Saya memulai pelayanan kunjungan ± pertengahan tahun 2003 ketika Tim Bezoek sedang melayat salah satu Hamba Tuhan yang meninggal. Pelayanan ini kemudian dinamakan Pelayanan Keluar (PK) dengan tugas mengunjungi jemaat yang sakit atau dalam pergumulan atau jarang kelihatan di gereja.
Banyak pengalaman dan karakter yang dijumpai saat menjenguk jemaat yang sakit atau menghadapi pergumulan berat. Tim mendoakan dan memberi kekuatan serta semangat kepada mereka. Pernah suatu saat tim mengunjungi seorang ibu pemain musik di gereja yang jatuh sakit terkena kanker dan Tim mendapat berkat kesaksian yang tak terlupakan. Ibu ini mengatakan, “Iblis boleh membuat aku sakit dan mengambil tubuhku tetapi dia tidak akan dapat mengambil aku dari Tuhan Yesus.” Selang beberapa waktu ibu ini dipanggil Tuhan dan Tim yakin ibu ini meninggal sebagai pemenang iman.
SEIZIN TUHAN HARUS MENGHADAPI PERGUMULAN SAKIT
Tahun 2006 saya menikah dan bersama istri, kami ikut Tim Pelayanan Keluar Kaum Muda mengunjungi jemaat.
Di tahun 2008 kami dikarunia seorang anak perempuan dan pascamelahirkan mulailah awal pergumulan hidup seizin Tuhan terjadi bagi kehidupan nikah dan keluarga kami. Istri merasakan ada benjolan dan makin lama makin membesar disebabkan oleh hormon pascamelahirkan dan makin hari makin tidak membaik. Namun istri tidak menghiraukan sakitnya dan tetap bekerja sebagai seorang karyawan walau terkadang mengalami rasa sakit hingga pendarahan. Dia menutupi penyakitnya dengan sangat rapi sehingga teman-teman sekantor tidak ada yang curiga kalau istri sedang sakit. Begitu pula dalam pelayanan, istri tetap setia melayani di bidang backing vocal walau terkadang harus menahan rasa sakit dan pendarahan juga. Teman-teman sepelayanan pun tidak tahu kondisi sakitnya istri.
Saya sudah menganjurkan untuk berobat ke dokter dan dirawat lebih intens tetapi istri menolak. Saya menduga istri tidak mau ke dokter karena dia belum siap dan takut mendengar vonis dari dokter. Tampaknya dia sudah menduga dan curiga dengan penyakit yang dideritanya. Pengobatan tetap dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan herbal tetapi ini tidak membuat sakitnya membaik.
Setelah berlangsung ± 5 tahun kondisi kesehatan istri makin menurun dan berhenti bekerja di tahun 2013 juga beribadah di gereja dekat rumah karena kondisi tubuh istri yang cepat lelah. Saat itu benar-benar sangat berat bagi kami sekeluarga khususnya istri yang mengalami kesakitan. Terlebih lagi saya harus bekerja lebih keras dan terpaksa sering meninggalkan istri untuk tugas di luar kota/pulau demi mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pengobatan istri.
Jujur, kami mengeluh dan protes kepada Tuhan mengapa kami sudah setia beribadah dan melayani tetapi mengalami problem berat seperti ini. Bahkan istri saat tidak dapat menahan rasa sakitnya mengeluarkan kata-kata minta mati saja.
Akhirnya istri mau membuka diri untuk dirawat secara medis oleh dokter. Saat melihat kondisi istri, dokter mengatakan kondisi istri sudah agak parah tetapi dokter tersebut tetap memberikan semangat, membuat istri tergairah untuk dirawat lebih lanjut. Setelah dilakukan pengecekan, istri divonis kena kanker payudara stadium terminal dan harus kemoterapi. Dokter tidak menyarankan operasi sebab sudah tidak memungkinkan dioperasi.
Di masa pengobatan dan perawatan istri, saya tetap melakukan pelayanan kunjungan. Di saat dalam kesesakan dan pergumulan berat, saya tetap harus melayani orang-orang yang menghadapi pergumulan maupun sakit. Namun Tuhan sangat baik, Ia memberi kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi semua proses yang seizin Dia terjadi.
