Iman yang tak tergoncangkan

IMAN YANG TAK TERGONCANGKAN

Lemah Putro, Minggu, 3 Mei 2020
Pdt. Paulus Budiono


Shalom,

Hendaknya iman kita tidak mudah goyah walau kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, tetap pegang janji-Nya bahwa Ia senantiasa menyertai kita saat melewati banyak masalah yang menguji iman kita. Juga shalom/damai sejahtera bukanlah sekadar basa-basi sebagai salam pembukaan sebab ada Pribadi, Yesus Kristus, di dalamnya yang menenangkan kita.

Dalam berkomunikasi selalu timbul pertanyaan dan jawaban sebagai responsnya. Demikian pula di ayat-ayat terakhir dari Yohanes 6, terjadi dialog antara Yesus dan 12 murid-Nya. Apa yang ditanyakan oleh Yesus?

“Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa engkau adalah yang Kudus dari Allah.” (Yoh. 6:67-69)

Dari ayat di atas, pertanyaan bersifat tantangan dari Yesus dijawab oleh Petrus mewakili rekan-rekannya. Bila kita membaca lebih cermat, dialog dan komunikasi (panjang-singkat, resmi-informal) yang terjadi dalam Yohanes 6 menghasilkan tiga kelompok responden, yaitu:

1. Banyak murid Yesus mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia setelah mendengar perkataan-Nya (ay. 66).

2. Yudas Iskariot mengkhianati dan menjual Gurunya (ay. 64,70-71).

3. Petrus dan 10 murid lainnya tetap mengikut Yesus (ay. 68-69).

Tiga kelompok ini sama-sama mendengar perkataan Yesus kemudian menilai, mengevaluasi dan mengambil kesimpulan/keputusan.

Introspeksi: kita juga telah mendengar dan membaca (perkataan) Firman Tuhan ulang berulang. Apa reaksi/respons kita? Apakah (langsung) menolak karena tidak cocok dengan keinginan kemudian kita meninggalkan Yesus? Atau kita tidak puas dengan jawaban Firman Tuhan yang disampaikan? Atau tetap mengikut Dia walau keras dan tajam teguran Firman-Nya?

Meskipun Petrus dan 10 murid lain tampak teguh dalam kerinduan dan tujuan pengikutan mereka kepada Yesus, pengakuannya diuji dan ternyata menghadapi salib Kristus semuanya gagal, buktinya mereka semua lari waktu Yesus ditangkap (Mat. 26:56). Ironisnya, yang menangkap justru Yudas Iskariot melalui tangan imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi (ay. 47-50).

Sebenarnya Yudas Iskariot mengikut Yesus cukup lama (± 3 tahun) sebelum dia mengkhianati Gurunya. Bukankah kita merindukan supaya iman kita makin bertumbuh setelah mendengarkan Firman Tuhan dari bulan ke bulan bahkan tahunan terutama menghadapi ujian berat hari-hari ini? Alkitab yang sempurna memaparkan dan memberikan solusi bagaimana mempertahankan iman agar tidak mudah tergoncangkan. Jujur, bukankah hati kita menggebu-gebu seusai mendengarkan Firman Tuhan yang menguatkan lalu bergairah untuk segera beribadah lagi tetapi suasana hati ini bertahan berapa lama? Apakah kondisi kita lebih hebat dan lebih rohani daripada 11 murid Yesus?

Perhatikan, dialog dalam dunia pendidikan, pekerjaan, keluarga dll. selalu memberikan hasil baik atau tidak baik tetapi Yesus mengajar kita untuk menghindari dialog yang memicu pertengkaran.

Topik pembicaraan (Firman Allah) apa yang sedang didiskusikan di Injil Yohanes 6 sehingga memunculkan tiga kelompok di atas?

Petrus menegaskan pengikutannya kepada Yesus oleh sebab perkataan Yesus adalah hidup kekal. Perkataan “hidup kekal” ternyata banyak ditulis di dalam Injil Yohanes dibandingkan dengan tiga Injil lainnya. Contoh: Pada mulanya adalah Firman, Firman itu adalah Allah dan dalam Dia ada hidup (Yoh. 1:1,3); setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yoh. 3:16); Ia memberikan air yang terus menerus memancar sampai kepada hidup kekal (Yoh. 4:14); barangsiapa mendengar perkataan-Nya dan percaya kepada Dia yang mengutus-Nya akan mempunyai hidup kekal (Yoh. 5:24); siapa menyelidiki Kitab-kitab Suci yang menyaksikan tentang Dia mempunyai hidup kekal (Yoh. 5:39); Yesus adalah roti hidup yang turun dari Surga, siapa makan roti ini akan hidup selama-lamanya (Yoh. 6:51) dst.

