Mengenal Pikiran & Perasaan Kristus yang Sejati

MENGENAL PIKIRAN DAN PERASAAN KRISTUS YANG SEJATI

Lemah Putro, Minggu 6 Oktober 2019
Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Ketika beribadah kepada Tuhan, bersediakah kita melepaskan semua atribut kedudukan dan pangkat yang kita miliki (pemimpin perusahaan, ketua organisasi dll.) untuk memiliki hati hamba yang dicari oleh-Nya? Ia tidak melihat rupa dan harta tetapi hati kita untuk beroleh kekuatan kasih-Nya yang mampu memulihkan hidup kita.

Kita telah mempelajari bahwa Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus saat ia dipenjara. Meskipun hidup serba dalam keterbatasan karena diborgol, Rasul Paulus pantang menyerah dan tidak putus asa. Sebaliknya, dia bersukacita dalam iman dan yakin masih harus hidup di dunia untuk memberi buah (Flp. 1:22). Bagaimana perasaan dan respons kita (yang hidup di alam bebas) terhadap tulisannya? Tentu nasihatnya tidak selalu mudah untuk diterapkan seperti pesannya dalam Filipi 2:5-11, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Jujur begitu mudah dan nyaringnya kita menyanyikan lagu “Hati Hamba” tetapi mampukah kita mempraktikkannya dalam keseharian hidup? Kenalkah kita akan Kristus Yesus yang mana pikiran dan perasaan-Nya menjadi teladan dan panutan kita? Dia adalah Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan (Why. 17:14; 19:16). Logikanya, jika kita tidak mengenal seseorang dengan baik, kita tidak akan mudah mengiyakan ide, usulan dan perkataannya. Ilustrasi: untuk membuat tesis maupun desertasi, mahasiswa menggunakan banyak buku referensi tulisan profesor, doktor dan orang-orang hebat lainnya karena ide/pikiran dan penemuan mereka yang brilian dan layak dikagumi. Terlebih bila kita mencontoh dan mengopi pikiran dan perasaan Kristus yang sempurna dan sejati!

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus (juga kita) sebagai (calon) Mempelai Perempuan Tuhan agar tetap setia kepada Kristus sejati sebab ada yesus lain, roh yang lain juga injil lain yang berusaha menyesatkan mereka juga kita (2 Kor. 11:3-4). Kenyataannya, kita tidak pernah mengenal Pribadi Yesus secara fisik, kita juga tidak hidup di Palestina; kita mengenal Dia melalui pemberitaan Firman dan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar. Itu sebabnya kita harus hati-hati terhadap pemberitaan yang kita dengar dikhawatirkan karena adanya pengajaran-pengajaran yang menyesatkan.

Dalam pola Tabernakel, Surat Filipi terkena pada Kandil Emas. Untuk menghasilkan Kandil emas yang bercahaya terang, ahli pembuat pelita membakar emas murni kemudian membentuknya sesuai dengan model yang diperlukan. Waktu untuk menyelesaikan seluruh perabot Tabernakel hanya 6 bulan setelah itu Tabernakel didirikan. Kandil Emas tidak ada fungsinya jika pelitanya tidak menyala menerangi kegelapan ruang di sekitarnya. Oleh sebab itu jemaat Efesus mendapat teguran keras karena telah meninggalkan kasih semula (tidak menyala) dan terancam akan diambil kaki diannya dari tempatnya jika mereka tidak bertobat (Why. 2:4-5).

Introspeksi: sudahkah kehidupan kita memancarkan sinar kasih Kristus untuk dapat dilihat oleh orang-orang di sekitar kita?

Otak pikiran Saulus/Paulus dipenuhi dengan Kitab Perjanjian Lama menjadikannya orang Parisi yang sangat fanatik. Namun setelah perjumpaannya dengan Yesus (yang teraniaya), dia bertobat dan pikirannya terbuka – seluruh Perjanjian Lama penuh dengan kehidupan Kristus Yesus dengan segala pikiran dan perasaan-Nya. Itu sebabnya dia berani menganjurkan agar kita mempunyai pikiran dan perasaan Kristus. Tentu kita tetap menggunakan pikiran dan perasaan kita sendiri tetapi sejauh mana pikiran dan perasaan kita mengendalikan kita ketimbang memakai pikiran dan rancangan Tuhan yang sempurna? Contoh: Euodia dan Sintikhe dinasihati untuk sehati sepikir dalam Tuhan karena mereka menggunakan pikiran dan perasaan mereka sendiri mengakibatkan perselisihan dan perpecahan padahal mereka berdua sama-sama pejuang dalam pekabaran Injil (Flp. 4:2-3).

