Shalom,
Sangatlah wajar jika kita tidak mengerti sesuatu, kita akan mencari jawaban dari apa yang kita pikirkan. Sistem tanya-jawab sudah berlaku sejak dini di rumah berlanjut ketika anak menempuh pendidikan di sekolah TK hingga perguruan tinggi. Hal yang sama juga lazim dilakukan dalam gereja di mana gembala dan para penatua menjawab persoalan rohani yang belum/tidak dimengerti oleh jemaat berdasarkan Alkitab. Tentu jawaban yang diberikan tidak sempurna atau ideal tetapi percayalah bahwa jawaban tersebut tidak keluar dari pikiran manusia siapa pun namun dari Alkitab/Firman Allah sendiri seperti terjadi di jemaat Berea (Kis. 17:10-12). Jelas, tujuan bergereja bukan sekadar kumpul-kumpul atau berdebat menunjukkan siapa yang lebih paham tentang Alkitab tetapi tanya-jawab bertujuan membuat orang menjadi percaya atas sesuatu yang dengan jelas dipahaminya untuk teguh beriman atasnya bukan asal “menelan” khotbah Firman yang disampaikan tanpa mempertanyakan kebenarannya. Dengan beriman teguh, kita dimampukan melewati tantangan, halangan dan pencobaan berat sekalipun bersama Tuhan.
Q 1: Bagaimana Tuhan bisa bertabernakel di dalam diri kita kalau tubuh jasmani kita masih berada di dalam dosa? Tuhan begitu kudus sedangkan kita, manusia berdosa.
A 1: Karena Tuhan berhendak (Yoh. 14:15-17; 1 Kor. 3:16) dan menyediakan pendamaian. Sejak awal Tuhan berdaulat atas segala sesuatu. Kalau Ia menghendaki, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Dunia tidak mungkin mengalami sesuatu yang istimewa karena dunia tidak mengenal dan mengasihi Tuhan. Berbeda dengan kita, walau di dalam kelemahan dan kekurangan, kita bukan berasal dari dunia yang tidak dapat menerima Roh Allah. Firman Allah menegaskan bahwa kita adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita.
Bagaimana Roh Kudus mau berdiam dalam kita yang berdosa? Tuhan menyediakan pendamaian untuk menyelesaikan dosa. Di era Musa, Allah yang begitu mulia diam di Tabernakel dan berada di tengah-tengah bangsa Israel yang memberontak, menggerutu, menyembah berhala dll. Untuk itu Allah menyediakan pendamaian yang dikerjakan oleh imam besar Harun setahun sekali (Im. 16:15-19) dan setiap hari ada kurban penghapus dosa, kurban penebus salah serta api di Mezbah Kurban Bakaran yang tidak boleh dibiarkan padam. Ini prosesi pendamaian yang terjadi di Perjanjian Lama. Jadi Allah menyediakan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dosa seperti Tabernakel diam di tengah-tengah kenajisan bangsa Israel.
Di era sekarang, Roh Allah mendiami kita dalam tubuh berdosa yang masih emosional, tidak setia beribadah dan pelayanan, berdoa asal-asalan dll. Namun dalam keadaan seperti ini pun Roh Allah tidak meninggalkan kita, sebab Roh itu yang menginsafkan dosa. Bagaimana mungkin? Karena pendamaian yang dikerjakan oleh Imam besar Yesus Kristus dengan membawa darah-Nya di hadapan takhta Allah sekali untuk selamanya (tidak perlu tiap tahun) dan bersifat kekal (Ibr. 9:11-14). Mereka yang percaya akan kurban Kristus diperdamaikan dengan Allah dan mengalami kelepasan kekal.
Walau domba/kambing/lembu jantan tidak bercela sama dengan tubuh Yesus (yang disediakan Bapa) tidak bercela (Ibr. 10:5), darah ternak tidak dapat menghapus dosa sedangkan darah Yesus berkuasa menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.