Kesimpulan: Injil Yohanes fokus tentang hidup kekal dan ini yang kita perlukan sekarang bukan nanti ketika kita masuk Surga sebab Yesus Kristus kita bukan nanti tetapi tetap sama baik kemarin, hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr. 13:8).

Mengapa banyak murid (kelompok satu) meninggalkan Yesus?

Awalnya mereka sangat antusias mengikut Yesus karena mereka telah dikenyangkan oleh-Nya dengan perbanyakan lima roti dan dua ikan (Yoh. 6:1-11). Mereka (minimal 5.000 laki-laki belum istri dan anaknya) telah mengalami mukjizat yang diperbuat oleh Yesus dan dikenyangkan perutnya (fisik) bukan oleh roti dari Surga tetapi roti milik anak kecil. Mereka tidak mau kehilangan jejak Yesus karena bersyukur telah beroleh berkat jasmani. Karena sudah terbiasa dengan perut (fisik) kenyang, mereka sulit menerima Roti Hidup yang terasa keras (ay. 60); itu sebabnya mereka meninggalkan Yesus.

Bagaimanapun juga Yesus tidak mau dialog hanya melulu menyangkut perkara jasmani karena bagi-Nya sangatlah mudah memenuhi keperluan keseharian hidup, menyembuhkan yang sakit dll. Namun ada yang menarik setelah Yesus memperbanyak lima roti dan dua ikan untuk 5.000 orang laki-laki. Setelah mukjizat terjadi, apa yang dikatakan-Nya?Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” (ay. 12) Ini membuktikan bahwa pola kerja Yesus itu rapi, tertib dan teratur.

Introspeksi: bagaimana kita menyelesaikan suatu pekerjaan (pelayanan)? Apakah selesai dengan kondisi berantakan tidak dirapikan kembali? Kalau untuk urusan jasmani/fisik saja amburadul tidak teratur bagaimana dengan pekerjaan rohani? Tuhan selalu memulai dari yang fisik/jasmani terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan yang rohani. Berkat jasmani walau melimpah harus diatur dengan rapi karena berasal dari (anak) yang kecil. Tampaknya orang Yahudi cenderung malas merapikan hal-hal jasmani berakibat berkatnya kececeran dan terbuang sia-sia.

Tanpa disadari, lima roti dan dua ikan yang dilipatgandakan untuk memenuhi kebutuhan 5.000 orang laki-laki merupakan hasil kerja keras petani yang menanam gandum dan nelayan yang mengail ikan. Rumus laki-laki/suami harus bekerja keras berlaku sejak Adam jatuh dalam dosa (Kej. 3:17-19). Yesus ingin kita tidak melulu sibuk kerja (lembur) untuk perkara jasmani tetapi seimbang rajin bekerja untuk hal-hal yang rohani pula. Ia mendidik kita untuk rapi dalam perkara jasmani juga mengerti perkara rohani supaya kita tidak terikat dengan hal jasmani.

Harus diakui tidaklah mudah berdialog tentang Firman Tuhan. Mereka bertanya dan Yesus menjawab dengan benar. Mereka terus bertanya dan jawaban Yesus makin meningkat membuat mereka makin tidak percaya dan akhirnya mereka meninggalkan Dia.

Implikasi: hendaknya kita yang telah mendengar (perkataan) Firman Tuhan makin yakin bahwa seluruh Alkitab (Kejadian – Wahyu) berbicara mengenai hidup kekal bukan malah meragukannya dan tidak percaya kemudian meninggalkan Yesus seperti dilakukan oleh Yudas Iskariot dan orang banyak itu.

Melihat reaksi orang banyak yang meninggalkan-Nya, Yesus bertanya kepada 12 murid-Nya dan dijawab oleh Petrus (ay. 67-69). Yudas Iskariot tidak berbicara tetapi Yesus mengetahui isi hatinya bahkan sudah menubuatkan apa yang akan dilakukannya sebab sejak awal ia tidak percaya (ay. 64) tetapi Ia tidak mengumbar kejahatan Yudas di hadapan murid-murid lainnya.

