Kenakan Senjata Allah Selengkapnya, Jangan Lepaskan Satu Pun Jua!

Kenakan Senjata Allah Selengkapnya, Jangan Lepaskan Satu Pun Jua!

Pdt. Paulus Budiono, Galaxy Exhibition Center, Minggu, 23 Desember 2018

Shalom,

Semua orang Kristen di seluruh pelosok dunia merayakan hari kelahiran Yesus dengan sukacita namun Firman Tuhan yang disampaikan di hari penuh kesukaan ini tampak bertolak belakang dan tidak ada hubungannya dengan suasana Natal. Benarkah demikian? Apa nasihat Firman yang diambil dari Efesus 6:13? “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kamu dapat mengadakan perla-wanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”

Aneh, apa hubungan Natal dengan senjata untuk perang? Mengapa Rasul Paulus, seorang tentara Kristus, berbicara kepada jemaat Efesus (juga kita) untuk mengena-kan seluruh perlengkapan senjata Allah? Karena kita menghadapi hari-hari jahat (tak terkecuali di hari Natal) agar kita dapat tetap berdiri penuh kemenangan.

Rasul Paulus meninggalkan teladan baik yang patut kita contoh yaitu di masa tuanya ketika dipenjara dan akan dieksekusi, dia masih mengingatkan Timotius muda, anak rohaninya, untuk tidak malu bersaksi tentang Tuhan (2 Tim. 1:8) dan bersedia men-derita sebagai prajurit Kristus yang baik (2 Tim. 2:3) seperti telah dialaminya (ay. 12).

Umumnya, orang yang mau meninggal mempersiapkan warisan untuk anak cucu tetapi Paulus berbicara mengenai perang dan semangat berjuang. Untuk apa dia mewariskan semangat juang? Karena kita menghadapi musuh yang tidak kelihatan kasatmata tetapi kekuatannya sangat besar itulah pemerintah, penguasa, penghulu dunia gelap ini juga roh-roh jahat di udara (Ef. 5:12). Ilustrasi: negara berperang untuk mempertahankan wilayah/teritorialnya dan segala yang ada di dalamnya ter-masuk warga negaranya.

Kapan Iblis muncul? Kitab Kejadian (PL) mengisahkan ular cerdik (gambar bayang Iblis) membujuk manusia pertama (Adam-Hawa) 6.000 tahun lalu berakibat manusia jatuh dalam dosa karena tipu muslihat si ular. Bukankah bumi diciptakan Allah tidak dalam kondisi kosong tetapi diisi dengan binatang, tumbuh-tumbuhan dll. untuk dikuasai Adam-Hawa? Karena manusia kalah, Iblis merebut dan menguasai dunia. Buktinya, saat Iblis mencobai Yesus, dia membujuk akan memberikan semua kerajaan dunia dengan kemegahannya kepada Yesus asal Ia menyembah dia (Mat. 4:8-9).

Bagaimanapun juga, Tuhan ingin kita merebut kembali serta mempertahankan apa yang (pernah) menjadi milik kita – nikah, keluarga dan pekerjaan/usaha kita (Kej. 1:26-28). Ia berjanji nanti benih dari perempuan (Hawa) akan meremukkan kepala ular dan ular akan meremukkan tumit dari keturunan Hawa. Terbukti Yesus lahir dan terjadi peperangan/permusuhan antara Dia dan Iblis.

