Pertahankan Iman, Pengharapan Dan Kasih Agar Tidak Mudah Disesatkan

Pertahankan Iman, Pengharapan Dan Kasih Agar Tidak Mudah Disesatkan

Pdt. Paulus Budiono, Lemah Putro, Minggu, 31 Maret 2019

Shalom,

Hendaknya kita tetap bersemangat tidak hanya saat memuji dan memuliakan Tuhan tetapi juga saat mendengarkan Firman-Nya. Jangan jadikan ibadah sebagai agama atau entertainment sebab sesungguhnya ibadah berkaitan dengan hidup kekal di dalam Yesus Kristus!

Tahukah kita siapa yang menulis Surat Kolose? Penulisnya adalah seorang Yahudi yang kolot, fanatik dan membenci Yesus, itulah Saulus/Paulus. Bagi orang Yahudi yang terkenal mem-punyai harga diri tinggi dan kesombongan luar biasa tampak tidak mungkin menulis surat kepada bangsa kafir tetapi setelah bertemu Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik (Kis. 9:4-5), kehidupan Paulus berubah total dan dia dipakai Tuhan menjadi alat-Nya untuk mem-beritakan Injil kepada bangsa kafir (ay. 15). Paulus menjadi sangat rendah hati dan hampir seluruh suratnya (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Filemon dll.) ditujukan bukan untuk bangsanya sendiri (Yahudi) tetapi untuk bangsa kafir. Jadi, kalau kita dapat membaca Surat Kolose, ini merupakan suatu kemurahan yang patut disyukuri.

Sekarang kita sedang membaca suratnya Rasul Paulus, pesan apa yang sedang disampaikan bagi kita saat ini? “Karena aku mau supaya kamu tahu betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya yang belum mengenal aku pribadi supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian dan mengenal rahasia Allah yaitu Kristus sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Hal ini kukatakan supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus.” (Kol. 2:1-5)

Didampingi oleh Timotius muda, Rasul Paulus mengungkapkan betapa berat perjuangan yang dilakukannya. Timotius dididik untuk menyaksikan bagaimana orang tua rohaninya berjuang supaya kelak Timotius menjadi pemimpin yang juga sungguh-sungguh dalam pelayanan. Mungkin dengan tangan gemetar Paulus menulis ayat-ayat di atas, mungkin pula dia men-celupkan tinta beberapa kali agar tulisan-tulisan yang penting dapat dibaca lebih jelas. Demi siapa dia berjuang berat? Jemaat Kolose, jemaat Laodikia, juga semua jemaat yang belum/tidak mengenal dia secara pribadi, termasuk kita. Ini menunjukkan bahwa perjuangannya tidak terbatas hanya pada kelompok tertentu dan kesungguhannya tidak untuk sekelumit orang yang disenangi. Paulus juga menginginkan Tikhikus menyampaikan berita Injil kepada jemaat dengan seimbang tidak memihak.

Aplikasi: hendaknya pengkhotbah memberitakan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh tanpa motivasi like/dislike – membeda-bedakan jemaat yang suka berkurban maupun mereka yang tersisihkan.

Apa yang diperjuangkan oleh Rasul Paulus untuk jemaat Kolose dll.?

  • Hati terhibur →pengharapan

Hati terhibur sebab ada pengharapan. Siapakah yang dapat menghibur kita? Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan (2 Kor. 1:3).

Kapan Ia menghibur kita? Saat kita menderita sengsara Kristus sehingga kita sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan (2 Kor. 1:4-5). Terjadi keseimbangan antara penderitaan dan penghiburan namun bedanya penderitaan bersifat sementara tetapi penghiburan mengandung kekekalan. Sayang, kita cenderung ingin penghiburan untuk masalah-masalah duniawi, misal: penghiburan di kala mengalami kekecewaan, kesedihan, kesendirian dsb.

Rasul Paulus mengatakan pengharapannya teguh ketika melihat jemaat turut mengambil bagian dalam kesengsaraan dan penghiburannya (ay. 6-7). Dengan kata lain, penghiburan berkaitan dengan pengharapan. Pengharapan macam apa yang menghibur? Bukan peng-harapan akan apa yang dilihat (Rm. 8:24) tetapi pengharapan beroleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah (Ef. 1:14).

Lebih lanjut Rasul Paulus menginginkan agar kita berakar di dalam Kristus bahkan meng-hasilkan buah di tengah-tengah gangguan/godaan dari orang-orang yang bermulut manis.

  • Agar bersatu dalam kasih.

Penyatuan, persatuan dan persekutuan dapat dicapai jika ada kasih. Tuhan menekankan kesatuan di dalam kasih. Dari mana asalnya kasih? Kita menerima kasih Allah ketika kita masih berdosa dan Kristus mati bagi kita (Rm. 5:5-8).

