• BAHTERA NUH
  • Ny. Na Kiem Hwie

Bersyukur matahari bersinar cerah ketika penulis tiba di lapangan parkir yang luas dari Ark Encounter, tempat di mana replika bahtera Nuh dibangun di Williamstown, Kentucky, Amerika Serikat. Dari tempat parkiran, pengunjung masih harus mengantre untuk naik shuttle bus ke tempat loket tiket ke lokasi bahtera. Embusan angin terasa makin dingin di suhu 4°C tetapi antrian pengunjung cukup panjang mencapai ± 200 orang. Kursi roda pun disediakan bagi yang memerlukan. Semua ingin tahu apa dan bagaimana sebetulnya bahtera Nuh itu.

Kisah Nuh dan bahteranya sangat populer, anak-anak pun mengenalnya. Banyak gambar ilustrasi menggambarkan pak Nuh berjanggut panjang di atas sebuah perahu yang sarat dengan gajah, jerapah, singa dan hewan lain. Apakah kisah ini hanya sekadar dongeng anak-anak atau benar-benar terjadi? Para peneliti dan ilmuwan pun terus mempelajari dan menyelidiki menurut disiplin ilmu masing-masing baik dari segi astronomi, astrofisika, geologi, arkeologi dll. Melalui banyak penelitian pada 2007 dibukalah Museum Penciptaan (Creation Museum) di Petersburg, Kentucky; disusul dengan pembangunan Ark Encounter di Williamstown (2010-2016) oleh Answer in Genesis, sebuah yayasan Kristiani Apologetika Penciptaan yang diketuai oleh Ken Ham, misionaris asal Australia.

Diresmikan pada 7 Juli 2016, Ark Encounter, lokasi replika bahtera Nuh ini merupakan taman wisata keluarga baik edukasi maupun rekreasi. Lengkap dengan kebun binatang kecil, merry-go-round untuk anak-anak, acara naik unta, restoran, toko buku serta souvenir cindera-mata.

Nuh dan Air Bah

Kisah Nuh (Kej. 6) didahului dengan peristiwa kejahatan manusia yang merusak bumi dan sesama menimbulkan murka Allah sehingga Ia memutuskan usia manusia 120 tahun saja. Nuh, keturunan Adam generasi ke-10 berusia 500 tahun ketika Allah berfirman kepadanya bahwa Ia akan memusnahkan manusia dengan air bah karena kejahatan mereka tetapi Nuh mendapat kasih karunia Tuhan karena ia takut dan taat kepada-Nya (Kej. 6:8). Allah menyuruh Nuh membuat sebuat bahtera (bhs. Ibr: teyvah )yang muncul hanya 2 kali dalam Alkitab; di kisah Nuh dan di kisah Musa. Agar tidak dibunuh, bayi Musa dihanyutkan di sungai Nil di dalam sebuah “teyvah”, yang dapat diartikan sebuah keranjang tertutup, mengapung dan memelihara kehidupan.

Replika Bahtera Nuh di Ark Encounter dibuat semirip mungkin dengan perintah Allah kepada Nuh seperti tercatat dalam Kej. 6:14,15, “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kau tutup dengan pakal dari luar dan dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: 300 hasta panjangnya, 50 hasta lebarnya dan 30 hasta tingginya.”

Satu hasta adalah ukuran yang dipakai saat itu. Panjangnya dari siku sampai ujung jari (± 0,518 m). Jadi panjang bahtera ± 155 m, lebar 26 m dan tinggi 16 m.

Tidak jelas apa yang dinamakan kayu gofir, kata ini hanya muncul sekali saja dalam Alkitab. Apalagi ada perbedaan kondisi bumi sebelum dan sesudah air bah yang menurut perhitungan arkeologi terjadi ± 2.300-2.348 SM. Diduga kayu gofir adalah sejenis kayu aras (Cedrus Libani), yang banyak tumbuh di Libanon; sejenis cemara yang kayunya sangat kuat, tidak mudah lapuk dan mengandung banyak resin (damar) sehingga tahan terhadap air, kutu dan jamur.

