Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Yesus adalah Tuhan atas Hari Sabat

YESUS ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT
Lukas 6:1-11
Lemah Putro
25-04-2021
Pdm. Kasieli Zebua
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom,

Betapa besar dan baiknya Tuhan dalam kehidupan kita bahkan Ia mau tinggal bersama kita, menyertai dan membimbing kita senantiasa sesuai dengan kehendak-Nya. Kita patut bersyukur kepada-Nya jika kita masih diberi kesempatan untuk memuji dan mendengarkan Firman-Nya di tengah-tengah bencana (alam) yang mengancam dan merenggut banyak jiwa belum lagi ancaman varian baru hasil mutasi COVID-19 yang menyebar dengan cepat. Namun apa pun yang kita hadapi, Tuhan hadir memberikan kita kekuatan agar kita mampu melewatinya. Ia mempunyai rencana besar dalam setiap kehidupan kita; oleh sebab itu hendaknya kita datang beribadah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh bila kita masih dapat mendengarkan dan menikmati Firman-Nya.

Tema Firman Tuhan hari ini ialah “Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat”. Untuk itu kita harus memahami apa Sabat itu, mengapa ada Sabat serta apa tujuan Tuhan memerintahkan untuk menguduskan dan menghormati hari Sabat.

A.    TUHAN Memberi Perintah Menguduskan Hari Sabat

Sabat berarti “berhenti dari melakukan segala pekerjaan” atau “istirahat”. Perintah ke-4 dari sepuluh hukum menuliskan, Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat; enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu, maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau hambamu laki-laki atau hambamu perempuan atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Kel. 20:8-11)

Mengapa ada Sabat? Agar umat-Nya berhenti dari semua aktivitas yang biasa dikerjakan selama 6 hari. Sama seperti Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya selama enam hari kemudian berhenti bekerja pada hari ketujuh lalu memberkati dan menguduskan hari ketujuh itu (Kej. 2:2-3). Dengan berhenti bekerja pada hari Sabat, mereka tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan untuk kelangsungan hidup tetapi hati dan pikiran mereka dikhususkan untuk bertemu Tuhan dalam ibadah.

Mengapa Tuhan memerintahkan agar menguduskan hari Sabat?

  • Supaya umat-Nya mengingat perbuatan-perbuatan besar Tuhan yang dinyatakan melalui penciptaan.
  • Supaya umat-Nya mengingat akan pembebasan mereka dari perbudakan di tanah Mesir dengan tangan Allah yang kuat dan lengan yang teracung (Ul. 5:12-15).

Apa yang dilakukan bangsa Israel saat merayakan hari Sabat? Mereka berhenti dari kegiatan bekerja, tinggal dalam tenda/rumah bersama seluruh anggota keluarga kemudian mengingatkan anak-anak mereka tentang Tuhan yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada, juga tentang Tuhan yang telah menebus mereka dari perbudakan di Mesir. Setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka diingatkan Tuhan untuk beristirahat pada hari Sabat bukan untuk santai tidur-tiduran tetapi menguduskan hari itu agar mengalami pemulihan dengan Tuhan. Seluruh anggota keluarga termasuk hamba (pegawai) yang tinggal bersama mereka harus mengkhususkan hari itu untuk bertemu Tuhan dan mengingat kebaikan-Nya. Mereka tidak perlu khawatir mengalami kerugian karena tidak bekerja pada hari itu. Tuhan hanya menuntut mereka taat dan memercayai Dia yang berbicara kepada mereka maka mereka akan menyaksikan bagaimana Ia memberkati saat mereka beristirahat.