Waspada, jika kita tidak mau bersatu dan menyatu dengan yang lain; ini berarti kita masih dalam dosa. Kita tidak memiliki kasih sekaligus mengabaikan kasih Allah yang ditandai dengan darah. Bagaimana kita menghargai Perjamuan Tuhan yang kita terima? Apakah kita memperingati kematian Yesus hingga Ia datang kembali (1 Kor. 11:26)? Allah tidak memandang rupa sebab tidak ada satu orang pun yang benar dan baik (Rm. 3:10,12) tetapi Dia tetap menginginkan kita meskipun kita dalam kondisi semacam itu; inilah bukti kasih sejati.

Jujur, kita sering tidak mau mendekati orang yang membenci kita, gengsi kita terlalu kuat untuk mengampuni dia kalau dia tidak minta ampun terlebih dahulu kepada kita. Namun Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8,16); itu sebabnya jemaat Kolose diingatkan untuk memiliki kasih-Nya supaya dapat menyatu. Ironis, sekarang hoax malah menyebar ke mana-mana memicu kebencian yang tak terkendali.

Dari tiga hal (iman, pengharapan dan kasih) yang paling besar adalah kasih karena ada pengampunan dosa. Oleh sebab itu jangan kasih yang menyatukan dirusak oleh dusta dan tipu daya orang-orang yang berusaha menyesatkan.

  • Memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian →iman

“Memperoleh kekayaan pengertian” berkaitan dengan akal budi sementara keyakinan berkenaan dengan iman.

Hendaknya kita membiasakan diri membaca ayat seutuhnya, jangan dipenggal-penggal yang dapat menimbulkan multitafsir. Misal: mencomot ayat “memperoleh segala kekaya-an” kemudian menerjemahkan orang Kristen tidak mungkin miskin sebab Yesus yang kaya menjadi miskin supaya kita menjadi kaya dan terhormat. Akhirnya kita menjadi mate-rialistis – semua diukur dengan uang lalu menghalalkan segala cara agar menjadi kaya. Penafsiran semacam ini keliru.

Maksud dari frasa “memperoleh segala kekayaan dan keyakinan iman dengan pengertian” ialah untuk memiliki iman, kita harus menggunakan pengertian/akal budi bukan sekadar terserah dan pasrah sepenuhnya. Bila kita cermati, iman Abraham ada alasan/dasarnya; demikian pula iman orang-orang Berea (orang Yahudi). Mereka percaya dan menerima Firman yang disampaikan oleh Paulus (walau berlawanan dengan doktrin mereka) setelah mereka sendiri menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah semua yang diberitakan Paulus benar (Kis. 17:11-12). Ternyata tidak cukup kerendahan hati, dibutuhkan pula akal budi untuk menemukan kebenaran yang Alkitabiah. Itu sebabnya Yesus menegaskan agar kita mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita (Mrk. 12:30).

Selain beroleh kekayaan dan keyakinan pengertian, jemaat Kolose (juga kita) mengenal rahasia Allah yaitu Kristus. Dengan kata lain, Firman Tuhan harus bersifat Kristus-sentris.

Bagaimana mengenal Kristus Yesus yang tidak pernah kita lihat dan jumpai? Ilustrasi: pemain musik piano klasik mampu memainkan lagu-lagu karangan Beethoven, Mozart dll. yang sudah meninggal berabad-abad lalu melalui partitur-partitur karangan mereka. Pemain piano juga mempelajari jiwa Beethoven agar dapat memainkan lagu sesuai dengan keinginan pengarang lagu, misal: “pp = pianissimo” suara dihasilkan dengan lembut; “f = forte”, suara dihasilkan dengan keras/nyaring. Demikian pula kita dapat mengenal (jiwa) Allah, Yesus dan Roh Kudus melalui Alkitab. Jadi, kalau seorang pendeta tidak suka membaca Alkitab, dia menyampaikan kebohongan (bukan kebenaran Firman) dan filosofi dunia. Kita sekarang membaca tulisan Paulus dalam Surat Kolose dan mene-mukan jiwanya menyerupai jiwa Tuhan. Oleh sebab itu dia berani menghimbau agar kita mengikuti teladannya karena dia mencontoh teladan Kristus Yesus (1 Kor. 4:16-17) padahal Paulus juga tidak pernah bertemu Yesus muka dengan muka sebab Yesus yang dibenci dan dianiaya olehnya sudah bangkit dari kematian.

Sungguh merupakan kasih karunia bila kita dapat menerima dan percaya kepada Tuhan sebab Ia tidak memaksa kita untuk mengasihi-Nya.