Bentuk bahtera juga tidak disebutkan, Allah hanya menyuruh membuatnya 3 lantai dengan tingkap di atasnya dan banyak sekat di dalamnya. Layaknya sebuah bangunan 3 lantai dengan banyak ruang/ kamar seperti deretan apartemen, cukup untuk kamar keluarga Nuh, dapur, gudang persediaan makanan, air minum, makanan hewan, kandang hewan, dll.

Para peneliti memperhitungkan dengan ukuran sedemikian besar dan muatan begitu banyak seperti kapal kargo, paling sesuai adalah bentuk seperti kotak. Melalui banyak hitungan, riset, dan uji coba, seorang ilmuwan ahli kelautan Korea, Dr. Hong menyatakan (1992) bahwa untuk kapal kayu sebesar itu, ukuran yang Allah perintahkan adalah paling tepat. Dapat mengapung dengan stabil, tidak mudah terbalik; cukup nyaman bagi penumpang di dalamnya juga tahan terhadap hantaman ombak setinggi 30 m.

Bagi Nuh, tentu ini merupakan sebuah proyek yang amat besar; apalagi tidak diceritakan apakah Nuh berlatar belakang seorang pelaut, ahli membuat kapal. Pohon-pohon besar harus ditebang, dijadikan papan sesuai ukuran yang ditentukan, diangkut ke lokasi dan disusun menjadi perahu yang demikian besar. Ini bukan tugas ringan namun Nuh melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Air bah terjadi waktu usia Nuh 600 tahun (Kej. 7:6), berarti pembuatan bahtera itu memerlukan waktu ± 100 tahun. Selama itu penduduk sekitar, kerabat dan tetangga bisa saja mentertawakan serta mengolok-olok Nuh dan tentu Nuh menjelaskan kepada mereka untuk apa ia bekerja keras membuat bahtera. Ini saat Nuh berkesempatan menjadi pemberita kebenaran (2 Pet. 2:5), menghimbau mereka untuk bertobat dari kejahatan dan berbalik kepada Allah.

Di dek 2 ada sebuah pintu besar, satu-satunya pintu untuk masuk keluar bahtera. Untuk mencapai pintu masuk itu pengunjung harus menyusuri ramp (jalan menanjak) yang berkelok-kelok. Jadi teringat gambar hewan-hewan yang Tuhan kirimkan berbaris masuk berpasang-pasangan ke dalam bahtera untuk diselamatkan (Kej. 7:2).

Setelah semuanya masuk, Tuhan sendiri yang menutup pintu bahtera itu (Kej. 7:16). Berapa banyak binatang yang masuk dan bagaimana binatang sebanyak itu bisa muat dalam bahtera menjadi tanda tanya. Tentu yang Tuhan kirim adalah pasangan yang muda dan sehat dari pelbagai jenis (Ibr: baramin), menurut golongan keluarga hewan. Para ahli memperhitungkan jumlah hewan yang ikut dalam bahtera adalah ± 6.744 ekor. Inilah bibit unggul yang akan menjadi nenek moyang hewan yang ada sekarang. Misal: dari jenis anjing (Canidae) replika yang dipasang adalah species Hesperocyon, yang sekarang sudah punah. Species lain adalah Borophagines, juga sudah punah. Namun fosilnya banyak ditemukan di Eropa dan Amerika. Setelah keluar dari bahtera, jenis anjing ini berkembang biak menjelajah ke mana-mana menyesuaikan diri dengan alam sekitar dan iklim tempat mereka menetap. Kemudian terjadi kawin silang hingga macamnya makin banyak. Sekarang jenis Canidae yang belum punah tinggal keluarga Canine (37 macam) yang meliputi anjing peliharaan, serigala, dingo, anjing hutan, coyote, jackal, rubah, hyena dsb.

Bagaimana 8 orang dapat memelihara sekian banyak hewan dari pelbagai jenis? Tentu Tuhan memberikan hikmat bagaimana cara merawat dan memeliharanya. Setiap hari harus diberi makan dan minum, kandang harus dibersihkan, kotoran dibuang. Ini membuat kita menyadari Nuh sekeluarga bukan sedang menikmati cruise kapal pesiar, diperlukan kerja keras. Di dek 3 dapat dilihat pelbagai diorama aktivitas keluarga Nuh: ada yang memasak, memberi makan hewan-hewan, bertukang. Jangan berpikir mereka masih hidup seperti di zaman purba, sangat terbelakang. Kejadian 4:20-23 mencatat keturunan Kain, Yubal, adalah pemain kecapi dan suling yang handal sedangkan adiknya, Tubal-Kain, cakap mengolah tembaga dan besi.

