Berbahagialah Semua Orang Yang Berlindung Pada-Nya

BERBAHAGIALAH SEMUA ORANG YANG BERLINDUNG PADA-NYA
Mazmur 2:1-12
Johor
10-07-2022
Pdm.Budy Avianto
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom, 

Perlu diketahui bahwa Mazmur 2 ditulis oleh seorang raja Israel paling hebat sepanjang masa yaitu Raja Daud (Kis 4:25). Dia mengalami banyak suka duka dalam pengikutannya kepada Tuhan dan oleh bimbingan Roh Kudus dia menulis pengalaman perjalanan kehidupannya dan menjadi berkat bagi kita yang mendengar dan beriman kepada Firman yang tertulis dalam Mazmur 2 ini. 

Tema Firman Tuhan kali ini ialah “Berbahagialah Semua Orang Yang Berlindung Pada-Nya’ berarti siapa pun akan berbahagia bila berlindung kepada Allah Tritunggal, Pencipta langit, bumi dan isinya. Yesus adalah Alfa dan Omega, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa (Why. 1:8). Ia adalah Raja di atas segala raja (Why. 17:14). 

Kita semua pasti ingin bahagia tetapi konsep kebahagiaan tiap orang berbeda. Ada yang bahagia jika mempunyai harta melimpah, kedudukan tinggi, gelar banyak, terkenal di mana-mana tetapi apa gunanya semua itu ketika dia mati sebab tidak ada satu pun dibawa olehnya (Pkh. 5:14). Amat disayangkan jika seseoran bekerja keras untuk mengejar kebahagiaan fana bersifat sementara. Tahukah langit, bumi dan isinya akan lenyap tetapi Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya (2 Ptr. 3:10; 1 Ptr. 1:24)? Masihkah kita ngotot berlindung pada uang dan kedudukan kita? 

Kalau mau berbahagia, kita harus berlindung pada Tuhan dan apa yang harus kita lakukan menurut Mazmur 2?

  • Menolak rencana jahat untuk melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya (ay. 1-3).

Ternyata raja-raja dunia, suku-suku bangsa dan para pembesar bermufakat melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya. Waktu itu bangsa Israel dipimpin oleh hakim bukan raja dan hakim yang terakhir ialah Samuel. Walau Samuel dipakai luar biasa oleh Tuhan, karena faktor usia dia menyerahkan kepemimpinan kepada kedua anaknya untuk menjadi hakim. Sayang, mereka mengejar laba, menerima suap sehingga hukum dapat diperjualbelikan (1 Sam. 8:1-3). Oleh sebab itu para penatua Israel menghadap Samuel dan memintanya mengangkat seorang raja untuk memerintah bangsa Israel (ay. 6-9). Permintaan mereka membuat Samuel kesal dan berdoa kepada Tuhan yang dijawab bahwa mereka menolak Dia yang telah menjadi raja atas mereka padahal Ia telah melepaskan mereka dari perbudakan Mesir selama 430 tahun. Bahkan Ia memimpin mereka sebagai Raja yang tidak kelihatan dalam tiang awan dan tiang api selama 40 tahun di padang gurun menuju tanah perjanjian. Namun Ia sabar dan menyuruh Samuel mengikuti kemauan mereka. 

Introspeksi: sungguhkah kita taat kepada Tuhan, Raja di atas segala raja, dan perintah-Nya sehingga Allah mempunyai alasan untuk melindungi kita? Atau kita menjadi raja atas diri sendiri? Perlu diketahui bahwa di dalam Firman Tuhan ada pengajaran, perintah dan larangan yang perlu ditaati dan dilakukan. Firman-Nya dapat disampaikan dalam bentuk nasihat dan teguran bahkan hajaran bila kita tetap keras hati. Jangan kompromi atau menjadi raja atas diri sendiri! 

Raja pertama yang memerintah bangsa Israel adalah Saul (1 Sam. 9). Namun di masa pemerintahannya Saul tidak menaati perintah Allah saat disuruh menumpas seluruh bangsa Amalek termasuk ternaknya tanpa kecuali. Apa yang dilakukannya? Raja Agag tidak dibunuh juga binatang-binatang tambun dengan alasan mau dipersembahkan sebagai kurban bagi Tuhan (1 Sam. 15). Jelas, Saul kompromi dengan bangsa, suku bangsa dan pejabat-pejabat Israel; ini berarti dia tidak tunduk alias melawan (perintah) Tuhan (1 Sam. 15:20-23, 26). Sejak itu Tuhan menolaknya menjadi raja dan Roh Tuhan undur darinya (1 Sam. 16:14). 

Kemudian Tuhan menyuruh Samuel mengurapi remaja Daud (± 15 tahun; 1 Sam. 16:12-13). Tuhan menyertai Daud dan memberikan perlindungan juga kemenangan melawan musuh-musuhnya termasuk mengalahkan Goliat.

