Kitab KEJADIAN – Jumat, 02 Desember 2016

Kitab KEJADIAN – Jumat, 02 Desember 2016

Pdt. Paulus Budiono

Shalom.

Bersama istri, saya berterima kasih kepada Saudara sekalian yang telah mendoakan kami dalam pelayanan di Jayapura dan Tuhan telah memberikan kami kekuatan, Tuhan memberkati Saudara sekalian. Terima kasih juga kepada Pdm Yusak Pundiono yang sudah merangkumkan Kejadian pasal 37 dan 38 dengan begitu sistematis. Saya sangat menikmati ketika membacanya. Saya senang sekali untuk kita saling mengisi dan menopang dengan satu tujuan bahwa Alkitab ini membawa kita semakin mengenal Tuhan. Dengan mengenal pribadi Tuhan, kita dapat mengetahui siapa diri kita. Jika kita hanya cenderung pada tokoh-tokoh yang sudah ada, yang seringkali kita katakan sebagai tokoh iman, lama-kelamaan kita bisa lupa kepada Tuhannya. Semua itu dicatat sebagai sejarah karena ada Allah yang memulai penciptaan dan adanya hari. Dialah yang berdaulat.

Kita telah sampai pada pasal 41, di mana Yusuf diangkat. Kita mau bersama-sama belajar, sharing, sehingga kita melihat bagaimana kebesaran Tuhan di dalam firman-Nya. Karena Alkitab ini diilhami oleh Roh Allah. Ketika Rasul Paulus menasehati Timotius, pada waktu itu hanya ada Perjanjian Lama, tidak ada Perjanjian Baru. Ini lebih menguatkan kita bahwa Alkitab Perjanjian Lama betul-betul diilhami oleh Roh Allah, sehingga kita tidak perlu ragu. Jika orang lain sangat mengagumi kitab suci mereka dan menganggap itu dari dewa mereka. Bagi kita orang Kristen seharusnya dari pasal ke pasal kita melihat progresnya mulai dari Adam dan Hawa yang diperintahkan untuk berkembangbiak. Kemudian sampai pada pasal 41, kita melihat suatu negara besar, negara Mesir, juga penduduk Kanaan, keluarga Yakub, orang Het, Amori dan lain sebagainya. Kita akan melihat bagaimana Tuhan tetap berdaulat atas kehidupan kita.

Kita bersyukur jika masih bisa membaca kelanjutan kisah Yusuf. Pada malam ini saya akan berbicara tentang cintanya Yusuf sehingga terjadi pertemuan dan pendamaian sampai akhirnya pada Kejadian 50 adalah sangat indah. Kita melihat Yusuf bersama orangtuanya memiliki iman. Selanjutnya dia sebagai budak merupakan kehidupan yang selalu berhasil. Dan sekarang dia harus membuktikan cintanya kepada keluarganya. Jadi iman kita juga harus bertumbuh sampai pada pengharapan dan yang terbesar adalah cinta. Dalam 1 Korintus 13 ada iman, harap, dan cinta, yang terbesar adalah cinta. Kita akan melihat mulai pasal 42 sampai pasal 50, betapa perbuatan Yusuf kepada saudara-saudaranya adalah bentuk kasih yang bertumbuh sampai tidak ada batasnya. Kita membaca :

Kejadian 42:1-2, 6, 8, 14-15, 21-24 Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: "Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?" Lagi katanya: "Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati."....... Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah...... Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka....... Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai. Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari..... Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita." Lalu Ruben menjawab mereka: "Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita." Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka.

Yang ingin saya tekankan ialah Yusuf menangis. Pada umumnya, kita menangis karena menyesal akan sesuatu yang telah kita buat. Tetapi di sini Yusuf menangis, bukan karena dia berbuat salah, namun dia terharu akan pengakuan dari saudara-saudaranya yang tanpa mereka sadari. Mereka saling berbicara dalam bahasa Ibrani. Yusuf berbahasa Mesir dan menggunakan penerjemah. Ini semua adalah jalan Tuhan.

Pada pasal 41, Yusuf merasakan bahwa Tuhan sudah membuatnya melupakan orangtua dan saudara-saudaranya. Anak kedua lahir Efraim, “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.” Jadi Yusuf melupakan penderitaan dan berkembang dalam kedudukannya dan keharmonisan nikah. Dapat dikatakan bahwa dia betul-betul lupa, tetapi Tuhan mau dia ingat. Saya merenungkan, tidak mudah bagi seseorang yang disakiti hatinya, seperti pengakuan Ruben dan saudara yang lain, di mana Yusuf meminta jangan dibunuh, jangan dijual. Tetapi mereka tidak mendengarkan permohonannya. Yusuf yang seharusnya sudah lupa mendengar itu semua. Apakah kita bisa terharu setelah melupakan kejadian yang menyakitkan? Bukankah muncul kejengkelan karena teringat masa lalu, tetapi dia justru menangis. Pada umumnya, anak yang dicintai dihajar namun Yusuf tidak dihajar, dia mengalami suatu pengalaman yang luar biasa, tidak bersalah, tetapi disalahkan, dicemburui. Saya menghitung, selama 22 tahun Yusuf tidak mendengar berita tentang ayah dan saudara-saudaranya.