Perlu diketahui manusia memiliki unsur kepribadian: kecerdasan, perasaan dan kemauan/kehendak sementara binatang mempunyai perasaan, kemauan dan naluri bukan intelektual. Tentu bukan atas kemauan/kerelaan binatang itu sendiri ketika dibawa oleh pemiliknya ke depan Pintu Gerbang dan diterima oleh imam untuk disembelih menjadi kurban penghapus dosa. Beda dengan Yesus yang rela mempersembahkan tubuh-Nya dan menyerahkan kehendak-Nya kepada Bapa. Jadi darah Yesus jauh lebih bernilai daripada darah kurban binatang sepanjang Perjanjian Lama. Pendamaian yang dikerjakan oleh darah-Nya berlaku sekali untuk selama-lamanya.
Pertobatan dan penyucian harus terus menerus dilakukan sepanjang umur hidup (1 Kor. 6:18-20) supaya kita tidak terus menerus hidup dalam keadaan berdosa (1 Yoh. 3:9).
Kita harus yakin bahwa Allah berinkarnasi menjadi manusia Yesus dan rela mempersembahkan tubuh-Nya mati disalib serta darah-Nya membayar lunas dosa kejahatan kita sehingga kita dilepaskan dari keterikatan dosa macam apa pun. Kita menjadi milik Allah dan Roh Kudus berdiam dalam kita; oleh sebab itu kita patut memuliakan Dia.
Jujur, kita rentan berbuat dosa; itu sebabnya Roh Kudus bertugas menginsafkan kita untuk tidak melakukannya. Kalaupun sudah terlanjur berbuat dosa, kita diperdamaikan oleh-Nya. Memang kita dapat berbuat dosa dan kesalahan tetapi jangan hidup di dalam dosa alias terus menerus melakukan dosa.
Awalnya Adam dalam keadaan sempurna kemudian jatuh dalam dosa. Masalahnya, dia tidak mau mengaku dosa malah menyalahkan Hawa, istrinya, dan Hawa menyalahkan ular. Statusnya turun drastis menjadi kehidupan yang tidak mampu tidak berdosa. Berlanjut dengan keturunan Adam yang sejak kecil kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata (Kej. 8 : 21). Masing-masing kita mempunyai kejahatan sendiri-sendiri. Namun bersyukur karena darah Kristus yang tidak bercacat cela menyucikan sampai hati nurani sehingga kita tidak tertuduh lagi. Kemudian kita “naik pangkat” menjadi kita mampu tidak berbuat dosa oleh sebab Roh Allah yang mahakudus senantiasa menginsafkan kita melalui hati nurani kalau kita berbuat salah.
Q 2: Bejana pembasuhan dimaknai sebagai Baptisan Air yang dilakukan hanya satu kali untuk pembaruan hidup padahal kita masih dapat berbuat dosa. Apakah ini berarti pembaruan hidup dapat terjadi berkali-kali sementara Baptisan Air cuma sekali?
A 2: Baptisan Air mengacu pada pembasuhan seluruh tubuh dalam prosesi pembaptisan imam (Kel. 40:11-12; Im. 8:6) sekali seumur hidup (1 Ptr. 3:21-22; Ef. 5:26; Tit. 3:4-6; Ibr. 10:22).
Baptisan Air menunjukkan kesediaan untuk melayani Tuhan bukan hanya sekadar memenuhi syarat untuk menikah atau tujuan lain yang tidak Alkitabiah. Di era Perjanjian Lama, Harun dan anak-anaknya harus membasuh dengan air di Pintu Kemah Pertemuan. Kata “membasuh” dalam bahasa Yunani: (1) louo = membasuh seluruh tubuh seperti mandi dan (2) nipto = membasuh sebagian anggota tubuh.
Baptisan Air seluruh tubuh yang berlaku sekali seumur hidup bagi kita sekarang ialah diselamatkan oleh kiasannya (1 Ptr. 3:21-22). Jadi Baptisan Air bukan sekadar upacara gereja atau simbol tetapi berkaitan dengan keselamatan yakni memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus. Ketika masuk ke dalam kolam pembaptisan, kita dibaptis di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus demi pengampunan dosa berdampak hati nurani selalu diperbaiki sehingga kita mempunyai akses sampai kepada takhta Allah dan Ia yang duduk di sebelah kanan Bapa itulah Yesus Kristus yang sudah mati dan bangkit bagi kita.
