Iman yang Diuji

IMAN YANG DIUJI


Lemah Putro, Minggu, 26 April 2020

Pdm. Jusuf Wibisono


Shalom,

Untuk meraih gelar di pendidikan paling tinggi (universitas), siswa harus mengikuti ujian demi ujian untuk kenaikan kelas maupun kelulusan dari tingkat pendidikan paling rendah dimulai dari SD-SMP-SMA-Universitas. Kondisi yang sama terjadi pula dalam kehidupan rohani kita, iman kita akan memuncak hingga pada kekekalan melalui ujian-ujian yang harus dihadapi.

Perlu diketahui iman timbul dari mendengarkan Firman Kristus (Rm. 10:17). Firman Tuhan apa yang kita dengar saat ini walau via live streaming? Yohanes 6 mengisahkan Yesus memberi makan lima ribu orang (ay. 1-15) dan Ia berjalan di atas air (ay. 16-21).

Dua peristiwa yang tertulis dalam Yohanes 6 memaparkan murid-murid Yesus mengalami ujian iman melalui situasi dan kondisi berbeda. Kita mempelajari lebih jauh peristiwa apa yang terjadi dan ujian apa yang dihadapi para murid serta apa maknanya bagi kita.

YESUS MEMBERI MAKAN LIMA RIBU ORANG (Yoh. 6:1-15)

“Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit…….Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di manakah kita akan membeli roti supaya mereka ini dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Seorang dari murid-murid-Nya yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: “Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Lalu kata Yesus: “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu sebanyak yang mereka kehendaki……”

Murid-murid (juga kita) mengalami ujian untuk hidup karena percaya bukan karena melihat (2 Kor. 5:7). Mazmur 62:11-13 menegaskan satu kali Allah berfirman kita mendengar dua hal, yaitu kuasa dan kasih setia-Nya. Hendaknya kita suka mendengar Firman yang menimbulkan iman, bukan mengikut Yesus karena melihat mukjizat-mukjizat seperti dilakukan oleh orang banyak. Alkitab memberikan contoh sikap yang benar dalam mendengarkan Firman Tuhan:

♦ Seorang pegawai istana yang datang kepada Yesus dan meminta Ia datang untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati. Yesus menegurnya jika dia tidak melihat mukjizat dia tidak percaya. Pegawai istana itu disuruh pergi (pulang), anaknya sembuh. Pegawai istana ini mendengar perkataan (Firman) Yesus dan percaya lalu pergi (melakukan Firman). Mukjizat terjadi, anaknya benar-benar sembuh (Yoh. 4:47-53).

♦ Maria duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Kemudian Marta yang sibuk melayani meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya. Apa kata Yesus? Maria telah memilih bagian yang terbaik (Luk. 10:38-42). Jangan bersikap seperti Marta yang bekerja tetapi mengomel, memakai mulutnya untuk perkara-perkara negatif menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan.

Waspada kalau kita percaya karena melihat mukjizat-mukjizat, kita menjadi incaran mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu yang mengadakan tanda-tanda dahsyat dan mukjizat-mukjizat untuk menyesatkan orang-orang pilihan (Mat 24:23-24).

Kita harus berusaha sungguh-sungguh meningkatkan iman – kebajikan – pengetahuan – penguasaan diri – ketekunan – kesalehan – kasih akan saudara-saudara – kasih akan semua orang (2 Ptr. 1:5-7). Semua ini dimulai dari iman yang timbul dari mendengar Firman Tuhan.

Murid-murid Yesus diuji oleh Guru mereka bagaimana memberi makan ribuan orang. Sebagai Penguji, Yesus telah tahu jawabannya. Apa respons mereka?

Filipus mempunyai (berkat) uang 200 dinar tetapi tidak diserahkan kepada Yesus dengan alasan terlalu sedikit untuk membeli roti bagi 5.000 orang (Yoh. 6:7). Dia meremehkan berkat Tuhan. Tidakkah Yesus sanggup mengadakan mukjizat asal dia mau mendengarkan perkataan Gurunya? Iman datangnya dari Tuhan bukan karena kita pandai, kaya, kuat dll. tetapi karena karunia-Nya (Yoh. 6:65).

