Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Belajar dari Covid-19

BELAJAR DARI COVID-19

 

Sudah lebih dari 1 bulan Covid-19 menghantui Indonesia sejak diumumkan awal Maret lalu. Covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga melanda di bagian bumi lainnya. Entah sampai kapan Covid-19 akan berhenti. Pandemi Covid-19 menyebabkan seluruh aspek kehidupan perlahan berubah. Sesuai anjuran pemerintah, semua kegiatan dialihkan di rumah untuk menghindari penularan lebih luas. Ibadah pun akhirnya di rumah melalui live streaming.

Terlepas dari semua kerugian dan penderitaan yang kita alami seperti hilangnya pekerjaan, berkurangnya penghasilan, kelaparan dll. ada hal yang dapat kita pelajari bahkan syukuri dari pandemi Covid-19 ini. Dari aspek sejarah, pandemi sudah terjadi sejak lama. Virus ini sangat adaptif dan mampu bermutasi. Pandemi yang paling mengerikan dan menelan banyak korban jiwa adalah flu Spanyol yang terjadi tahun 1918 dan menyerang hampir seluruh dunia. Pandemi-pandemi influenza lainnya terjadi berkali-kali sejak tahun 1918 mulai dari flu burung, flu Hongkong, SARS, MERS, flu babi dan saat ini Covid-19. Sesungguhnya tentang penyakit menular telah disebut dalam Alkitab. Kata “wabah” disebut dalam tulah kelima (Kel. 9:1-9) yang menyerang hewan ternak di seluruh Mesir. Memang tidak disebut sampar itu penyakit apa tetapi banyaknya jumlah ternak yang mati di seluruh Mesir mengindikasikan bahwa penyakit sampar adalah wabah yang menyerang ternak. Mungkin saat ini disebut penyakit anthrax yang memang menyerang ternak. Jelas, wabah sudah pernah terjadi di masa Musa (1450-1410 SM).

Allah menunjukkan kasih setia-Nya dan menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir tetapi mereka tidak tahu berterima Kasih. Mereka dirangsang nafsu (rakus) di padang gurun sehingga Allah mendatangkan penyakit paru- paru di antara mereka (Mzm. 106:15). Penyakit menular lainnya adalah kolera dan kusta. Miryam, kakak Musa, dihukum Allah dengan penyakit kusta ketika ia memberontak terhadap Musa (Bil.12:10); Raja Uzia terkena kusta karena mengambil alih pelayanan imam-imam keturunan Harun (2 Taw. 26:16-21); Naaman, panglima raja Aram, disembuhkan dari kusta tetapi Gehazi tertular kusta karena ketamakannya (2 Raja. 5:25-27).

Kitab Habakuk 3:5 menuliskan “...mendahului-Nya berjalan penyakit sampar dan demam mengikuti jejak-Nya.” Kemungkinan penyakit sampar dan demam yang disebutkan nabi Habakuk menyerang manusia yang terjadi tahun 612-589 SM.

Wabah penyakit sampar dan penyakit menular juga terjadi di masa Daud (Mzm. 91:1-16). Dia mengingatkan tentang perlindungan Allah agar kita tidak perlu takut terhadap penyakit sampar busuk yang berjalan di dalam gelapdan penyakit menular yang mengamuk di waktu petang (ay. 3, 5-6).

Kitab perjanjian Baru juga menyebutkan adanya penyakit sampar dan kelaparan (Luk. 21:11). Dalam catatan sejarah penyakit, pada masa sesudah Masehi, seiring dengan perkembangan besarnya jumlah penduduk dan derajat kebersihan hidup timbullah banyak penyakit menular antara lain: kolera, tifus, pes, cacar air, kusta dan influenza.

“Sampar” (bhs. Ibr. de’ver = membinasakan). Secara umum sampar dapat diartikan semua penyakit menular yang menyebar dengan cepat menjadi epidemi, wabah dan pandemi yang berakibat kematian. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pandemi sudah terjadi ribuan tahun lalu dan COVID-19 bukan jenis pandemi baru.

Pelajaran apa yang kita peroleh dari COVID-19, penyakit sampar yang sedang melanda saat ini?

  1. Tanpa disadari kita berkesempatan hidup sederhana. Kesempatan untuk berdiam diri di rumah mengajarkan kesederhanaan. Tidak ada pakaian, sepatu, tas atau perhiasan yang kita ingin tontonkan kepada orang lain karena orang lain di rumah hanyalah keluarga sendiri. Kita mengenakan pakaian paling nyaman di rumah dan biasanya bukan pakaian baru yang bagus tetapi kaos atau daster sederhana tanpa sepatu mahal atau perhiasan yang dicocokkan dengan pakaian. Tidak ada kesombongan atau kata-kata kasar dalam berbicara. Juga tidak ada makanan berlebihan karena situasi. Kita belajar lebih rendah hati dan mensyukuri keadaan “apa adanya”
  2. Beratnya situasi saat ini mengingatkan bahwa kita bukanlah makhluk yang dapat berdiri sendiri. Kesengsaraan dan penderitaan yang dialami orang lain yang tidak seberuntung kita "memaksa” kita berubah menjadi peduli terhadap sesama. Setidaknya rasa peduli dinyatakan melalui WA atau SMS yang berbunyi “bagaimana kondisimu?”. Rasa keingintahuan terhadap keadaan sesama berkembang menjadi solidaritas untuk saling membantu, setidaknya menghibur dan memberikan pengharapan. Sering muncul ide untuk urunan saling membantu atau setidaknya mengirim informasi positif tentang pandemi. Kadang-kadang ketakutan dan kepanikan membuat kita cenderung menyalahkan pemerintah seakan-akan tidak cepat menangani persoalan. Dengan berdiam diri di rumah, kita diberi kesempatan untuk memahami situasi juga perjuangan pemerintah dalam mengatasi bencana ini. Dengan demikian kita tidak perlu membuat berita hoax yang hanya akan memperparah situasi. Kita juga tidak perlu menimbun bahan makanan dan barang lainnya karena masih ada orang lain yang lebih membutuhkan. Kita belajar rendah hati dan legowo.
  3. Kekosongan akibat perubahan kebiasaan (biasa bertemu orang lain lalu sekarang harus di rumah) sering berakibat pada kesunyian. Dalam situasi ini berdoa bersama dalam dunia maya sangat memperkuat rasa kebersamaan serta menumbuhkan iman dan pengharapan. Ibadah yang dilaksanakan via live streaming tanpa disadari menjadi “bounding” (= ikatan) antarsesama anak Tuhan tanpa dibatasi denominasi, organisasi dan gedung gereja mana pun. Iman dan pengharapan ini menghasilkan damai sejahtera yang mampu mengatasi kepanikan dan ketakutan akan pandemi. Faktanya, Allah memang menjanjikan perlindungan-Nya seperti dinyatakan dalam Mazmur 91. Hati yang penuh damai sejahtera serta sukacita membantu tubuh fisik kita menjadi lebih sehat.
  4. Sendirian di rumah adalah kesempatan untuk meningkatkan relasi pribadi kita dengan Allah. Kita berkesempatan tumbuh dalam iman untuk mandiri tidak bergantung pada situasi di gereja. Hanya Tuhan Yesus menjadi andalan kita.
  5. Dengan berdiam di rumah, kita tidak terkena sampar, tidak mencobai dengan melanggar anjuran pemerintah, belajar hidup bersih dan sehat, kreatif dan inovatif menghadapi keterbatasan, tidak saling menyalahkan dan belajar peduli.

Kiranya damai sejahtera Allah menyertai kita semua. Amin.