Pokok Kesaksian Hanyalah Yesus Penghapus Dosa

POKOK KESAKSIAN HANYALAH YESUS PENGHAPUS DOSA


Lemah Putro, Minggu, Februari 16, 2020
Pdm. Jusak Pundiono


Shalom,

Hendaknya puji-pujian yang kita lantunkan memberikan kekuatan sebab kita beribadah di dalam kesatuan Tubuh Kristus sehingga pujian yang kita nyanyikan diperuntukkan bagi Tuhan bukan untuk diri sendiri juga menjadi kekuatan dan semangat bagi sesama melalui ekspresi dan penampilan kita.

Bagaimana Rasul Yohanes, murid Yesus, menulis kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, Penghapus Dosa? Injil Yohanes 1:19-34 menuliskan dialog-dialog kesaksian Yohanes Pembaptis yang mengerucut menampilkan Yesus, Penghapus Dosa. Generasi dan zaman boleh berganti tetapi sampai kapan pun pokok kesaksian dari orang-orang percaya hanya satu itulah Yesus, Penghapus Dosa.

Karena itu apa yang harus diperhatikan ketika kita bersaksi?

Tidak menonjolkan siapa pun (diri sendiri atau hamba Tuhan yang dikagumi) kecuali Yesus (Yoh. 1:19-23).
“Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” (ay. 19)

Para imam dan orang Lewi merupakan kelompok/tokoh penting berkaitan dengan ibadah di Bait Suci. Mereka diutus orang-orang Yahudi yang berada di pusat ibadah (ibu kota) Yerusalem untuk menemukan Mesias. Mereka menyelidiki orang-orang atau pribadi yang menonjol berkaitan dengan ibadah.

Yohanes Pembaptis cukup menonjol dalam mengajar (mempunyai murid-murid) dan membaptis orang. Namun dia tidak mencari kesempatan untuk lebih dihormati dan makin dikenal ketika diinterviu oleh tokoh ibadah. Sesungguhnya penyebaran kesaksian terjadi hanya oleh kuasa Roh Kudus dan terbukti Yohanes tidak menonjolkan diri sendiri meskipun ada kesempatan ikut kecipratan tenar karena kenal Yesus.

Dalam kesempatan bersaksi di depan siapa pun, hendaknya kita bersaksi tidak untuk menonjolkan seorang pun kecuali Yesus sehingga:

- Kesaksian itu tidak mencuri kemuliaan Tuhan seperti diakui oleh Yohanes Pembaptis, “Aku bukan Mesias.” (ay. 20)

Yesus sendiri tidak terang-terangan menyatakan diri-Nya Mesias saat orang-orang Yahudi yang dalam kebimbangan mengelilingi Dia dan bertanya kepada-Nya untuk berterus terang apakah Ia Mesias (Yoh. 10:24). Di lain kesempatan, Yesus menyingkir ketika massa ingin menjadikan Dia Raja untuk dimuliakan setelah memberi makan 5.000 orang laki-laki (Yoh. 6:10-15).

- Kesaksian itu tidak mengultuskan hamba Tuhan (ay. 21). Yohanes Pembaptis menolak ketika disebut Elia atau nabi yang akan datang walau ia diberi kuasa Elia untuk membuat bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang durhaka kepada pikiran orang benar (Luk. 1:17). Perlu diketahui Elia termasuk nabi yang top sebab ia penuh kuasa dapat menurunkan api dari langit untuk membakar habis kurban bakaran, kayu api, bahkan air di parit (1 Raja. 18:36-38). Yohanes Pembaptis tidak mau diidentifikasikan sebagai orang lain yang terkenal sekalipun.

Ada banyak cara Tuhan membawa kita untuk mengenal-Nya antara lain melalui hamba Tuhan, orang tua, saudara dan teman tetapi kita tidak boleh mengultuskan mereka sehingga bergantung kepada mereka. Memang di awal-awal ibadah kita perlu bimbingan rohani tetapi makin lama kita harus berupaya mandiri dalam beribadah kepada Tuhan. Pengenalan kita kepada Yesus secara pribadi harus bertumbuh dan Tuhan
memberikan kita kemampuan untuk makin mengenal Dia. Perhatikan, kita bertobat bukan karena seorang hamba Tuhan tetapi Tuhan sendiri.

- Kesaksian bernadakan hidup kita diluruskan oleh Firman Allah (ay. 22-23).
Ketika didesak untuk menunjukkan jati dirinya, Yohanes Pembaptis mengutip nubuat Yesaya 40 bahwa dirinya adalah suara yang mendorong Israel menyongsong waktu penyelamatan. Untuk itu bangsa Israel (juga kita) harus bersedia diperbaiki oleh Firman Allah sehingga ada kesaksian keubahan hidup yang mana sebelumnya hidup berlekuk-lekuk tidak rata juga hidup mengejar/mengutamakan/mengandalkan kesemarakan duniawi bersifat sementara tetapi diproses oleh Firman setelah percaya Yesus (ay. 3-8).