Introspeksi: apa yang kita lakukan di hari Sabat? Sungguhkah kita berhenti bekerja dan menyediakan waktu khusus untuk Tuhan dengan beribadah kepada-Nya bersama seluruh anggota keluarga? Atau kita tetap sibuk bekerja karena khawatir kehilangan profit atau beribadah tetapi pikiran terpecah dengan urusan kerjaan? Ilustrasi: Sekiranya Tuhan ada di depan kita secara fisik tetapi kita sibuk ngurusi pekerjaan dan mengabaikan-Nya, apa yang kita dapatkan dari pertemuan itu? Bukankah kita telah melukai perasaan-Nya dengan sikap acuh kita? Dan sudahkah kita mengajari anak- anak kita makna hari Sabat atau membiarkan mereka berbuat sesuka hati di hari itu? Bagaimana dengan nasib pegawai-pegawai yang bekerja pada kita? Apakah kita memberikan mereka kesempatan untuk berbakti kepada Tuhan atau mempekerjakan mereka tanpa istirahat karena tidak mau rugi? Ingat, kita dahulu juga budak namun beroleh kelepasan; jadi kita tidak boleh memeras tenaga pegawai-pegawai kita untuk keuntungan kita.

Di era Perjanjian Lama, mereka yang tidak menguduskan hari Sabat akan dihukum mati – mereka yang melakukan pekerjaan pada hari itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya (Kel. 31:14). Bagi kita sekarang, jangan biarkan anggota keluarga maupun pegawai yang bekerja bersama kita mati rohani karena mereka tidak dapat menikmati ibadah atau melakukan ibadah sekadar rutinitas saja.

Tuhan memerintahkan Musa, hamba-Nya, untuk mengatakan kepada orang Israel tentang tujuan merayakan hari Sabat, yaitu:

  • Agar bangsa Israel memelihara hari Sabat turun temurun supaya mereka ingat bahwa Tuhanlah yang menguduskan mereka (Kel. 31:12-17). Perayaan Sabat menjadi perjanjian kekal antara Tuhan dan umat-Nya. Dengan memelihara hari Sabat, mereka senantiasa mengalami perjumpaan dengan Tuhan sebab Ia rindu mereka ada hubungan erat bersama-Nya. Ini bukan berarti Tuhan kesepian tetapi sebenarnya demi kepentingan umat- Nya supaya mereka boleh menikmati kebaikan-Nya.

Aplikasi: hamba Tuhan berkewajiban mengingatkan jemaat agar senantiasa memiliki relasi erat dengan Tuhan untuk menikmati kemurahan-Nya.

  • Agar bangsa Israel tahu bahwa hari Sabat adalah waktu pertemuan kudus (Im. 23:1-3). Pertemuan kudus ini dirayakan di segala tempat kediaman dan berlaku turun temurun yang bersifat kekal sebab Tuhan ingin generasi berikutnya hidup dalam anugerah-Nya. Ini bukti Ia mengasihi umat-Nya dan keturunan mereka.

B.      Tuhan Menyatakan Makna Sabat yang Benar

 Kembali pada Injil Lukas 6:1-11, ada dua peristiwa yang terjadi pada hari Sabat:

  • Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat (ay. 1-5)

Yesus dan para murid-Nya berjalan di ladang gandum pada hari Sabat. Para murid memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat hal itu, beberapa orang Farisi bertanya mengapa para murid berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat. Yesus menjawab Daud pernah masuk ke Rumah Allah dan mengambil roti sajian lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya padahal roti itu hanya boleh dimakan oleh imam-imam. Kemudian Yesus melanjutkan, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Yesus menegaskan “Ia adalah Tuhan atas hari Sabat” kepada orang-orang Farisi yang salah dalam mempelajari hukum Taurat. Ternyata para ahli Taurat, orang Farisi dan kepala rumah ibadat memiliki cara pandang salah dan praktik yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki Tuhan berkaitan dengan Sabat.

  • Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (ay. 6-11)

Ketika Yesus mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat lain, Ia melihat ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat supaya mereka mempunyai alasan untuk mempersalahkan Dia. Yesus malah menantang mereka dengan pertanyaan, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Kemudian Ia menyembuhkan tangan orang itu. Meluaplah amarah mereka dan mereka berunding akan melakukan sesuatu kepada Yesus.