Dalam tulisan-tulisannya, Rasul Paulus tidak pernah terlepas dari tiga hal ini (iman, peng-harapan, kasih) bahkan kepada jemaat Korintus, orang kafir, dia mengatakan, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu: iman, pengharapan dan kasih dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor. 13:13)

Waspada, Petrus tidak memiliki iman akibatnya dia menyangkal Gurunya (Mrk. 14:29-30, 66-72). Dua murid Yesus pergi ke Emaus dengan muka muram sebab Yesus yang diharapkan membebaskan bangsa Israel mati disalib (Luk. 24:13,17,21). Juga jemaat Efesus kehilangan kasih semula (Why. 2:4). Oleh sebab itu jangan main-main dengan Firman Tuhan yang mem-berikan iman, pengharapan dan kasih. Sebaliknya, kita harus menjaga iman, pengharapan dan kasih yang mempersatukan. Jikalau ada masalah dalam nikah, Tuhan, Sang Pencipta nikah, merupakan konselor nikah terhebat yang dapat memberikan solusi. Namun kenyata-annya sering iman kita bukan kepada perkara di Surga tetapi sesuatu di dunia yang kita inginkan; kita mengharapkan apa yang ada di dunia dan cinta kita hanya sebatas cinta eros.

Mengapa Rasul Paulus begitu giat berjuang bagi jemaat Kolose dll.? Agar jemaat meng-antisipasi orang-orang yang berupaya memperdayakan mereka dengan kata-kata indah (Kol. 2:4). Gereja sebagai anggota Tubuh Kristus sedang menghadapi tantangan perkataan/ajaran indah tetapi menyesatkan.

Kepada siapa Rasul Paulus mengingatkan untuk waspada terhadap pengajaran yang menyesatkan?

v Jemaat Galatia (bangsa kafir) akan musuh yang giat berusaha menarik mereka (tetapi tidak dengan tulus hati) bukan untuk perkara-perkara baik agar jemaat mengikuti mereka (Gal. 4:17-18). Musuh menyusup memakai Alkitab tetapi ayatnya ditafsirkan lain yang tidak mengarah kepada Kristus.

v Para penatua di Efesus agar menjaga diri dan menjaga kawanan domba terhadap serigala-serigala ganas (dari luar) yang berusaha mencerai-beraikan juga orang-orang dalam dengan ajaran palsu untuk menarik jemaat agar mengikut mereka (Kis. 20:25-32).

Waspada, ada “pemimpin-pemimpin rohani” (pendeta, penatua, majelis, diaken dll.) yang sangat getol memengaruhi jemaat. Amati khotbah apa yang disampaikan di mimbar dan kenali jiwa Yesus yang disampaikan oleh pengkhotbah tersebut apakah selaras dengan Alkitab! Pengkhotbah yang suka disanjung dan memberitakan “Firman Tuhan” untuk me-nyenangkan telinga pendengar – tidak berpusat pada Pribadi Yesus Kristus – sesungguh-nya tidak berguna di hadapan Tuhan.

Bagaimana ciri-ciri dari ajaran palsu? Pengkhotbah memakai Alkitab sama, ayat yang sama tetapi uraiannya berbeda dengan kebenaran Alkitab. Untuk itu kita harus membaca Alkitab seutuhnya dan Alkitab ini bukan diperuntukkan hanya bagi pendeta tetapi bagi kita semua yang berdosa supaya beroleh keselamatan.

v Jemaat Kolose agar mereka tidak mudah terpedaya dengan kata-kata indah (Kol. 2:4).

Rasul Paulus berjuang berat agar jemaat Kolose ditambahkan iman, pengharapan dan kasih supaya tidak mudah terpengaruh oleh perkataan-perkataan yang melemahkan iman, tidak memberikan pengharapan Surgawi juga tidak mengacu pada kasih. Untuk itu dia bergumul dalam menasihati, mengajari dengan segala hikmat dan memimpin setiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol. 1:28-29).

Rasul Paulus tidak bergumul sendiri tetapi dia juga menyebut Epafras, hamba Kristus Yesus, yang juga selalu bergumul dalam doa bagi jemaat Kolose agar mereka tetap berdiri teguh, dewasa (rohani) dan yakin penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah (Kol. 4:12).

Aplikasi: hendaknya kita saling mendoakan agar jemaat kita (Johor-Lemah Putro) tetap berdiri teguh di atas dasar Yesus (1 Kor. 3:11) untuk tidak mudah menerima segala macam ajaran yang tidak berpusat pada Pribadi-Nya yang berusaha membuat jemaat kocar-kacir.

Hari-hari makin sukar dan manusia bertambah jahat (2 Tim. 3:1-4), marilah kita memper-tahankan iman, pengharapan dan kasih menjelang kedatangan Tuhan yang makin dekat. Jangan gampang diombang-ambingkan oleh angin pengajaran sesat yang meruntuhkan iman, menghancurkan pengharapan dan memadamkan kasih kita yang berakibat fatal bagi masa depan kita. Amin.