Yohanes tidak menyebut identitasnya sama sekali tetapi merendahkan diri dengan menganggap dirinya hanyalah “suara” biasa. Ia ingin menampilkan suara yang lebih hebat dari suaranya yaitu Yesus, Firman yang menjadi manusia.

Aplikasi: hendaknya para hamba Tuhan memosisikan diri sebagai “suara” yang sama dalam memperkenalkan Yesus, Penebus dosa, apa pun penampilan dan statusnya. Ingat, setiap dari kita, tidak terbatas hanya hamba Tuhan, dapat dipakai Tuhan. Oleh sebab itu hargai setiap suara tanpa mengultuskan/mengidolakan pribadi yang memiliki suara. Misal: apakah suara pemberitaan Firman (bukan pembicaranya) telah mengerjakan kehidupan kita? Masing-masing dari kita (suami, istri, orang tua, anak dst.) mempunyai lekak-lekuk langkah hidup tidak karuan yang perlu diluruskan oleh Firman Tuhan. Juga seorang hamba Tuhan, betapa pun luar biasa dipakai oleh Tuhan, tidak tetap selama-lamanya sebab setiap orang ada masanya (semaraknya hanya temporer) tetapi Firman Tuhan kekal selamanya. Itu sebabnya jangan mengandalkan siapa pun kecuali Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia.

♦ Tidak menggembar-gemborkan kesuksesan pelayanan kita tetapi Yesus yang sudah melayani kita lebih dahulu (ay. 24-27).
Yohanes Pembaptis cukup sukses dalam pelayanan, dia membaptis banyak orang serta mempunyai murid-murid dan beberapa dari mereka menjadi murid Yesus. Banyak orang dari pelbagai kalangan datang kepadanya termasuk orang Farisi, kaum pengajar dan pelajar hukum Taurat. Orang Farisi tahu perbuatan mana yang legal/ilegal. Yohanes Pembaptis tidak menjawab pertanyaan orang Farisi tentang pelayanannya karena ia tahu legalitas pelayanannya bukan diangkat oleh manusia/pejabat agama/orang-orang pusat di Yerusalem tetapi diutus oleh Allah sendiri (Yoh. 1:6).

Aplikasi: siapa pun kita dan apa pun pelayanan kita (dilihat orang atau di belakang layar) merupakan utusan yang dipakai Tuhan di tempat/bidangnya masing-masing sehingga kita tidak perlu bersaksi menggembar-gemborkan kesuksesan pelayananan kita.

Mengapa kita tidak perlu bersaksi membesar-besarkan pelayanan?
- Karena pelayanan kita merupakan kasih karunia Allah semata (Yoh. 1:25-26a).
Kita dapat melayani bukan karena legalitas pengangkatan manusia, organisasi gereja atau karena aktif mengikuti semua kegiatan ibadah tetapi karena kita sudah mengalami kasih karunia Allah di dalam Yesus.
Jangan memakai konsep Farisi (juga dunia politik) yang bersaksi tentang pelayanan dengan tujuan ingin dilihat orang, dihormati dan dicap hebat (Mat. 23:2,5-6).

Bagaimana dengan pernyataan mantan Farisi itulah Paulus? Dia memosisikan diri paling akhir seperti anak yang lahir prematur, paling hina dan tidak layak disebut rasul sebab penganiaya jemaat Allah tetapi beroleh kasih karunia Allah (1 Kor. 15:8-11).

- Karena pelayanan kita tidak layak di hadapan Allah (ay. 26-27).
Sesungguhnya apa pun yang kita kerjakan tidak layak di hadapan-Nya. Kita menjadi pelayan Tuhan /penjabat gereja bukan hasil kita berpolitik mencari muka atau dekat dengan pemimpin gereja tetapi
diangkat oleh Allah. Oleh karena itu hendaknya kita rendah hati dan menyadari kita dahulu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, tidak mendapat bagian dalam janji Allah, tanpa pengharapan dan tanpa Allah (Ef. 2:12). Hanya oleh darah Yesus kita dekat dengan Allah (ay. 13) dan menjadi imam pelayan Tuhan (Why. 1:5-6).

Aplikasi: bila kita menerima kepercayaan Tuhan, hendaknya kita melayani dengan sungguh-sungguh sebab Yesus, Penghapus dosa, bersama kita dalam pelayanan dan melayakkan kita apa pun keadaan kita dan masa lalu kita. Kita membutuhkan kasih karunia-Nya karena pelayanan kita masih ditandai banyak kekurangan dan kesalahan agar kita tidak menjadi sombong.

♦ Tidak bisa tidak (tidak ada toleransi atau kompromi) menyaksikan Yesus, Penghapus Dosa (ay. 28-34).
Dialog kesaksian Yohanes ini terjadi di Betania di seberang Sungai Yordan, kota yang biasa saja jika dibandingkan dengan kota yang memiliki nama sama Betania yang terletak dekat Yerusalem (Yoh. 11:18). Ini menunjukkan bahwa dalam bersaksi kita tidak perlu pilih-pilih tempat (di gedung besar-di rumah kontrakan, kota-desa, dst.) tetapi saksikan Yesus dengan sepenuh hati di mana saja.

