Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Jika Allah Meminta (2)

JIKA ALLAH MEMINTA (2)
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Tingkat kesukaran apa yang Abraham hadapi saat itu?

A. ISHAK HARUS DIPERSEMBAHKAN

1.       “Anakmu”

Tuhan tidak meminta kambing dombanya yang pasti diberikannya dengan gembira. Bahkan Tuhan tidak meminta diri Abraham sendiri sebagai kurban bakaran dan kita percaya ia akan rela memberikan dirinya. Yang Tuhan minta adalah darah dagingnya, anaknya. Pengurbanan menyangkut diri sendiri masih mudah dijalankan tetapi jika menyangkut orang yang kita kasihi sering gagal.

2.       “Yang tunggal itu”

Keluarga-keluarga miskin dan banyak anak pun pada umumnya tidak akan rela memberikan salah satu anaknya walau sebenarnya mereka tidak mampu merawatnya. Abraham hanya memiliki satu anak. Jika diberikan berarti tidak tersisa lagi dan tidak tergantikan. Dengan memberikan Ishak, Abraham memberi lebih dari diri sendirinya sendiri, dia memberi habis-habisan.

3.       “Yang engkau kasihi”

Kalau anak tersebut sangat menyebalkan dan makan hati terus-menerus walau hanya satu-satunya, tentu tidak sukar bagi Abraham untuk memberikannya kepada Tuhan. Masalahnya, Ishak adalah anaknya yang tunggal serta dikasihinya. Karena kasihnya diberikan kepada yang tunggal maka tidak berbagi. Kasih, perhatian, sukacita, harapan dan tumpuannya hanya ditujukan pada satu orang yaitu Ishak maka mengambilnya sama dengan mengambil pusaka yang menjadi fokus hidup Abraham.

4.       “Yakni Ishak”

Ishak adalah nama yang Abraham berikan kepada anaknya yang berarti “tertawa” (Kej. 21:2-3). Memang Ishak adalah sumber tertawa di rumah Abraham. Sejak awal pertama Ishak dijanjikan akan diberikan kepadanya, Sara tertawa tidak percaya sambil membayangkan seorang nenek-nenek hamil. Ketika Ishak lahir dan bertumbuh, banyak gelak tawa mewarnai kehidupan keluarga ini. Jelas, mengambil Ishak sama dengan membuat rumahnya mati. Gelak tawa diambil dan direnggut dari Abraham.

5.       “Sebagai kurban bakaran”

Ishak diminta untuk dikurbankan. Ini berbeda dengan meninggalkan Ur-Kasdim untuk mendapatkan yang lebih baik. Anaknya akan dipersembahkan bukan untuk ditukar dengan yang lebih baik atau mendapatkan nasib dan kehidupan yang lebih baik. Ini juga bukan seperti Yohanes Pembaptis atau Samuel yang dipersembahkan sehingga meninggalkan orang tua demi melayani Tuhan. Ishak akan dijadikan kurban bakaran. Ia akan disembelih seperti seekor hewan setelah itu dibakar habis karena baunya akan menyenangkan hati Tuhan. Kitab Imamat mencatat mengenai hukum kurban bakaran sebagai berikut, “Kurban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam- malaman sampai pagi dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.” (Im. 6:9)

B.    ABRAHAM SENDIRI YANG MEMPERSEMBAHKANNYA

Kekejaman Hitler dengan nazinya terkenal di luar pemikiran manusia pada umumnya. Dalam peristiwa Holocaust, terselip kisah seorang ibu yang diperintahkan memilih satu dari dua anak kandungnya yang masih kecil untuk dimasukkan ke dalam kamar gas dan ibu ini sendiri yang harus memasukkan anaknya ke kamar maut. Akan berbeda jika si serdadu merenggut paksa anak itu dari ibunya kemudian melemparkannya ke dalam kamar gas.

Ketika Allah meminta Ishak, Allah meminta Abraham melakukannya sendiri – membawa Ishak ke Gunung Moria, mengikat anaknya, akan menyembelih dan membakarnya sendiri. Tangan yang menggendong, memandikan, membelai, memeluk menjadi tangan yang melukai bahkan mematikan Ishak. Maka perjalanan tiga hari ke Gunung Moria merupakan perjalanan mendaki yang sangat berat tidak hanya secara fisik bagi orang setua Abraham tetapi juga jiwanya. Setiap saat ia menggumuli ketegaannya membunuh anak kesayangannya seraya terus menghitung waktu tersisa untuk menikmati kebersamaan dengan anaknya.

