks ini ditujukan kepada mereka yang layak dihukum karena dosa melawan Tuhan.

Aplikasi: Tuhan berhak menghukum kita dan kita tidak dapat menolak atau membantah kalau tidak ada buah pertobatan dalam diri kita. Namun ada sesuatu yang menarik dalam perumpamaan ini yaitu pengurus kebun tidak tinggal diam tetapi merawat dengan baik agar pohon itu berbuah tahun depan. Ini gambaran tentang kesabaran dan kebaikan Tuhan yang masih memberi waktu agar kita bertobat dan menghasilkan buah pertobatan. Tidak hanya memberi waktu, Ia dengan setia mengerjakan kehidupan kita. Dengan penuh rendah hati Ia melayani kita dalam kasih dan puncaknya rela menanggung kutukan dosa kita di atas kayu salib. Bapa Surgawi meremukkan Dia oleh karena kejahatan kita (Yes. 53) agar semua orang yang berpaling kepada-Nya dengan iman, mengaku dan percaya kepada-Nya yang disalib dan dibangkitkan akan diselamatkan dari murka Allah dan penghakiman yang pasti akan datang.

Tuhan memanggil kita dan panggilan-Nya menggema di seluruh dunia agar kita kembali kepada-Nya untuk bertobat supaya kita selamat. Namun sayang banyak orang menolak Dia. Buktinya? Ketika tujuh cawan murka Allah dicurahkan, mereka tetap tidak bertobat (Why. 16:9,11,21).

Introspeksi: sudahkah kita bertobat dan menghasilkan buah pertobatan di tengah bencana global yang melanda saat ini? Biarlah setiap bencana dan penderitaan menjadi kesempatan bagi kita untuk bertobat dan peringatan bahwa kita sangat membutuhkan Dia. Ingat, selama kita hidup di bumi yang berada di bawah kutukan Allah, bencana dan kematian selalu ada. Ada waktunya manusia tidak dapat bertobat walau malapetaka menimpa bertubi-tubi sebab waktu untuk bertobat sudah habis.

Marilah kita menggunakan kesempatan bertobat selagi ada waktu dan kesempatan agar kita kelak diperkenan mendiami langit dan bumi baru di mana tidak lagi ada rasa sakit dan air mata penderitaan di sana. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account