Andreas melihat ada anak kecil membawa lima roti jelai dan dua ikan kemudian mengomentari roti dan ikan tersebut tidak ada artinya untuk mengenyangkan ribuan orang. Dia mengecilkan “makanan kecil” dari anak kecil. Yesus mengasihi anak kecil karena mereka polos dan rendah hati (Mat. 18:4). Di Perjanjian Lama, Allah memakai Gideon dan 300 orang (setelah disaring ketat dari 32.000 orang) yang rendah hati untuk menghadapi musuh tanpa rasa takut (Hak. 7:5-7).

Tuhan memakai orang rendah hati dengan ciri memiliki 5 roti → Firman tentang salib (1 Kor. 1:18-19, 23-29) dan 2 ikan → Roh Kudus supaya tidak ada seorang manusia pun memegahkan diri di hadapan Allah.

Filipus dan Andreas dikoreksi agar tidak merendahkan berkat Tuhan dan kurban-Nya.

Aplikasi: apapun berkat yang kita terima (walau kecil/sedikit), kita bawa kepada Bapa dengan ucapan syukur (seperti dilakukan Yesus sebelum membagi 5 roti dan 2 ikan) bukan omelan atau merendahkan yang lain maka mukjizat akan terjadi.

Orang banyak duduk di rumput menyimak apa yang diperbuat Yesus; alhasil mereka tidak kelaparan. Bila kita sungguh-sungguh mendengarkan Firman hidup, kita akan dipelihara oleh-Nya (Mat. 4:4; Ul. 8:3).

Firman Tuhan dinyatakan kepada orang kecil (Mat. 11:25) yang bersedia menerima teguran serta mau belajar rendah hati dan lemah lembut (ay. 29) maka bebannya menjadi ringan (ay. 30) seperti dialami oleh anak kecil yang menyerahkan 5 roti dan 2 ikan maka terjadilah mukjizat.

YESUS BERJALAN DI ATAS AIR (ay. 16-21)

Para murid menghadapi ujian laut bergelora dan angin yang kencang. Mereka mendayung ± 2-3 mil jauhnya ketika melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu. Mereka sangat ketakutan tetapi Yesus berkata, “Aku ini, jangan takut!”

1 Yohanes 4:18 menuliskan barangsiapa takut, ia tidak sempurna dalam kasih. Untuk itu iman kita harus ditingkatkan sampai pada pengharapan dengan hidup disucikan meningkat lagi hingga pada kasih maka kita tidak ada ketakutan menghadapi apa pun.

Yesus berjalan di atas air berarti Ia mengalahkan segala persoalan di bumi. Tuhan tidak menjanjikan kita luput dari ujian tetapi memberikan jalan keluar/solusi dan arah yang benar kalau kita salah “jalan” supaya kita mengalami kemenangan.

Marilah kita mulai dari iman yang kecil dengan percaya kepada Firman Kristus (melalui pembacaan Alkitab) dan menghargai kurban-Nya maka kita akan mengalami kuasa pemeliharaan jasmani dan rohani terutama hari-hari ini dalam menghadapi persoalan serius berkaitan dengan kesehatan (fisik dan rohani) juga ekonomi. Allah telah memperingatkan bangsa Israel (juga kita) supaya taat dan bersyukur dengan takut akan Dia, hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi-Nya, beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan jiwa serta berpegang pada perintah-Nya supaya baik keadaan kita (Ul. 10:12-15).

Hendaknya kita memilih yang terbaik yaitu suka mendengarkan Firman Tuhan dan melakukannya maka kita akan mengalami kuasa dan kasih setia-Nya, hidup kita diperbarui dari hari ke hari sampai Tuhan Yesus datang kembali. Amin.

 

Video ibadah ini dapat disimak di Ibadah Minggu Raya - 26 April 2020 - Pdm. Jusuf Wibisono.