Tangisan Yusuf ini luar biasa. Bisakah kita menangis karena melihat orang lain yang menyakiti kita menyesal? Kita melihat apa yang ingin Tuhan ajarkan kepada kita tentang cinta, kita sering mendengar Yusuf sebagai tipologi dari Yesus. Saya membaca, ada tiga kali Yusuf menangis. Ini adalah tangisan Yusuf yang pertama dan tidak diketahui oleh saudaranya. Tangisan kedua ketika dia melihat adiknya datang. Dua kali dia menangis, tidak ada orang yang mengetahui. Itu adalah bukti cinta seseorang yang disakiti, tetapi bisa menangis untuk orang yang menyakiti dia. Waktu saya membaca ini, saya coba mengoreksi diri, mungkin saya tidak bisa menangis pada orang yang menyakiti saya, beruntung saya masih bisa melihat dia, mungkin juga saya akan membuang muka, atau bahkan tidak mau mendekati. Apalagi kondisinya mereka datang sebab membutuhkan makanan.

Kita melihat dengan hikmat yang Tuhan berikan pada Yusuf, maka saudara-saudaranya dibawa dalam kondisi untuk jujur, saudara dan saya dituntun oleh Tuhan supaya selalu membawa kejujuran dalam kehidupan kita. Saudara-saudaranya tidak jujur pada ayahnya dan mengatakan bahwa Yusuf sudah dimakan binatang buas, membuat ayahnya menangis dan sangat sedih, tetapi saudara-saudaranya tidak menangis, waktu ayahnya meraung raung ‘anak yang kucintai sudah mati dimakan oleh binatang’, anak perempuannya datang menghibur ‘Sudahlah ayah jangan bersedih’. Mari kita belajar, karena kita akan menghadapi hal hal dan situasi seperti ini, apakah kita merindukan untuk belajar seperti Yusuf?

Ketika dia sudah tidak tahan, dia perintahkan orang untuk keluar, kemudian dia menangis, ‘akulah Yusuf’, di situ terjadi pertemuan dan pendamaian yang luar biasa, bukan dari pihak saudaranya tetapi dari pihak Yusuf. Kita berdamai dengan Allah bukan karena kita mau berdamai, tidak, kita masih bermusuhan dengan Allah, tetapi Yesus datang untuk mencari kita agar kembali kepada Allah, ajakan berdamai datang dari pihak Yesus, selalu perdamaian itu dari pihak yang tersakiti. Kadang kita datang minta ampun, Its Oke, tetapi saya melihat Yusuf ini betul betul tipe dari Yesus, waktu Petrus menyangkal, setelah Tuhan bangkit tidak pernah satu patah katapun mengorek atau mengingat penyangkalan Petrus, tidak pernah!

Seringkali walaupun kita mau berdamai, tetapi kita menempatkan diri di atas sebagai pihak yang tidak bersalah. Jika Yesus berlaku seperti kita, tidak terjadi perdamaian, Dia tidak bersalah dijadikan bersalah. Yusuf tidak salah dijadikan salah, tetapi Tuhan mengangkat dia pada waktunya. Yesus juga diangkat oleh Bapa menjadi Tuhan dan Kristus, betapa luar biasanya. Waktu saya membaca ini, saya teringat dalam Mazmur mengulangi peristiwa itu ;

Mazmur 105:5-23 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel, firman-Nya: "Kepadamu akan Kuberikan tanah Kanaan, sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu." Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain, Ia tidak membiarkan seorangpun memeras mereka, raja-raja dihukum-Nya oleh karena mereka: Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku! Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya, untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya. Demikianlah Israel datang ke Mesir, dan Yakub tinggal sebagai orang asing di tanah Ham.

