Tetap Taat Sampai Akhir Hayat

TETAP TAAT SAMPAI AKHIR HAYAT

Lemah Putro, Minggu, 13 Oktober 2019
Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Kita tidak perlu cengeng ketika melantunkan lagu-lagu rohani tetapi hati tidak akan dapat menahan haru dan air mata akan menetes ketika kita mengingat kasih Yesus Kristus yang luar biasa kepada kita. Sudahkah kita mengenal pikiran dan perasaan-Nya yang sejati? Kita harus yakin bahwa Alkitab yang ditulis oleh orang-orang yang dipakai Tuhan dan diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa adalah Firman Tuhan seutuhnya. Kita harus makin mencintai Firman-Nya dan mempraktikkannya dalam keseharian hidup. Dengan tekun membaca Alkitab, pikiran dan perasaan Yesus yang sempurna akan makin mendominasi pikiran dan perasaan kita yang dangkal membuat kita makin bertumbuh hingga tingkat tertentu menjadi seperti Dia. Contoh: walau Rasul Paulus dipenjara sebagai narapidana, pikiran dan perasaan yang tertuang dalam tulisannya sangat jelas dikuasai oleh pikiran dan perasaan Kristus.

Bagaimana kita dapat berpikiran dan berperasaan seperti yang ada pada Kristus? Rasul Paulus mengingatkan, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar; bukan saja seperti waktu aku masih hadir tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Flp. 2:12-13)

Memang jemaat Filipi cukup setia tetapi Rasul Paulus mengharapkan tingkat kesetiaan mereka makin meningkat ketika dia tidak ada bersama mereka.

Aplikasi: hendaknya kita tidak mudah terpengaruh oleh figur hamba Tuhan. Jika kita mengagumi hamba Tuhan tertentu, kita akan setia beribadah, berkurban dll. karena kehadirannya; ini bukan kesetiaan sejati.

Rasul Paulus taat hingga akhir hayat sebab dia mempunyai pengalaman indah bersama Kristus. Hati dan pikirannya telah dikuasai oleh pikiran dan perasaan Kristus hingga dia mampu menyerahkan nyawa dengan penuh sukacita. Dia mengalami bagaimana darah Yesus tercurah untuk menyucikannya; itu sebabnya dia juga siap berkurban darah seperti diungkapkan dalam tulisannya,“Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.” (Flp. 2:17-18)

Apa nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Filipi (juga kita) melalui tulisannya tentang ketaatan?

1. Supaya kita tetap taat kepada Firman Tuhan → Meja Roti Sajian

Jangan kita taat kepada Firman Tuhan oleh sebab dorongan/paksaan dari orang lain.

Tentu kita harus taat/tunduk kepada Tuhan tetapi Ia memercayakan para hamba Tuhan – penginjil, gembala, penatua dll. – yang memberitakan Firman-Nya untuk membimbing jemaat. Dengan kata lain, bila kita taat kepada Tuhan, kita buktikan dengan taat kepada pemimpin-pemimpin rohani kita. Ibrani 13:7,17 menegaskan, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka…..Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.”

Rasul Paulus tidak segan-segan mengingatkan kita untuk taat dan tunduk kepada pemimpin-pemimpin rohani kita. Bahkan kesetiaan kita perlu ditingkatkan sebab adanya ajaran-ajaran asing yang berusaha menyesatkan (Ibr. 13:9a) dan menggoncangkan iman kita.

Waspada, jangan kita berjinak-jinak dan sabar terhadap ajaran-ajaran sembarangan sebab ada orang memberitakan Yesus yang lain, roh yang lain dan Injil lain (2 Kor. 11:4).

Kita patut mengingat pemimpin-pemimpin rohani yang telah menyampaikan Firman Allah sejati walau mereka dapat berlalu karena dipanggil Tuhan tetapi Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya (1 Ptr. 1:25).

2. Supaya kita tetap taat melakukan Firman Tuhan → Kandil Emas

Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut (complain, murmur = mengeluh, mengomel) dan berbantah-bantahan (dispute = perselisihan, percekcokan) supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia sambil berpegang pada firman kehidupan agar aku dapat bermegah pada hari Kristus,” (Flp. 2:14-16a)

Hendaknya kita tetap berpikiran dan berperasaan Kristus yang tidak pernah berubah. Tampak Rasul Paulus mengoreksi jemaat Filipi yang memang taat, setia dan suka berkurban (Flp. 4:14-16) tetapi ada sungutan dan perbantahan yang menyebabkan aib dan noda sehingga tidak dapat bercahaya terang di tengah kegelapan dunia.

Introspeksi: kita rajin mengikuti ibadah raya hari Minggu, ibadah doa, pendalaman Alkitab dll. tetapi sudahkan kita melakukan Firman Tuhan yang telah banyak kita dengar?

