Harga Menjadi Seorang Pengikut Kristus

HARGA MENJADI SEORANG PENGIKUT KRISTUS
Lukas 14:25-35
Lemah Putro
21-11-2021
Pdt. Paulus Budiono
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom,

Hanya Tuhan yang mengetahui isi hati kita yang penuh dengan dosa dan segala kejahatan yang bertentangan dengan kasih-Nya. Untuk itu kita perlu mendengarkan, menyimpan dan menghayati Firman Tuhan agar hati diukir oleh Roh Kudus dan nanyian pujian kita diterima oleh-Nya. Apa pun bentuk ibadah kita (on line atau on site), Tuhan tetap hadir menyertai kita.

Topik Firman Tuhan kali ini mengenai harga yang harus dibayar untuk menjadi pengikut Kristus. Bicara tentang harga, umumnya kalau berbelanja sesuatu, kita cenderung mencari harga murah tetapi berkualitas bagus. Kita akan menghitung untung ruginya kalau membeli barang yang mahal.

Apa yang harus kita lakukan berkaitan dengan harga untuk menjadi pengikut Kristus menurut Injil Lukas 14:25-35?

“Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki- laki atau perempuan bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku…… Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya tidak dapat menjadi murid-Ku. Garam memang baik tetapi jika garam juga menjadi tawar; dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk men- dengar hendaklah ia mendengar!” (ay. 25-27, 33-35)

Di hadapan orang banyak yang datang kepada-Nya, Yesus dengan tegas mengatakan “harga” yang harus dikeluarkan untuk menjadi murid-Nya. Apa itu? Harga yang harus dibayar tersirat dalam frasa “Melepaskan diri dari segala miliknya” yang mana terkait dengan garam di dalamnya. Mendengar penjelasan-Nya, mereka yang mendengarnya merasa tidak mampu melakukannya karena terlalu tinggi harga untuk menjadi murid-Nya. Namun bersyukur diakhir penjelasan-Nya, Yesus mengatakan “siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar”. Jelas ini merupakan kesempatan dan syarat untuk dapat menjadi murid-Nya.

Jangan kita cepat putus asa atau sebaliknya bangga merasa sudah menjadi murid Yesus karena setia beribadah bahkan sekolah teologi. Apakah lulusan teologi menjamin seseorang menjadi murid Yesus?

Kita harus memastikan setelah mendengar Firman Allah, kita mempunyai keberanian untuk memutuskan mau menjadi murid-Nya atau tidak sebab Tuhan tidak pernah memaksa kita. Ia hanya ingin kita menjadi murid-Nya, hendaknya kita memberikan yang terbaik bagi-Nya itulah telinga yang suka mendengarkan Firman bukan telinga untuk mendengarkan gosip. Dengan suka mendengar Firman-Nya, iman kita akan bertumbuh (Rm. 10:17) dan kita praktikkan dalam keseharian hidup untuk menjadi murid-Nya.

Mengapa setelah memberikan tantangan untuk mengasihi Dia lebih dari orang tua dan keluarga juga secara pribadi rela memikul salib, Yesus kemudian berbicara tentang penghitungan anggaran untuk membangun menara juga raja memperhitungkan kekuatan tentaranya sebelum maju perang melawan musuhnya? Juga mengingatkan setiap orang (termasuk kita) yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya tidak dapat menjadi murid-Nya? Sebenarnya ini menunjukkan syarat dan ketentuan untuk menjadi murid Yesus. Ilustrasi: seorang murid yang daftar ke jurusan keguruan dan ilmu pendidikan akan menyerahkan berkas-berkas ijazah yang diperlukan untuk dapat diterima di fakultas tersebut. Murid yang diterima akan dididik dosennya dengan harapan ilmunya dapat diestafetkan untuk diajarkan kepada orang lain. Kenyataannya, banyak murid Yesus mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia setelah mendengarkan pemaparan Yesus bahwa barangsiapa makan daging-Nya dan minum darah-Nya mempunyai hidup di dalam dirinya (Yoh. 6:53).

“Siapa mempunyai telinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar” tertulis sebanyak enam kali di Matius 13:9,43; Mrk. 4:9,23; Luk. 8:8; 14:35 juga kepada tujuh jemaat di Asia Kecil diperingatkan oleh-Nya agar “Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why. 2:7,11,17,29; 3:6,13,22). Jelas kita harus mendengarkan Firman Tuhan dan perkataan Roh Kudus yang memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Kita harus memercayai setiap ayat di dalam Alkitab dan jangan menggunakannya dengan sembrono karena semakin kita mengerti dan menghayati setiap ayat, semakin kita menjadi rendah hati dan merasa tidak mampu kalau bukan karena kemurahan Tuhan semata.

Selanjutnya Yesus menyinggung tentang garam, apa pentingnya? Ternyata garam dalam Perjanjian Lama ada kaitan perjanjian kekal dengan Allah. Contoh: setiap persembahan kurban sajian harus dibubuhi garam perjanjian Allah (Im. 2:13), segala persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN adalah perjanjian garam untuk selama-lamanya (Bil. 18:19). Perjanjian garam ini dimanfaatkan oleh imam-imam dalam mempersembahan kurban bagi-Nya. Dengan kata lain imam-imam ada kaitannya dengan Allah dan perjanjian garam.

Siapa garam yang dimaksud oleh Yesus? Saat khotbah di atas bukit, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat. 5:13).