Kemenangan Daud yang dielu-elukan oleh perempuan-perempuan dari segala kota Israel membuat Raja Saul iri hati dan membencinya (1 Sam. 18:6-9). Mulailah Saul meluncurkan rencananya yang jahat yaitu berusaha membunuh Daud. Dua kali dia melemparkan tombak ke arah Daud tetapi gagal karena Tuhan melindungi Daud (1 Sam. 18:10-14; 19:9-10). Daud yang disertai dan dilindungi Tuhan tidak suka membalas tetapi dia menghindar dan melarikan diri dari Saul. 

Apakah Raja Saul lega melihat Daud pergi menjauh darinya? Ternyata Saul tetap membencinya. Dia mengejar Daud untuk dibunuh tetapi Tuhan tetap melindungi Daud sehingga dia luput dari dua kali rencana pembunuhan: di En- Gedi (1 Sam. 24) dan di padang gurun Zif (1 Sam. 26). Sebenarnya Daud dapat membunuh Saul dengan mudah jika mau tetapi dia tidak melakukannya sebab dia menghormati Raja Saul yang diurapi Tuhan (1 Sam. 26:23). Jelas Daud tidak mau menggunakan kesempatan dalam kesempitan; dia lebih taat kepada perintah Tuhan. Akhirnya Raja Saul mati dengan tragis, dia bunuh diri dengan menjatuhkan diri di atas pedangnya sendiri karena terluka berat dari panah yang dilempar oleh musuh (1 Sam.31). 

Introspeksi: apakah kita juga menggunakan kesempatan dalam kesempitan dengan menghalalkan segala cara untuk mendongkrak perekonomian yang sulit saat ini? 

Setelah Saul mati, Daud diangkat menjadi raja Yehuda (2 Sam. 2) dan akhirnya menjadi raja seluruh Israel (2 Sam. 5) di usia relatif masih muda (30 tahun). Sejarah mencatat bahwa Daud adalah raja Israel yang terhebat.

Beralih ke era Perjanjian Baru, dari silsilah Yesus Kristus (Mat. 1) terbukti Yusuf, suami Maria dan ayah dari Yesus, merupakan keturunan dari Daud. Siapa Yesus itu? Dia adalah Anak Allah dan Raja segala raja yang sudah ditetapkan oleh Allah. 

Perhatikan, kita tidak boleh berpegang pada pola hidup lama juga dosa yang dilakukan oleh nenek moyang itulah bangsa Israel. Mereka mereka-reka dan sepakat melawan Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk memutuskan dan tidak ikut-ikutan meniru perbuatan mereka. Kita tidak hidup di masa lalu tetapi masa sekarang di mana Yesus, Sang Raja, sudah lahir. 

Yesus memberi perintah supaya kita mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita (Luk. 6:27) juga berdoa baginya (Mat. 5:44) seperti telah dilakukan oleh Daud. Dengan demikian, kita akan aman di dalam perlindungan Tuhan. Yesus memberikan teladan sempurna, walau disiksa dan disalib, Ia tidak membalas tetapi malah memintakan ampun kepada Bapa-Nya orang-orang yang menyalibkan Dia (Luk. 23:34). 

  • Menerima Yesus, Anak Allah, yang dilantik menjadi Raja (Mzm. 2:4-9).

Allah melantik Anak-Nya, Yesus, menjadi Raja. Maria yang masih bertunangan dengan Yusuf mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan bayi Yesus (Luk. 1:27, 31, 34-35). Kemudian orang-orang Majus mengikuti arah bintang mencari Raja orang Yahudi yang baru lahir untuk disembah (Mat. 2:1-2). Informasi ini terdengar Herodes dan takut disaingi, dia mengumpulkan semua imam kepala, ahli Taurat untuk meminta keterangan tentang Yesus. Diketahui bayi Yesus dilahirkan di Betlehem yang berjarak ± 10 km dari Yerusalem. Dia juga memanggil orang-orang Majus agar memberikan info setelah mereka bertemu (Anak) Yesus sebab dia juga mau “menyembah-Nya”. Namun mereka pulang melalui jalan lain setelah diperingatkan Tuhan dalam mimpi (ay. 12) dan tidak kembali kepada Herodes setelah bertemu (Anak) Yesus. 

Malaikat Tuhan juga menyuruh Yusuf dalam mimpi supaya membawa istri dan Anak Yesus menyingkir ke Mesir sebab Herodes berencana mau membunuh-Nya. Yusuf tidak berbantah-bantah dan pergi ke Mesir bersama istri dan Anaknya. Karena ketaatannya, dia sekeluarga mendapat perlindungan. 

Merasa diperdaya oleh orang-orang Majus, Herodes marah dan memerintahkan membunuh semua anak berumur dua tahun ke bawah (ay. 16). Setelah Herodes mati, Yusuf kembali ke Israel. Sejak lahir Yesus sudah berada di bawah ancaman maut tetapi Yusuf sekeluarga dilindungi Bapa Surgawi karena mereka menaati perintah-Nya.