Rasul Paulus yang berotak Farisi penuh dengan peraturan Taurat pasti fasih berkhotbah tetapi setelah menerima Yesus dan bertobat, hidupnya diperbarui dan tulisan demi tulisannya memberikan dorongan agar kita tidak hanya menaati Firman Tuhan (Meja Roti Sajian) tetapi juga melakukannya tanpa sungutan sehingga kita bercahaya seperti bintang di tengah-tengah angkatan yang bengkok hati → Kandil Emas yang menerangi kegelapan di Tempat Kudus dan sekitarnya. Dengan demikian, kita diberkati untuk menjadi berkat.

Bagaimana kita dapat menjadi terang dan berkat bagi orang lain? Kita melakukan Firman Tuhan tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantah karena dua hal ini membuat aib dan noda bagi pelayanan kita. Tantangan dan rintangan pasti ada tetapi kita harus tetap bertujuan menjadi bintang terang di tengah kegelapan dunia.

Alkitab memberikan beberapa contoh konsekuensi dari perilaku yang suka bersungut-sungut dan berbantah-bantah, antara lain:

  • Bangsa Israel baru saja mengalami mukjizat Allah yaitu menyeberangi Laut Terebau yang terbelah sehingga mereka terlepas dari pengejaran Firaun dan seluruh pasukannya (Kel. 14:15-31). Namun tak lama kemudian mereka bersungut-sungut menghadapi air pahit di Mara (Kel. 15:22-25). Demikian pula ketika tidak ada makanan, mereka bersungut-sungut lagi (Kel. 16:2-3). Dalam sungutannya, mereka selalu ingat dan ingin kembali ke Mesir. Waspada, persoalan makan, minum, pakai jangan menjadi alasan bagi kita untuk bersungut-sungut apalagi bertengkar karena tanpa sadar hati kita ingin kembali kepada pola kehidupan lama. Kenyataannya, banyak hamba Tuhan bertengkar bukan karena perkara yang substantif tetapi berkaitan dengan kedudukan dan aset gereja.
  • Rasul Paulus (Perjanjian Baru) menyitir sungutan bangsa Israel (Perjanjian Lama) untuk menjadi peringatan bagi kita sekarang agar kita terhindar dari hukuman kebinasaan oleh malaikat maut (1 Kor. 10:1-10).
    Tidak ada cara lain kecuali kita senantiasa disucikan oleh darah Yesus sebab begitu kita tergoda dan terdesak untuk mengomel dan bertengkar, Iblis cepat menuduh kita lagi. Misal: pertengkaran merupakan aib/noda, kalau suami/istri tidak segera menyadari hal ini dan minta ampun kepada Tuhan, suami/istri telah ternoda dan ini akan merembet menodai kemurnian hati dan pikiran pasangan hidupnya berakibat nikahnya ternoda.

Ternyata ada dua macam hati yang dimiliki oleh manusia: hati yang bengkok dan hati tanpa cacat cela. Kondisi “bengkok” hanya dapat ditolong oleh ketaatan kepada Firman Allah. Namun kita diminta tidak hanya taat tetapi meningkatkannya hingga menjadi seperti bintang. Bintang macam apa yang diinginkan oleh Tuhan? Apakah bintang pelajar, bintang film, bintang sinetron, bintang tamu dst. yang bertaburan di dunia ini? Atau kita percaya pada bintang horoskop (Aries, Virgo, Leo dst.) dan shio (monyet, babi, tikus dll.)?

Alkitab memberikan contoh tiga pribadi (Kain, Bileam, Korah) yang hidupnya bagaikan ombak laut ganas membuihkan keaiban juga bagaikan bintang-bintang beredar-edar yang berakhir masuk ke dalam lubang hitam/dunia kekelaman (Yud. 1:13). Nabi palsu Bileam bermaksud mengutuk bangsa Israel tetapi ternyata malah memberkati mereka hingga empat kali (Bil. 23-24). Terbukti Tuhan dapat memakai orang jahat dan licik tetapi kalau mereka tidak bertobat, kebinasaan telah menanti.

Mengapa Rasul Paulus meminta jemaat Filipi (juga kita) menjadi bintang-bintang bercahaya bukan bintang-bintang keliaran yang tidak mempunyai tujuan? Tampak bintang memegang peran penting sehingga dicantumkan dalam Alkitab. Di awal penciptaan, bintang diciptakan sebagai benda penerang yang menentukan waktu dan menguasai siang/malam (Kej. 1:14-16) juga penentu arah seperti dilakukan oleh nelayan-nelayan yang berada di laut bebas ketika hendak balik ke pantai. Bagaimanapun juga, benda-benda penerang ini (matahari, bulan, bintang) tidak boleh disembah walau di zaman Ayub sudah beredar ilmu perbintangan dan sampai hari ini masih banyak orang tertarik dengan ilmu ini.

Aplikasi: kita harus menjadi “bintang” terang yang memberikan arahan kepada orang yang kehilangan arah.