Apa hubungan garam dengan keluarga dan pribadi? Janji garam ini mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan perjanjian garam (2 Taw. 13:4-5). Janji garam ini luar biasa! Bukan hanya untuk keturunan Harun tetapi juga keturunan Daud itulah Yesus yang akan menjadi raja atas keturunan Yakub dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:31-33). Dan keturunannya sampai kepada kita semua.

Aplikasi: sebagai imam-imam yang melayani Tuhan juga keturunan Abraham oleh sebab iman (Gal. 3:29), kita juga ada janji garam dengan Allah berkaitan dengan Kerajaan-Nya yang bersifat kekal.

Logikanya, seorang murid mendapatkan ilmu dan kepandaian berjenjang, makin tinggi tingkatnya, makin banyak pula ilmu yang diperoleh. Kalau kita tidak mau belajar sama seperti garam yang tidak asin, apa gunanya? Perlu diketahui Yesus tidak membiarkan para murid-Nya (juga kita) dalam kebingungan karena ketidakpengertian tetapi sebagai Guru, Ia tetap mendidik mereka (juga kita) agar mengerti ajaran-Nya.

Kita adalah garam dunia bukan garam gereja atau garam organisasi atau garam keluarga saja. Dahulu kita membayangkan sangatlah sulit melaksanakan amanat Agung Tuhan untuk menjadi saksi-Nya di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8) tetapi sekarang dengan canggihnya teknologi kita dapat menjangkau tempat-tempat jauh nan terpencil.

Ironis, garam merupakan kebutuhan pokok tetapi ditaruh di tempat kecil tidak mencolok dan kurang dihargai. Sesungguhnya garam sangat berharga dilihat dari manfaat dan kegunaan garam itu. Garam dibutuhkan dalam dunia kesehatan juga masyarakat pada umumnya untuk kelezatan makanan.

Aplikasi: garam bernilai kekal; jika kita menjadi murid Tuhan, kita beroleh janji keselamatan dari-Nya untuk tidak binasa. Bagaimanapun juga kita harus konsekuen menjadi garam dunia bukan garam di rumah saja. Kita menjadi garam yang berharga dan berdampak baik di mana saja.

Masih berkaitan dengan garam yang bernilai tinggi, ada kisah musuh ditawan oleh raja dan dibiarkan hidup kemudian musuh ini bertanya kepada raja apa yang harus diperbuatnya sebab dia sudah makan garam (peal: to eat salt of the palace; to be bound in loyalty to the king) di istana raja (Ezra 4:14; ASV). Musuh ini sudah merasakan kebaikan raja dan menyerah sepenuhnya untuk mengabdi kepada raja.

Garam merupakan pemberian dari Surga dan ada banyak macamnya antara lain: garam laut, garam dapur, garam kristal, garam kolam dll. Garam (terutama garam laut) ini diolah lebih dahulu agar bermutu bagus. Tuhan mau kita menjadi murid-Nya yang berharga dimulai dari rumah tangga lalu diteruskan kepada orang-orang lain.

Apa reaksi Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes waktu Yesus memanggil mereka untuk mengikut-Nya? Mereka langsung meninggalkan ayah dan perahunya kemudian mengikut-Nya (Mrk. 1:16-20). Apakah mereka bersikap kurang ajar terhadap orang tua, istri dan saudaranya? Tidak. Apa pula dampaknya? Kepada Petrus yang telah meninggalkan segala kepunyaannya, Yesus mengatakan dia menerima kembali 100 kali lipat di masa sekarang serta menerima hidup kekal (Mrk. 10:28-30).

Siapa saudara-saudara kita? Ketika ibu-Nya, Maria, dan saudara-saudara-Nya mau mengajak Yesus pulang karena dianggap gila, Yesus mengatakan ibu dan saudara-saudara-Nya ialah mereka yang melakukan kehendak Allah (Mrk. 3:21,31-35). Jadi saudara-saudara kita ialah mereka yang datang mendengarkan Firman-Nya.

Aplikasi: sebagai garam dunia, baik di dalam maupun di luar rumah (tangga) kita tetap terasa asin dan mengemban tugas menjadikan semua bangsa murid-Nya. Sudahkah kita menggarami mereka yang belum/tidak mengenal Tuhan walau harus menghadapi tantangan? Berapa % penduduk Indonesia telah mengenal Tuhan? Atau kita sendiri sakit karena kurang garam? Orang yang mempunyai garam dalam dirinya akan suka hidup berdamai satu sama lain (Mrk. 9:50) juga tutur katanya tidak hambar tetapi penuh kasih (Kol. 4:6).

Maukah kita menjadi murid Tuhan? Untuk itu kita harus mengasihi Dia lebih dahulu dan dengan kasih-Nya kita dapat mengasihi (bukan sekadar emosi) suami/istri, anak, saudara dan sesama. Ingat, Yesus mengasihi kita sampai kepada kesudahannya bahkan mengasihi Yudas Iskariot tetapi Yudas meninggalkan persekutuan dan memilih jalan hidupnya sendiri (Yoh. 13:1,21,30). Kita juga suka mendengar dan membaca Firman Allah dan Roh Kudus akan meneguhkan kebenaran ayat-ayat yang tertulis di dalam Alkitab.

Dan sebagai garam dunia, kita tidak menuntut dihargai atau disanjung orang tetapi sudahkah kita bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang-orang di sekitar kita? Hendaknya kita menjadi saksi Kristus melalui tutur kata, sikap dan tindakan kita sehingga banyak orang digarami dan beroleh janji keselamatan kekal dari-Nya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account