Apakah dengan menaruh pikiran orang lain ke dalam pikiran kita kemudian kita akan kehilangan harga diri? Pemberita Firman Tuhan boleh mengagumi pengkhotbah hebat kaliber (inter)nasional tetapi tidak boleh meng-copy-paste khotbahnya, cara dan gaya bicaranya dst. sebab mereka manusia biasa penuh kelemahan dan kekurangan. Jauh berbeda jika kita menaruh pikiran dan perasaan Yesus – Sang Firman – dalam kita. Firman Tuhan akan menyatakan hal-hal yang menjadi bagian kita untuk kita lakukan sementara yang rahasia tersembunyi itu menjadi bagian-Nya (Ul. 29:29).

Kita mempelajari lebih jauh siapa sosok Kristus Yesus yang tertulis dalam Filipi 2:5-11, yaitu:

  • Ia serupa dengan Allah.

Di awal penciptaan, Allah Tritunggal menciptakan manusia menurut gambar dan rupa mereka (Kej. 1:26). Yesus sebagai salah satu Pribadi dari Allah Tritunggal ikut merancang dan menciptakan segala sesuatu termasuk manusia sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia dan bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Juga pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1).

Yesus walau dalam rupa Allah tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah tetapi rela turun ke dunia menjadi Manusia (tak berdosa) untuk mati disalib. Kondisi-Nya begitu buruk dan dihindari orang padahal semua itu diderita-Nya demi manusia berdosa (Yes. 53:2-5). Bagaimanapun juga, Ia adalah Allah. Jadi, tidaklah salah bila kita menyerahkan pikiran dan pikiran kita untuk dikuasai oleh pikiran Allah, Sang Pencipta.

Perhatikan, walau Yesus setara dengan Allah, ini tidak berarti ada dua pimpinan yang saling bersaing. Allah dan Yesus sama derajat-Nya tetapi beda peran. Allah Tritunggal mempunyai rencana dan Yesus – Sang Firman – tanpa berbantah-bantah mengambil sikap turun ke bumi menjadi Manusia untuk tugas penyelamatan manusia berdosa. Dalam hal ini, Yesus menjadi teladan sempurna dalam kerendahan hati mau mengalah bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri.

Yesus mengakui, “…Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya sebab apa yang dikerjakan Bapa itu juga yang dikerjakan Anak.” (Yoh. 5:19) Lebih lanjut Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Bapa, kata-Nya, “…..Bapa telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu yaitu bahwa mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” (Yoh. 17:1-3) Dan Yesus telah menuntaskan tugas-Nya di kayu salib dengan mengatakan, “Sudah selesai.” (Yoh. 19:30)

Jangan salah mengartikan Yesus, Allah Anak, lebih kecil/rendah derajat-Nya daripada Allah Bapa seperti dipercayai oleh beberapa gereja. Yesus dalam posisi-Nya sebagai Manusia mengalah bukan berarti Ia kalah tetapi Ia mengalah untuk menang. Buktinya, Ia sangat ditinggikan oleh Allah Bapa dan dikaruniakan Nama di atas segala nama.

Hendaknya kita mengikuti pikiran dan perasaan Yesus seutuhnya karena Firman Allah tidak dapat dipisah-pisahkan. Walau Alkitab terdiri dari 66 kitab (39 Kitab Perjanjian Lama dan 27 Kitab Perjanjian baru), semua disusun dan dikanonisasi hingga saling terkait satu sama lain.

Aplikasi: kita mengikuti Yesus bukan hanya karena Dia Juru Selamat dan tangan-Nya memiliki kuasa mengadakan mukjizat tetapi juga bersedia mengikuti kaki-Nya menuju jalan salib.

  • Ia mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba. Hamba di zaman dahulu tidak mempunyai hak sama sekali kecuali menunaikan kewajiban terhadap majikannya. Beda dengan hamba zaman sekarang yang banyak melakukan demo untuk menuntut hak yang terkadang kebablasan.

Yesus mengingatkan, “…barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah dia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:26-28)

Ia menegur para murid-Nya yang bertengkar karena memperebutkan tempat di Kerajaan-Nya (ay. 21-24). Bahkan seorang hamba tidak perlu menuntut (upah, penghargaan) setelah menyelesaikan tugas di ladang kemudian segera makan begitu tiba di rumah; sebaliknya, ia harus mempersiapkan makanan bagi tuannya (Luk. 17:7-10).

Introspeksi: bersediakah hamba Tuhan yang sudah terkenal dan hidup dalam kenyamanan merendahkan diri melayani seperti hamba tanpa dipaksa? Jujur, bukankah kita sering bekerja/pelayanan sedikit tetapi menuntut banyak berkat dari-Nya?