Kejadian 50 mengatakan hal itu. Ini dicatat, bicara soal Abraham, Ishak dan Yakub kemudian Yusuf. Pada Mazmur 104 berbicara mengenai Kejadian 1, ‘Engkau yang menciptakan semua ini dan Engkau yang mengadakan...’ kita akan terkagum, bahwa penulis Mazmur pasti sangat mengenal kitab Kejadian 1 pasal 2 sehingga ia menulis apa yang dirasakan terhadap semua yang sudah tercipta dalam Mazmur 104, kisah dari Kitab Kejadian, terus sampai pada dosa akan dihapuskan. Pada zaman Nabi Nuh Allah memusnahkan manusia berdosa, hanya 8 jiwa yang diselamatkan, sehingga dalam Mazmur 104 saya penuh keyakinan itu berbicara mengenai Kejadian 1 sampai pada Kejadian pasal 8, 9, 10 dan 11.

Mazmur 105 mulai menyatakan tentang Abraham, Ishak dan Yakub berarti kitab Kejadian 12 mulai berbicara Abraham sampai pada Yusuf. Jika kita membaca lebih jauh masuk dalam kitab Keluaran, sungguh luar biasa. Yang menulis ini mampu merangkumkan begitu rupa sehingga saat kita membaca seperti terulang lagi. Jika kita mencoba memasuki kondisi pada waktu itu, kita bisa melihat berapa ratus tahun perkembangannya tetapi pasal 104 ini memuji Tuhan, pasal 105 juga memuji Tuhan. Apapun yang terjadi semua itu adalah kedaulatan Tuhan dan membuat saya bersukacita, andai kata kita menghadapi kesedihan. Firman Allah menolong kita untuk menemukan jalan keluar.

Kita harus mengenali seseorang secara utuh, Tuhan ijinkan waktu KKR di Jayapura pada hari terakhir saya menyampaikan tentang Lihatlah Mempelai Datang Songsonglah Dia. Kita tahu kita harus menyongsong dia, tetapi andai kata kita seperti perawan yang bodoh yang harus membeli minyak dahulu untuk kembali dengan pelita yang menyala sekalipun, tetapi pintu telah tertutup. Mereka berseru, ‘tuan tuan’ mereka kenal, mereka tidak salah pintu, tidak salah menyebut Tuhan, tetapi yang di dalam mengatakan ‘Aku tidak kenal engkau’. Di situ lebih dulu saya ditemplak oleh Firman Tuhan. Apakah mempelai pria itu tidak tahu siapa gadis gadis yang diundang untuk menemani mempelai wanita, itu adat orang Yahudi. Begitu teganya mempelai itu katakan ‘Aku tidak kenal kalian’

Saya bertanya,”Bagaimana untuk mengenal Tuhan?” Maka Tuhan memberikan tiga pribadi yang perlu kita kenal ; Yesus Putra Allah, Allah Bapa, Roh Kudus. Bagaimana bisa kenal jika kita tidak pernah berkomunikasi. Kita kenal Alkitab, kita tahu Yesus, tetapi apakah Yesus yang nyata? Bukan hanya tulisan atau patung atau batu, bukan dewa, bukan berhala, tetapi Dia pribadi yang hidup. Saat Dia berbicara apakah kita merespon atau hanya membaca kemudian kita tutup dan menganggap,’ini bukan untuk saya, ini untuk dia’. Kita merespon dalam hati kita sebab Roh Kudus ada dalam hati kita. Jika kita tidak merespon, Roh Kudus tahu, Roh Kudus dalam hati kita akan bersedih.

Saya sampaikan kepada sidang jemaat, hamba Tuhan, jangan mengatakan kita kenal tetapi Dia katakan Aku tidak kenal. Saya katakan sebentar lagi kita akan berpisah entah kapan bertemu lagi, apakah saudara masih mengenal saya? Apakah saya bisa mengenal saudara, jika selama itu kita tidak pernah berhubungan, mungkin saya jadi gemuk atau kurus, mungkin saudara juga berbeda. Tuhan akan datang kembali, kenalkah kita pada Dia sungguh sungguh, atau Dia katakan Aku tidak kenal kamu.

Tiga kali Tuhan katakan tentang hal ini, yang pertama Tuhan katakan pada mereka yang tidak masuk dalam pintu yang sesak, maka pintu tertutup dan orang itu berteriak ‘Tuhan bukakan pintu’ maka Tuhan katakan ‘Aku tidak kenal engkau’, mereka katakan ‘kami makan minum bersama Tuhan kami juga mendengar Engkau mengajar’, Tuhan katakan ‘Aku tidak kenal, dari mana engaku Aku tidak tahu, keluar kamu’. Kedua Tuhan katakan tiap tiap orang yang menyerukan Tuhan Tuhan tidak selalu bisa masuk surga kecuali mengikuti kehendak Bapa-Ku. Waktu itu mereka menjawab,’Tuhan dalam nama-Mu aku mengajar, menginjil, mengadakan mujizat.‘ tetapi jawab-Nya, ‘Sesungguhnya Aku mengatakan kepadamu Aku tidak kenal engkau’. Yang ketiga adalah kepada lima perawan itu, Tuhan tegaskan ‘Aku tidak kenal engkau’.

