Hidup Dalam Kepenuhan Kristus

Hidup Dalam Kepenuhan Kristus

Pdt. Paulus Budiono, Johor, Minggu, 7 April 2019

Shalom,

Umumnya kita memulai ibadah dengan menyanyi dan memuji Tuhan namun jangan meng-anggap puji-pujian tersebut sekadar pemanasan sebelum pemberitaan Firman Tuhan. Alkitab tidak pernah mencantumkan bahwa model ibadah harus dimulai dengan puji-pujian terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pemberitaan Firman Tuhan namun yang terutama ialah kita harus yakin bahwa Firman Tuhan itu agung dan hidup. Bukankah Yesus – Sang Firman (Yoh. 1:14) juga Roti hidup (Yoh. 6:35,48) – memberikan kita kehidupan bukan hanya saat di dalam gereja tetapi juga di luar saat kita menjalani keseharian hidup?

Rasul Paulus begitu meyakini Firman Allah itu agung dan hidup; oleh sebab itu dia mengingatkan jemaat Kolose (juga kita yang membaca tulisannya sekarang), “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kol. 2:6-7)

Rasul Paulus mengulang kata-kata ‘hendaklah kamu’ hingga empat kali untuk menunjukkan ‘perintah’ yang penting dan harus dilakukan. Mengapa? Karena Rasul Paulus telah berjuang be-rat bagi jemaat Kolose agar mereka bersatu dalam kasih, beroleh segala kekayaan dan keyakin-an pengertian untuk mengenal Kristus supaya tidak ada orang memperdayakan/menyesatkan mereka dengan kata-kata indah (Kol. 2:1-4).

Rasul Paulus menulis surat ± tahun 62M dan dikirim ke jemaat Kolose. Mereka pasti membaca dan menghargai gulungan surat tersebut dan menyimpannya bukan untuk dikoleksi tetapi tetap dibaca bersama saat beribadah di sinagoge karena waktu itu belum ada surat-surat lain. Bila sampai detik ini kita masih dapat membaca Surat Kolose, kita juga harus suka membacanya karena mengandung banyak hikmat dan pengertian.

Kata “karena itu” merupakan kata penghubung untuk menandai suatu alasan/sebab. Mengapa jemaat Kolose (juga kita) harus tetap di dalam Dia? Alasannya ialah karena mereka (juga kita) telah menerima Kristus Yesus. Perlu diketahui, jemaat Kolose (juga kita) adalah bangsa kafir yang sebelumnya tidak mengenal Yesus sama sekali. Zaman dahulu agama Kristen sangat diben-ci bahkan orang-orang Yahudi ingin membunuh Rasul Paulus yang memberitakan Injil Kristus (Kis. 21:27-28,31; 23:12).

Surat Kolose telah dibaca oleh jemaat silih berganti yang berlangsung ribuan tahun dan dika-nonisasi pada abad 3-4 menjadi Firman Allah. Kita harus sungguh-sungguh membacanya karena filosofi-filosofi di luar Alkitab mudah menawan bahkan menyesatkan kita.

Apa itu filosofi (philosophy)? Philo = cinta; Sophos = kebijaksanaan, hikmat. Filosofi artinya mencintai hikmat. Hikmat lebih berharga daripada permata (Ams. 8:11); itu sebabnya kita harus mengejar dan mencintai hikmat. Dunia mempunyai filosofi/filsafat sendiri-sendiri, misal: filosofi Kong Hu Cu, filosofi Socrates dll. Apakah Alkitab juga termasuk filosofi? Jangan menggeser kekuatan Alkitab dengan filosofi-filosofi dunia karena Alkitab adalah Firman Allah.

Rasul Paulus mengingatkan kita, bangsa kafir, untuk tidak puas diri setelah menerima kesela-matan dari Kristus Yesus. Tindakan apa selanjutnya yang harus kita lakukan?