Yesus rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan kita dan Ia meminta kita menjadi hamba-Nya untuk menyaksikan kepada orang lain keselamatan yang telah kita terima dari-Nya. Jangan menjadi hamba yang jahat, malas dan suka berkelahi dalam pelayanan! Ingat, kita melayani Tuhan bukan melayani manusia. Jika kita tidak setia dalam pelayanan, ini bukan urusan gereja tetapi kita berhadapan dengan Tuan kita itulah Tuhan.

Allah Bapa mengakui Anak-Nya, “Lihat, itu Hamba-Ku yang Kupegang, Orang pilihan-Ku yang kepada-Nya Aku berkenan. Aku akan menaruh Roh-Ku ke atas-Nya supaya Ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suara-Nya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan dipatahkannya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya tetapi dengan setia Ia akan menyatakan hukum.” (Yes. 42:1-3)

Marilah kita memperkenalkan bangsa Indonesia kepada Bapa Surgawi dan berharap kepada-Nya. Untuk mengenal Allah kita harus mengenal Yesus, Anak-Nya (Yoh. 8:19).

Dunia menantikan gereja Tuhan yang memiliki sifat hamba dengan tidak hitung-hitungan terhadap waktu dan bentuk pelayanan sampai masuk ke Yerusalem baru. Kalau mau menjadi raja di Yerusalem baru (Why. 22;1-5), kita harus bersedia menjadi hamba lebih dahulu. Perhatikan, posisi sebagai hamba hanya bersifat sementara tetapi menjadi raja untuk selama-lamanya.

  • Yesus – Sang Firman – menjadi sama dengan manusia. Bukankah Adam-Hawa diciptakan menurut rupa dan gambar Allah Tritunggal? Jadi (manusia) Yesus dan Adam sama; itu sebabnya Yesus disebut Adam yang terakhir (1 Kor. 15:45). Injil Yohanes 1:14 menuliskan Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.

Apa tujuan Allah menciptakan manusia? Untuk berkuasa mengatur dan mengelola jagat raya dan isinya (Kej. 1:26-28).

Sayang, Adam pertama gagal total dan kita keturunannya tidak ada yang baik dan benar sebab semuanya berdosa (Rm. 3:10,12,23). Oleh sebab itu diperlukan Adam terakhir yang tidak pernah gagal walau Dia sama seperti Adam pertama mengalami kematian. Dunia yang hancur ini dikuasai oleh Iblis (Mat. 3:8) dan akan dipulihkan oleh Adam terakhir. Bila kita percaya kepada Yesus Kristus, Anak Allah, (iman) kita dapat mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:1-5).

Introspeksi: sudahkah kehidupan kita yang penuh dosa dipulihkan untuk mengalami keubahan hidup di dalam Tuhan untuk mampu mengalahkan daya tarik dunia?

Hanya Tuhan yang dapat mengukur iman seseorang dan pertumbuhan iman terlihat dari tutur kata, sikap dan tindak tanduknya. Iman kanak-kanak ditandai dengan tidak adanya tanggung jawab, misal: melayani Tuhan jika in the mood; iman setengah-setengah ditandai dengan tidak serius melayani Dia dengan mengemukakan banyaknya alasan dst. Rasul Paulus meninggalkan sifat kanak-kanak (perkataan dan pikiran kanak-kanak) setelah ia menjadi dewasa (1 Kor. 13:11).

Tuhan mau kita dewasa rohani untuk dapat menguasai dunia yang akan datang bukan dunia sekarang yang sedang lenyap ini (1 Yoh. 2:17) dan akan hancur dan hangus oleh api yang hebat (2 Ptr. 3:10). Sekarang kita menantikan langit dan bumi baru di mana penghuninya adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Allah melalui Yesus.

Yesus memberikan teladan sempurna dengan merendahkan diri-Nya dan taat hingga mati disalib. Bagaimana dengan pelayanan kita? Harus diakui kita mau bekerja melayani tetapi tidak mau “mati”. Rasul Paulus ingin merasakan penderitaan Kristus dan belajar bagaimana mengalami kematian dan kebangkitan-Nya. Memang ini sangat sulit tetapi salib adalah satu-satunya jalan untuk mengalami pemulihan hidup. Di atas salib Yesus ditelanjangi dan dipermalukan habis-habisan. Jika kita mau memakai pikiran Yesus, kita harus siap "ditelanjangi‟, dicemooh, difitnah tanpa membalas.

Sungguh kita patut berbahagia mengenal Yesus Kristus dan memiliki pikiran dan perasaan-Nya sehingga hidup kita diubahkan menjadi serupa dengan-Nya untuk satu kali kelak hidup bersama Dia selamanya di Yerusalem baru. Amin.

 

Video ibadah ini dapat Anda lihat di sini Ibadah Umum - 06 Oktober 2019 - Pdt. Paulus Budiono.