Di lain kesempatan pada hari Sabat pula Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sudah 18 tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya. Melihat kesembuhan yang dilakukan Yesus pada hari Sabat, kepala rumah ibadat gusar tetapi Yesus menjawab dia, “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis harus dilepaskan dari ikatannya itu karena ia adalah keturunan Abraham?” Semua lawan-Nya merasa malu mendengar perkataan-Nya (Luk. 13:10-17)

Masih berkaitan dengan hari Sabat, Yesus datang ke rumah seorang pemimpin orang Farisi untuk makan di situ. Tiba- tiba datang seorang yang sakit busung air di hadapan-Nya. Yesus kemudian bertanya kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka diam semua lalu Yesus menyembuhkan dia dan menyuruhnya pergi. Yesus melanjutkan bicara, “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya (Luk. 14:1-6)

Dari beberapa peristiwa di atas, terlihat reaksi para ahli Taurat, orang Farisi, kepala rumah ibadat yang awalnya marah ingin mencelakai Yesus tetapi akhirnya malu, diam dan tidak dapat membantah-Nya ketika Yesus menunjukkan kebenaran makna hukum Taurat berkaitan dengan hari Sabat.

Di mana letak kesalahan mereka dalam mengartikan hari Sabat sehingga mereka selalu bertentangan dengan tindakan yang dilakukan oleh Yesus? Yesus memberikan penjelasan makna Sabat melalui perbuatan-perbuatan yang dilakukan- Nya. Seharusnya mereka bertindak seperti yang dilakukan oleh Musa, hamba Allah, yang mengingatkan bangsa Israel untuk menghormati dan menguduskan hari Sabat agar mereka dan orang-orang di sekitarnya bertemu/bersekutu dengan Tuhan bukan malah marah dan menolak-Nya. Di hari Sabat/perhentian, Tuhan menginginkan orang-orang yang terikat oleh penyakit maupun roh jahat dapat menikmati pertolongan dan kelepasan setelah bertemu dengan- Nya.

Yesus mau supaya pandangan orang Farisi, ahli Taurat, kepala rumah ibadat berubah tentang hari Sabat yaitu tidak semata-mata melarang melakukan ini itu secara harfiah tetapi memerhatikan orang-orang di sekitarnya untuk dapat mengalami lawatan dan pertolongan Tuhan. Juga supaya mereka mengingat adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta serta membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir dengan tangan-Nya yang kuat.

Pembelajaran: hamba Tuhan bisa salah menafsirkan Firman Tuhan; untuk itu diperlukan kerendahan hati mau menerima jika ditegur kesalahannya bukan malah ngotot merasa benar. Ilustrasi: seorang pegawai mengerjakan sesuatu tidak sesuai dengan perintah kita. Ketika ditegur dia bersikukuh menurut pendapatnya pekerjaannya itu benar. Bagaimana perasaan kita dan apa yang akan kita lakukan terhadap pegawai semacam ini? Ini yang dirasakan oleh Yesus. Ia telah memberikan Firman tentang peraturan hari Sabat tetapi disalahtafsirkan oleh ahli Taurat, orang Farisi dan kepala rumah ibadat. Para hamba Tuhan perlu dukungan doa supaya Firman Tuhan yang disampaikan tidak menyimpang dari apa yang Tuhan maksudkan.

Makna Sabat sesungguhnya membawa kita kepada perhentian untuk mengalami hadirat Tuhan. Jangan bertindak seperti orang-orang Yahudi yang menaati Sabat bukan dengan iman. Akibatnya, mereka tidak masuk ke dalam perhentian karena ketidaktaatan (Ibr. 4:1-16). Selain itu, Sabat memberikan kita kelepasan dan kemenangan dari ikatan dosa untuk mengalami damai sejahtera dan kasih-Nya. Jangan kita ketinggalan masuk hari perhentian oleh karena keras hati dan tidak percaya kepada-Nya. Sebaliknya, pergunakan waktu beribadah dengan sungguh-sungguh untuk membangun relasi intim dengan Tuhan hingga satu kali kelak kita akan menikmati perhentian sempurna bersama-Nya.

Jelas sekarang bahwa hari Sabat diadakan untuk (kebaikan) manusia (Mrk. 2:27) supaya manusia dapat menikmati hadirat Tuhan. Ia memberikan waktu khusus-Nya serta menunggu kita untuk datang kepada-Nya. Oleh sebab itu jangan sia-siakan setiap kesempatan ini agar kita tidak ketinggalan masuk ke tempat perhentian yang sudah disediakan bagi kita. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account