  • Hidup (walk = berjalan) tetap di dalam Kristus sebab di dalam Dia tersembunyi segala hikmat dan pengetahuan supaya kita tidak diperdaya oleh kata-kata yang manis (Kol. 2:3-4). Kita harus hati-hati terhadap orang yang berusaha menawan kita dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun (adat istiadat) dan roh-roh dunia (ay. 8).

Kata-kata manis ini dapat berbentuk tulisan maupun oral yang cepat menjadi viral di medsos. Keaslian Alkitab diserang oleh filsafat-filsafat dunia dari segala penjuru karena masing-masing suku bangsa mempunyai filsafatnya sendiri. Akibatnya, banyak orang tidak lagi suka membaca Alkitab tetapi memilih membaca tulisan-tulisan lebih hebat dan menarik yang ditu-lis oleh orang terkenal serta berpengalaman.

Rasul Paulus harus berjuang berat meyakinkan jemaat Kolose (juga kita) untuk memercayai Firman Allah karena Alkitab bukan sekadar inspirasi dari seorang negarawan, rohaniwan dll. tetapi merupakan pengalaman hidup yang memerlukan pertaruhan nyawa untuk dapat me-nerima Yesus. Paulus tahu banyak orang mencoba memengaruhi iman orang-orang percaya. Bukankah manusia pertama, Adam-Hawa, menolak Firman Allah dan lebih menerima omong-an ular? Sejak itu manusia tenggelam dalam pemikiran sendiri, mencari jalan sendiri dan mengolah semuanya sehingga muncul pelbagai macam filosofi.

Bila kembali ke Alkitab, kita mengetahui adanya hikmat dan pengertian di dalam Kristus yaitu: pemberitaan salib adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa tetapi bagi kita yang diselamatkan adalah kekuatan Allah (1 Kor. 1:18). Dengan tekun membaca Alkitab, kita beroleh kekuatan dari Allah, mendapat penghiburan kuat dan keselamatan yang pasti.

Hikmat mana yang kita pilih? Orang Yahudi menghendaki tanda dan orang Yunani mencari hikmat tetapi Allah akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak (ay. 19-22). Tentu kita boleh mempelajari pelbagai pengetahuan tetapi jangan kemudian mengabaikan Alkitab. Sering terjadi siswa teologi lulusan S1 masih sungguh-sungguh berpegang pada keutuhan Alkitab, S2 mulai memperdalam sesuai dengan kebutuh-an yang diinginkan oleh jurusannya, S3 sama sekali tidak membaca Alkitab tetapi lebih banyak menggunakan logikanya. Contoh: Rasul Paulus adalah ahli pikir, orang Farisi yang kolot, murid dari guru Gamaliel ternama tetapi sangat membenci Yesus sebelum mengenal-Nya.

Aplikasi: hendaknya kita mencintai Firman Allah seumur hidup. Jangan mengultuskan khot-bah seorang pendeta karena ini berarti kita belum bertemu Yesus.

Kenyataannya, pemberitaan Firman salib Kristus merupakan batu sandungan bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan bagi bangsa kafir (ay. 23). Dengan kata lain, orang-orang yang tidak mengenal Tuhan lebih tertarik pada filosofi dunia yang tampak sangat bagus dan nyata. Misal: bagi pemeluk filosofi Kong Hu Cu, mereka dapat melihat patung-patung yang diba-ngun di mana-mana, Institut Kong Hu Cu didirikan untuk mempelajari filosofinya dst. Ironis, banyak gereja malah ditutup karena tidak lagi memiliki jemaat; bahkan gereja yang dibangun ribuan tahun di Turki dijual dan akan dijadikan masjid.

Namun bagi kita (orang Yahudi maupun orang kafir) yang dipanggil, Kristus adalah kekuatan Allah (ay. 24-25). Sesungguhnya, tidak ada kitab-kitab lain dikanonkan seperti Alkitab yang terdiri dari 66 Kitab setelah melalui perjuangan, perbantahan, kritikan dll. Jelas, Alkitab ini berbobot kuat karena Firman Allah!

Bagaimana dapat berjalan bersama Tuhan seperti dialami oleh Henokh (Kej. 5:22) dan Nuh (Kej. 6:9)? Kitab Amos 3:3 mengatakan “Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka belum berjanji?”

