Syarat masuk dalam Kerajaan Allah

SYARAT MASUK DALAM KERAJAAN SURGA


Lemah Putro, Minggu, 15 Maret 2020

Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Lagu-lagu yang kita nyanyikan dengan lirik kata penuh pengagungan kepada Tuhan memberikan kita semangat dan pengharapan di tengah-tengah kerisauan yang melanda dunia saat ini oleh pandemi virus Korona. Sayang, tidak semua orang mengenal Dia dan mengakui kehebatan-Nya?

Bagaimana dengan Nikodemus? Kenalkah bapak tua ini kepada pemuda Yesus? Apa yang mereka perbincangkan dalam pertemuan di malam hari? Yohanes 3:1-2 menuliskan, “Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu jika Allah tidak menyertainya.”

Patut diapresiasi sikap Nikodemus yang jauh lebih tua menghormati Yesus yang masih muda. Tentu tidak mudah bagi seorang tua yang berpengalaman banyak (orang Farisi juga pemimpin agama Yahudi) datang kepada tukang kayu (bukan tukang debat) yang masih muda (± 30 tahun).

Umumnya orang akan tersanjung bila dipuji, tetapi respons Yesus terlihat “tidak nyambung” dengan pernyataan Nikodemus. Apa jawaban Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Nikodemus sebagai guru/pemimpin agama senior tampak bingung tidak mengerti akan jawaban Yesus yang bertolak belakang dengan apa yang sudah dipelajarinya. Sebagai pemimpin agama Yahudi, Nikodemus pasti percaya akan Kerajaan Surga tetapi dia tidak paham dengan kelahiran kembali. Dari jawabannya “dapatkah orang tua masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali” menunjukkan dia memercayai reinkarnasi. Memang masih ada orang-orang Yahudi yang percaya akan reinkarnasi, contoh: ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya siapa Anak Manusia itu, ada yang menjawab Ia adalah Elia, ada pula yang menjawab Yeremia atau nabi (Mat. 16:13-14). Di sini Yesus sedang menghancurkan doktrin reinkarnasi (penitisan kembali makhluk yang telah mati).

Dialog antara Yesus dengan Nikodemus membuat Nikodemus memiliki pemikiran baru. Untuk dapat melihat/masuk ke dalam Kerajaan Surga, Yesus mengajukan syarat:

Lahir baru oleh air dan Roh → baptisan air.
Yesus menegaskan agar Nikodemus dilahirkan kembali (Yoh. 3:7-8) namun Nikodemus meragukan bagaimana mungkin hal itu terjadi (ay. 9) karena dia menggunakan IQ, pengalaman dan doktrin agamanya.

Bukankah kita juga sering mempertanyakan kebenaran Firman Tuhan yang diberitakan oleh pendeta? Perhatikan, banyak pertanyaan membuat kita lebih dekat kepada Tuhan atau malah menolak Dia.

Sesungguhnya masuk Kerajaan Surga itu gampang-gampang susah. Pilihannya hanya dua, melihat Kerajaan Surga atau kerajaan dunia! Masalahnya, percayakah Alkitab (termasuk Injil Yohanes) adalah Firman Allah bukan sekadar hasil karya dari ± 40 penulis yang diilhami oleh Roh Kudus? Dengan kata lain, sulit untuk masuk Kerajaan Surga bagi orang yang tidak memercayai (perkataan) Firman-Nya. Beruntung, Nikodemus tua yang kebingungan tidak langsung menolak perkataan Yesus tetapi masih mau bertanya dan Yesus menegaskan bahwa dia harus dilahirkan kembali oleh air dan Roh.

