Kala Musibah Melanda (1)

 

 

Menemukan Rasa Aman di Dunia yang Rawan

 


Ketika aksi teroris dengan menggunakan dua pesawat terbang menabrak gedung World Trade Center di New York, dua menara yang sebelumnya tegak berdiri dengan kukuh runtuh menelan korban jiwa yang tak terhitung banyaknya. Pada hari itu dunia berubah bagi kita semua tidak terbatas hanya bagi penduduk di Amerika.

Aksi para teroris pada tanggal 11 September 2001 tersebut menyatakan bahwa tidak ada tempat di mana pun di dunia ini yang benar-benar aman. Jika negara adikuasa saja dapat dihantam sedemikian hebatnya, betapa rentannya kita semua. Seorang spesialis di bidang kedukaan menyatakan bahwa kita telah kehilangan ilusi yang menyatakan bahwa kita aman-aman saja.

Ketika musibah melanda, rasa aman pun menguap. Keamanan dirusak, ketidakpastian menyebar. Rasa takut menyeruak masuk. Ketidakberdayaan manusia terkuak. Kerentanan kita sebagai manusia fana menjadi kabut tak tertembus yang menyelimuti hati kita. Namun musibah tidaklah semata-mata hasil terorisme. Musibah dapat melanda dari segala sudut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Kehilangan yang dialami seseorang dalam bentuk apa pun dapat mengubah kehidupan mereka yang terkena dampaknya secara langsung. Namun sejumlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dan sangat mengerikan dapat mengakibatkan trauma bagi masyarakat di sekitarnya.

Musibah melanda paling dahsyat ketika terjadi di waktu yang sangat tak terduga hingga meruntuhkan rasa aman kita dan mengguncangkan kita dengan perasaan kehilangan dan kerentanan.

Apa yang kita pikir dan rasakan ketika hidup kita sendiri dilanda peristiwa buruk dalam skala besar yang tiba-tiba mengubah kehidupan kita? Apakah kita akan kehilangan segala pengharapan kita? Atau masih ada cara untuk bertahan hidup bahkan bertumbuh ketika kita diperhadapkan pada bencana alam, kecelakaan besar atau tindak kekerasan?

Bencana alam adalah peristiwa yang terjadi tiba-tiba dan membawa akibat yang menghancurkan, berdampak pada kehilangan jiwa dan harta benda dalam jumlah besar. Contoh:
⊕ Angin puting beliung memorak-porandakan banyak kota di wilayah tengah Amerika Serikat.
⊕ Lumpur longsor mengubur satu desa di Kosta Rika.
⊕ Banjir bandang di Kamboja.
⊕ Letusan gunung berapi di Filipina. Dst.

Kecelakaan besar adalah peristiwa yang tidak terduga dan tidak disengaja yang mengakibatkan luka-luka, kehilangan dan kerusakan. Peristiwa-peristiwa tersebut sering terjadi karena kegagalan mekanis atau kelalaian manusia. Contoh:
⊗ Kecelakaan kapal terbang.
⊗ Kecelakaan kerja.
⊗ Kebakaran rumah. Dst.

Musibah kekerasan merupakan akibat dari tindak kekerasan yang sengaja dan sasarannya adalah seseorang atau suatu kelompok, seperti:
⊕ Penculikan.
⊕ Pembunuhan.
⊕ Peperangan dst.

Walau dunia diusahakan menjadi tempat yang aman bagi kita dan anak-anak kita, dunia ini terus diwarnai dengan kekerasan, bencana dan malapetaka. Pertanyaan bertubi-tubi yang muncul setelah keadaan yang mengenaskan terjadi: apa yang masih kita miliki ketika banyak hal telah musnah? Bagaimana kita menghadapi musibah seperti ini? Bagaimana kita dapat bertahan hidup? Dapatkah kita merasa aman lagi? Apakah keadaan dapat kembali normal? Banyak di antara kita bertanya-tanya bagaimana kita dapat mengatasi ketidakberdayaan kita di tengah-tengah malapetaka yang terjadi.


CIRI UMUM DARI MUSIBAH

Yang kita anggap sebagai suatu musibah biasanya adalah suatu kehilangan nyawa atau harta benda akibat malapetaka yang mengerikan, tindak kekerasan atau bencana alam. Peristiwanya terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Hidup yang sedang berjalan baik-baik dan normal tiba-tiba saja mengalami interupsi dan berubah selamanya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Ciri-ciri umum yang muncul dalam peristiwa yang dialami baik secara langsung atau tidak langsung ialah:

Peristiwa itu tidak terduga. Musibah datang menghantam secara tiba-tiba, dahsyat dan tak terduga. Kita terhenyak dan terkejut, terguncang oleh hantaman keras yang membuat kita menjadi bingung dan linglung. Kita merasa kewalahan dan tidak siap sama sekali.

Peristiwa itu tidak terkendali. Musibah bukan hanya terjadi tanpa diduga tetapi juga jauh melampaui kemampuan kita untuk mencegah, mengubah atau mengendalikannya. Kita merasa tidak berdaya untuk menghentikan peristiwa yang sudah terjadi dan merasa rentan karena sadar bahwa sebelum musibah itu terjadi pun kita tidak mungkin mencegahnya.

Peristiwa tersebut tidak terbayangkan. Kehancuran akibat dari suatu musibah sungguh melampaui pemahaman kita. Kita melihatnya dengan mata kepala sendiri tetapi tetap tidak dapat percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi. Sifat tak terbayangkan inilah yang membuat kita terhenyak karena sebelumnya kita menganggap hal itu tidak mungkin terjadi.