Dibutuhkan komitmen untuk berjalan bersama Tuhan walau menghadapi tantangan, bujukan dan apa pun yang ditawarkan oleh dunia! Harus diakui, berjalan bersama Tuhan dipenuhi dengan sukacita sekaligus ratap tangisan! Ia membimbing kita ke lembah kebenaran berpa-dang rumput hijau dan berair tenang namun juga melalui lembah kekelaman penuh air mata karena ancaman kematian tetapi tongkat dan gada-Nya tetap menghibur kita (Mzm. 23:2-4). Masihkah kita tetap mau berjalan bersama Dia untuk dibimbing ke jalan benar sekaligus digembleng melalui jalan salib? Namun jangan khawatir, Yesus (Gembala yang baik) telah lebih dahulu melaluinya bahkan rela mati supaya domba-domba-Nya tidak takut mati. Kita harus melalui kematian lebih dahulu untuk mengalami kebangkitan dan hidup bersama-Nya seumur hidup.

  • Harus berakar di dalam Kristus dan dibangun di atas Dia. Kita harus menyatu dengan pokok akar (Kristus) agar kuat menghadapi angin, hujan dan panas teriknya matahari yang menyengat. Yesus memberikan perumpamaan benih ditabur di tanah berbatu-batu yang tumbuh sebentar tetapi begitu terkena sinar matahari layulah dia karena tidak berakar (Mat. 13:5-6). Juga benih yang tumbuh di semak duri menjadi mati karena terimpit dengan besar-nya semak duri (ay. 7).

Introspeksi: masihkah kita mampu memuji Tuhan saat menghadapi ujian masalah yang he-bat? Sudahkah kita berakar kuat di dalam Dia?

Bagaimana kita dapat berakar di dalam kristus? Dengan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan keselamatan dan kekuatan kita seperti telah dijanjikan kepada bangsa Israel melalui Nabi Hosea. Jika mereka bertobat dan mengaku bahwa keselamatan hanya ada di dalam Tuhan, Ia akan memulihkan mereka dari penyelewengan dan mengasihi mereka dengan sukarela. Ia akan seperti embun bagi Israel, berbunga seperti bunga bakung, menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar, ranting-rantingnya akan merambak semarak seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti di Libanon. Bangsa Israel akan kembali berdiam dalam naungan-Nya. Siapa bijak biarlah ia memahami semua ini sebab jalan-jalan Tuhan adalah lurus dan ditem-puh oleh orang-orang benar tetapi pemberontak akan tergelincir (Hos. 14:3-9).

Selain berakar di dalam Kristus, kita harus dibangun di atas-Nya. Kita dibangun menjadi rumah Allah di mana di dalamnya ada Mazbah Kurban Bakaran → pengampunan; Bejana Pembasuhan → pembaruan hidup; Meja Roti Sajian → Firman Tuhan; Kandil Emas → penuh Roh Kudus; Mazbah Pembakaran Ukupan → kehidupan doa dan Tabut Perjanjian → persekutuan kita dengan Mempelai Pria Surga.

Yesus adalah dasar yang kuat dan kukuh dan kita dibangun di atas Dia menjadi rumah Allah yang tersusun rapi menjadi bait Allah yang kudus (Ef. 2:19-21).

  • Harus bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepada kita. Iman timbul dari pendengaran Firman Kristus (Rm. 10:17) melalui sebuah ajaran. Kalau diajarkan, kita harus serius mendengarkan dan memakai otak. Bukankah kita belajar di sekolah mengguna-kan otak untuk berpikir dalam menyerap pelajaran? Contoh: saat berada di Tesalonika, Rasul Paulus masuk ke rumah ibadat dan memberitakan Mesias itulah Yesus yang mati dan bang-kit. Sejumlah besar orang Yunani menjadi percaya tetapi orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan berusaha menangkap Paulus. Berbeda dengan orang-orang Yahudi di Berea. Mereka de-ngan rela hati dapat menerima Firman (sama) yang diberitakan oleh Paulus setelah menye-lidiki Kitab Suci untuk dicocokkan kebenarannya (Kis. 17:1-12).