Jangan terlambat, jangan sampai Tuhan mengatakan tidak kenal dan pintu sudah tertutup - habis kita. Jika kita buru-buru mencari minyak atau buru-buru membuka Alkitab, sudah terlambat. Kita harus betul-betul mencintai pribadi-Nya dengan mencintai Firman Allah. Saya tidak menyuruh saudara menghafal, tetapi saya harus mengatakan bahwa kita harus sangat mencintai firman, karena dari firman inilah semuanya terjadi. Kita akan membaca apa kata seorang yang pertama kali mati syahid, yaitu Stefanus, dia ceritakan ulang kitab Kejadian yang ditulis di dalam Mazmur. Kitab Kejadian, tentang Yusuf, sampai Keluaran, diceritakan oleh Stefanus. Mari kita membaca ;

Kisah Rasul 6 : 12 -15, 7 : 1-13 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: "Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita." Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.

Kisah Rasul 7 : 1-13 Kata Imam Besar: "Benarkah demikian?" Jawab Stefanus: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Maka keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran. Dan setelah ayahnya meninggal, Allah menyuruh dia pindah dari situ ke tanah ini, tempat kamu diam sekarang; dan di situ Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan setapak tanahpun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu kepadanya menjadi kepunyaannya dan kepunyaan keturunannya, walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak. Beginilah firman Allah, yaitu bahwa keturunannya akan menjadi pendatang di negeri asing dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka itu akan Kuhukum, firman Allah, dan sesudah itu mereka akan keluar dari situ dan beribadah kepada-Ku di tempat ini. Lalu Allah memberikan kepadanya perjanjian sunat; dan demikianlah Abraham memperanakkan Ishak, lalu menyunatkannya pada hari yang kedelapan; dan Ishak memperanakkan Yakub, dan Yakub memperanakkan kedua belas bapa leluhur kita. Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia, dan melepaskannya dari segala penindasan serta menganugerahkan kepadanya kasih karunia dan hikmat, ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir. Firaun mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh istananya. Maka datanglah bahaya kelaparan menimpa seluruh tanah Mesir dan tanah Kanaan serta penderitaan yang besar, sehingga nenek moyang kita tidak mendapat makanan. Tetapi ketika Yakub mendengar, bahwa di tanah Mesir ada gandum, ia menyuruh nenek moyang kita ke sana. Itulah kunjungan mereka yang pertama; pada kunjungan mereka yang kedua Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, lalu ketahuanlah asal-usul Yusuf kepada Firaun.

Senang sekali membaca ini, sampai tahu ceritanya. Jangan hanya membaca kitab kisah rasul, dari mana ceritanya? Mundur, Mazmur juga menyatakan dan dirangkumkan di sini. Saya ingin tekankan supaya kita semakin mencintai Firman yaitu Yesus itu sendiri. Waktu Stefanus bercerita ini, dia sedang ditangkap dan diinterogasi, sedang diawasi pembicaraannya karena sudah diisukan begini begitu dengan banyak saksi palsu. Masih ingat saat Yesus ditangkap? Dari kepala imam dan semua orang mendatangkan saksi palsu, ini terulang lagi.

Kita melihat mengapa Yusuf bisa mengampuni saudara-saudaranya, Tuhan inginkan untuk kita belajar. Karena di tulis di dalam Mazmur, diulangi dalam Perjanjian Baru, ditulis oleh dr. Lukas. Stefanus sudah lama mati dieksekusi, tetapi dia mengatakan kalimat-kalimat khotbahnya yang terakhir ;

Kisah Rasul 7 : 46 : 51 Daud telah mendapat kasih karunia di hadapan Allah dan ia memohon, supaya ia diperkenankan untuk mendirikan suatu tempat kediaman bagi Allah Yakub. Tetapi Salomolah yang mendirikan sebuah rumah untuk Allah. Tetapi Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia, seperti yang dikatakan oleh nabi: Langit adalah takhta-Ku, dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. Rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, demikian firman Tuhan, tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Bukankah tangan-Ku sendiri yang membuat semuanya ini? Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapakah dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek                                                               moyangmu?Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya."