C.    PERMINTAAN YANG MEMBINGUNGKAN

Allah terlihat sebagai Allah yang mempermainkan manusia. Dahulu ketika Sara mandul dan mereka sudah “tidak berharap lagi” memiliki anak, Tuhan sendiri tanpa diminta datang dan menjanjikan Abraham seorang anak. Sekarang setelah diberi, Ia memintanya kembali saat Abraham sudah begitu menyatu dengan anak itu. Lebih baik jika dari awal Allah tidak memberikan anak ini. Allah bahkan menjanjikan Abraham akan menjadi bapa dari bangsa-bangsa. Keturunannya akan seperti bintang banyaknya. Namun sekarang “sumber bintangnya” akan menjadi binatang sembelihan. Allah yang berjanji Allah sendiri yang mengingkari. Allah yang mengajar manusia untuk mengasihi dan melarang membunuh adalah Allah yang memerintahkan sebuah pembunuhan sadis. Komentar Soren Kierkegaard mengenai kisah ini bahwa “Tuhan tampak berlawanan dengan diri-Nya sendiri” tepat sekali. Dapat dibayangkan betapa bingungnya Ishak karena bapaknya berubah drastis. Kebingungan ini pasti juga melanda Abraham karena drastisnya Allah berubah dari yang selama ini ia kenal. Beda dengan kita, kita tidak bingung karena sebelum cerita dimulai, ayat pertama telah memberitahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, “Setelah semuanya itu Allah mencobai Abraham.” Bagaimanapun juga kisah ini membuat kita bingung pula ketika membaca perkataan Abraham kepada kedua bujangnya, “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang sesudah itu kami kembali kepadamu.” (Kej. 22:5) Mengapa Abraham mengatakan “kami” bukan “aku” kembali kepadamu? Apakah dia berkata jujur di sini? Kemungkinan besar dia berbohong sebab bagaimana mungkin dia berterus terang mengatakan dia akan menyembelih anaknya sendiri. Lagi pula dia pernah berbohong untuk menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan ketika bertemu dengan Abimelekh. Dia mengatakan bahwa Sara bukan istrinya tetapi saudaranya.

Juga ketika Ishak bertanya, “Di sini sudah ada api dan kayu tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” Abraham menyahut, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, anakku.” Apakah jawaban ini jujur atau bohong? Bagaimana mungkin Abraham berterus terang kepada Ishak, “Kamulah yang akan kusembelih.” Sulit untuk memutuskan apakah Abraham jujur atau tidak di sini.

RESPONS

Respons Abraham terhadap permintaan Allah ialah, “Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Ia membelah juga kayu untuk kurban bakaran itu lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.” (Kej. 22:3)

Firman Tuhan yang meminta Ishak dipersembahkan sama sekali tidak menyinggung soal waktu. Abraham dapat saja berdiskusi dengan istrinya atau menyiapkan diri agar kuat menerima kenyataan ini atau mungkin berbantah-bantah dengan Tuhan seperti pernah dilakukannya dengan sengit ketika Tuhan akan meluluhlantakkan Sodom dan Gomora. Namun yang luar biasa ialah Abraham tidak menunda waktu tetapi secepatnya taat. Ia berangkat membawa persembahan permintaan Tuhan. Permintaan “tidak masuk akal” Tuhan disambut dengan respons yang sama “tidak masuk akal”nya dari Abraham.

Kita senang mendengar suara Tuhan yang berisi tentang “menerima”. Tidaklah mengherankan kalau kegemaran “memperoleh/menerima” ini membuat 99% doa kita isinya adalah meminta. Akibatnya, makin berdoa bukan makin tinggi kerohanian kita tetapi makin kita menjadi pengemis. Kita sering datang ke hadapan Tuhan dengan telapak tangan menghadap ke atas, datang hanya dengan satu maksud yaitu meminta. Kita menganggap Allah tidak lebih dari seorang kakek yang memanjakan cucunya.

Namun bagaimana dengan suara Tuhan yang isinya, “Ambillah……yang engkau kasihi….. persembahkanlah…” kita akan mati-matian membela dan mempertahankannya bahkan dengan nyawa kita sekalipun. Ada banyak cerita yang mengingatkan kita betapa sulitnya melepas, memberi, dan mempersembahkan kembali, salah satu contoh: kisah Ananias dan Safira.

Penting sekali untuk hidup dua arah bersama Tuhan: melepas untuk menangkap, menggenggam untuk melepas; kosong untuk diisi, isi untuk dikosongkan; dari tidak ada kita mendapatkan dan mendapatkan untuk memberi. Sebaliknya, jika kita hidup hanya satu arah: mendapatkan dan hanya mendapatkan, kita tidak akan pernah mau memberi. Hidup justru akan menjadi pahit. Yesus mengatakan, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Mat. 10:39)

Ayub memiliki iman dua arah, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil. Terpujilah nama TUHAN.” (Ay. 1:21) Berbeda dengan istri Ayub yang hanya mengerti tentang “mendapatkan”, akibatnya ia menjadi marah ketika TUHAN mengambil. Ia panas hati jika TUHAN meminta (Ay. 2:9-10).