Pola pelayanan saya berubah. Kalau sebelumnya begitu mudah dan gampang mengatakan kata-kata positif untuk memberi kekuatan dan penghiburan bagi jemaat yang dikunjungi, melalui pengalaman pribadi ini saya diajar untuk lebih berempati dapat merasakan penderitaan mereka serta menjadi pendengar yang baik terhadap keluhan mereka. Saya diajar untuk lebih sabar terutama merawat istri yang sakit parah berdampak pada kesehatan mentalnya yang tidak stabil. Saya mulai mengerti kebutuhan utama orang yang menghadapi pergumulan berat ialah kekuatan dari Tuhan untuk dimampukan melewati semua proses penderitaan yang dijalani. Kesembuhan dan selesainya masalah hanyalah bonus.
Suatu saat saya membaca renungan tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menghadapi ancaman perapian yang menyala-nyala. Ditegaskan bahwa (1) Tuhan sanggup menolong sebab tidak ada yang mustahil bagi-Nya atau (2) tetap beriman pada Tuhan walau Ia tidak menolong. Saya memberanikan diri mengatakan dua hal ini kepada istri karena takut dia tidak dapat menerima dan salah paham mengingat kondisi mentalnya yang labil. Puji Tuhan, istri merespons kedua pernyataan ini dengan anggukan sambil mengatakan “Amin”.
Sejak itu Tuhan bekerja luar biasa dalam hidup kami berdua, iman kami dipulihkan dan kami berserah sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Terutama pemulihan iman istri, kalau sebelumnya dia putus asa dan kepingin cepat dipanggil Tuhan, kini dia berdamai dengan keadaan dan menerima apa yang menjadi maunya Tuhan melalui sakitnya serta berserah sepenuh kepada-Nya.
Sebagai suami, saya melihat kesaksian pemulihan iman dari istri, yakni:
- Saat mengalami kesakitan yang luar biasa, dalam rintihannya yang keluar dari mulutnya ialah “terima kasih Tuhan” dan kalimat pujian lainnya.
- Saat proses pengobatan kemoterapi, dia menjadi penyemangat bagi ibu-ibu yang senasib dengannya dalam berjuang melawan sakit kanker.
- Di tengah kebutuhan ekonomi yang cukup banyak untuk kehidupan sehari hari maupun pengobatan, istri masih memikirkan untuk memberkati orang lain. Heran, Tuhan memelihara kami dengan cara-Nya yang ajaib.
Kami berdua belajar dan diajar oleh Tuhan untuk mengerti makna “berserah”. Berserah adalah melepaskan hak untuk mengandalkan Dia semata. Jujur, sangatlah mudah menyemangati mereka yang sakit dan dalam pergumulan dengan kata-kata positif dan konstruktif ketika dalam kunjungan karena kita tidak berada di posisi mereka. Namun puji syukur kami diizinkan Tuhan mengalami pergumulan melalui penyakit istri supaya kami benar-benar mengalami pengalaman bersama Tuhan tidak sekadar pengetahuan dan perkataan manis di bibir. Ini menjadi bekal saat melakukan pelayanan kunjungan; kami dapat saling menguatkan satu sama lain.
Setelah melalui proses pengobatan ± 2 tahun dan kemoterapi sebanyak 16 kali, kondisi istri makin melemah hingga Tuhan memanggil istri pulang ke rumah Bapa Surgawi pada tanggal 10 Februari 2016.
Kita boleh berusaha semaksimal mungkin tetapi selebihnya kedaulatan Tuhan yang terbaik bagi kita. Namun saya benar-benar tenang karena beryakinan penuh istri kembali ke rumah Bapa dengan iman yang berkemenangan. Saya juga beroleh pembelajaran bahwa Tuhan kita sanggup melakukan segala hal dan mengubah keadaan apa pun tetapi kalau seizin Tuhan keadaan tidak berubah berarti Ia ingin kita yang berubah.
Biarlah segala kepujian dan hormat hanya bagi Tuhan kita, Yesus Kristus. Amin.