Firman Allah yang hidup ingin menolong setiap dari kita apa pun kondisinya agar kita memiliki hidup kekal asal mau percaya kepada-Nya. Jadi, yang menentukan hidup kekal adalah kita sendiri dimulai dengan bagaimana sikap kita setelah berjumpa dengan-Nya dan respons kita terhadap dialog tentang hidup kekal.

Waktu yang terus berjalan akan menentukan apakah iman kita makin kukuh atau rapuh. Yudas tidak berbicara apa-apa atau mengajukan protes tetapi pikirannya berkata banyak. Walau Yudas ikut dalam rombongan murid-murid lain, mereka (kecuali Yesus) tidak tahu apa yang direncanakan olehnya. Gara-gara hatinya lebih mencintai uang, Yudas Iskariot (pencuri uang persembahan; Yoh. 12:4-6) memutuskan untuk kehilangan hidup kekal sementara 11 murid lainnya kehilangan arah.

Implikasi: kita tidak tahu isi hati seseorang dan mungkin seseorang tidak banyak bicara dalam pelayanan tetapi Yesus tahu apa yang ada di benak pikiran dan hatinya. Tidak percaya kepada Yesus adalah dosa yang akan membuat kita lengah; oleh sebab itu kita harus menolak hal-hal duniawi salah satunya uang. Belajarlah jujur menyangkut soal keuangan karena konsekuensinya sangat mengerikan! Oleh karena itu Paulus mengingatkan Timotius muda bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim. 6:10).

Puncak penolakan dialog Yesus dan para murid-Nya ialah Yudas Iskariot mengkhianati Guru-Nya karena bisikan Iblis walau Yesus mengasihi semua murid (Yoh. 13:1-2). Herannya Yesus mengizinkan Yudas segera melaksanakan niat jahatnya tetapi murid-murid lain tidak mengerti apa maksud perkataan-Nya kepada Yudas (ay. 26-28).

Yesus masih berkeinginan menyelamatkan semua orang tetapi Yudas Iskariot memilih jalan hidupnya sendiri. Akhirnya Yesus berdoa kepada Bapa untuk para murid-Nya agar mereka menjadi satu sama seperti Dia dan Bapa adalah satu. Juga supaya mereka tidak binasa kecuali satu (Yudas Iskariot) yang telah ditentukan untuk binasa supaya genap apa yang tertulis dalam Kitab Suci (Yoh. 17:11-12).

Aplikasi: hendaknya kita saling mendoakan agar memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan supaya iman kita bertumbuh oleh sebab mendengarkan Firman Kristus.

Memang Petrus menyangkal Yesus tetapi dia tidak sampai binasa sebab Yesus telah berdoa agar dia tidak gugur imannya (Luk. 22:31-32). Sungguh, Yesus menginginkan semua muridnya beroleh hidup kekal. Dapat dibayangkan perasaan Rasul Yohanes saat menulis Injil Yohanes ini 60 tahun kemudian karena dia termasuk yang lari meninggalkan Yesus saat Ia ditangkap.

Jujur, kita membutuhkan makanan, pakaian, perlindungan dll. bersifat jasmani dan Tuhan sangat mengerti akan kebutuhan kita. Itu sebabnya Ia datang untuk memberkati kita dengan makanan, kesembuhan dll. tetapi jangan fokus dan berhenti pada persoalan jasmani namun meningkat dengan mengusahakan perkara yang kekal. Kita belajar mengurangi kekhawatiran untuk hal-hal duniawi, Yesus sendiri menasihati agar kita tidak khawatir akan hari esok karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Mat. 6:34).

Waspada, jika kita mulai meragukan Firman Tuhan yang tidak cocok dengan hati dan pikiran kita atau kita terikat dengan uang! Marilah kita saling mendoakan dan mendukung agar iman kita tidak mudah digoyangkan oleh ujian kesehatan, keuangan, pekerjaan yang makin berat hari-hari ini. Semakin kita menjauh dari Firman-Nya semakin berat kita menghadapi pergumulan hidup. Sebaliknya, beban hidup kita menjadi ringan bila kita datang kepada-Nya (Mat. 11:28-30). Amin.

 

Video Ibadah ini dapat disimak di Ibadah Minggu Raya - 3 Mei 2020 - Pdt. Paulus Budiono.