Khotbahnya tajam sekali yang membuat Stefanus mati. Bagaimana hamba-hamba Tuhan zaman sekarang? Kita sekarang tahu Roh Kudus ada dalam hati saya dan saudara, Roh Kudus ada dalam hati gereja Tuhan. Jangan menentang Roh Kudus! Roh Kudus akan membawa persatuan bukan perpecahan. ‘.. kamu selalu menolak dan menentang Roh Kudus sama dengan nenek moyangmu!’ Satu iman Abraham, iman Yakub, iman Yusuf, iman Musa. Kita harus mempunyai rangkaian benang merah yang baik, bukan yang jahat. Namun nenek moyang orang Yahudi keras kepala, keras tengkuk. Stefanus terus membaca, ia tahu kejadiannya sampai raja Saul, raja Daud, raja Salomo dan semua raja – raja. Begitu banyaknya bangsa Yahudi yang memberontak. Selanjutnya pada akhir khotbahnya Alkitab mengatakan bahwa dia penuh dengan Roh Kudus, dia melihat dan berbicara terus terang, “aku melihat surga terbuka, aku melihat Anak Manusia.” Dia melihat Yesus berdiri dan ini tidak bisa diterima, karena orang Yahudi membenci Yesus - padahal itu saudaranya sendiri.

Kehendak Allah adalah menolong manusia yang jatuh dalam dosa, supaya mendapat penyelamatan melalui benih wanita itu, tetapi belum terjadi, terus sampai Yusuf. Yusuf dipakai Tuhan untuk menyelamatkan saudara-saudaranya yang didalamnya ada Yehuda yang Tuhan akan pilih. Cara Tuhan begitu ajaib, pikiran Allah bukan pikiran kita. Stefanus menyatakan orang benar itu kau salibkan, kau khianati. Mereka tidak terima dan langsung merajam Stefanus sampai mati. Di sana ada seorang muda, itulah Paulus. Waktu dia bertobat maka dia ulangi apa yang dia terima dari Tuhan. Dia begitu sungguh-sungguh dan akhirnya dia juga dieksekusi. Kita dapat melihat jika kita menerima korban Yesus, ini merupakan rencana Allah dari semula. Hanya Yesus orang benar yang bisa membuat perdamaian itu kembali.

            Dalam kurun waktu dua puluh dua tahun Yusuf mengalami berbagai hal ; dijual, merasa sangat sedih, kehilangan kasih orang tua, dilecehkan, dihujat, dihina, harus menjadi budak kemudian dituduh, dimasukkan dalam penjara. Potifar bisa saja langsung menyuruh orang untuk mengeksekusi Yusuf, tetapi Tuhan melindungi Yusuf.

            Dalam Kitab Kejadian waktu Allah menciptakan manusia pertama, laki dan perempuan, disebutkan diciptakannyalah dia, laki dan perempuan menurut gambar dan rupa Allah. Di situ ada komunikasi dengan Allah. Tuhan inginkan supaya manusia bisa berhubungan dengan Allah, selanjutnya antara pria dan wanita dalam hubungan nikah menjadi satu persekutuan yang sangat indah. Tidak ada cara yang bisa menunjukkan apa itu kasih kecuali hubungan nikah. Itu awal permulaan dalam Kitab Kejadian 2. Di situ merupakan wujud kasih Allah. Kasih Allah adalah kasih yang mempersatukan, tidak ada sedikitpun perceraian.

            Yesus di atas Kalvari menangis dan berteriak “Eloi, Eloi, Lama Sabakhtani, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Beberapa saat Allah tidak bisa berhubungan dengan orang berdosa. Yesus, Putra Tunggal Allah, Dia harus menanggung dosa supaya manusia yang percaya kepada-Nya bisa berhubungan baik kembali dengan Allah. Itu menjadi kunci yang tidak bisa ditawar. Jangan coba-coba menawar persekutuan tanpa Yesus. Jangan menggunakan cara-cara apa saja untuk mendamaikan satu kelompok di luar korban Kristus. Tidak bisa! Sebab sejak Adam dan Hawa bersekutu untuk melawan Firman Allah maka kasih itu putus. Allah itu kasih. Jika kasih itu ditolak, maka suami istri tidak mungkin memiliki kasih yang sesungguhnya. Itu terbukti waktu Adam, sebelum berbuat dosa, berkata bahwa Hawa adalah tulang dari tulangku, bisa merasakan jika tulang sakit. Mengapa Yesus tidak patah tulangnya? Dia ingin gerejaNya menjadi tulangNya yang utuh dalam kesatuan.Yusuf menangis dan merangkul saudara-saudaranya, ia tidak membalas karena ia disertai Tuhan dalam susah, dalam kebangkitan, dalam kemuliaan. Kemuliaan yang disertai Tuhan dalam persoalan rekonsiliasi. Sangat tidak gampang, kalau bukan Tuhan yang menolong, Yesus memberikan diriNya untuk menyelamatkan orang berdosa.