Mengapa Abraham memiliki respons yang mengagumkan ketika Tuhan meminta Ishak darinya? Karena dia memiliki apa yang Tuhan ingin uji kepadanya: iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan.

·         Iman

Percayakah Abraham bahwa Allah itu setia dan tidak ingkar janji? Ibrani 11:17-18 menuliskan, “Karena iman maka Abraham tatkala ia dicobai mempersembahkan Ishak. Ia yang telah menerima janji itu rela mempersembahkan anaknya yang tunggal walaupun kepadanya telah dikatakan: “keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.”

Abraham mempersembahkan Ishak karena ia percaya bahwa Tuhan yang walaupun tampak sedang mempermainkan dia juga “berlawanan dengan diri-Nya sendiri” adalah Tuhan yang kasih setia-Nya tidak pernah berubah. Dengan demikian perkataan Abraham yang ditujukan baik kepada dua pelayannya maupun kepada Ishak bukanlah kebohongan tetapi kata-kata iman. Abraham tidak mengerti bagaimana cara Tuhan melakukannya sehingga ia dan Ishak dapat kembali pulang seutuhnya dan bagaimana Tuhan menyediakan kurban namun ia tahu bahwa Tuhan itu tidak pernah ingkar janji dan tidak main-main. Janji-Nya pasti ditepati.

·         Pengharapan

“Karena ia berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.” (Ibr. 11:19)

Bagi Abraham, iman memberikan pengharapan. Kalaupun Tuhan mengambil Ishak, bukan berarti pengharapannya habis karena Tuhan dapat membangkitkannya. Bagi Abraham, pengharapan dalam iman sekalipun belum dialaminya tetapi begitu mutlak kepastiannya, membuatnya tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang dinantikan di masa depan tetapi sudah merupakan kenyataan di saat ini.

Bagimana dengan kita? Jika Tuhan yang setia memberikan janji-Nya kepada kita, kita tidak perlu menantikan dengan khawatir pemenuhan janji Tuhan tersebut. Ia pasti memenuhi janji-Nya; oleh karena itu di hari ini pun kita seharusnya hidup dengan kenyataan tersebut.

·         Kasih

Setelah mengatakan, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Musa menunjukkan konsekuensinya, yaitu, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ul. 6:4-5)

Karena Allah itu esa, komitmen dan kasih tidak boleh berbagi tetapi harus total diberikan hanya kepada-Nya. Ishak juga tunggal dan dikasihi Abraham maka Ishak menjadi pusat tumpuan seluruh kasih Abraham. Tentu mudah bagi Ishak untuk merebut tempat Allah dalam hidup Abraham dan menjadi berhala baginya seperti kisah anak muda kaya yang mana harta kekayaannya mengambil alih seluruh pengabdian dan kasihnya kepada Tuhan. Terbukti ujian yang dialami Abraham menunjukkan bahwa bagi Abraham Allah adalah segalanya, kasihnya kepada-Nya melebihi kasihnya kepada Ishak.

Ayat dalam Kejadian 22:2 mirip dengan ayat di Yohanes 3:16 tentang Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal yang dikasihi-Nya demi keselamatan manusia berdosa. Ketika Abraham mempersembahkan Ishak, Allah mengerti kedalaman kasih Abraham kepada-Nya sebab Ia mengalaminya sendiri. Sebaliknya, seandainya Abraham membaca Yohanes 3:16, ia akan sangat mengerti kegundahan hati Allah, rasa kehilangan Anak yang sangat dikasihi-Nya. Begitu pula Ishak, seandainya ia membaca ayat tersebut, ia mengerti sekali perasaan Yesus hingga terucap, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46) Bapa memalingkan wajah, melawan diri-Nya sendiri dengan drastis dalam memperlakukan Anak-Nya. Ishak pernah ada dalam kondisi seperti itu.

Ternyata rasa kehilangan baik secara sadar dan aktif kita menyerahkannya (seperti yang Abraham lakukan) ataupun secara pasif karena “yang dikasihi” diambil dari kita (seperti dialami Ayub) dimaksudkan Tuhan untuk membawa kita ke pemahaman lebih dalam akan kasih Allah yang membuat kita makin mengasihi Dia.

Disadur dari: Menapaki Hari Bersama Allah oleh Yohan Candawasa


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account