Bagaimana mungkin Yesus berbicara soal Kerajaan Surga sementara kita masih hidup di dalam kerajaan dunia? Waktu bangsa Israel dijajah oleh orang-orang Romawi, mereka sangat ingin mendirikan kerajaan Israel dan mengharapkan Yesus menjadi raja mereka (Kis. 1:6; Yoh. 6:14-15) karena mereka terobsesi pernah memiliki kerajaan Israel yang luar biasa. Sejak tahun 1948 negara Israel berdiri dan benderanya ialah Bintang Daud. Mereka sangat bersukacita, bangga dan berusaha mempertahankannya dari ancaman mana pun. Mereka rindu kerajaan/negaranya makin besar dan kukuh.

Harus diakui tidaklah mudah untuk berpindah/ganti menjadi warga suatu negara. Diperlukan adaptasi terhadap situasi dan kondisi negara baru yang dituju juga menaati seluruh peraturan dan hukum yang berlaku di negara itu. Selain itu, kita harus mempelajari bahasa dari negara tersebut untuk dapat berkomunikasi dengan warga/penduduk setempat.

Introspeksi: sudahkah kita lahir kembali untuk menjadi warga Kerajaan Surga? Apakah orang lain melihat adanya perbedaan “bahasa” yang kita gunakan? Bila dunia mempunyai 197 kerajaan/negara dengan latar belakang budaya, bahasa, etnis dll. yang berbeda-beda, Kerajaan Surga hanya satu dengan satu bahasa kesatuan.

Mengapa Yesus menyuruh Nikodemus tua untuk lahir kembali? Supaya beralih dari kerajaan dunia yang labil di seluruh sektor (politik, sosial, ekonomi dst.) kepada Kerajaan Surga penuh damai sejahtera, sukacita tanpa batas alias kekal. Ke mana kita berlindung sekalipun kita mempunyai uang bertumpuk-tumpuk dalam menghadapi virus COVID-19 yang menyerang banyak negara/kerajaan dunia saat ini? Itu sebabnya Yesus begitu getol mempromosikan Kerajaan Surga tidak hanya kepada orang tua yang sisa umur hidupnya tinggal sejenggal tetapi juga kepada orang muda dan anak kecil. Di hadapan Pilatus, Yesus menjelaskan,Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yoh. 18:36)

Kita sangat bangga menjadi warga Negara Indonesia terlebih jika kita berwarganegaraan Surga yang pasti tidak berlawanan dengan kerajaan di bumi ini bahkan lebih tinggi nilai hikmat dan kekuasaannya. Bumi yang kita diami pernah dimusnahkan oleh air bah dan sekarang siap dihanguskan oleh api pada hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik (2 Ptr. 3:3-7). Ingat, Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, bila pehukuman belum dimulai ini karena kesabaran-Nya sebab Ia menghendaki tidak ada yang binasa melainkan semua orang berbalik dan bertobat (ay. 8-9). Petrus menulis surat ini di masa tua sebelum mati syahid dan ia sangat yakin dunia akan hancur oleh nyala api lalu lenyap (ay. 10-12).

Untung Nikodemus tua tidak segera menolak perkataan Yesus dan pergi meninggalkan-Nya. Perjumpaan dan dialog dengan Yesus membuatnya berpandangan baru dari teologi lama yang dipegangnya. Yesus menawarkan dia (juga kita) untuk berada dalam posisi terlindungi, aman, tidak mengalami kehancuran serta berpengharapan indah itulah langit dan bumi baru di mana terdapat kebenaran (ay. 13) – beralih dari kerajaan dunia masuk ke dalam Kerajaan Surga (bnd. Kol. 1:13-14; 1 Ptr. 2:9-10).

Membuang tabiat-tabiat sekecil apa pun yang tidak diperkenan Tuhan yang membuat kita kehilangan Kerajaan Surga. Perbuatan macam apa yang membuat kita tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Percabulan, penyembah berhala, berzina, banci, pemburit, pencuri, kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu (1 Kor. 6:9-10).