Nuh sekeluarga tinggal selama 1 tahun + 10 hari dalam bahtera (= 370 hari menurut perhitungan tahun Yahudi). Bisa dibayangkan berapa banyak bekal bahan makanan yang perlu disediakan. Inipun merupakan keajaiban tersendiri.

Diorama yang pertama kali pengunjung nikmati menggambarkan Nuh memimpin keluarganya beribadah kepada Allah. Dapat dibayangkan di tengah terpaan hujan lebat 40 hari 40 malam, tentu hati mereka penuh gentar dan ngeri bercampur syukur dan takjub akan pertolongan dan perlindungan Allah. Air bah berlangsung selama 150 hari (Kej. 7:24) setelah itu air mulai surut. Bahtera tetap mengapung menuruti embusan angin sampai akhirnya kandas di pegunungan Ararat. Mereka tinggal dalam bahtera sampai Allah sendiri membukakan pintu, mengizinkan seisi bahtera keluar (Kej. 8:15,16), menapakkan kaki di suasana baru, lepas dari lingkungan lama yang begitu jahat dan rusak. Kemudian Tuhan memerintahkan mereka berkembang biak memenuhi bumi.

Indah sekali Nuh segera mendirikan mezbah memberikan kurban syukur bagi Tuhan setelah mengalami sedemikian banyak keajaiban bahwa semua yang terjadi bukanlah karena kekuatan, kecakapan, kesanggupan diri tetapi kasih, karya pertolongan dan pemeliharaan Allah semata.

Pengunjung keluar dari halaman taman replika bahtera Nuh lewat pintu gerbang Pelangi yang mengingatkan akan janji Tuhan, “segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.” (Kej. 9:15)

Allah Mahabesar

Masih banyak hal yang belum terselidiki tentang Nuh dan air bah. Perdebatan dan perbedaan pendapat para ahli masih terus berlangsung dan mungkin tidak akan terselesaikan. Namun kunjungan ke replika bahtera Nuh cukup membangkitkan perenungan: betapa besarnya Allah kita. Betapa berhikmat, dahsyat dan ajaib mukjizat-Nya, menimbulkan takut dan gentar. Betapa Ia juga mahapengasih dan rendah hati. Sebagaimana Ia menyediakan bahtera bagi Nuh, Ia juga menyediakan rencana keselamatan bagi kita. Dalam kerendahan hati Allah telah memanggil Nuh untuk bekerja sama menyelesaikan bahtera, Ia pun memanggil kita semua ikut ambil bagian sebagai rekan sekerja Allah membagikan kabar keselamatan kepada sesama.

Bahwa hanya ada satu pintu masuk tersedia dan Tuhan sendirilah yang menutup dan membukanya, mengingatkan kita akan kata Yesus, “Akulah pintu, barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar menemukan padang rumput.” (Yoh. 10 : 9)

Tidak dijumpainya kemudi dalam bahtera pun menunjukkan bahwa bahtera itu mengapung mengikut arus air dan arah angin. Bukan Nuh yang memegang kendali melainkan Allah sendiri. Teringat pula akan kasih dan kesabaran Allah. Walaupun manusia telah sedemikian jahat hingga patut dibinasakan, mereka masih diberikan kesempatan 100 tahun lamanya untuk bertobat. Hal yang sama dilakukan-Nya kepada kota Sodom dan Gomora juga peringatan kepada Niniwe yang diserukan oleh Junus. Sodom-Gomora yang tidak mau bertobat dibinasakan tetapi Niniwe yang bertobat lolos dari pehukuman. Sungguh Ia merindukan agar sebanyak-banyaknya manusia bertobat dan kembali kepada-Nya. Saat kejahatan makin merajalela, Allah sendiri yang mengintervensi dan membinasakan untuk melindungi orang-orang yang taat kepada-Nya.

Bagaimana dengan kita dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua? Apakah seperti Nuh, kita tetap bekerja, berdoa dan bersyukur dalam percaya dan taat menyilakan Kristus mengendalikan bahtera hidup kita?