Kita harus peka terhadap Iblis dengan tipu muslihatnya. Perlu diketahui Iblis tidak dapat hadir di suatu tempat dan di tempat lain dalam waktu bersamaan karena dia bukan Allah yang omnipresent/mahahadir meskipun Allah itu roh adanya. Sayang, gereja Tuhan hanya mengusir Iblis yang ada di dalam gereja tetapi lupa roh-roh jahat yang dikoordinasi oleh Iblis ada di mana-mana. Iblis (cuma satu) mempunyai pasukan yang luar biasa banyaknya dan mereka bersatu di bawah komando Iblis. Contoh: waktu Yesus mengusir orang yang kerasukan setan, orang-orang Farisi yang tidak suka kepada-Nya mengatakan bahwa Yesus mengusir setan dengan Beelzebul, penghulu setan. Yesus mengerti pikiran mereka langsung mengatakan, “..kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?” (Mat. 12:22-26) Dengan kata lain, Iblis tidak pernah berkelahi dengan sekutunya (nabi palsu, guru palsu, antikristus dll) tetapi bersatu mau menghancurkan suami-istri, orang tua-anak, hamba-tuan agar mereka dikuasai oleh roh kegelapan.

Kita harus bersandar kepada Tuhan sekaligus mengandalkan Dia dan mengenakan seluruh senjata Allah tanpa dikurangi satu pun supaya kita tetap berkemenangan dari hari ke hari. Kenyataannya, kita tidak mau repot memanggul senjata ke sana-sini – kita merasa hebat tidak perlu memakai senjata alias tidak mempraktikkan Firman dalam keseharian hidup. Apa akibatnya? Suami-istri sering bertengkar karena masalah uang, anak, ipar, mertua dsb. Waspada, jika kita melepas ketopong keselamatan karena merasa sudah beriman, kepala kita tidak berpikir tentang keselamatan maka otak kita tidak selamat dan seluruh aspek hidup kita pun tidak akan selamat. Simeon tua melihat keselamatan Allah di dalam Yesus maka dia dapat meninggal dengan damai sejahtera (Luk. 2:28-30).

Kita harus memakai senjata Allah dengan lengkap mulai dari kepala hingga telapak kaki dan tidak boleh melepaskan satu pun sebab Iblis berjalan keliling seperti singa mengaum-aum siap mencari orang yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8).

Apa/Siapa kelengkapan senjata kita? Itulah Tuhan Yesus Kristus (Rm. 13:12-14). Ingat, bila Allah di pihak kita, siapakah dapat melawan kita (Rm. 8:31-39)? Yesus menjadi manusia/daging dengan satu tujuan yaitu menyelamatkan kita untuk dijadi-kan milik-Nya. Bila kita telah diselamatkan, jangan puas dengan keselamatan diri sendiri kemudian tidak peduli dengan keselamatan suami, istri, anak dst. Bukankah Adam-Hawa (suami-istri) diciptakan untuk berkembang biak (keluarga) dan mengua-sai bumi (pekerjaan)?

Bagaimana Yesus mengalami proses peperangan untuk menjadi Tuhan Yesus Kristus yang berkemenangan?

  • Allah memilih kehidupan suami-istri yang mengasihi Dia dan hidup dalam kesucian. Menurut adat Yahudi, Yusuf dan Maria sudah resmi menjadi suami-istri tetapi belum hidup serumah. Allah ingin kemenangan terjadi dan bumi ditolong kembali. Untuk itu malaikat Gabriel meminta Maria agar tidak menolak tawaran Allah (Luk. 1:26,30-31) dan menyediakan rahimnya sebagai ‘senjata ampuh’ untuk ‘meremuk-kan kepala ular’ meskipun dengan risiko dia dicerai oleh suaminya. Memang Yusuf yang tulus hati bermaksud menceraikan Maria diam-diam tetapi dicegah oleh malaikat Tuhan (Mat. 1:19-20). Janin Yesus masih membutuhkan perlindungan kuat dari Allah. Yusuf dengar-dengaran lalu mengambil Maria menjadi istrinya dan menamai bayi laki-laki itu Yesus (= Penyelamat umat-Nya dari dosa; Mat. 1:21) dan Imanuel (= Allah menyertai kita; Mat. 1:23).

Aplikasi: kehidupan nikah yang direstui Allah tidak boleh ada rencana untuk bercerai; jika tidak harmonis dalam kehidupan nikah, mintalah senjata Allah dan carilah Sang Pencipta nikah itulah Tuhan Yesus Kristus.

