Haa… sadar tak sadar… mau tak mau… kakiku sudah melangkah di penghujung tahun (lagi). Lagu-lagu Natal sudah menggema di mana-mana menyelinap di antara kelap kelip lampu dan hiasan pohon natal. Indah…sesuatu yang tak pernah lekang di makan waktu walaupun selalu berulang setiap tahun.
Dan pikiran ini seolah melayang ke hari-hari yang telah berlalu, seperti membuka lembaran buku dari halaman pertama lagi. Dan aku ingat… pernah aku membayangkan ketika nanti kami berdua pensiun, tentang nikmat dan enaknya hidup di lingkungan yang menyatu dengan alam di mana setiap hari kami dapat merasakan embusan angin semilir dingin yang menerpa wajah. Mendengar kicau nyanyian burung di pagi hari serta menikmati tetesan embun yang menggantung di ujung rumput menggelitik kaki saat berjalan di atasnya. Jauh dari kebisingan kota serta polusi asap pabrik dan kendaraan bermotor. Dapat melihat anak-anak kecil berlarian ke sana kemari, bercengkerama dengan teriakan-teriakan bahagia penuh kebebasan sambil bermain air ketika hujan turun. Bila senja menjelang malam kami pun dapat menikmati suara jengkerik dan melihat katak-katak kecil berlompatan melewati teras rumah yang luas dan langsung berhadapan dengan taman.
Namun ketika aku ditantang untuk tinggal di daerah yang sebenarnya sudah lama menjadi kerinduanku, aku mulai gamang. Aneh…! Apakah karena tak ada lagi belahan jiwa yang menemaniku sekarang? Tiba-tiba timbul kekhawatiran, takut, dan aah… apa aku sebenarnya mulai menikmati apa yang sudah aku jalani selama ini bersama anak-anak dan cucu-cucuku? Dan ini seperti memudarkan semua keinginanku yang lalu.
Dan..perubahan musim hidupku ternyata membuatku terbuka agar aku selalu mau mencoba melangkah dan belajar lagi untuk menggapai kemungkinan-kemungkinan yang masih dapat aku kerjakan melewati waktu yang Tuhan berikan di mana pun Dia mau aku berada. Karena aku tak ingin kalau pada akhirku nanti akan ada banyak hal yang terlewatkan dalam hidup ini dan jangan sampai tercetus dari bibirku kelak, “Kok dari dulu aku tidak pernah mau mencoba ya?”
Benar memang… bahwa hidup adalah proses pembelajaran yang tidak akan pernah berakhir.
- Belajar bahwa dalam hidup pasti ada masalah dan aku tetap membutuhkan orang lain.
- Belajar bahwa ada kekuatan supranatural yang Tuhan sediakan di luar akal sehatku yang memungkinkan aku untuk terus berjuang. Aku yakin.
- Belajar untuk mencintai. Mencintai keluarga, orang tua dan sahabat dengan sikap lebih peduli.
- Belajar untuk menjaga hati agar selalu terucap kata maaf, tidak mudah berburuk sangka kepada orang lain dan selalu legowo menghadapi situasi yang menyesakkan dada.
- Belajar mengerti bahwa tidak semua orang memiliki cara pandang yang sama seperti diriku.
- Belajar untuk menata setiap kalimat yang keluar dari bibirku dengan lebih bijak, mengucapkan kata yang memberkati dan membangun.
- Belajar untuk tidak selalu menganggap kepentingan diri sendiri lebih penting dari kepentingan orang lain.
- Belajar untuk tidak selalu merasa diri ini lebih baik, lebih pintar dan lebih hebat dari orang lain.
- Belajar untuk tidak selalu mencari kambing hitam dalam setiap kesalahan yang aku lakukan
- Belajar mensyukuri untuk hari-hari yang Tuhan anugerahkan dan mengerti arti panggilan Tuhan sesungguhnya buat hidup ini.
- Belajar takut akan TUHAN, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan yang sudah dituliskan untuk kulakukan.
- Dan masih banyak lagi yang aku harus belajar
Belajar adalah sebuah tanggung jawab, bukan karena suka atau harus. Dan aku masih perlu untuk terus belajar, seperti kata pepatah “never too old to learn”.
Masih banyak yang harus kupelajari dan kuketahui. Termasuk juga belajar untuk menyiapkan diri menghadapi hari di mana kesibukan yang aku miliki sekarang harus kudelegasikan pada generasi penerus. Aku toh tak akan duduk di “kursi” ini selamanya.
Semakin aku belajar, semakin aku tahu tak ada satu alasan pun untuk aku memikirkan kepentingan diri sendiri, berbangga sampai meninggikan diri. Aku sadar bahwa hikmat ada pada orang yang rendah hati (Ams. 11:2b) dan kerendahan hati mendahului sebuah kehormatan (Ams. 15:33b).
Tak perlu harus diresahkan lagi, dan aku siap kapan pun waktu akan menggiringku ke sebuah perubahan. Ya…..perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa melalui proses belajar tanpa akhir.
Bimbing aku selalu Tuhan untuk menyongsong hari depanku di tahun-tahun mendatang. Amin.