Sebagaimana jika seseorang ingin pindah menjadi warga di suatu negara, pemerintah setempat menyurvei latar belakang orang ini dalam waktu tertentu untuk kemudian diputuskan apakah permohonan pindah kewarganegaraan diterima atau ditolak. Demikian pula untuk menjadi warga Negara Kerajaan Surga, kita tidak boleh menggampangkannya meskipun Yesus memberi kemudahan kepada penjahat di sebelah-Nya di atas salib untuk tinggal di Firdaus bersama-Nya ketika dia mati (Luk. 23:43).

Yang penting selagi masih hidup, kita harus membuang semua perbuatan daging yang bertentangan dengan keinginan Roh (Gal. 5:16-23). Sulit atau mudahnya tergantung dari kemauan keras kita untuk mau berubah juga percayakah kita akan Yesus dan pengurbanan-Nya!

Lebih lanjut Yesus mengatakan kepada Nikodemus, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal.” (Yoh. 3:14-15)

Bangsa Israel berbuat kesalahan fatal dengan mengomel muak makan Manna; akibatnya, banyak dari mereka mati dipagut ular-ular tedung (Bil. 21:4-6). Mereka kemudian mengaku berdosa melawan Tuhan dan Musa; akhirnya Musa disuruh membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; siapa yang memandang ular tembaga itu akan tetap hidup (ay. 7-9). Waspada bila kita bosan terhadap (Firman) Roti kehidupan (Yoh. 6:35,40)!

Introspeksi: bahasa apa yang dipakai di dalam Kerajaan Surga, bahasa dunia atau bahasa Surgawi? Bagaimana mungkin kita senang berkomunikasi dengan Yesus – Sang Firman – di dalam Kerajaan Surga bila kita sementara hidup di bumi ini sudah bosan mendengar dan membaca Firman-Nya serta tidak suka berkomunikasi dengan-Nya?

Percaya bahwa Yesus, Putra tunggal Bapa, diutus ke dunia untuk menyelamatkan manusia berdosa juga percaya dalam Nama-Nya (Yoh. 3:17-18).

Yesus diangkat menjadi Tuhan dan Kristus setelah Ia bangkit dari kematian (Kis. 2:36). Kita tahu Tuhan → Allah; Kristus (= Yang diurapi) → Raja
Sesungguhnya di dalam kekekalan Yesus (Firman) adalah Allah dan Raja kekal.

Perhatikan, tujuan kedatangan Yesus pertama kali ke dunia adalah mati untuk menyelamatkan manusia berdosa. Setelah bangkit dari kematian, Ia menjadi TUHAN (di atas segala tuan) dan Raja (segala raja) untuk satu kali kelak datang kembali menjemput gereja-Nya sebagai Mempelai Wanita Surga.

Menyukai Terang yang telah datang ke dalam dunia (Yoh. 3:19).
Ilustrasi: terang nyala lilin kecil akan tetap menolong kita yang berjalan di dalam kegelapan agar kita tidak tersandung. Kenyataannya, manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang sebab perbuatan- perbuatan mereka jahat. Mereka takut perbuatan jahatnya ketahuan bila diterangi oleh Firman Allah (ay. 20-21). Jelas, terang Firman Tuhan membuat kita hidup bebas dari hukuman kekal.

Kita telah dididik oleh kebenaran Firman Tuhan yang menerangi gelapnya perbuatan dosa kita, marilah kita meninggalkan tabiat-tabiat lama yang bertentangan dengan kehendak-Nya untuk lahir baru dan hidup bersuasanakan Kerajaan Surga sementara tinggal di dunia ini sehingga menarik orang-orang yang hidup dalam kegelapan dosa datang kepada-Nya untuk beroleh keselamatan dan hidup kekal seperti yang telah kita peroleh hingga satu kali kelak kita semua bersatu dengan Dia di dalam Kerajaan-Nya untuk selama-lamanya. Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Umum - "Syarat Masuk Dalam Kerajaan Allah" - Pdt. Paulus Budiono