Karena hati nurani selalu diperbaiki, kita memiliki kuasa untuk mampu tidak berbuat dosa. Kita dikembalikan kepada status Adam semula yakni kemampuan untuk tidak berbuat dosa. Pilihan terserah kepada kita – mau melanggar atau berjalan dalam ketaatan dan kekudusan Tuhan.
Baptisan Air terjadi cuma sekali seumur hidup tetapi pembaruan hidup dapat terjadi berkali-kali sebab kita masih dapat berbuat dosa. Bukankah Bejana Pembasuhan dibuat khususnya supaya para imam membasuh tangan dan kakinya sebelum melayani Tuhan (Kel. 30:17-21; 40:30-32) → penyucian sehari-hari (Mzm. 26:4-7)
Jadi, untuk menjadi seorang imam harus lebih dahulu dibaptis (selam) dengan air yang menenggelamkan. Namun sepanjang hidup seorang imam harus membasuh tangan dan kaki; dia harus introspeksi diri dan selalu berdamai dengan Tuhan.
Perhatikan, Bejana Pembasuhan terbuat dari cermin tembaga khusus persembahan dari pelayan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. Dengan kata lain, cermin ini untuk melayani Tuhan. Cermin gambaran (hukum) Firman Allah sempurna (Yak. 1:23) yang menjadi “cermin” untuk mengoreksi wajah kehidupan kita mulai dari perilaku, perkataan, pikiran hingga niat hati kita.
Singkatnya, dibaptis seluruh tubuh ke dalam air adalah prosesi menjadi imam Allah, bukan untuk tujuan lain-lain, sedangkan pembasuhan tangan adalah simbol menyatakan diri tidak bersalah dengan selalu dikoreksi oleh “cermin” Firman Allah (Mzm. 26:2-6). Selain itu pembasuhan kaki adalah simbol menyatakan hidup yang berkenan kepada Allah dengan selalu berdamai dengan-Nya. Di masa lalu, ketika seseorang bertamu, dia harus membasuh kaki dengan air pembasuhan kaki yang disediakan oleh tuan rumah maka terjalin suatu persahabatan menunjukkan si tamu datang tidak dengan maksud jahat.
Aplikasi: untuk dapat berdamai dengan Tuhan harus ada penyucian yang berlaku terus menerus tidak pernah berhenti dalam kehidupan kita. Sejauh Tuhan memakai kita dan setinggi jabatan rohani kita, penyucian mutlak harus dijalani. Kalau tidak, semua pelayanan kita akan mati dan sia-sia yang kita lakukan di hadapan Tuhan.
Q 3: Tentang Kandil Emas. Dari dulu Kandil Emas diartikan penginjilan padahal letaknya di Tempat Kudus. Menurut saya Tempat Kudus bukan tempat penginjilan. Malah Kandil Emas itu satu-satunya alat yang terbuat dari emas murni dan cara membuatnya ditempa atau dihantam. Jadi bagi saya Kandil emas adalah pengajaran yang murni. Kalau roti dari Meja Roti Sajian untuk dimakan. Yesus berkata, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Dia (Firman Tuhan). Jadi Meja roti praktik Firman Tuhan.
A 3: Kandil emas memang tidak secara khusus dimaknai sebagai penginjilan. Hanya saja dalam suatu kesaksian seperti dilakukan oleh dua saksi Allah yakni kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian (Why. 11:3-7).
Ada kuasa kesaksian luar biasa di Tempat Kudus yang tidak memisahkan diri dari kegiatan-kegiatan lainnya termasuk penginjilan, kegiatan merintis gereja dll. Ini semua terjadi dalam satu kesatuan utuh sehingga ada kesaksian-kesaksian yang membawa banyak orang datang kepada Tuhan untuk bertobat, sama seperti kegiatan penginjilan. Juga jemaat pertama bertambah ± 3.000 jiwa setelah mendengar khotbah Petrus. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (kis. 2:41-42). Bukankah kegiatan mereka sering dipahami sebagai kegiatan di Tempat Kudus? Dampaknya, mereka disukai semua orang dan tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (ay. 46-47).