  • Waktu Yesus lahir, malaikat bersama sejumlah besar bala tentara Surga turun memuji dan menjaga milik-Nya (Luk. 2:13-14). Bukankah tentara bertugas mem-berikan perlindungan? Buktinya Yesus menghadapi ancaman Herodes yang mem-bunuh anak-anak berumur dua tahun ke bawah namun Yesus dilarikan ke Mesir dan lolos dari kematian (Mat. 2:13-16).
  • Yesus tumbuh besar dalam asuhan orang tua jasmani-Nya dan Ia sangat menghormati mereka. Ketika Yesus dibaptis, Ia dipenuhi Roh Kudus (Mat. 3:13,16-17) dan mulailah sikap kedewasaan-Nya muncul. Dia menggunakan senjata Allah ketika dicobai oleh Iblis dan beroleh kemenangan (Mat. 4:1-10).
  • Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah (Luk. 8:1) disertai mukjizat-mukjizat kesembuhan dan pengu-siran banyak setan/legion yanag menguasai manusia (ay. 27-30). Saat itu Yesus belum menang total melawan setan-setan sebab waktunya belum tiba (Mat. 8:29).  
  • Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi beserta pemerintah yang menolak Yesus dipakai Iblis untuk menyalibkan Dia. Saat di atas kayu salib, Yesus diolok-olok karena dianggap tidak dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri dan disuruh turun dari salib baru mereka percaya kepada-Nya (Mat. 27:41).

Yesus benar-benar mengalami peperangan luar biasa karena manusia yang ditolong-Nya tidak mengerti kasih Allah. Hati-Nya begitu hancur dan tidak seorang pun menghibur-Nya; para murid-Nya meninggalkan Dia. Bagaimanapun juga Ia rela menanggung semua supaya Ia menjadi ‘senjata sempurna’ dan pada detik-detik terakhir ‘senjata pamungkas-Nya’ dikeluarkan dan akhirnya Ia mengatakan, “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30)

Di pandangan manusia Ia kalah (mati disalib) tetapi justru di atas Golgota Ia menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36).

Aplikasi: hendaknya kita memakai ketopong keselamatan agar pikiran kita tidak dibelokkan dan dirusak oleh Iblis yang menyebabkan kita kalah total. Orang tua bertanggung jawab memanggul senjata bagi anak-anaknya yang masih kecil agar pikiran anak-anak mereka tidak dirusak oleh Iblis. Jangan didik anak-anak dengan kemudahan dan kemanjaan tetapi didiklah dengan senjata Firman Tuhan.

Sesungguhnya pedang Firman Allah tidak pernah menimbulkan percekcokan dan Tuhan tidak menghakimi orang yang belum mengenal-Nya. Ia akan murka bila orang telah percaya kepadaNya dan dimeteraikan oleh Roh Kudus tetapi mempermainkan Roh Kudus seperti diperbuat oleh Ananias dan Safira yang berakibat fatal (Kis. 5:1-11).

Masihkah kita memercayai Alkitab sekalipun para penulisnya telah tiada lagi? Ingat, keselamatan bersifat pribadi (bukan rombongan) tetapi perlengkapan senjata Allah bukan hanya untuk diri sendiri melainkan melindungi suami, istri, keluarga, anak dll. Setiap orang yang mengenakan Kristus tidak lagi suka membeda-bedakan tetapi semua satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:26-29).

Kita masih menghadapi perjuangan hidup; untuk itu tetaplah mengenakan senjata lengkap Allah karena peperangan belum selesai (Why. 13, 14. 19) hingga Iblis, si pembunuh, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang di mana di dalamnya ada antikristus, nabi palsu dan orang-orang yang tidak mau bertobat (Why. 20:10). Selama kita masih hidup, kita mempunyai tugas untuk memikirkan orang lain supaya mereka juga diselamatkan namun jangan lupa mengenakan senjata Allah selengkap-nya kapan dan di mana pun kita berada untuk beroleh kemenangan. Amin.