            Adam dan Hawa satu hati melawan Firman Allah. Dalam Perjanjian Baru terulang kembali, Ananias dan Safira. Suami istri satu hati untuk berkorban bagi pekerjaan Tuhan. Begitu mendapat uang dan melihat uangnya banyak, mulai dikurangi. Setelah melihat jumlah uang yang banyak, korbannya berkurang. Roh Kudus dibohongi tentang uang. Jika kita berkorban, korbanlah dengan sungguh-sungguh, jangan kita kurangi, yang dibohongi adalah Roh Kudus. Roh Kudus bisa disakiti, dibohongi, dimatikan, dihujat. Itu sebabnya kita harus berhati-hati. Begitu suami istri satu hati untuk melawan Firman Tuhan maka akan menghasilkan suami yang tidak mencintai istri, istri tidak menghormati suami.

            Adam kecewa, menurut pikirannya, ‘Perempuan yang Engkau berikan bagiku....’. Hawa juga tidak mau kalah. Tetapi pikiran Tuhan bukan pikiran manusia. Kita sebagai manusia harus belajar untuk tidak menggunakan kehendak sendiri. Tuhan mengatakan karena kamu menuruti perkataan istrimu, bukan perkataanKu, maka engkau harus bekerja keras. Secara fisik memang terjadi, dan kondisi itu membuat rumah tangga semakin susah. Di situ mulai terjadi kerenggangan di antara suami istri, juga dengan Tuhan. Alkitab mengatakan Tuhan mengusir mereka keluar taman Eden. Untung saja Adam dan Hawa diberikan pakaian kulit. Itu suatu bukti cinta Tuhan.

            Coba kita periksa apakah kita mempunyai kasih yang semakin erat atau semakin dingin. Dunia dewasa ini membuat manusia dingin. Siapa yang bertahan sampai akhir berarti ia yang tetap mempertahankan cinta. Tidak gampang mencintai orang yang tidak kita dicintai, jika kita mencintai orang yang mencintai kita tidak ada masalah, tidak ada upahnya kata Yesus. Jika kita menghadapi orang yang membenci kita, membenci Yesus, apakah kita bisa bertahan? Tetap mencintainya walaupun dia mencaci maki kita bahkan memasukkan kita dalam penjara. Ini tantangan buat saya dan saudara. Mungkin Yusuf tidak lagi dalam penjara tetapi dia harus keluar dari penjara kepahitan yang selama ini dirasakannya. Begitu dia mendengar saudara-saudaranya menyesali perbuatannya, perasaan cinta itu muncul. Jika kita mempunyai famili yang bermasalah, dan orang itu mengaku salah semoga kasih Allah membangkitkan perasaan iba, perasaan cinta, jangan mengeraskan hati. Allah selalu ingin mempersatukan kembali.

            ‘Waktu kamu makan buah itu kamu akan mati’, putus hubungan, tetapi Allah konsekuen dengan ciptaan-Nya. Dia ingin memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah, maka Allah mengulangi dan mencoba pada Kain, tetapi Kain tidak percaya. Pada zaman Nabi Nuh Tuhan sudah tidak tahan, pemusnahan terjadi, berarti putus cinta. Hanya 8 orang yang dapat diajak berkomunikasi, diajak melihat betapa taatnya Nabi Nuh oleh sebab percaya. Salah satu tanda percaya adalah taat kepada Firman Allah. Akhirnya Tuhan harus memporakporandakan satu bangsa yang bersatu hati menyombongkan diri. Tuhan katakan kamu kuat, Aku kacaukan bahasamu maka kau akan lemah. Waktu bahasa mereka tidak cocok, muncul perceraian. Jika bahasa saudara dan bahasa saya tidak cocok, kita tidak bisa bersatu. Itu sebabnya betapa pentingnya sidang jemaat, penatua, hamba-hamba Tuhan, siswa-siswa satu di dalam iman Firman Allah oleh sebab bahasanya sama. Mungkin bahasa kulit tidak sama tetapi hati kita memiliki Firman yang sama. Mari kita bersatu bukan untuk kepentingan sendiri tetapi bersatu untuk mengagungkan Tuhan.