Peristiwa tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. Sering kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan atau bagaimana harus menanggapinya karena kita tidak pernah menghadapi hal seperti itu. Tanpa peristiwa lain yang sebanding dengan musibah ini kita merasa tersesat dan bergumul untuk mencari petunjuk.

Peristiwa tersebut membuat kita merasa gamang dan rentan. Setelah musibah berlalu, kerapuhan hidup terlihat dengan jelas. Kita merasa terkoyak antara pengharapan dan rasa takut, putus asa dan tak percaya. Dalam dunia yang penuh bahaya dan ketidakpastian ini ada satu hal yang pasti yaitu kita semua rentan terhadap bahaya.


PERASAAN YANG DIALAMI PASCAMUSIBAH MELANDA

Sejumlah perasaan yang pada umumnya melanda seusai mengalami terpaan suatu musibah ialah:

Terguncang. Ketika suatu malapetaka menghentak dengan kuatnya, reaksi wajar yang muncul ialah melindungi diri sendiri. Terguncang adalah bentuk mati rasa emosi seketika setelah kita menyaksikan, mendengar berita atau terhindar dari suatu musibah.

Terguncang dialami ketika kita menjalani begitu saja apa yang terjadi tetapi tidak sepenuhnya sadar bahwa kita ada pada situasi tersebut. Terguncang adalah pertahanan diri terdepan untuk melawan kekacauan yang menggemparkan dari suatu musibah. Namun perasaan ini tidak dapat melindungi kita supaya tidak terluka selamanya. Kepedihannya akan terasa kembali.

Kepedihan. Meskipun kita telah berusaha keras mempersiapkan diri, tidak ada apa pun dapat melindungi kita dari kepedihan memilukan yang menghujam kita setelah terjadinya musibah terutama jika kita telah kehilangan orang yang dekat dengan kita. Luka yang dalam telah membuat hati kita terkoyak.

Kesedihan mendalam, luka batin, ini terasa terlalu berat untuk ditanggung dan tidak dapat dihindari karena kita mendadak kehilangan untuk selamanya seseorang atau sesuatu yang kita kenal, kasihi dan tempat kita bergantung. Kita menggeliat dalam kesakitan ketika seseorang yang berharga bagi kita direnggut dari kita menimbulkan rasa takut yang menyelinap masuk.

Rasa takut. Rasa takut dan panik menyelimuti mereka yang bergumul mati-matian untuk mencari tempat berpijak yang kukuh setelah diombang-ambingkan oleh suatu bencana. Dalam kondisi rentan ini, orang bergumul dengan pikiran-pikiran seperti:
♦ Apakah aku akan dapat melaluinya?
♦ Apa yang akan aku perbuat tanpa dirinya?
♦ Apakah hidupku akan dapat normal kembali?
♦ Apakah aku akan dapat melupakan apa yang telah kusaksikan? Dst.
Ketidakadilan dari seluruh situasi yang ada membawa kita pada kemarahan.

Kemarahan. “Hal ini tak mungkin menimpaku! Ini tidak adil! Apa yang telah kulakukan sehingga aku harus mengalaminya?” adalah reaksi wajar dari orang yang sedang bergumul untuk menemukan hikmah di tengah kekalutan suatu bencana. Rencana dan impian telah hancur. Masa depan yang terbayang menjadi berubah selamanya. Kita menginginkan hidup kembali seperti semula tetapi tidak memperolehnya, akibatnya kita marah. Terlebih ketika seseorang dianggap sebagai penyebab musibah, keinginan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam menaikkan tingkat kemarahan seiring dengan rasa kehilangan yang menyakitkan.

Terabaikan. Mereka yang terlepas dari suatu bencana sering merasa terabaikan dan kesepian ketika harus membenahi kembali hidup mereka. Mereka terbeban berat karena harus menjalani semuanya sendiri. Serangkaian kemarahan pada tahap-tahap awal kedukaan yang traumatis juga dapat disebabkan oleh perasaan ditelantarkan. Perasaan ini terutama dirasakan saat orang yang dikasihinya tidak sempat menyelesaikan pelbagai hal penting sebelum kematian merenggutnya, seperti: utang yang belum dilunasi, asuransi tidak mencukupi, tidak adanya surat wasiat dll.

Rasa terasing. Ketika terkena bencana, kita sering merasa kesepian dan terasing oleh kesunyian yang mencekam hati. Kita menjadi malas berbicara karena berpikir tak seorang pun mengerti apa yang sedang kita alami. Kemudian kita menarik diri dari keluarga dan kawan yang mungkin dapat memberikan penghiburan berharga dan merasa pengasingan diri adalah jalan terbaik.

Rasa kewalahan. Bencana menghuncam kita dengan beragam perasaan yang sepertinya tiada henti. Musibah yang menghantam membuat kita kehilangan keseimbangan dan menghempaskan kita ke tanah. Yang tersisa ialah kegoyahan akibat hantaman itu, terhenyak dan remuk redam secara emosional.

Tidak dapat memusatkan perhatian. Dampak menumpuk dari beban emosi berlebihan ialah ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada kebutuhan-kebutuhan mendasar. Bahkan kadang-kadang lupa makan, tidur, ganti pakaian dll. Kegiatan rutin dirasakan sia-sia karena dianggap semua sudah hancur.


(bersambung)