Poin/topik apa yang harus disaksikan?

- Menyaksikan Yesus sebagai Anak domba Allah Penghapus dosa dunia (ay. 29).
Yohanes berseru, “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
“Lihatlah” mengandung ajakan serius untuk diketahui dan diperhatikan sehingga semua mata tertuju kepada Yesus. Terbukti Allah telah menyediakan kurban penghapus dosa sesuai dengan standar-Nya. Di Perjanjian Lama, anak domba kurban persembahan, walau dijaga sebaik mungkin, tetap ternak hasil pemeliharaan manusia berdosa. Oleh sebab itu anak domba yang mau dikurbankan harus bersyarat tidak bercela. Anak domba Allah jauh berbeda sebab merupakan kurban persembahan dari Allah, tersimpan oleh Allah di Surga sehingga tanpa dosa. Jelas, Yesus yang tak berdosa memenuhi standar Allah untuk dikurbankan sebab kurban-kurban binatang tidak mungkin menghapus dosa (Ibr. 10:4). Ketika Yesus, Sang Firman, dari Surga masuk ke dalam dunia Allah menyediakan tubuh bagi-Nya (Ibr. 10:4). Kuasa Allah Yang Mahatinggi menaungi Maria (Luk. 1:35) dan “zigot” tubuh Yesus tersebut ditaruh Roh Kudus dalam rahim Maria (Mat. 1:20) sehingga tidak ada daging dan darah Maria di dalam diri Yesus. Maria hanya memberi asupan untuk membesarkan tubuh Yesus yang tanpa dosa itu. Inilah Anak Domba Allah, kurban penghapus dosa yang memenuhi standar Allah.

Pencobaan-pencobaan yang dilontarkan Iblis kepada Yesus justru membuktikan Ia tidak berdosa dan tidak ada dosa di dalam diri-Nya sehingga pikiran dan hati-Nya tidak terpengaruh sama sekali oleh bujukan dan rayuan Iblis seperti pernah dialami oleh Adam dan Hawa.

- Yesus telah ada sebelum kita (ay. 30).
Allah tahu apa yang terjadi di Taman Eden dan tidak kaget ketika manusia melanggar Firman-Nya (Kej. 3). Ia memilih kita sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4). Ia juga telah memilih kurban penghapus dosa, Anak-Nya sendiri sebagai Anak domba yang darahnya tak bernoda dan tak bercacat (1 Ptr. 1:18-20).

Darah Kristus berfungsi menghapus dosa dunia – dosa yang terjadi dalam sejarah dunia sejak di Taman Eden (Kej. 3:15), sejak kecil manusia sudah berdosa (Kej. 8:21-22) dan selama bumi masih ada, dosa manusia yang dilakukan (dalam hubungan nikah, keluarga, bisnis dll.) tercakup semua. Dengan kata lain, sejak manusia jatuh dalam dosa hingga hari kedatangan-Nya, semua dosa orang yang diakui kepada Yesus tercakup dan dihapus oleh darah Kristus.

Aplikasi: kita tidak boleh berputus asa karena persoalan yang kita alami sebab Yesus, Anak domba Allah Penghapus dosa dunia sudah disediakan Allah bagi kita.

- Yesus adalah Pembaptis dengan Roh (ay. 31-33).
Ketika kita percaya Yesus sebagai kurban penghapus dosa, dosa kita dihapus dan Roh Kudus membaptis kita bukan untuk menjadi eksklusif atau hebat sendiri tetapi untuk menjadi saksi Yesus (Yoh. 15:26-27). Dia akan memproses kita hingga kudus dan tak bercela di hadapan-Nya.

Aplikasi: kita bersaksi dalam kuasa Roh bagaimana Allah bekerja secara supranatural; kesaksian kita akan berbuah karena Roh Allah turut bekerja.

♦ Kita menyaksikan Yesus adalah Anak Allah (ay. 34).
Yesus, Anak Allah, menjadikan kita apa pun latar belakang kita menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13) untuk hidup dalam Nama-Nya (Yoh. 20:30-31).

Kita patut menyaksikan pekerjaan Yesus yang meluruskan kehidupan kita yang lekak-lekuk dengan Firman-Nya dan menyucikan hidup kita dengan darah-Nya sehingga kita memiliki keberanian untuk menghampiri takhta kasih karunia-Nya (Ibr. 4:16). Pokok kesaksian kita harus berfokus pada Yesus dan karya penebusan-Nya bukan pada keberhasilan kita dalam pelayanan sebab apa pun yang kita kerjakan tidak layak di hadapan-Nya jika Allah tidak memberikan kasih karunia kepada kita. Jadilah kesaksian hidup melalui tutur kata dan tindak tanduk sehingga banyak jiwa dimenangkan untuk mengenal Siapa Tuhan, Penghapus dosa dunia. Amin.

 

VIdeo selengkapnya dapat disimak di Ibadah Umum - "Pokok Kesaksian Hanyalah Yesus Penghapus Dosa" - Pdm. Jusak Pundiono.