            Akhirnya Tuhan bertemu Abraham. Untuk apa Abraham dipanggil? Supaya Abraham dan istrinya menyatu, supaya Abraham menyatu dengan Tuhan, komunikasi dengan Tuhan, menjadi berkat buat orang lain. Bagaimana menjadi berkat buat orang lain? Berkomunikasi. Abraham berkomunikasi dengan raja Mesir, Firaun,dan Abimelekh. Orang yang disertai Allah menjadi sahabat Allah, sahabat lebih dekat daripada seorang hamba. Yesus berkata, ‘Aku tidak lagi meyebut engkau hamba, karena hamba tidak tahu keinginan Tuhan, Aku menyebut engkau sahabat. Sahabat mengetahui semuanya’. Allah berkata kepada Abraham,’Aku tidak menyembunyikan apapun kepada Abraham, karena dia sahabatku’. Oleh sebab Abraham mempunyai Tuhan akhirnya orang lain mengadakan persekutuan dengan Abraham, satu otrang asing dari Mesopotamia, satu penduduk asli bisa bersatu. Panggilan Tuhan untuk kita adalah untuk menyatu bukan hanya di dalam nikah tetapi juga dengan keluarga dan orang lain.

Kejadian 21: 22-24 Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan. Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing." Lalu kata Abraham: "Aku bersumpah!"

            Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan. Apa yang kita lakukan untuk bangsa Indonesia? Orang yang disertai Tuhan selalu ingin bersekutu saat berada di tempat orang lain dan tidak merebut milik orang lain. Karena itu Abraham, Ishak, Yakub bahkan keturunannya tidak menginginkan tanah Kanaan sekalipun Tuhan akan memberikannya kepada orang Israel sampai sekarang ini. Abraham, Ishak, Yakub memikirkan yang di atas yaitu kota Yerusalem Baru yang luar biasa. Belum ada gambaran bagi Abraham tentang Yerusalem Baru, tidak seorangpun yang pernah melihatnya kecuali Rasul Yohanes di Pulau Patmos. Apakah kita mau bersahabat dengan yang lain? Indonesia adalah tanah air kita, kita harus mempunyai pandangan yang lebih tinggi dari pandangan-pandangan umumnya bangsa Indonesia karena kita adalah bangsa sorgawi, bangsa yang akan hidup dalam negara yang turun dari sorga, di langit dan bumi yang baru, ini yang harus menjadi kerinduan hati kita. Bukan Tuhannya perut sehingga kita cari Tuhan hanya untuk kenyang, bukan Tuhannya berhala. Abimelekh tidak ragu mengangkat janji. Tuhan menyatakan kepada Abraham supaya Abraham menjadi berkat. Berkat apa? Berkat persekutuan, karena Abraham bersekutu dengan Allah. Jika kita tidak suka bersekutu dengan Allah, kita mudah tersinggung, tidak senang satu dengan yang lain, bahkan enggan bertemu dan bersikap munafik.

Allah dan Abraham selalu terbuka, Dia berkata apa adanya dan Abraham mentaati. Jika Abraham merasa ada yang tidak cocok, ia berbantah. Waktu Allah katakan, “Aku akan ke sana melihat sebab telah Kudengar kejahatan mereka di Sodom dan Gomora.” Abraham adalah orang yang tidak egois, jika Abraham egois, ia pasti sudah melupakan Lot beserta isteri dan kedua anaknya. Abraham bukan hanya mengingat sanak familinya, tetapi juga mengingat orang lain. Itulah ciri orang yang mempunyai cintanya Tuhan ; tidak egois. Abraham berkata, “Tuhan, jika ada 50 orang benar, masa Engkau yang adil akan menghukum Sodom dan Gomora?” Belajarlah mengatakan terus terang kepada Tuhan supaya Tuhan memberikan jawaban. Tuhan setuju dengan apa yang dikatakan Abraham. Luar biasa!

Allah akan setuju dengan apa yang Saudara katakan (doa kita) jika kita meminta dalam kehendak-Nya, kata surat 1 Yohanes. Jangan ragu saat kita meminta! Betapa Allah sabar dan penuh kasih yang bisa diajak kompromi. Kasih-Nya tanpa batas menyelamatkan manusia siapa saja yang mau berdamai, berjanji, “Sampai anakku, cucuku kamu harus berjanji.” Berarti cinta Allah itu turun temurun harus sama. Jangan sampai ayahnya mencintai Tuhan namun tidak demikian dengan anak dan cucunya. Jangan mengatakan terserah ia mau beriman atau tidak. Celaka! Akhir zaman ini banyak kekristenan yang sudah hilang cintanya, sudah main-main dengan cinta dunia, tetapi masih dianggap cinta Tuhan. Tidak!