Jadi, apa pun yang kita lakukan bertujuan penambahan orang-orang yang diselamatkan. Kalau tidak, segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk kepuasan diri sendiri karena hobi menyanyi, pembicara fasih hingga diundang ke sana sini dll. Hendaknya banyak jiwa diselamatkan melalui pemakaian Tuhan atas hidup kita dalam pelayanan apa pun. Semua kegiatan sebenarnya berkaitan dengan penginjilan yang bertujuan membawa orang-orang untuk diselamatkan.
Q 4: Saya kurang setuju dengan istilah Tritunggal karena tidak ada di Alkitab. Saya lebih setuju dengan apa yang tertulis di Alkitab yaitu Allah itu Esa (Ekhad) atau satu. Yesus dan Bapa adalah satu. Kita juga sebagai jemaat adalah satu tubuh.
A 4: Kita melihat sejarah panjang istilah Tritunggal ini. Diawali dengan Noetus dari Smirna di akhir 2 M kemudian Sabellius (awal 3 M) mencetuskan doktrin kesatuan Allah (Monarkhianisme Modalistis) yang memahami bahwa hanya ada satu Allah yang disebut dengan tiga cara: Allah, Anak, Roh Kudus. Satu Allah dengan tiga nama. Maksudnya, Allah itu Bapa; Allah yang satu itu juga Anak Allah (Yesus Kristus namanya) dan Allah yang satu itu juga Roh Kudus. Ini menimbulkan masalah karena bertentangan dengan Alkitab di mana Bapa, Anak, Roh Kudus sewaktu-waktu tampil bersama-sama.
Bersyukur ada Ignatius dari Antiochia (abad 2), Yustinus Martir, Teofilus (Antiokhia). Kemudian di abad 2-3 M ada Athenagoras dari Atena. Irenaeus (uskup dari Lyon), Hipolitus (Roma) dalam tulisannya memahami bahwa Bapa, Anak, Roh Kudus adalah keberadaan yang masing-masing berbeda tetapi di dalam kesatuan Allah.
Kemudian Tertulianus (uskup dari Kartago di abad ke-3) mencetuskan istilah Trinitas (Tres Personae Una Substantia Discreti Non Seperati) → satu hakikat Allah, satu substansi/esensi ada tiga Pribadi, terbagi tetapi tidak terpisah, ada dalam kesatuan. Begitu pula Athanasius (Aleksandria di abad 3-4), bapa-bapa gereja Kapadokia juga Agustinus (De Trinitate – abad 4).
Sejak itu gereja memakai istilah tersebut karena sudah sah di konsili yang ekumenis di mana gereja barat dan gereja timur masih menyatu. Mereka terpisah pada tahun 1054 kemudian Martin Luther memisahkan diri dari Katolik. Konsili ekumenis pertama tertulis di Kisah Para Rasul 15:25-29. Otoritas konsili ekumenis semacam ini adalah “adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami . . .”
Jadi istilah Tritunggal atau Trinitas merupakan perjuangan dari bapak-bapak gereja dan diterima oleh gereja-gereja di masa kini. Memang istilah Tritunggal tidak terdapat di Alkitab tetapi Alkitab memuat fakta-fakta bahwa Bapa, Anak, Roh Kudus adalah Pribadi yang berbeda tetapi di dalam kesatuan/keesaan Allah. Allah itu satu (Ekhad) tetapi ada tiga Pribadi (bukan tiga Allah) yang menyatu sebagai satu Allah. Oleh karena itu istilah yang tepat ialah: Allah Bapa, Anak Allah, dan Roh Kudus.
Kita patut bersyukur semua pertanyaan telah terjawab walau belum tentu semua jawaban dapat memuaskan. Namun kita harus tahu apa yang kita percayai; jangan percaya tanpa kita mengetahui apa-apa alias asal percaya. Dari zaman ke zaman gereja Tuhan menghadapi tantangan dan bapak-bapak gereja sudah menyelesaikan semuanya. Sampai hari ini kita menghadapi rupa-rupa angin pengajaran palsu namun percayalah Roh Kudus berdiam/bertabernakel dalam kita, apa pun tantangannya, janji penyertaan Tuhan tidak pernah berubah. Hendaknya kita yang sudah dibaptis hidup dengan hati nurani baik dan diperkenan Allah. Ia mau memakai kita menjadi kesaksian di mana pun kita berada supaya banyak jiwa diselamatkan untuk mengenal Yesus, Tuhan kita. Amin.