Menginjak dewasa sikap taat Yesus makin melekat dalam diri-Nya. Ia rela mengosongkan diri dengan melepas ke- Allahan-Nya menjadi manusia sejati bahkan menjadi hamba yang taat sampai mati di kayu salib untuk menanggung dosa manusia (Flp. 2:6-8). 

Siapa yang menyalibkan Dia? Ternyata imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat sepakat melawan Yesus. Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan berat kepada-Nya (Luk. 23:10) padahal pemerintah Pilatus dan Herodes tidak menemukan kesalahan yang setimpal dengan hukuman mati (ay. 4,14,15). Pilatus tidak dapat berbuat apa-apa ketika imam-imam kepala, pemimpin-pemimpin dan rakyat berteriak-teriak meminta Yesus disalibkan (ay. 25) dan Barabas dilepaskan (ay. 13,18). Akhirnya Yesus disalib tetapi sebelum mati Ia berdoa meminta Bapa-Nya mengampuni mereka yang telah menyalibkan-Nya (ay. 34). Terbukti Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi mendoakan dan berbuat baik kepada musuh-musuh-Nya. 

Tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus bangkit dan selama 40 hari memberitakan Kerjaan Surga. Sebelum naik ke Surga, Ia meninggalkan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil (Mrk. 16:15) dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat. 28:19). Sayang, bangsa Israel menolak Dia dan kemurahan jatuh pada bangsa kafir, termasuk kita, yang percaya dan menjadi murid yang menaati Firman-Nya. Kita berbahagia bila mengakui Dia sebagai Raja atas kita dan Ia pasti melindungi kita. Jujur, daging terasa sakit saat kita melakukan kehendak Tuhan ketika kita harus mendoakan dan berbuat baik kepada mereka yang menyakiti kita. 

Setelah murid-murid dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus, mereka menaati perintah Raja di atas segala raja den memberitakan Injil disertai mukjizat. Ketika Petrus dan Yohanes memberitakan adanya kebangkitan dari antara orang mati di dalam Yesus, 5.000 orang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (Kis. 4:4). Hal ini membuat pemimpin-pemimpin Yahudi, tua-tua dan ahli-ahli Taurat menangkap dan memeriksa mereka serta melarang mereka menyebut Nama Yesus tetapi mereka tidak takut bahkan dengan suara lantang menegaskan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Nama-Nya (ay. 12). Semua ini terjadi karena mereka penuh Roh Kudus dan Tuhan menyertai juga memberikan perlindungan kepada mereka. 

Pertanyaan: bagaimana dengan pengikutan kita kepada Yesus? Beranikah kita bersaksi bahwa hanya di dalam Nama Yesus ada keselamatan? Kepada siapa kita lebih takut, kepada Allah atau manusia?

Apakah Yesus hanya berkedudukan sebagai Raja di atas segala raja? Ia juga Imam Besar menurut peraturan Melkisedek dan Pokok keselamatan (Ibr. 5:5-6, 9-10). Sebagai Imam Besar, Ia menjadi Perantara antara Allah dan Manusia dan berdoa syafaat setiap saat supaya siapa pun yang berlindung pada-Nya tetap kuat. 

Apa kaitan Yesus sebagai Imam Besar dengan kita? Ia yang bangkit dan berkuasa atas raja-raja bumi ini melepaskan kita dari belenggu dosa oleh darah-Nya dan menjadikan kita raja-raja (make us kings) dan imam-imam bagi Allah (Why. 1:5-6) serta memerintah bersama-Nya selama 1.000 tahun (Why. 20:5-6). Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengakui Dia sebagai Raja atas segala raja akan menghadapi hukuman kekal dilemparkan ke dalam lautan api (ay. 14).

Setelah kerajaan 1.000 tahun, kita akan beralih kepada langit dan bumi baru itulah Yerusalem baru. Di sana kekuatan Raja di atas segala raja melindungi kita dan memberikan kebahagiaan bukan hanya di bumi ini tetapi sampai pada kekekalan di Yerusalem Baru bersama-Nya. 

  • Beribadah kepada Tuhan dengan takut dan mencium kaki-Nya dengan gemetar (ay. 10-11).

Kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah dengan hormat dan takut sebab Ia adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12:28-29). 

Tuhan berjanji kepada jemaat Filadelpia yang menuruti Firman-Nya dan tekun menantikan Dia akan melindungi mereka pada hari pencobaan yang akan melanda seluruh dunia (Why. 3:10-11).

Berbahagialah orang yang berlindung pada Tuhan, Raja segala raja yang sanggup melindungi saat pencobaan terakhir melanda seluruh bumi. Bahkan Ia memberikan perlindungan dan kebahagiaan tidak hanya di bumi ini tetapi hingga kekekalan dengan tinggal bersama-Nya di Yerusalem baru untuk selama-lamanya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account