Ishak diberkati luar biasa, dicemburui oleh orang Filistin. Dia menggali sumur, ditutup, gali lagi dan ditutup lagi. Namun akhirnya orang Filistin datang untuk berdamai. Mari orang Kristen, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, caci maki dengan caci maki, jangan bercabang lidah, kata firman Allah. Diaken-diaken harus memilih wanita yang bicaranya ya atas ya, tidak berbelit-belit, itu kata firman Allah. Ishak cukup lama tinggal di Filistin. Tuhan katakan, “Nanti itu tempat bagimu.” Orang sabar tidak ada ruginya. Orang yang mempunyai Tuhan dan terbukti disertai Tuhan akan dibuat berhasil semua pekerjaannya, nikahnya dilindungi, tidak ada orang komplain, kita buktikan hari-hari ini!

Selanjutnya, Yakub berdamai dengan saudara kembarnya, Esau. Esau pernah berkata, “Nanti jika ayah telah mati, dan aku bertemu Yakub, maka akan kubunuh dia.” Kata ‘bunuh’ itu melengket di dalam catatan buku Tuhan. Jangan sembarang berbicara membunuh, atau berkata ‘kamu gila’! Jangan sembarang berbicara tentang seseorang! Itu firman Yesus. Seringkali tanpa sadar kita mendukacitakan Roh Kudus. Esau tidak mau mengaku bahwa dia telah salah menjual hak kesulungannya, dia berkata seenaknya saja. Kita harus hati-hati dalam berkata-kata, juga pada ego yang kuat. Hanya kasih Allah akan melunakkan ego kita supaya apa yang kita lakukan bukan untuk diri sendiri tetapi untuk yang lain. Ketika Yakub bertemu Tuhan sendiri, maka ia berdamai dengan saudaranya dan Tuhanlah yang mendamaikan.

Pada permulaan semuanya inisiatif dari Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar dan rupa-Nya, yang tinggal adalah kasih, iman dan pengharapan. Di luar Tuhan tidak ada tiga hal ini. Saya punya pengharapan, apa yang diharapkan di luar Tuhan? Saya punya iman yang kuat sekali, imannya mana? Iman itu harus datang dari Tuhan. Orang dalam Tuhan berbeda dengan orang di luar Tuhan, iman orang Kristen pada yang tidak kelihatan, harapan yang belum kelihatan. Jika sudah mendapatkannya, syukuri saja! Jangan mengomel! Seharusnya kita berkata, “Tuhan, terima kasih jika hari ini saya boleh hidup.”

Waktu kita KKR, Pdt Sony berkata, “Kita harus belajar mempersiapkan diri! Mungkin hari ini kita khilaf, kurang mencintai isteri, kurang menghormati suami. Pada malam dari berdoalah, “Tuhan, mohon Engkau berkemurahan supaya besok saya bisa bangun, bisa berbuat yang Tuhan mau.” Siapa tahu jika malam ini saya tidur, besok pagi tidak bangun. Saat bertemu Tuhan, “Ayo, bertanggung jawab!” Kami semua tertemplak, kami mau belajar siap. Jangan beranggapan Tuhan belum datang, saya boleh marah sini situ, benci sini sana. Jika Tuhan izinkan kita harus bertemu Dia malam ini, sudahkah kita siap? Semuanya adalah dari Tuhan. Jika Tuhan tidak mengatur suasana, waktu, tidak mungkin terjadi perdamaian. Karena Allah yang mengusir Adam dan Hawa, maka hanya Allah yang bisa membawa mereka kembali. Kita manusia berdosa, tidak ada orang yang bisa kembali kepada Tuhan jika bukan Tuhan yang datang lewat Yesus. Abraham karena berbuat kebenaran, maka Tuhan memberitahu musuhnya, “Berdamailah dengan dia!”, demikian kata Amsal. Ishak juga demikian. Ishak disertai Tuhan, berbuat yang baik sehingga orang lain tidak ada alasan untuk tidak berdamai dengannya.

Kita melihat Yakub dan Esau. Ketika Abraham meninggal, Ishak dan Ismael bersatu untuk menguburkan ayahnya. Waktu Ishak meninggal, Esau dan Yakub menyatu untuk menguburkan ayah mereka. Kesatuan terjadi dari pihak kita dimulai oleh Tuhan lebih dulu, tidak ada yang lain. Jangan sombong bila kita bisa berbuat baik dan berdamai satu dengan yang lain. Allah yang memdamaikan kita dengan diri-Nya sehingga kita bisa berdamai dengan yang lain. Kita merenungkan ayat-ayat berikut supaya kita bisa diberkati Tuhan ;

Roma 12: 9-10, 14-21 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat......Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

            Kita mau belajar bersama-sama. Tidak ada orang yang baik. Jangan sombong jika kita bisa berbuat baik! Hanya satu yang baik, itulah Allah Sang Pencipta kita.

Amin.