Implikasi: diperlukan kerendahan hati untuk dapat mengerti Firman Tuhan juga otak untuk menyelidiki kebenarannya. Waspada, jangan mengeraskan hati saat mendengar Firman Allah karena sikap seperti ini merugikan diri sendiri, hidup kita tidak akan pernah mengalami keubahan.

Pemazmur menegaskan bahwa Firman Allah tetap teguh di Surga (Mzm. 119:89) dan Firman yang kita dengar makin bertambah teguh bila kita tekun membaca Alkitab. Oleh sebab itu jangan pernah meragukan kebenaran Alkitab!  

Aplikasi: kita akan beriman kuat bila kita tekun mempelajari Alkitab dan mengimani Firman Allah. Dan Firman Allah menjadi manusia yang memberikan diri mati bagi kita namun Ia bangkit dan menyatakan diri, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yoh. 14:6)  

  • Hati harus melimpah dengan syukur.

Yesus berkurban dengan mencurahkan darah-Nya untuk menyucikan hati nurani kita (Ibr. 9: 14). Rasul Paulus mengalaminya berkaitan dengan hati. Jika sebelumnya dia adalah orang Farisi dan ahli Taurat yang bangga dapat melakukan hukum agama tanpa cacat cela tetapi begitu bertemu Yesus, dia berubah total dan mengaku orang paling berdosa (Flp. 3:4-8; 1 Tim. 1:12-15). Ia penuh dengan ucapan syukur atas kasih karunia Allah yang berlaku baginya.

Aplikasi: kita tidak boleh sombong jika kita rajin ke gereja dan sibuk dalam pelayanan. Kerajinan dan ‘kesetiaan’ ini merupakan ukuran gereja dan organisasi tetapi ukuran Tuhan lain. Ia melihat hati kita apakah sudah dikuduskan dan rindu senantiasa disucikan? Kita harus menjaga hati dengan penuh kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams. 4: 23). Mengapa hati perlu dijaga? Sebab dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat yang menajiskan orang (Mat. 15: 19-20). Itu sebabnya hati perlu dikuduskan oleh darah Anak Domba Allah kemudian diisi de-ngan Firman seperti kata Daud, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu (Your Word = Firman-Mu) supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” (Mzm. 119:11)

Hati yang diubahkan akan berdampak sukacita besar dan ucapan syukur yang tidak dapat dibendung. Ucapan syukur bukan karena keberkatan jasmani dan kesembuhan dari pelbagai penyakit tetapi karena penyucian hati yang dapat dikerjakan hanya oleh darah Yesus. Sayang, pengajaran salib ini menjadi kebodohan bagi orang Yunani dan batu sandungan bagi orang Yahudi tetapi tidak berlaku bagi Paulus (orang Yahudi) yang mengalami keubahan dari hati yang begitu kejam (setuju melihat Stefanus mati dibunuh; Kis. 8:1) menjadi rendah hati dan bercucuran air mata siang malam selama tiga tahun ketika mendengar jemaat di Efesus diganggu oleh orang dalam dan luar (Kis. 20:31). Hati-hati bagi Hamba Tuhan, jangan mena-ngis supaya Tuhan mengirim banyak jiwa namun setelah gereja berkembang dan berkat turun melimpah kemudian tidak perlu lagi menangis karena sudah cukup semuanya! Mana yang dipilih, kita bersyukur karena kelimpahan berkat atau karena dosa kita telah diampuni?

Kita tidak boleh puas diri setelah diselamatkan oleh Yesus Kristus tetapi harus tetap hidup ber-jalan di dalam Dia, berakar di dalam Dia dan bertumbuh di atas-Nya, bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan serta hati melimpah dengan syukur. Dengan demikian kita tidak mudah digoyahkan dengan filsafat-filsafat dunia yang mau menyesatkan supaya kita tidak mencapai tujuan akhir hidup bersama Dia selamanya. Amin.