Siapakah bintang terang itu? Yesus adalah bintang timur yang gilang gemilang (Why. 22:16).

Kita menantikan “bintang” itu, bintang itu pernah lahir 2.000 tahun lalu dan bintang ini tetap bersinar. Rasul Petrus menasihati agar kita memerhatikan Firman nubuatan seperti memerhatikan pelita yang bercahaya di tempat gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hati (2 Pr. 1:19).

Harus diakui, kita mengalami jatuh-bangun dalam kesetiaan melakukan Firman Tuhan. Namun jangan kebiasaan-kebiasaan buruk kita menjadi alasan untuk tidak mau disucikan. Jangan mengecilkan keubahan yang Tuhan kerjakan! Rasul Paulus menjadi contoh konkrit dari kehidupan paling jahat diubahkan menjadi rendah hati.

3. Supaya kita tetap taat hingga akhir hayat → Mazbah Pembakaran Ukupan

“sambil berpegang pada firman kehidupan agar aku dapat bermegah pada hari Kristus bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.” (Flp. 2:16)

Jemaat Filipi (juga kita) diminta untuk tetap setia berpegang pada Firman kehidupan dengan sukacita tanpa bersungut-sungut hingga hari Kristus atau akhir hidup kita. Agar dapat bermegah di hari (kedatangan) Kristus, para pemimpin rohani tidak boleh santai; sebaliknya, harus bekerja keras memberikan solusi terhadap masalah, mendorong jemaat untuk taat kepada Firman. Sementara itu jemaat tidak boleh membanding-bandingkan para pemimpin rohani karena ini menunjukkan sikap tidak etis. Kita harus mencontoh teladan sempurna itulah Yesus Kristus yang tidak bercacat cela dan rela menderita untuk menyelamatkan manusia berdosa termasuk kita.

Rasul Paulus berharap dia tidak percuma dalam berlomba; untuk itu dia melupakan apa yang telah terjadi di belakang dan mengarahkan diri sambil berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah (Flp. 3:13-14). Dengan demikian, seorang olahragawan harus ketat mengikuti peraturan-peraturan. Artinya, orang Kristen perlu taat tertib apalagi para pemimpin rohani. Jujur, terkadang sakit untuk melaksanakan tata tertib tetapi di baliknya ada kebahagiaan. Jangan malah mengomel jika diberitahu adanya peraturan sebab Allah kita itu tertib dan teratur; tanpa peraturan-Nya, kita menjadi rusak tidak dapat diperbaiki. Bukankah dunia dan isinya diciptakan Allah dengan teratur hingga hari ini? Jika tidak teratur, dunia sudah lama hancur.

Lebih lanjut Rasul Paulus mengingatkan agar kita berdiri teguh tidak goyah dan giat di dalam pekerjaan Tuhan karena tidaklah sia-sia jerih lelah kita (1 Kor. 15:58). Paulus sendiri rela menyerahkan nyawa dengan penuh sukacita (Flp. 2:17-18) bagaikan Mazbah Pembakaran Ukupan sebagai persembahan terakhir untuk masuk ke dalam kemuliaan yang Tuhan sediakan.

Heran, walau harus menyerahkan nyawa Rasul Paulus tidak berdukacita; sebaliknya, malah bersukacita. Dia ingin menunjukkan ketika seorang hamba Tuhan menderita karena Kristus (bukan karena korupsi uang gereja, selingkuh dll.), jemaat bersukacita karena hamba Tuhan tersebut sedang dipermuliakan oleh-Nya. Di kesempatan lain, Rasul Paulus telah diberitahu oleh Roh Kudus bahwa ia akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa kafir. Jemaatnya menangis dan berusaha menahan dia untuk tidak pergi ke Yerusalem tetapi Paulus menegaskan dia rela mati di sana demi Nama Tuhan Yesus (Kis. 21:10-14).

Apa reaksi kita ketika kita harus menderita karena Tuhan? Ketakutan atau sukacita seperti pengalaman Rasul Paulus? Tuhan minta supaya dalam doa penyembahan ada sukacita dalam arti kita menderita karena kebenaran dan ini menimbulkan sukacita besar.

Marilah kita menggunakan waktu dan kesempatan yang Tuhan sediakan selama kita masih hidup untuk tetap menaati Firman Tuhan, melakukan/menerapkannya dalam keseharian hidup hingga akhir hayat kita dapat mempersembahkan kehidupan kita bagaikan dupa harum yang berkenan di hadapan-Nya. Amin.

 

Video ibadah ini dapat Anda lihat di Ibadah Umum - "Tetap Taat Sampai Akhir" - 13 Oktober 2019 - Pdt. Paulus Budiono

Ibadah Umum "Tetap Taat Sampai Akhir" - 13 Oktober 2019 - Pdt.Paulus Budiono